Share

Bab 9

Author: Ling Rezeki
"Aturannya sudah diatur dalam undang-undang, bukan saya membuat-buat."

Ibu pemilik apartemen masih mengeyel. "Aturan apa itu? Aku nggak mengakuinya!"

Polisi menjelaskan, "Ibu nggak mengakui juga nggak ada pengaruhnya. Anak Ibu mabuk dan bermaksud mengganggu Nona Aveline di tengah malam, tapi gagal. Sesuai peraturan, dia harus ditahan selama tiga hari dan didenda dua juta."

"Tentu saja, kalau kalian bisa mendapatkan maaf dari korban, hukumannya bisa diringankan."

Donny langsung menolak. "Ma, aku nggak mau ditahan!"

Ibu pemilik apartemen tidak menyangka masalahnya akan seserius ini. Dia mengira anaknya paling-paling hanya akan diberi teguran lisan setelah dibawa ke kantor polisi.

Semua ini salah Aveline si perempuan jalang itu, yang tidak tahu diri!

Dia pun mengancam Aveline, "Aveline, kalau kamu setuju memberi keringanan kepada anakku, aku bisa anggap kejadian ini nggak pernah terjadi. Kamu masih bisa menyewa rumahku."

"Kalau kamu menolak, angkat kaki dari rumahku!"

Tanpa perlu diancam seperti itu pun Aveline sudah tidak ingin tinggal di tempat mengerikan itu lagi.

Semua yang terjadi malam ini sudah cukup membuatnya ketakutan. Dia tidak punya hati tinggal di sana lagi.

"Aku akan pindah sesegera mungkin setelah menemukan rumah baru."

Ibu pemilik apartemen marah. "Kalau begitu, kemasi barang-barangmu, pergi sekarang juga!"

Aveline dengan wajah dingin membela diri, "Di awal menyewa, aku sudah tanda tangan kontrak sewa denganmu. Aku menandatangani kontrak untuk setengah tahun. Sekarang baru tiga bulan, masih sisa tiga bulan lagi. Kalau mau mengusirku, kamu harus bayar denda pelanggaran kontrak tiga kali lipat dari uang sewa."

"Kalau kamu bisa membayar dendanya sekarang, aku langsung pindah."

"Kamu!"

Ibu pemilik apartemen memelototi Aveline. Anaknya sudah sangat menderita karena wanita ini, dan sekarang dia harus membayar denda tiga kali lipat? Rugi bandar!

Dia tidak rela!

Aveline berkata dengan tenang, "Tinggal kamu bayar denda pelanggaran kontrak sekarang, atau aku pindahnya tunggu sampai dapat rumah baru. Silakan pilih sendiri."

Menyadari ketegasan Aveline, ibu pemilik apartemen itu mengurungkan niat untuk melawan lebih jauh. Suaranya pun menjadi tidak segalak tadi.

"Jadi, kamu maunya apa biar nggak nuntut anakku lagi?"

Aveline menjawab singkat, "Melakukan kesalahan, harus menerima hukuman."

"Laki-laki sejati harus berani bertanggung jawab atas perbuatannya. Kalau anakmu masih menganggap dirinya laki-laki, dia harus mengakui kesalahannya dan menerima hukuman, bukan malah melarikan diri."

Petugas polisi itu menatap Aveline dengan persetujuan. "Nona Aveline benar."

Ibu pemilik apartemen terbungkam.

Donny melotot kesal kepada Aveline.

Akhirnya, Donny tetap ditahan di kantor polisi.

Malam sudah larut, sebagai seorang gadis yang berdaya lemah, Aveline tidak mungkin pulang sendirian naik taksi.

Petugas polisi itu mengantar Aveline pulang.

Dia tampak cukup muda, sebaya dengan Aveline, dan berwajah tampan serta berkulit cerah.

Setelah mengantar Aveline sampai depan rumah, dia juga menyerahkan selembar kartu nama kepada Aveline.

"Nona Aveline pasti agak terguncang malam ini."

"Kalau suatu saat menghadapi bahaya lagi, langsung saja hubungi saya."

Aveline menerima kartu nama itu dan mengucapkan terima kasih. "Pak Henrik, terima kasih sudah repot-repot mengantar saya pulang."

