Share

Bab 12

Author: Ling Rezeki
Saat seluruh tubuh lembutnya beradu dengan dada bidang pria itu, kepalanya terasa linglung.

Kenapa keadaannya tiba-tiba menjadi seperti ini?

Aveline tanpa sadar mendongak, mengikuti garis rahang mulus pria itu, hingga tatapannya bertemu dengan sepasang mata yang dalam.

Ada sedikit ekspresi mengejek dari tatapan matanya.

Seolah sedang menantang, katanya mau menunggu lift selanjutnya? Kenapa mendesakkan diri di depannya?

Rasa malu membuat pipi Aveline merah padam.

Dia juga tidak sengaja. Dia terdesak masuk karena didorong orang-orang.

Marcell memandangi wajah cantiknya yang semakin memerah. Sifat nakal yang tersembunyi dalam dirinya tiba-tiba muncul.

Dia sedikit menundukkan kepala, lalu berbisik di telinga gadis itu, "Ini pertama kalinya aku sadar, Nona Aveline, ternyata omongan dan perbuatanmu kurang sinkron."

Napas panas pria itu menyapu telinganya. Suaranya yang merdu dan menggoda membuat tubuhnya bergetar.

Telinganya merasakan sensasi aneh seperti kesemutan.

Marcell menangkap reaksi Aveline, rasa terkejut serta gembira sekilas hadir di matanya.

Yang pertama dia pikirkan adalah, tubuh wanita ini ternyata lebih sensitif dari yang dia bayangkan.

Membayangkan kemungkinan ini tiba-tiba membuat darahnya mendidih dan terasa panas.

Terutama karena tubuh wanita yang halus dan lembut itu masih menempel erat padanya, tanpa jarak sama sekali.

Dia bisa merasakan kekenyalan payudaranya, bergesekan tanpa penghalang dengan otot-ototnya yang kencang.

Aveline menempel pada tubuh pria itu, merasakan tubuhnya semakin panas.

Begitu panas hingga membuat seluruh tubuhnya merasa tidak nyaman.

Perasaan ini mengingatkannya pada malam itu ketika pria itu berbaring di atasnya. Tubuhnya juga terasa sangat panas pada saat itu.

Dia merasa sangat tidak nyaman dan ingin pergi. Sayangnya, orang-orang terlalu berdesakan, menghalangi semua jalan keluarnya.

Bahkan, orang-orang terus mendorongnya ke Marcell.

Dia hanya bisa semakin mendekat pada pria itu.

Dalam kepanikannya, tangan Aveline menyentuh otot dada dan perut pria itu.

Marcell sedikit menggertakkan giginya, suaranya yang serak kembali menyusup ke telinga Aveline.

"Kamu ketagihan menyentuhku?"

Aveline tersipu malu dan membantah pelan, "Saya nggak sengaja."

Jika bukan untuk menjaga jarak agar tidak terlalu dekat dengannya, Aveline tidak akan menempelkan tangannya ke dadanya.

Marcell tertawa dengan nada yang sulit dibaca. "Haha, Nona Aveline pegang-pegang gratisan, bikin alasannya unik juga."

Apa?!

Pegang-pegang gratisan?

Dia pegang-pegang gratisan?

Pegang-pegang gratisan pria itu?

Bukankah dia hanya menyentuh dadanya sedikit?

Perlukah sampai menggambarkan dirinya sebagai pria suci nan luhur yang seolah-olah sangat ternoda karena sentuhannya?

Suara yang malas dan sedikit nakal menyusup ke telinganya lagi.

"Nona Aveline, lanjut saja pegang sampai puas. Nggak banyak ada kesempatan seperti ini."

Di telinga Aveline, pria itu benar-benar menjijikkan.

Minta dihajar.

Dia tidak mau kalah dan mencubit keras dada kokoh pria itu dengan jari-jarinya.

"Agh ...."

Suara yang seperti perpaduan antara sakit dan nikmat keluar dari tenggorokan pria itu.

Aveline terkejut dan segera menarik tangannya.

Dia mengangkat kepala dan melihat pria itu sedikit menengadahkan. Jakunnya yang menonjol tampak bergerak naik-turun.

Seperti sedang menahan dan memendam sesuatu.

Saat dia sedang bingung memikirkan reaksi pria itu, seseorang di dalam lift menyadari kehadiran Marcell.

"Eh, itu bukannya Pak Marcell?"

Mendengar seruan orang itu, yang lain pun beramai-ramai menoleh ke sudut.

"Pak Marcell naik lift karyawan dengan kita?"

"Iya, dia biasanya naik lift khusus. Kenapa hari ini ikut berdesakan di lift karyawan dengan kita?"

