Share

Bab 2

Author: Ling Rezeki
Saat itu, Aveline sudah menyelinap pulang ke rumah.

Pikirannya tadi tidak karuan. Yang dia inginkan hanya segera melarikan diri, sehingga dia tidak sempat berpamitan kepada Cecilia.

Selain itu, seluruh tubuhnya terasa lengket, entah karena keringat atau cairan apa.

Begitu sampai di rumah, dia bergegas tidak sabar ke kamar mandi.

Saat melepas seluruh pakaiannya, Aveline melihat bayangan dirinya di cermin dan seketika terkesiap.

Gadis di cermin itu berkulit cerah dan halus, seindah mutiara.

Hanya saja, di sekujur tubuhnya terdapat berbagai bekas-bekas keintiman.

Terutama bagian dada. Memandangnya saja tidak sanggup.

Sulit dibayangkan betapa buas dan liarnya pria itu melumat dirinya semalam suntuk.

Sungguh tak terduga. Pria yang sehari-hari mengenakan setelan jas dan berpenampilan serius itu, ternyata di balik pintu begitu ...

Aveline benar-benar tidak berani melihat lebih lama lagi. Dia segera menyalakan pancuran untuk membersihkan bekas-bekas itu.

Saat sedang mandi, dia tiba-tiba merasakan sesuatu dan menunduk.

Begitu melihat ke bawah, pipinya memerah.

Dia pun menyadari, pria itu tidak memakai kondom!

Artinya, dia ...

Aveline menutup matanya, merasa malu.

Mereka melakukannya entah berapa putaran. Untuk berjaga-jaga, dia harus pergi membeli pil kontrasepsi darurat.

Setelah membersihkan seluruh tubuhnya dengan teliti, Aveline keluar dari kamar mandi, bersiap pergi ke apotek terdekat untuk membeli pil kontrasepsi.

Namun, ponselnya tiba-tiba berdering.

Aveline mengambil ponselnya dan melihat nama Cecilia yang menelepon.

Kelopak matanya tiba-tiba berkedut.

Dia terlalu buru-buru pulang, sehingga lupa memberi tahu Cecilia.

Cecilia pasti menyadari dia tidak ada, jadi menelepon untuk menanyakan keberadaannya.

Hanya saja ... apakah Cecilia sudah mengetahui yang terjadi antara dia dengan kakaknya?

Dengan hati penuh kecemasan, Aveline mengangkat telepon.

Cecilia langsung bertanya, "Halo, Avie, kamu di mana?"

"Aku baru bangun. Kamu kucari ke mana-mana, bahkan sampai ke kandang anjingku, tapi nggak ada?"

Aveline menggigit bibirnya, berpikir dalam hati, Cecilia mungkin belum tahu apa yang telah terjadi. Jika tidak, dia tidak akan bertanya seperti itu.

"Aku sudah pulang."

"Maaf, tadi ada urusan mendadak di rumah, aku sampai lupa pamitan."

Cecilia berkata, "Ya sudah, nggak apa-apa, yang penting kamu aman di rumah."

"Kamu kucari-cari habis bangun tadi, nggak ada di mana-mana. Kukira aku lupa meninggalkanmu entah di mana tadi malam!"

Ya, memang bukan meninggalkannya entah di mana, tetapi di kamar kakaknya.

Aveline tentu saja tidak tahu. Dia mengira dirinya sendiri yang mabuk dan tidak sengaja masuk ke kamar kakak Cecilia.

"Nggak, tenang saja."

Cecilia bertanya lagi, "Tapi, kamu tadi malam enak kan tidurnya?"

"Em ..."

Tanpa sadar, momen-momen intim tadi malam melintas di benak Aveline. Setiap adegannya sangat panas, membuat wajahnya merah dan detak jantungnya berlarian kencang.

Suara napas berat pria dan erangan lembut seorang wanita seolah bergema dengan jelas di telinga.

Pipi Aveline semakin merah tanpa disadarinya, dan dia terbata-bata menjawab, "Y-ya."

Cecilia berkata lega, "Syukurlah. Tadinya aku takut terlalu menelantarkanmu."