Henrik Gunawan menatap wajah Aveline yang cantik dan putih bersih itu, menggaruk kepalanya dengan sedikit tersipu. "Sama-sama, sudah tugas saya."

Aveline berkata dengan tulus, "Pak Henrik, saya berterima kasih banyak, tapi sekarang sudah terlalu malam, kurang pas kalau saya ajak mampir. Lain kali saja saya traktir makan."

Henrik menatap wajah Aveline, terdiam, wajahnya sedikit memerah, menjawab spontan tanpa disadari, "Oke, saya tunggu."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjebak Pelukan Kakak Sahabatku   Bab 50

    Cecilia berjalan ke meja komputer dan mengambil ponselnya yang tertinggal.Permainan di komputer masih belum dimatikan, masih di level yang baru saja dia mainkan bersama Aveline."Aneh, Aveline pergi ke mana?""Komputernya juga belum dimatikan."Dia memandang sekeliling ruangan, tetapi tidak melihat siapa-siapa.Mungkin sudah kembali ke kamarnya?Ini juga salahnya, dia meninggalkan Aveline sendirian menghadapi kakaknya yang sedang marah.Namun, kakaknya seharusnya hanya marah padanya, jadi tidak sampai melakukan apa-apa pada sahabatnya, 'kan?"Kemungkinan nggak. Kakakku nggak mungkin sejahat itu."Cecilia bergumam sendiri, lalu mematikan komputer.Setelah mematikan komputer, dia berbalik dan pergi.Saat itu, Aveline dan Marcell sedang bersembunyi di dalam lemari.Tubuh kekar pria itu menempel erat padanya, hampir tanpa celah.Dia tidak hanya menempel padanya. Bibir tipis pria itu juga sesekali mengisap lekuk lehernya.Jari-jarinya yang panas juga meraba-raba tubuhnya.Karena takut keta

  • Terjebak Pelukan Kakak Sahabatku   Bab 49

    Daun telinganya yang lembut terasa hangat dan lembap, disertai godaan yang disengaja dari pria itu, sensasi kebas langsung menjalar ke seluruh tubuhnya.Tubuh Aveline pun kembali melemas. Sungguh terlalu payah.Dia tidak ingin seperti ini, tetapi tubuhnya tidak mau menurut padanya.Menyebalkan! Kenapa dia jadi begini?"Jangan ...."Jangan?Marcell tertawa kecil, tangannya menangkup pipi yang merona merah itu. Bibir tipis Marcell yang seksi hampir menyentuh bibir merah lembutnya. "Sebenarnya, kamu juga ingin, ya 'kan?"Aveline menggigit bibirnya, merasa malu sampai ke ubun-ubun karena merasa pikirannya telah ditebak.Bibir tipis Marcell terbuka, napas panasnya menyembur ke seluruh wajah Aveline."Ayo ke kamarku, aku akan membuatmu sangat nikmat."Aveline merasa pipinya memanas karena napasnya yang membara, dan terlalu malu untuk berbicara.Namun di mata Marcell, diam berarti setuju.Dia menopang pinggulnya dengan kedua tangan, hendak menggendongnya. "Aku gendong ke kamarku."Napas Aveli

  • Terjebak Pelukan Kakak Sahabatku   Bab 48

    Pria itu perlahan menundukkan kepala, membiarkan bibir tipisnya menempel mesra di daun telinganya."Sekarang, sudah jelas?""Kalau belum jelas, aku nggak keberatan melanjutkan."Bulu mata Aveline bergetar. Dengan bibir yang bengkak dan merah, dia buru-buru berkata, "Sudah jelas, sudah sangat jelas."Marcell tertawa pelan, lalu mengulurkan tangan untuk mengusap kepalanya. "Bagus, akhirnya kamu belajar nurut.""..."Aveline tidak tahan lagi dan mendorongnya. "Lepaskan aku."Dia dicium sangat lama. Tubuhnya masih lemas, bahkan tidak punya kekuatan untuk melawan.Terlebih lagi, pintunya masih terbuka. Dia sangat takut ada orang lewat.Kalau ketahuan dia duduk di pangkuan Marcell, apalagi dalam posisi yang begitu intim, akan sangat memalukan.Marcell mencubit pinggang lembutnya. "Kalau aku nggak mau melepaskanmu, kamu bisa apa?"Aveline pun melotot padanya. Mata basahnya itu terlihat sangat menggetarkan hati, seolah-olah mengeluh dengan manja."Marcell, aku serius, nggak sedang bercanda den

