Share

Bab 3

Author: Ling Rezeki
Cecilia menggeledah semua kamar tamu di rumahnya, serta setiap sudut di ruang tamu dan anak tangga, tanpa melewatkan satu pun. Tetap saja, dia tidak menemukan kalung yang dimaksud Aveline.

Dia memberi kabar balik.

Aveline ingin berkata sesuatu, tetapi menahan diri dan hanya bertanya-tanya dalam hati, mungkinkah kalung itu jatuh di kamar Marcell?

Lagi pula, dia menghabiskan sebagian besar waktunya di kamar pria itu.

Namun tetap saja, bagaimana mungkin dia berani meminta Cecilia mencari di kamar Marcell? Bukankah itu sama saja dengan mengaku terang-terangan?

Ya sudahlah, cari cara lain saja.

Entah mencari cara untuk pergi ke rumah Cecilia lagi dan menyelinap ke kamar Marcell untuk mencarinya.

Atau ... langsung bertanya kepada Marcell?

Aveline memijat pelipisnya, kepalanya terasa pusing.

Tadi pagi, dia pulang diam-diam saat Marcell sedang tidur. Jika dia menghubunginya secara langsung, entah masalah apa yang akan menghadangnya.

Jika Marcell marah besar padanya ...

Konsekuensinya benar-benar sulit.

Terutama karena Aveline sama sekali tidak kenal dengannya. Mereka bahkan belum pernah bertukar satu kata pun.

Mungkin, Marcell bahkan tidak tahu dia ada.

Kalau begitu, cara pertama saja.

Cari kesempatan untuk pergi ke rumah Cecilia lagi, lalu menyelinap ke kamar Marcell dan mencari kalungnya.

...

Saat Marcell turun ke lantai bawah, dia melihat Cecilia berlutut di lantai, memegang kaca pembesar, mengarahkannya ke lantai, melihat ke sana kemari.

Pantatnya menungging naik-turun, membuat gatal ingin menendangnya.

Dia mengerutkan kening dengan jijik. "Kamu sedang apa, mengendap-endap seperti tikus?"

Cecilia sibuk mencari kalung, jadi tidak sempat melayani ejekannya dan menjawab tanpa menoleh, "Aku sedang cari kalung."

Kalung?

Marcell teringat sesuatu, alisnya terangkat. "Kalung apa?"

Cecilia menjawab, "Sahabatku bilang kalungnya hilang, nggak tahu hilang di mana. Jadi dia tanya aku, barangkali kalungnya jatuh di sini. Aku siap menggeledah semua kolong dan setiap sudut rumah ini sampai ketemu!"

"..."

Marcell terdiam sebelum bertanya, "Sudah diperiksa semuanya?"

Cecilia terduduk di lantai dan mendesah. "Sudah semuanya, tapi masih nggak ketemu!"

"Aduh, mungkin jatuhnya nggak di sini."

Marcell menatapnya dari atas, bibir tipisnya bergerak pelan. "Kamarku sudah diperiksa?"

"Kamarmu?"

Cecilia seketika tertawa. "Haha, Kakak bercanda. Mau jatuh di ujung dunia pun, nggak mungkin jatuh di kamarmu!"

Marcell tersenyum penuh arti. "Belum tentu. Siapa tahu memang di kamarku."

Cecilia memutar bola matanya melirik Marcell. "Kak, aku sedang menangani masalah serius. Jangan bercanda denganku!"

Marcell mengangkat alisnya, terlalu malas untuk berdebat.

Dia awalnya berbalik pergi, tetapi memikirkan sesuatu dan berkomentar kepada Cecilia.

"Ngomong-ngomong, sahabatmu itu cantik juga."

Mendengar itu, Cecilia mengangkat alisnya dan tampak sedikit bangga. "Terima kasih, dia memang cantik."

"Dia secantik bidadari. Yang mau mendekatinya itu sampai mengantre panjang."

"Oh, sebanyak itu?" ujar Marcell.

Cecilia mengangguk-angguk. "Iya, teman-teman laki-lakiku banyak yang minta dikenalkan, tapi dia sudah punya tunangan, jadi mereka nggak ada harapan."

Bibir tipis Marcell berkedut, dan akhirnya tertawa sinis.

Sudah punya tunangan? Jadi siapa yang tadi malam menempel terus padanya seperti serigala kelaparan?

Saat membayangkan wanita itu di bawah tubuhnya, dengan parasnya yang menggoda dan memikat, mulutnya merasa haus, dan entah kenapa hatinya terasa seperti digelitik.

