Share

Bab 11

Author: Ling Rezeki
"Cill, kamu bicarakan dulu saja dengan keluargamu. Asal mereka setuju dulu."

Tinggal di rumah orang tanpa persetujuan keluarga terlebih dahulu itu sangat tidak sopan.

Cecilia segera menyetujui, "Iya, nanti kuberi tahu orang tuaku."

Setelah menutup telepon, Cecilia langsung mengirim pesan di grup keluarga.

[Papa, Mama, ada kabar penting. Sahabatku sedang ada sedikit masalah. Aku mau ajak dia tinggal di rumah kita sementara waktu. Kalian setuju, 'kan?!]

Tiga detik kemudian, tidak ada yang merespons.

Cecilia menutup obrolan grup keluarga, dan membuka obrolan dengan Aveline. [Bestie, orang tuaku setuju!]

Aveline percaya-percaya saja dengannya. [Cill, tolong sampaikan terima kasih buat orang tuamu.]

Cecilia: [Siap, gampang!]

[Oh ya, besok aku jemput kamu dari kantor, langsung ke sini. Kamu tinggal hidup tenang saja!]

Aveline: [Kalau begitu, aku persiapan baju dulu.]

Cecilia: [Nggak usah, bajuku juga banyak di sini. Bahkan banyak yang belum sempat kupakai, labelnya belum dicopot.]

[Tinggi badan kita hampir sama, jadi bajuku masih pas di kamu.]

Aveline: [Kalau begitu, aku tetap bawa pakaian dalam saja, ukurannya agak beda.]

Cecilia: [Iya juga, ukuranmu lebih besar dariku.]

Pipi Aveline merona dan dia terlalu malu untuk membalas lagi.

Malam itu, Aveline hampir tidak tidur. Dia mengemas beberapa pasang pakaian dan beberapa barang kebutuhan sehari-hari ke dalam koper kecil.

Dia akan membawanya ke tempat kerja besok.

Jadi menghemat waktu dan tenaga, tidak perlu kembali lagi untuk berkemas.

Lagi pula, dia benar-benar tidak ingin bertemu dengan ibu pemilik apartemen.

…

Keesokan paginya.

Saat berangkat ke kantor, Aveline membawa serta koper kecilnya.

Setibanya di kantor, dia menitipkan koper itu di resepsionis.

Kemudian, dia berjalan ke pintu lift dan menunggu.

Karena semalam kurang tidur, dia merasa sedikit pusing dan kelopak matanya sulit diajak terbuka.

Saat menunggu lift, kakinya tiba-tiba melemas dan dia hampir jatuh ke depan.

Tiba-tiba, tangan seseorang meraih kerah bajunya dan menariknya kembali sebelum terlambat.

Aveline seketika tersadar, tetapi masih syok.

Jatuhnya tadi bisa saja fatal.

Aveline menoleh ke belakang, hendak mengucapkan terima kasih kepada orang yang menolongnya. Namun tak disangka, yang terlihat di matanya adalah wajah Marcell yang tampan dan rupawan.

Pria itu berdiri di belakangnya, satu tangan di saku, tangan lain mencengkeram kerah bajunya.

Dengan tubuh tinggi dan tegapnya, mengangkat tubuh mungil Aveline dengan satu tangan itu tampak seperti sedang menjinjing anak ayam.

Saat Aveline menyadari orang inilah yang membantunya, ucapan terima kasihnya tiba-tiba tersangkut di tenggorokan.

Mata Marcell dalam dan tajam memanjang menatap wajahnya. "Nona Aveline, ternyata kamu hebat juga, bisa tidur sambil berdiri."

Aveline menangkap nada mengejek dalam ucapan itu dan tersenyum canggung.

"Pak Marcell, terima kasih sudah menolong saya."

"Bisa tolong lepaskan saya?"

Dengan caranya memegang kerah bajunya seperti ini, Aveline benar-benar merasa seperti anak ayam yang dijinjing.

Marcell tersenyum bercanda. "Kalau kulepas, kamu yakin bisa berdiri?"

"..."

Dia masih mengejeknya lagi.

Pintu lift terbuka pada saat itu.

Marcell melirik ke dalam lift sebelum melonggarkan tangannya pada kerah baju Aveline.

Dia melangkah masuk, menekan tombol lantai tujuannya.