Kalau tidak, kenapa Aveline sampai pulang pagi buta tanpa pamit?

Aduh, dia memang terlalu kepikiran.

Aveline buru-buru menjawab, "Nggak, aku tidur nyaman tadi malam."

Marcell yang mendengarkan percakapan itu mengangkat alisnya.

Tidur nyaman?

Berarti, dia merasa puas?

Aveline tidak tahu Marcell ada di samping Cecilia. Kalau dia tahu, tidak mungkin dia berkata seperti itu.

Dia masih memikirkan membeli pil kontrasepsi. "Cill, aku masih ada urusan. Tutup dulu ya, ngobrol lagi nanti."

Cecilia mengiyakan tanpa berlama-lama. "Oke."

Aveline menutup telepon lebih dulu. Karena Cecilia tampak tidak menyadari apa-apa, dia sedikit lega.

Setelah itu, dia berganti pakaian dan keluar untuk membeli pil kontrasepsi.

Cecilia menyimpan ponselnya dan melihat Marcell masih berdiri di depannya. "Kak, kamu ngapain?"

"Nguping teleponku dengan sahabatku?"

Marcell meliriknya. "Kamu pernah lihat orang menguping seterang-terangan ini?"

Cecilia mendengus dan hendak mengatakan sesuatu ketika tiba-tiba dia melihat beberapa bekas merah di leher kakaknya.

"Kak, apa itu di lehermu?"

Mendengar kata adiknya, Marcell mengulurkan tangan ke atas untuk mengusap lehernya. Rasanya sedikit perih.

Dia teringat malam tadi, saat Cecilia menangis memohon dengan berlinang air mata meminta dilepaskan.

Gerakannya tiba-tiba menjadi kasar, dan karena Cecilia tidak tahan, dia mencakar lehernya.

Ujung lidahnya menekan ke pipi bagian dalamnya, lalu dia menyunggingkan senyum dengan arti terselubung.

"Dicakar kucing liar."

Cecilia bingung. "Hah?"

"Kucing liar?"

"Kucing liar di mana!"

Marcell terlalu malas menjelaskannya dan berbalik dengan santai. "Pergi, jangan ganggu aku."

Setelah itu, dia menutup pintu.

Pintu dibanting tepat di depan muka Cecilia.

Gadis itu mendengus dan menjulurkan lidahnya dengan nakal ke arah pintu itu.

Marcell kembali ke dalam kamar, melihat kekacauan di lantai dan terdiam sejenak, lalu membungkuk untuk membereskannya.

Selimut dan seprai di tempat tidur tidak bisa dipakai lagi. Dia menggulung semuanya, mengemasnya, dan membuangnya ke tempat sampah.

Namun, dia melihat noda merah di seprai.

Dia pun mengambilnya dan mengamati dengan saksama sejenak, lalu tiba-tiba tertawa.

Kemudian, entah kerasukan apa, dia melipat seprai itu dengan rapi dan menyembunyikannya.

Saat melipat seprai, ada sesuatu yang jatuh dari dalamnya.

Marcell membungkuk mengambilnya dan melihat bahwa itu adalah kalung dengan liontin giok.

Dia menatap liontin giok berbentuk tetesan air itu dan mengusapnya. Sensasi sejuk meresap hingga ke dalam hati dan jiwanya.

Mungkinkah ini ... milik wanita itu yang ketinggalan?

Haha, dasar ceroboh.

Marcell menggenggamnya erat-erat sejenak, lalu memasukkannya ke saku celana.

...

Aveline pergi ke apotek untuk membeli pil kontrasepsi, serta salep pereda bengkak dan nyeri.

Kedua kakinya saling bergesekan dan terasa agak sakit saat dipakai berjalan. Karena takut terjadi peradangan, dia memutuskan untuk membeli salep.

Saat akan mengambilkan salep untuk Aveline, apoteker bertanya lebih detail, "Ada beberapa jenis salep pereda bengkak dan nyeri, untuk bagian tubuh yang berbeda-beda juga. Ini perlu diolehkan di bagian mana?"