Tubuhnya dilanda hasrat yang menggerogoti jiwa.

Cecilia tiba-tiba tersadar. "Kak, kenapa tiba-tiba tanya itu?"

Marcell dalam pikirannya sedang macam-macam, tetapi wajahnya tetap acuh tak acuh. "Nggak apa-apa."

Lalu dia berbalik dan pergi.

Cecilia mencibir, "Dasar nggak jelas."

...

Karena tidak bisa berhenti memikirkan kalung itu, Aveline hampir tidak bisa tidur sepanjang malam.

Saat terbangun, dia melihat matanya dihiasi dua lingkaran hitam pada pantulannya di cermin.

Dia mendesah, mengambil bantalan bedak, lalu mengusapkan sedikit bedak di area sekitar matanya.

Setelah kemarin menggunakan salep dan beristirahat seharian, kakinya sudah jauh lebih ringan.

Lagi pula, hari ini hari Senin, waktunya para pekerja kembali bekerja seperti kuda.

Aveline saat ini bekerja di Grup Mandala, di bagian marketing.

Singkatnya, mempromosikan dan menjual produk.

Di balik Grup Mandala, pemegang modal terbesar adalah Keluarga Hadinata.

Putra mahkota Keluarga Hadinata, Marcell, saat ini menjabat sebagai Direktur Utama, bos tertinggi dari Grup Mandala.

Namun, kantor Divisi Pemasaran tidak berada di lantai yang sama dengan kantor Direktur Utama. Mereka biasanya jarang berinteraksi, hampir tidak pernah berhubungan sama sekali.

Dia sudah bekerja di sana selama lebih dari tiga bulan, tetapi belum pernah berinteraksi langsung dengan Marcell, sang Direktur Utama.

Paling-paling hanya melihat sekilas dari kejauhan beberapa kali.

Oleh karena itu, dia tidak khawatir ketahuan oleh Marcell di kantor.

Selama tidak ketahuan, mungkin kejadian malam itu bisa dianggap seolah tidak pernah terjadi seiring berjalannya waktu.

Sedangkan dia ... anggap saja habis digigit anjing.

Sialnya, ketika seseorang sedang mengalami nasib buruk, tidak ada yang berjalan mulus. Bahkan minum air pun bisa tersangkut di sela-sela gigi.

Dia baru memasuki gedung perusahaan ketika dia mendengar seseorang berseru, "Pak Marcell!"

Jantung Aveline berdebar kencang, dan tanpa sadar dia menoleh.

Tampaklah sosok tinggi dan tegap berpakaian hitam, melangkah masuk melewati pintu dengan langkah mantap dan percaya diri.

Pria itu mengenakan setelan hitam berkualitas tinggi. Tampan dan gagah, dengan proporsi tubuh yang sempurna serta aura yang anggun dan istimewa. Dia terkesan dingin dan arogan, menyembunyikan sifat aslinya dengan penampilan terhormat.

Dengan parasnya yang sempurna dan karisma yang tinggi, dia selalu menjadi pusat perhatian ke mana pun dia pergi.

Namun, begitu Aveline melihatnya, satu-satunya pikiran dalam kepalanya adalah melarikan diri.

Baru saja dia berbalik untuk pergi, entah siapa di belakangnya tiba-tiba tidak sengaja menabrak punggungnya.

Aveline terhuyung dan tanpa disadari terlempar ke arah pria itu.

Sialnya, dia jatuh tepat ke dadanya.

Aroma kayu gaharu yang dingin dan harum tercium dari tubuh pria itu, dan telapak tangannya merasakan otot yang keras. Kepala Aveline seketika berputar dan otaknya macet.

Jika dia ingin bunuh diri pun tidak mungkin sefrontal ini.

Pria itu menundukkan matanya, menatap wanita yang panik dalam pelukannya, suaranya dalam.

"Pura-pura jatuh?"

Pikiran Aveline kosong seketika.

Dia ingin membantah, tetapi tenggorokannya serasa tersumbat, tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun.

Asisten Marcell, Dion Geraldy, segera membuka mulut. "Kenapa diam saja? Cepat menjauh dari Pak Marcell."

Aveline tersadar dari keterkejutannya dan mundur cepat beberapa langkah. "Mohon maaf, saya lancang."

Setelah meminta maaf, tanpa peduli ekspresi pria di belakangnya, dia berlari pergi dengan panik.

Marcell menatap sosok wanita yang terbirit-birit melarikan diri itu, mata gelapnya menyipit penuh selidik.