Aveline masih berdiri di depan pintu, tidak bergerak.

Dia mengangkat alisnya. "Nggak masuk?"

Aveline tersenyum kaku. "Nggak, saya tunggu yang selanjutnya saja."

Tampak jelas ingin menghindar darinya.

Marcell mendengus singkat tidak peduli, lalu hendak meraih tombol tutup.

Tiba-tiba, sekelompok karyawan yang terburu-buru mengejar lift berlarian mendekat, mendorong paksa Aveline dari depan pintu sampai ke dalam lift.

Aveline didorong kerumunan tepat ke arah Marcell, terus didorong sampai ke sudut ....

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjebak Pelukan Kakak Sahabatku   Bab 50

    Cecilia berjalan ke meja komputer dan mengambil ponselnya yang tertinggal.Permainan di komputer masih belum dimatikan, masih di level yang baru saja dia mainkan bersama Aveline."Aneh, Aveline pergi ke mana?""Komputernya juga belum dimatikan."Dia memandang sekeliling ruangan, tetapi tidak melihat siapa-siapa.Mungkin sudah kembali ke kamarnya?Ini juga salahnya, dia meninggalkan Aveline sendirian menghadapi kakaknya yang sedang marah.Namun, kakaknya seharusnya hanya marah padanya, jadi tidak sampai melakukan apa-apa pada sahabatnya, 'kan?"Kemungkinan nggak. Kakakku nggak mungkin sejahat itu."Cecilia bergumam sendiri, lalu mematikan komputer.Setelah mematikan komputer, dia berbalik dan pergi.Saat itu, Aveline dan Marcell sedang bersembunyi di dalam lemari.Tubuh kekar pria itu menempel erat padanya, hampir tanpa celah.Dia tidak hanya menempel padanya. Bibir tipis pria itu juga sesekali mengisap lekuk lehernya.Jari-jarinya yang panas juga meraba-raba tubuhnya.Karena takut keta

  • Terjebak Pelukan Kakak Sahabatku   Bab 49

    Daun telinganya yang lembut terasa hangat dan lembap, disertai godaan yang disengaja dari pria itu, sensasi kebas langsung menjalar ke seluruh tubuhnya.Tubuh Aveline pun kembali melemas. Sungguh terlalu payah.Dia tidak ingin seperti ini, tetapi tubuhnya tidak mau menurut padanya.Menyebalkan! Kenapa dia jadi begini?"Jangan ...."Jangan?Marcell tertawa kecil, tangannya menangkup pipi yang merona merah itu. Bibir tipis Marcell yang seksi hampir menyentuh bibir merah lembutnya. "Sebenarnya, kamu juga ingin, ya 'kan?"Aveline menggigit bibirnya, merasa malu sampai ke ubun-ubun karena merasa pikirannya telah ditebak.Bibir tipis Marcell terbuka, napas panasnya menyembur ke seluruh wajah Aveline."Ayo ke kamarku, aku akan membuatmu sangat nikmat."Aveline merasa pipinya memanas karena napasnya yang membara, dan terlalu malu untuk berbicara.Namun di mata Marcell, diam berarti setuju.Dia menopang pinggulnya dengan kedua tangan, hendak menggendongnya. "Aku gendong ke kamarku."Napas Aveli

  • Terjebak Pelukan Kakak Sahabatku   Bab 48

    Pria itu perlahan menundukkan kepala, membiarkan bibir tipisnya menempel mesra di daun telinganya."Sekarang, sudah jelas?""Kalau belum jelas, aku nggak keberatan melanjutkan."Bulu mata Aveline bergetar. Dengan bibir yang bengkak dan merah, dia buru-buru berkata, "Sudah jelas, sudah sangat jelas."Marcell tertawa pelan, lalu mengulurkan tangan untuk mengusap kepalanya. "Bagus, akhirnya kamu belajar nurut.""..."Aveline tidak tahan lagi dan mendorongnya. "Lepaskan aku."Dia dicium sangat lama. Tubuhnya masih lemas, bahkan tidak punya kekuatan untuk melawan.Terlebih lagi, pintunya masih terbuka. Dia sangat takut ada orang lewat.Kalau ketahuan dia duduk di pangkuan Marcell, apalagi dalam posisi yang begitu intim, akan sangat memalukan.Marcell mencubit pinggang lembutnya. "Kalau aku nggak mau melepaskanmu, kamu bisa apa?"Aveline pun melotot padanya. Mata basahnya itu terlihat sangat menggetarkan hati, seolah-olah mengeluh dengan manja."Marcell, aku serius, nggak sedang bercanda den