Lagi pula, membeli pil kontrasepsi darurat sekaligus salep pereda bengkak dan nyeri akan langsung menimbulkan kecurigaan.

Aveline merasa malu karena ketahuan dan mengangguk canggung. "Ya, yang itu."

Sebagai apoteker dengan pengalaman yang sudah lama, dia terbiasa dengan hal-hal semacam ini.

Dia langsung mengambilkan salep yang tepat untuk Aveline dan memberi tahukan petunjuk pemakaiannya.

Aveline menerima salep itu dan membayar.

Apoteker menambahkan, "Terlalu sering minum pil kontrasepsi darurat itu nggak baik untuk kesehatan. Lain kali, jangan lupa suruh pacarmu pakai kondom."

Sebagian pria hanya peduli pada kenikmatan mereka sendiri dan tidak peduli dengan kesehatan pacar mereka.

Namun, jika tubuh sendiri tidak dijaga, siapa lagi yang bisa menjaganya?

Dia hanya menyinggung sebatas itu saja. Sekarang ini, terlalu banyak gadis-gadis yang kurang menghargai diri sendiri.

Aveline tersipu, menjawab dengan malu-malu dan berbalik pergi.

Sekembalinya di rumah, Aveline segera minum air dan menelan satu pil kontrasepsi, untuk mencegah kemungkinan kehamilan.

Dia lalu pergi ke kamar mandi dan mengoleskan salep.

Setelah menyelesaikan semuanya, hatinya perlahan tenang, dan barulah dia sempat memikirkan untuk memasak mie instan.

Dengan perut kenyang, rasa kantuk mulai menyerang.

Dia kembali ke kamar dan berbaring, bersiap untuk istirahat sejenak.

Saat baru berbaring di tempat tidur, dia tiba-tiba menyadari sesuatu dan tangannya meraba lehernya.

Benar-benar tidak ada.

Aveline tertegun, sisa-sisa rasa kantuk di matanya lenyap seketika.

Gawat!

Kalung gioknya hilang!

Kalung giok ini sangat berarti baginya, hadiah dari ibunya.

Ibunya pernah bercerita bahwa dirinya telah dijodohkan oleh kakeknya saat kecil dulu. Kalung giok ini adalah maskawin dari pihak sana.

Setelah dia dewasa, ibunya menyerahkan kalung itu kepadanya, memintanya menyimpannya dengan baik. Jika pada usia 25 tahun dia belum menikah, akan ada orang yang datang melamarnya.

Jika dia tidak bersedia menerima lamaran itu, dia bisa mengembalikan kalung itu kepada mereka.

Namun sekarang, dia kehilangan kalungnya!

Kalung ini sangat penting, sehingga dia biasanya tidak pernah memakainya.

Hanya saja, kemarin adalah hari ulang tahun Cecilia. Dia mengenakan gaun, dan lehernya terasa kosong tanpa kalung.

Dia teringat kalung yang diberikan ibunya, jadi dia mengambilnya dan memakainya.

Dia pikir tidak apa-apa memakainya untuk satu hari saja.

Siapa sangka, dia tidak sengaja menghilangkannya!

Sejak kapan hilang?!

Aveline duduk di tempat tidur, mengacak-acak rambutnya, sambil memeras otak untuk mengingat-ingat.

Jika kalung itu hilang dan tidak bisa ditemukan kembali, dia harus menjelaskan bagaimana kepada orang tuanya nanti?

Tiba-tiba, dia teringat Cecilia.

Kemarin, dia diajak menginap di rumah Cecilia, dan bahkan bertarung sepanjang malam dengan kakaknya. Mungkinkah ... kalung itu tertinggal di rumah Cecilia?!

Bukan tidak mungkin.

Begitu terpikir kemungkinan itu, Aveline langsung mengambil ponselnya dan mengirim pesan kepada Cecilia.

[Cill, kalung giokku hilang. Siapa tahu ketinggalan di rumahmu, bisa tolong bantu cari?]

Aveline pernah memfoto kalung itu. Dia mencari-cari di galeri ponselnya, menemukan foto kalung tersebut, lalu mengirimkannya kepada Cecilia.