Dia belum sempat mencarinya untuk meminta penjelasan. Siapa sangka wanita itu malah mengantarkan diri ke dalam perangkap.

Heh.

Ternyata ada tepat di depan matanya, jadi dia tidak perlu repot-repot mencari.

Dia melirik asistennya, lalu bertanya seolah sambil lalu, "Wanita itu namanya siapa? Kerja di bagian mana?"

Dion menjawab tanpa berpikir panjang, "Namanya Aveline Winata, Divisi Marketing."

Marcell mengangguk dan tersenyum. "Pak Dion, kamu sepertinya kenal betul tentang dia?"

Mendengar komentar ini, Dion tersenyum agak malu. "Dia termasuk primadona di perusahaan kita. Katanya banyak juga yang naksir dia, jadi saya sempat dengar-dengar sedikit."

Marcell tertawa dengan nada yang sarat arti, suaranya dalam dan santai.

"Pak Dion, seumur hidup belum pernah lihat wanita cantik? Sedangkal itu pandanganmu?"

Dion terdiam kaku.

Dia merasa telah disindir, senyumnya luntur dalam sekejap.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjebak Pelukan Kakak Sahabatku   Bab 50

    Cecilia berjalan ke meja komputer dan mengambil ponselnya yang tertinggal.Permainan di komputer masih belum dimatikan, masih di level yang baru saja dia mainkan bersama Aveline."Aneh, Aveline pergi ke mana?""Komputernya juga belum dimatikan."Dia memandang sekeliling ruangan, tetapi tidak melihat siapa-siapa.Mungkin sudah kembali ke kamarnya?Ini juga salahnya, dia meninggalkan Aveline sendirian menghadapi kakaknya yang sedang marah.Namun, kakaknya seharusnya hanya marah padanya, jadi tidak sampai melakukan apa-apa pada sahabatnya, 'kan?"Kemungkinan nggak. Kakakku nggak mungkin sejahat itu."Cecilia bergumam sendiri, lalu mematikan komputer.Setelah mematikan komputer, dia berbalik dan pergi.Saat itu, Aveline dan Marcell sedang bersembunyi di dalam lemari.Tubuh kekar pria itu menempel erat padanya, hampir tanpa celah.Dia tidak hanya menempel padanya. Bibir tipis pria itu juga sesekali mengisap lekuk lehernya.Jari-jarinya yang panas juga meraba-raba tubuhnya.Karena takut keta

  • Terjebak Pelukan Kakak Sahabatku   Bab 49

    Daun telinganya yang lembut terasa hangat dan lembap, disertai godaan yang disengaja dari pria itu, sensasi kebas langsung menjalar ke seluruh tubuhnya.Tubuh Aveline pun kembali melemas. Sungguh terlalu payah.Dia tidak ingin seperti ini, tetapi tubuhnya tidak mau menurut padanya.Menyebalkan! Kenapa dia jadi begini?"Jangan ...."Jangan?Marcell tertawa kecil, tangannya menangkup pipi yang merona merah itu. Bibir tipis Marcell yang seksi hampir menyentuh bibir merah lembutnya. "Sebenarnya, kamu juga ingin, ya 'kan?"Aveline menggigit bibirnya, merasa malu sampai ke ubun-ubun karena merasa pikirannya telah ditebak.Bibir tipis Marcell terbuka, napas panasnya menyembur ke seluruh wajah Aveline."Ayo ke kamarku, aku akan membuatmu sangat nikmat."Aveline merasa pipinya memanas karena napasnya yang membara, dan terlalu malu untuk berbicara.Namun di mata Marcell, diam berarti setuju.Dia menopang pinggulnya dengan kedua tangan, hendak menggendongnya. "Aku gendong ke kamarku."Napas Aveli

  • Terjebak Pelukan Kakak Sahabatku   Bab 48

    Pria itu perlahan menundukkan kepala, membiarkan bibir tipisnya menempel mesra di daun telinganya."Sekarang, sudah jelas?""Kalau belum jelas, aku nggak keberatan melanjutkan."Bulu mata Aveline bergetar. Dengan bibir yang bengkak dan merah, dia buru-buru berkata, "Sudah jelas, sudah sangat jelas."Marcell tertawa pelan, lalu mengulurkan tangan untuk mengusap kepalanya. "Bagus, akhirnya kamu belajar nurut.""..."Aveline tidak tahan lagi dan mendorongnya. "Lepaskan aku."Dia dicium sangat lama. Tubuhnya masih lemas, bahkan tidak punya kekuatan untuk melawan.Terlebih lagi, pintunya masih terbuka. Dia sangat takut ada orang lewat.Kalau ketahuan dia duduk di pangkuan Marcell, apalagi dalam posisi yang begitu intim, akan sangat memalukan.Marcell mencubit pinggang lembutnya. "Kalau aku nggak mau melepaskanmu, kamu bisa apa?"Aveline pun melotot padanya. Mata basahnya itu terlihat sangat menggetarkan hati, seolah-olah mengeluh dengan manja."Marcell, aku serius, nggak sedang bercanda den