  • Terjebak Pelukan Kakak Sahabatku   Bab 47

    Hampir membuat konsol game di tangan Cecilia terjatuh."Hehe, Kakak, kenapa kamu berdiri di pintu?"Marcell tersenyum menawan. "Kalau aku nggak berdiri di pintu, mana bisa aku nonton pertunjukan menarik yang kamu sutradarai dan bintangi sendiri ini?"Cecilia tertawa kecil. "Aku cuma bercanda, jangan dianggap serius."Marcell mematahkan sendi-sendi jarinya dan masuk dengan santai. "Sebelum aku bertindak, cepat menghilang dari hadapanku."Tingkatan rantai makanan dalam keluarga adalah sesuatu yang tertanam sejak lahir.Cecilia melompat berdiri. "Bestie, sesi game malam ini sampai di sini saja, aku pergi dulu!"Lalu dengan kecepatan kilat, dia melewati Marcell dan berlari keluar dari ruang game.Begitu cepat hingga Aveline pun tidak sempat bereaksi.Aveline melihat Marcell yang semakin mendekat. Dia agak terlambat menyadari dan bangkit berdiri. "Aku juga, pergi dulu."Baru saja akan pergi, pria itu sudah menghampiri dan menekannya kembali ke kursi.Tangan-tangannya yang berotot bertumpu d

  • Terjebak Pelukan Kakak Sahabatku   Bab 46

    Stefanie pergi sambil menangis.Dia jelas sangat terpukul oleh Marcell.Reva benar-benar meradang dibuatnya. Dia menuding kepala anak sulungnya dan berkata, "Kamu, kamu, kamu ..."Dia berkata "kamu" sampai lama sekali, tetapi tidak kunjung jelas apa yang ingin dia katakan.Aveline buru-buru menepuk punggung Reva untuk menenangkannya. "Tante, tenanglah."Marcell berkata, "Ma, jangan sampai mati karena emosi. Kalau nggak ada Mama lagi, Papa nggak mungkin bisa hidup sendiri. Rumah jadi sepi kalau kehilangan dua orang.""?!!""Kamu! Diam di situ, aku hajar kamu sampai mati!"Marcell tidak bodoh. Dia tidak akan diam saja menunggu dipukul.Dia membuat-buat alasan, "Aku masih harus mengurus kerjaan. Aku ke ruang kerja dulu."Lalu, dia naik ke lantai atas.Reva marah sampai dadanya terasa sakit."Avie, lihat dia! Kelakuan macam apa itu!""Sudah setua itu, nggak pernah dekat dengan wanita. Aku cuma mau membantu dia kenalan dengan seorang wanita, apa aku salah?""Wanita ini nggak suka, wanita it

  • Terjebak Pelukan Kakak Sahabatku   Bab 45

    Reva benar-benar tidak habis pikir. Bisa-bisanya seseorang berwatak sebaik dirinya melahirkan anak pembantah bermulut sekasar ini?Dia segera menatap Stefanie dan menenangkannya, "Stefanie, jangan diambil hati. Dia memang suka begini, siapa saja dia bantah."Stefanie mengangguk, berkata dengan sabar, "Nggak apa-apa, aku mengerti.""Kak Marcell kan belum pernah kenal denganku, jadi wajar kalau dia nggak terima."Reva tersenyum puas. Lihatlah, betapa enaknya cara gadis ini bicara.Sayangnya, putranya yang payah itu tidak bisa menghargainya.Dia pun menoleh kepada putranya yang pembantah dan payah itu dan memarahinya, "Dasar anak nakal, kalau kamu nggak bisa bicara sopan, tunggu ayahmu pulang nanti, biar dia hukum kamu sampai kapok."Marcell mencibir, melangkah mendekat dan melemparkan jasnya kepada Aveline, yang tampak acuh tak acuh terhadap situasi tersebut."Ya sudah, aku temani kalian ngobrol."Aveline tiba-tiba merasa pandangannya gelap.Karena jas pria itu menutupi kepalanya.Dia me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status