"Apa lift khususnya rusak?"

"Rasanya nggak mungkin. Kalau lift khusus rusak, pasti ada tanda 'Sedang Diperbaiki' dan ada petugas yang datang untuk memperbaiki."

"Mungkin Pak Marcell ingin merasakan suasana karyawan biasa."

Aveline mendengarkan bisik-bisik rekan kerjanya, dalam hati merasa curiga.

Apakah sesederhana itu, ingin merasakan suasana karyawan biasa?

Menurutnya, pria itu cuma sengaja cari-cari masalah dengannya.

Karena Marcell ketahuan oleh para karyawan, Aveline merasa ruang di dalam lift semakin berdesakan.

Aveline merasa dadanya tertekan hingga hampir tidak bisa bernapas.

Tolong!

Kenapa lift ini lama sekali?

Selain itu, pinggangnya membentur sesuatu, terasa sakit.

Dia menggigit bibirnya, mendongak kepada pria itu dan berkata, "S-sabuknya mengganjal di pinggang saya, tolong geser sedikit."

Marcell menunduk dan melihat mata gadis itu yang jernih dan polos.

Dia tersenyum tipis, membungkuk mendekati telinganya, dan dengan sengaja berkata, "Itu bukan sabuk."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjebak Pelukan Kakak Sahabatku   Bab 50

    Cecilia berjalan ke meja komputer dan mengambil ponselnya yang tertinggal.Permainan di komputer masih belum dimatikan, masih di level yang baru saja dia mainkan bersama Aveline."Aneh, Aveline pergi ke mana?""Komputernya juga belum dimatikan."Dia memandang sekeliling ruangan, tetapi tidak melihat siapa-siapa.Mungkin sudah kembali ke kamarnya?Ini juga salahnya, dia meninggalkan Aveline sendirian menghadapi kakaknya yang sedang marah.Namun, kakaknya seharusnya hanya marah padanya, jadi tidak sampai melakukan apa-apa pada sahabatnya, 'kan?"Kemungkinan nggak. Kakakku nggak mungkin sejahat itu."Cecilia bergumam sendiri, lalu mematikan komputer.Setelah mematikan komputer, dia berbalik dan pergi.Saat itu, Aveline dan Marcell sedang bersembunyi di dalam lemari.Tubuh kekar pria itu menempel erat padanya, hampir tanpa celah.Dia tidak hanya menempel padanya. Bibir tipis pria itu juga sesekali mengisap lekuk lehernya.Jari-jarinya yang panas juga meraba-raba tubuhnya.Karena takut keta

  • Terjebak Pelukan Kakak Sahabatku   Bab 49

    Daun telinganya yang lembut terasa hangat dan lembap, disertai godaan yang disengaja dari pria itu, sensasi kebas langsung menjalar ke seluruh tubuhnya.Tubuh Aveline pun kembali melemas. Sungguh terlalu payah.Dia tidak ingin seperti ini, tetapi tubuhnya tidak mau menurut padanya.Menyebalkan! Kenapa dia jadi begini?"Jangan ...."Jangan?Marcell tertawa kecil, tangannya menangkup pipi yang merona merah itu. Bibir tipis Marcell yang seksi hampir menyentuh bibir merah lembutnya. "Sebenarnya, kamu juga ingin, ya 'kan?"Aveline menggigit bibirnya, merasa malu sampai ke ubun-ubun karena merasa pikirannya telah ditebak.Bibir tipis Marcell terbuka, napas panasnya menyembur ke seluruh wajah Aveline."Ayo ke kamarku, aku akan membuatmu sangat nikmat."Aveline merasa pipinya memanas karena napasnya yang membara, dan terlalu malu untuk berbicara.Namun di mata Marcell, diam berarti setuju.Dia menopang pinggulnya dengan kedua tangan, hendak menggendongnya. "Aku gendong ke kamarku."Napas Aveli

  • Terjebak Pelukan Kakak Sahabatku   Bab 48

    Pria itu perlahan menundukkan kepala, membiarkan bibir tipisnya menempel mesra di daun telinganya."Sekarang, sudah jelas?""Kalau belum jelas, aku nggak keberatan melanjutkan."Bulu mata Aveline bergetar. Dengan bibir yang bengkak dan merah, dia buru-buru berkata, "Sudah jelas, sudah sangat jelas."Marcell tertawa pelan, lalu mengulurkan tangan untuk mengusap kepalanya. "Bagus, akhirnya kamu belajar nurut.""..."Aveline tidak tahan lagi dan mendorongnya. "Lepaskan aku."Dia dicium sangat lama. Tubuhnya masih lemas, bahkan tidak punya kekuatan untuk melawan.Terlebih lagi, pintunya masih terbuka. Dia sangat takut ada orang lewat.Kalau ketahuan dia duduk di pangkuan Marcell, apalagi dalam posisi yang begitu intim, akan sangat memalukan.Marcell mencubit pinggang lembutnya. "Kalau aku nggak mau melepaskanmu, kamu bisa apa?"Aveline pun melotot padanya. Mata basahnya itu terlihat sangat menggetarkan hati, seolah-olah mengeluh dengan manja."Marcell, aku serius, nggak sedang bercanda den