  • Terjebak Pelukan Kakak Sahabatku   Bab 47

    Hampir membuat konsol game di tangan Cecilia terjatuh."Hehe, Kakak, kenapa kamu berdiri di pintu?"Marcell tersenyum menawan. "Kalau aku nggak berdiri di pintu, mana bisa aku nonton pertunjukan menarik yang kamu sutradarai dan bintangi sendiri ini?"Cecilia tertawa kecil. "Aku cuma bercanda, jangan dianggap serius."Marcell mematahkan sendi-sendi jarinya dan masuk dengan santai. "Sebelum aku bertindak, cepat menghilang dari hadapanku."Tingkatan rantai makanan dalam keluarga adalah sesuatu yang tertanam sejak lahir.Cecilia melompat berdiri. "Bestie, sesi game malam ini sampai di sini saja, aku pergi dulu!"Lalu dengan kecepatan kilat, dia melewati Marcell dan berlari keluar dari ruang game.Begitu cepat hingga Aveline pun tidak sempat bereaksi.Aveline melihat Marcell yang semakin mendekat. Dia agak terlambat menyadari dan bangkit berdiri. "Aku juga, pergi dulu."Baru saja akan pergi, pria itu sudah menghampiri dan menekannya kembali ke kursi.Tangan-tangannya yang berotot bertumpu d

  • Terjebak Pelukan Kakak Sahabatku   Bab 46

    Stefanie pergi sambil menangis.Dia jelas sangat terpukul oleh Marcell.Reva benar-benar meradang dibuatnya. Dia menuding kepala anak sulungnya dan berkata, "Kamu, kamu, kamu ..."Dia berkata "kamu" sampai lama sekali, tetapi tidak kunjung jelas apa yang ingin dia katakan.Aveline buru-buru menepuk punggung Reva untuk menenangkannya. "Tante, tenanglah."Marcell berkata, "Ma, jangan sampai mati karena emosi. Kalau nggak ada Mama lagi, Papa nggak mungkin bisa hidup sendiri. Rumah jadi sepi kalau kehilangan dua orang.""?!!""Kamu! Diam di situ, aku hajar kamu sampai mati!"Marcell tidak bodoh. Dia tidak akan diam saja menunggu dipukul.Dia membuat-buat alasan, "Aku masih harus mengurus kerjaan. Aku ke ruang kerja dulu."Lalu, dia naik ke lantai atas.Reva marah sampai dadanya terasa sakit."Avie, lihat dia! Kelakuan macam apa itu!""Sudah setua itu, nggak pernah dekat dengan wanita. Aku cuma mau membantu dia kenalan dengan seorang wanita, apa aku salah?""Wanita ini nggak suka, wanita it

  • Terjebak Pelukan Kakak Sahabatku   Bab 45

    Reva benar-benar tidak habis pikir. Bisa-bisanya seseorang berwatak sebaik dirinya melahirkan anak pembantah bermulut sekasar ini?Dia segera menatap Stefanie dan menenangkannya, "Stefanie, jangan diambil hati. Dia memang suka begini, siapa saja dia bantah."Stefanie mengangguk, berkata dengan sabar, "Nggak apa-apa, aku mengerti.""Kak Marcell kan belum pernah kenal denganku, jadi wajar kalau dia nggak terima."Reva tersenyum puas. Lihatlah, betapa enaknya cara gadis ini bicara.Sayangnya, putranya yang payah itu tidak bisa menghargainya.Dia pun menoleh kepada putranya yang pembantah dan payah itu dan memarahinya, "Dasar anak nakal, kalau kamu nggak bisa bicara sopan, tunggu ayahmu pulang nanti, biar dia hukum kamu sampai kapok."Marcell mencibir, melangkah mendekat dan melemparkan jasnya kepada Aveline, yang tampak acuh tak acuh terhadap situasi tersebut."Ya sudah, aku temani kalian ngobrol."Aveline tiba-tiba merasa pandangannya gelap.Karena jas pria itu menutupi kepalanya.Dia me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status