LOGINSaat bersama Bian, Natasha bisa melupakan segala permasalahan dalam hidupnya.Dia merasa menjadi dirinya sendiri, yang selama ini terkubur di dalam dirinya karena tekanan hidup yang begitu berat.Bersama pria itu, Natasha tidak perlu menjadi istri yang selalu berusaha memenuhi semua keinginan keluarga suaminya.Pagi itu Natasha terbangun dalam pelukan Bian. Natasha menyadari bahwa perasaannya sudah tumbuh semakin dalam untuk pria itu.Ini benar-benar berbahaya.Tetapi meski sudah berusaha, Natasha tidak bisa mengendalikan perasaannya sendiri.Natasha lalu membuatkan sarapan sederhana untuk mereka.Bahkan ketika mereka sarapan bersama, Natasha merasakan ketenangan yang tidak dia dapatkan dari rumah keluarga suaminya.“Hari ini apa saja jadwal saya?” tanya Bian setelah menghabiskan sandwich miliknya.Natasha meneguk air putih terlebih dulu, sebelum menjawab, “Tidak ada jadwal di luar, Pak. Hari ini Bapak hanya ada satu rapat secara daring dengan tim dari New York. Selebihnya kosong.”Bi
“Bapak bisa memasak?”Natasha terperangah ketika melihat Bian sedang berjibaku dengan alat masak di dapur.Bian menoleh sejenak. “Kamu berpikir saya pria manja yang tidak bisa apa-apa?”“Bukan begitu maksud saya,” ralat Natasha cepat, dia bergegas menghampiri Bian. “Bapak ‘kan bisa menyuruh saya melakukannya kalau Bapak tidak mau ada orang lain di rumah ini.”Bian tidak menjawab. Dia justru fokus mengaduk sesuatu di dalam wajan.Natasha berdiri di sampingnya, melihat pasta yang tengah dimasak Bian.“Biar saya lanjutkan, Pak,” ucap Natasha tak enak hati. Pasalnya, Bian adalah atasannya. Mana mungkin dia membiarkan CEO perusahaan besar memasak untuk makan malam mereka? “Bapak duduk saja, saya yang akan melanjutkan–”“Duduk,” potong Bian dengan suara rendah.“Tapi, Pak–”“Duduk, Natasha.” Bian mengulangi perintahnya dengan lebih tegas. “Saya memang ingin membuat makanan untukmu.”Natasha seketika tertegun. Detak jantungnya mendadak meningkat dua kali lebih cepat. Lalu pada akhirnya dia d
Bian menarik dirinya, berguling ke samping Natasha lalu menarik wanita itu ke dalam pelukannya.Natasha sempat tertegun sesaat, lalu menyembunyikan senyum kecil dan melesakkan wajahnya di antara ceruk leher dan dada pria itu.“Bagaimana perasaan Bapak sekarang? Sudah lebih baik?” gumam Natasha dengan pipi memanas.“Hmm. Lebih baik.” Bian meremas pinggang Natasha, lalu menunduk mencari bibir perempuan itu, menciumnya lembut setelah menemukannya.Natasha menahan napasnya sesaat sebelum membalas ciuman Bian.“Kamu membuat suasana hati saya lebih baik,” aku Bian, membuat wajah Natasha semakin memerah.“Saya rasa sudah malam untuk Bapak kembali bekerja. Bapak terlalu sibuk belakangan ini.” Natasha berdehem pelan. “Sesekali Bapak juga harus istirahat lebih banyak.”Sudut mata Bian menyipit, menatap Natasha lekat. “Kamu sedang perhatian kepada saya?”“Tidak,” timpal Natasha cepat. “Bukan begitu. Sebagai seorang asisten pribadi bukankah harus mengingatkan atasannya yang gila kerja? Kalau terj
Natasha menatap langit-langit ruangan dengan tatapan berkabut.Ruangan itu seketika berubah panas dan sesak. Dia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, menahan desah yang hendak lolos ketika puncak dadanya tenggelam dalam mulut panas Bian.Bisa Natasha rasakan lumatan dan hisapan kuat di sana, sesekali gigitan kecil yang membuat dia menggeliat.Sementara kedua telapak tangan lebar Bian menjelajahi setiap jengkal tubuh Natasha dengan gerakan menggoda.Bian tidak melepas kemeja satin putih dari perempuan itu. Dia membiarkan seluruh kancingnya terbuka, branya berantakan, sementara dada dan perut rampingnya terpampang di depan mata.Kulit putih pucatnya membuat Bian ingin memenuhinya dengan jejak-jejak kemerahan yang dia ciptakan.Dan Bian tidak pernah main-main dengan keinginannya. Dia menyeringai kecil ketika mahakaryanya sudah memenuhi dada dan perut Natasha dalam waktu singkat.“Pak,” bisik Natasha dengan napas terengah, seraya menatap Bian yang tengah menaikkan roknya ke pinggang.Bian
Sudut-sudut bibir Natasha terangkat saat melihat Bian akhirnya tiba di kantor. Pria itu datang lebih cepat dari dugaan.Natasha keluar dari ruangannya dan menyapa, “Selamat sore, Pak Bian, Anda sudah sam… pai?”Natasha mengerjap ketika Bian melewatinya begitu saja tanpa sedikit pun menoleh ke arahnya.Kening Natasha berkerut, menatap punggung Bian yang kemudian hilang di balik pintu.Ekspresi pria itu tampak mengeras. Seperti tengah menahan amarah. Bahkan sorot matanya lebih tajam dan dingin daripada biasanya.“Apa yang terjadi?” tanya Raditya sambil mendekati Natasha.Natasha menggeleng. “Aku juga nggak tahu, Pak. Tapi sepertinya ada sesuatu yang bikin suasana hatinya buruk.”Raditya menghela napas pelan. “Sebaiknya kita berhati-hati. Jangan bikin suasana hatinya jadi semakin buruk.”Tepat di saat yang sama, Bian tiba-tiba membuka pintu. Dia menatap Natasha dan Raditya bergantian. Ekspresi wajahnya semakin mengeras.Lalu detik itu juga dia menutup pintu dengan keras tanpa berkata apa
“Mas, kamu akrab sama Stella?” tanya Natasha basa-basi pagi itu, seraya menyerahkan teh hangat untuk Haikal. Tanpa berniat mencurigai atau menyudutkan.Namun, respons yang ditunjukkan Haikal membuat Natasha bingung.“Kenapa kamu ikut campur banget urusan aku?” tukas Haikal seraya menatap Natasha tajam. “Dengan siapa aku akrab itu urusanku, Sha. Kamu nggak ada hak ikut campur.”Natasha menghela napas panjang. “Aku ‘kan cuma tanya, Mas. Kenapa jadi marah, sih?”“Ya jelas aku marah!” Suara Haikal sedikit meninggi. “Pagi-pagi kamu udah cari masalah. Lagi pula Stella itu Brand Ambassador Wijaya Land. Jadi wajar kalau aku akrab dengan orang yang bekerjasama dengan perusahaanku.”“Iya, Mas.”Natasha memilih untuk mengakhiri percakapan mereka. Lalu pergi ke dapur dan melepas apron dari tubuhnya.Dia tidak mengerti mengapa Haikal harus semarah itu? Bukankah itu aneh?“Dari mana kamu tahu kalau aku akrab sama adikmu?” cecar Haikal lagi, yang ternyata mengikuti Natasha. Dia belum tenang jika bel