  • Terjebak Pelukan Kakak Sahabatku   Bab 47

    Hampir membuat konsol game di tangan Cecilia terjatuh."Hehe, Kakak, kenapa kamu berdiri di pintu?"Marcell tersenyum menawan. "Kalau aku nggak berdiri di pintu, mana bisa aku nonton pertunjukan menarik yang kamu sutradarai dan bintangi sendiri ini?"Cecilia tertawa kecil. "Aku cuma bercanda, jangan dianggap serius."Marcell mematahkan sendi-sendi jarinya dan masuk dengan santai. "Sebelum aku bertindak, cepat menghilang dari hadapanku."Tingkatan rantai makanan dalam keluarga adalah sesuatu yang tertanam sejak lahir.Cecilia melompat berdiri. "Bestie, sesi game malam ini sampai di sini saja, aku pergi dulu!"Lalu dengan kecepatan kilat, dia melewati Marcell dan berlari keluar dari ruang game.Begitu cepat hingga Aveline pun tidak sempat bereaksi.Aveline melihat Marcell yang semakin mendekat. Dia agak terlambat menyadari dan bangkit berdiri. "Aku juga, pergi dulu."Baru saja akan pergi, pria itu sudah menghampiri dan menekannya kembali ke kursi.Tangan-tangannya yang berotot bertumpu d

  • Terjebak Pelukan Kakak Sahabatku   Bab 46

    Stefanie pergi sambil menangis.Dia jelas sangat terpukul oleh Marcell.Reva benar-benar meradang dibuatnya. Dia menuding kepala anak sulungnya dan berkata, "Kamu, kamu, kamu ..."Dia berkata "kamu" sampai lama sekali, tetapi tidak kunjung jelas apa yang ingin dia katakan.Aveline buru-buru menepuk punggung Reva untuk menenangkannya. "Tante, tenanglah."Marcell berkata, "Ma, jangan sampai mati karena emosi. Kalau nggak ada Mama lagi, Papa nggak mungkin bisa hidup sendiri. Rumah jadi sepi kalau kehilangan dua orang.""?!!""Kamu! Diam di situ, aku hajar kamu sampai mati!"Marcell tidak bodoh. Dia tidak akan diam saja menunggu dipukul.Dia membuat-buat alasan, "Aku masih harus mengurus kerjaan. Aku ke ruang kerja dulu."Lalu, dia naik ke lantai atas.Reva marah sampai dadanya terasa sakit."Avie, lihat dia! Kelakuan macam apa itu!""Sudah setua itu, nggak pernah dekat dengan wanita. Aku cuma mau membantu dia kenalan dengan seorang wanita, apa aku salah?""Wanita ini nggak suka, wanita it

  • Terjebak Pelukan Kakak Sahabatku   Bab 45

    Reva benar-benar tidak habis pikir. Bisa-bisanya seseorang berwatak sebaik dirinya melahirkan anak pembantah bermulut sekasar ini?Dia segera menatap Stefanie dan menenangkannya, "Stefanie, jangan diambil hati. Dia memang suka begini, siapa saja dia bantah."Stefanie mengangguk, berkata dengan sabar, "Nggak apa-apa, aku mengerti.""Kak Marcell kan belum pernah kenal denganku, jadi wajar kalau dia nggak terima."Reva tersenyum puas. Lihatlah, betapa enaknya cara gadis ini bicara.Sayangnya, putranya yang payah itu tidak bisa menghargainya.Dia pun menoleh kepada putranya yang pembantah dan payah itu dan memarahinya, "Dasar anak nakal, kalau kamu nggak bisa bicara sopan, tunggu ayahmu pulang nanti, biar dia hukum kamu sampai kapok."Marcell mencibir, melangkah mendekat dan melemparkan jasnya kepada Aveline, yang tampak acuh tak acuh terhadap situasi tersebut."Ya sudah, aku temani kalian ngobrol."Aveline tiba-tiba merasa pandangannya gelap.Karena jas pria itu menutupi kepalanya.Dia me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status