  • Terjebak Pelukan Kakak Sahabatku   Bab 47

    Hampir membuat konsol game di tangan Cecilia terjatuh."Hehe, Kakak, kenapa kamu berdiri di pintu?"Marcell tersenyum menawan. "Kalau aku nggak berdiri di pintu, mana bisa aku nonton pertunjukan menarik yang kamu sutradarai dan bintangi sendiri ini?"Cecilia tertawa kecil. "Aku cuma bercanda, jangan dianggap serius."Marcell mematahkan sendi-sendi jarinya dan masuk dengan santai. "Sebelum aku bertindak, cepat menghilang dari hadapanku."Tingkatan rantai makanan dalam keluarga adalah sesuatu yang tertanam sejak lahir.Cecilia melompat berdiri. "Bestie, sesi game malam ini sampai di sini saja, aku pergi dulu!"Lalu dengan kecepatan kilat, dia melewati Marcell dan berlari keluar dari ruang game.Begitu cepat hingga Aveline pun tidak sempat bereaksi.Aveline melihat Marcell yang semakin mendekat. Dia agak terlambat menyadari dan bangkit berdiri. "Aku juga, pergi dulu."Baru saja akan pergi, pria itu sudah menghampiri dan menekannya kembali ke kursi.Tangan-tangannya yang berotot bertumpu d

  • Terjebak Pelukan Kakak Sahabatku   Bab 46

    Stefanie pergi sambil menangis.Dia jelas sangat terpukul oleh Marcell.Reva benar-benar meradang dibuatnya. Dia menuding kepala anak sulungnya dan berkata, "Kamu, kamu, kamu ..."Dia berkata "kamu" sampai lama sekali, tetapi tidak kunjung jelas apa yang ingin dia katakan.Aveline buru-buru menepuk punggung Reva untuk menenangkannya. "Tante, tenanglah."Marcell berkata, "Ma, jangan sampai mati karena emosi. Kalau nggak ada Mama lagi, Papa nggak mungkin bisa hidup sendiri. Rumah jadi sepi kalau kehilangan dua orang.""?!!""Kamu! Diam di situ, aku hajar kamu sampai mati!"Marcell tidak bodoh. Dia tidak akan diam saja menunggu dipukul.Dia membuat-buat alasan, "Aku masih harus mengurus kerjaan. Aku ke ruang kerja dulu."Lalu, dia naik ke lantai atas.Reva marah sampai dadanya terasa sakit."Avie, lihat dia! Kelakuan macam apa itu!""Sudah setua itu, nggak pernah dekat dengan wanita. Aku cuma mau membantu dia kenalan dengan seorang wanita, apa aku salah?""Wanita ini nggak suka, wanita it

  • Terjebak Pelukan Kakak Sahabatku   Bab 45

    Reva benar-benar tidak habis pikir. Bisa-bisanya seseorang berwatak sebaik dirinya melahirkan anak pembantah bermulut sekasar ini?Dia segera menatap Stefanie dan menenangkannya, "Stefanie, jangan diambil hati. Dia memang suka begini, siapa saja dia bantah."Stefanie mengangguk, berkata dengan sabar, "Nggak apa-apa, aku mengerti.""Kak Marcell kan belum pernah kenal denganku, jadi wajar kalau dia nggak terima."Reva tersenyum puas. Lihatlah, betapa enaknya cara gadis ini bicara.Sayangnya, putranya yang payah itu tidak bisa menghargainya.Dia pun menoleh kepada putranya yang pembantah dan payah itu dan memarahinya, "Dasar anak nakal, kalau kamu nggak bisa bicara sopan, tunggu ayahmu pulang nanti, biar dia hukum kamu sampai kapok."Marcell mencibir, melangkah mendekat dan melemparkan jasnya kepada Aveline, yang tampak acuh tak acuh terhadap situasi tersebut."Ya sudah, aku temani kalian ngobrol."Aveline tiba-tiba merasa pandangannya gelap.Karena jas pria itu menutupi kepalanya.Dia me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status