[Kalung ini.]

Cecilia melihat pesan yang dikirim Aveline dan menjawab saat itu juga.

[Oke, aku bantu cari.]

[Terima kasih, maaf merepotkan.]

[Nggak kok!]

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjebak Pelukan Kakak Sahabatku   Bab 50

    Cecilia berjalan ke meja komputer dan mengambil ponselnya yang tertinggal.Permainan di komputer masih belum dimatikan, masih di level yang baru saja dia mainkan bersama Aveline."Aneh, Aveline pergi ke mana?""Komputernya juga belum dimatikan."Dia memandang sekeliling ruangan, tetapi tidak melihat siapa-siapa.Mungkin sudah kembali ke kamarnya?Ini juga salahnya, dia meninggalkan Aveline sendirian menghadapi kakaknya yang sedang marah.Namun, kakaknya seharusnya hanya marah padanya, jadi tidak sampai melakukan apa-apa pada sahabatnya, 'kan?"Kemungkinan nggak. Kakakku nggak mungkin sejahat itu."Cecilia bergumam sendiri, lalu mematikan komputer.Setelah mematikan komputer, dia berbalik dan pergi.Saat itu, Aveline dan Marcell sedang bersembunyi di dalam lemari.Tubuh kekar pria itu menempel erat padanya, hampir tanpa celah.Dia tidak hanya menempel padanya. Bibir tipis pria itu juga sesekali mengisap lekuk lehernya.Jari-jarinya yang panas juga meraba-raba tubuhnya.Karena takut keta

  • Terjebak Pelukan Kakak Sahabatku   Bab 49

    Daun telinganya yang lembut terasa hangat dan lembap, disertai godaan yang disengaja dari pria itu, sensasi kebas langsung menjalar ke seluruh tubuhnya.Tubuh Aveline pun kembali melemas. Sungguh terlalu payah.Dia tidak ingin seperti ini, tetapi tubuhnya tidak mau menurut padanya.Menyebalkan! Kenapa dia jadi begini?"Jangan ...."Jangan?Marcell tertawa kecil, tangannya menangkup pipi yang merona merah itu. Bibir tipis Marcell yang seksi hampir menyentuh bibir merah lembutnya. "Sebenarnya, kamu juga ingin, ya 'kan?"Aveline menggigit bibirnya, merasa malu sampai ke ubun-ubun karena merasa pikirannya telah ditebak.Bibir tipis Marcell terbuka, napas panasnya menyembur ke seluruh wajah Aveline."Ayo ke kamarku, aku akan membuatmu sangat nikmat."Aveline merasa pipinya memanas karena napasnya yang membara, dan terlalu malu untuk berbicara.Namun di mata Marcell, diam berarti setuju.Dia menopang pinggulnya dengan kedua tangan, hendak menggendongnya. "Aku gendong ke kamarku."Napas Aveli

  • Terjebak Pelukan Kakak Sahabatku   Bab 48

    Pria itu perlahan menundukkan kepala, membiarkan bibir tipisnya menempel mesra di daun telinganya."Sekarang, sudah jelas?""Kalau belum jelas, aku nggak keberatan melanjutkan."Bulu mata Aveline bergetar. Dengan bibir yang bengkak dan merah, dia buru-buru berkata, "Sudah jelas, sudah sangat jelas."Marcell tertawa pelan, lalu mengulurkan tangan untuk mengusap kepalanya. "Bagus, akhirnya kamu belajar nurut.""..."Aveline tidak tahan lagi dan mendorongnya. "Lepaskan aku."Dia dicium sangat lama. Tubuhnya masih lemas, bahkan tidak punya kekuatan untuk melawan.Terlebih lagi, pintunya masih terbuka. Dia sangat takut ada orang lewat.Kalau ketahuan dia duduk di pangkuan Marcell, apalagi dalam posisi yang begitu intim, akan sangat memalukan.Marcell mencubit pinggang lembutnya. "Kalau aku nggak mau melepaskanmu, kamu bisa apa?"Aveline pun melotot padanya. Mata basahnya itu terlihat sangat menggetarkan hati, seolah-olah mengeluh dengan manja."Marcell, aku serius, nggak sedang bercanda den

  • Terjebak Pelukan Kakak Sahabatku   Bab 47

    Hampir membuat konsol game di tangan Cecilia terjatuh."Hehe, Kakak, kenapa kamu berdiri di pintu?"Marcell tersenyum menawan. "Kalau aku nggak berdiri di pintu, mana bisa aku nonton pertunjukan menarik yang kamu sutradarai dan bintangi sendiri ini?"Cecilia tertawa kecil. "Aku cuma bercanda, jangan dianggap serius."Marcell mematahkan sendi-sendi jarinya dan masuk dengan santai. "Sebelum aku bertindak, cepat menghilang dari hadapanku."Tingkatan rantai makanan dalam keluarga adalah sesuatu yang tertanam sejak lahir.Cecilia melompat berdiri. "Bestie, sesi game malam ini sampai di sini saja, aku pergi dulu!"Lalu dengan kecepatan kilat, dia melewati Marcell dan berlari keluar dari ruang game.Begitu cepat hingga Aveline pun tidak sempat bereaksi.Aveline melihat Marcell yang semakin mendekat. Dia agak terlambat menyadari dan bangkit berdiri. "Aku juga, pergi dulu."Baru saja akan pergi, pria itu sudah menghampiri dan menekannya kembali ke kursi.Tangan-tangannya yang berotot bertumpu d

  • Terjebak Pelukan Kakak Sahabatku   Bab 46

    Stefanie pergi sambil menangis.Dia jelas sangat terpukul oleh Marcell.Reva benar-benar meradang dibuatnya. Dia menuding kepala anak sulungnya dan berkata, "Kamu, kamu, kamu ..."Dia berkata "kamu" sampai lama sekali, tetapi tidak kunjung jelas apa yang ingin dia katakan.Aveline buru-buru menepuk punggung Reva untuk menenangkannya. "Tante, tenanglah."Marcell berkata, "Ma, jangan sampai mati karena emosi. Kalau nggak ada Mama lagi, Papa nggak mungkin bisa hidup sendiri. Rumah jadi sepi kalau kehilangan dua orang.""?!!""Kamu! Diam di situ, aku hajar kamu sampai mati!"Marcell tidak bodoh. Dia tidak akan diam saja menunggu dipukul.Dia membuat-buat alasan, "Aku masih harus mengurus kerjaan. Aku ke ruang kerja dulu."Lalu, dia naik ke lantai atas.Reva marah sampai dadanya terasa sakit."Avie, lihat dia! Kelakuan macam apa itu!""Sudah setua itu, nggak pernah dekat dengan wanita. Aku cuma mau membantu dia kenalan dengan seorang wanita, apa aku salah?""Wanita ini nggak suka, wanita it

  • Terjebak Pelukan Kakak Sahabatku   Bab 45

    Reva benar-benar tidak habis pikir. Bisa-bisanya seseorang berwatak sebaik dirinya melahirkan anak pembantah bermulut sekasar ini?Dia segera menatap Stefanie dan menenangkannya, "Stefanie, jangan diambil hati. Dia memang suka begini, siapa saja dia bantah."Stefanie mengangguk, berkata dengan sabar, "Nggak apa-apa, aku mengerti.""Kak Marcell kan belum pernah kenal denganku, jadi wajar kalau dia nggak terima."Reva tersenyum puas. Lihatlah, betapa enaknya cara gadis ini bicara.Sayangnya, putranya yang payah itu tidak bisa menghargainya.Dia pun menoleh kepada putranya yang pembantah dan payah itu dan memarahinya, "Dasar anak nakal, kalau kamu nggak bisa bicara sopan, tunggu ayahmu pulang nanti, biar dia hukum kamu sampai kapok."Marcell mencibir, melangkah mendekat dan melemparkan jasnya kepada Aveline, yang tampak acuh tak acuh terhadap situasi tersebut."Ya sudah, aku temani kalian ngobrol."Aveline tiba-tiba merasa pandangannya gelap.Karena jas pria itu menutupi kepalanya.Dia me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status