Mag-log inBegitu kami turun dari mobil, Mattheo langsung berjalan lebih dulu.
Seperti biasa.
Hanya saja malam ini ada yang berbeda.
Langkahnya terlalu cepat.
Aku bahkan harus sedikit mempercepat langkah supaya bisa menyusulnya.
"Mattheo."
Tidak ada jawaban.
Aku mengernyit.
"Mattheo."
Ia tetap berjalan.
<
“Siapa?”Aku yang berdiri di depan pintu akhirnya menjawab.“Aku.”Beberapa detik berlalu.Tidak ada suara dari dalam.Aku mengetuk sekali lagi.“Evelyn.”Kali ini terdengar langkah kaki mendekat.Kunci pintu diputar.Klik.Pintu terbuka.Evelyn berdiri di sana.Rambutnya sedikit berantakan. Raut wajahnya seperti tidak bahagia.Begitu melihatku, ia tersenyum.“Kau.”“Kenapa?”“Tidak apa-apa.”Aku mengangkat alis.“Aku baru bilang namaku.”Ia tertawa kecil.“Ya, aku tahu.”Aku menatapnya sebentar.Entah kenapa sejak tadi ada sesuatu yang terasa tidak beres.Namun aku tidak ingin langsung bertanya.Aku lebih memilih mendekat.Tanganku melingkar di pinggangnya dan menariknya sedikit ke arahku.Ia tidak semp
Aku tidak menunggu lebih lama.Begitu suara dari dalam basement itu terdengar dan langkah kaki Mattheo mulai menjauh, aku langsung berbalik.Aku bahkan tidak memikirkan apakah ada orang yang melihatku.Aku hanya ingin pergi.Secepat mungkin.Kakiku membawaku melewati taman tanpa berhenti. Gaun rumah yang kukenakan sedikit tersangkut pada ranting bunga ketika aku melewati jalan setapak, tetapi aku tidak peduli. Aku menariknya dan terus berjalan.Sesekali aku menoleh ke belakang.Kosong.Tidak ada Mattheo.Tidak ada pengawal.Tidak ada siapa pun.Namun jantungku tetap berdetak begitu cepat.Aku mempercepat langkah.Begitu sampai di dalam estate, aku langsung menaiki tangga menuju lantai dua.Aku tidak ingin bertemu siapa pun.Tidak ingin menjawab pertanyaan.Tidak ingin tersenyum seperti biasanya.Aku hanya ingin masuk ke kamar.Pintu kututup.Lalu kukun
Aku masih berdiri di balik semak-semak.Tubuhku menegang.Pandangan mataku tidak pernah lepas dari pintu tersembunyi yang baru saja dimasuki pria itu.Seorang pengawal.Membawa nampan makanan.Masuk ke tempat yang bahkan selama ini tidak pernah kuketahui keberadaannya.Basement.Aku menelan ludah.Kenapa ada basement tersembunyi di dalam estate ini?Dan yang lebih membuatku penasaran...Untuk siapa makanan itu?Aku kembali mengintip dari balik dedaunan.Tidak ada siapa-siapa.Taman kembali sunyi.Hanya suara angin yang menggerakkan daun-daun pohon dan suara air dari air mancur yang berada tidak jauh dariku.Aku menunggu.Satu menit.Dua menit.Tidak ada siapa pun yang keluar.Aku mulai berpikir mungkin aku bisa pergi sekarang.Namun rasa penasaran itu kembali muncul.Aku tahu seharusnya aku tidak ikut campur.Aku tahu tempat ini ad
Aku terbangun ketika sinar matahari menyelinap melalui celah tirai.Untuk beberapa detik, aku hanya menatap langit-langit kamar.Masih setengah sadar.Aku menggerakkan tanganku ke samping.Kosong.Aku mengerutkan kening.Biasanya Mattheo sudah lebih dulu bangun. Entah pergi ke ruang kerja, berbicara dengan Anthonio, atau sekadar berdiri di balkon sambil menikmati kopi paginya.Aku menarik napas panjang.Lalu perlahan semua kejadian semalam kembali memenuhi kepalaku.Aku langsung menutup kedua mata.Astaga.Aku benar-benar melakukan itu.Dengan Mattheo.Aku menarik selimut hingga menutupi sebagian wajahku.Pipiku terasa panas.Selama ini pernikahan kami hanya sebuah kontrak.Sebuah kesepakatan yang memiliki batas waktu.Namun tadi malam...Aku mengembuskan napas pelan.Tidak ada lagi yang bisa kusebut sebagai hubungan pura-pura setelah apa yang terjadi
Aku masih menatapnya.Pertanyaan itu terus terngiang di kepalaku.“Kalau aku bukan suamimu karena kontrak… apakah kau masih menginginkanku?”Aku tidak tahu harus menjawab apa.Bukan karena aku tidak tahu jawabannya.Justru karena aku terlalu tahu.Masalahnya, jawaban itu terasa terlalu berbahaya untuk diucapkan.Aku menelan ludah.Mattheo masih berdiri di hadapanku.Tatapannya tidak berpindah sedikit pun dariku.Tidak ada senyum.Tidak ada nada bercanda.Ia sungguh menunggu jawabanku.“Kenapa kau bertanya seperti itu?”“Karena aku ingin tahu.”“Untuk apa?”“Karena jawabannya penting bagiku.”Aku terdiam.Tanganku yang sejak tadi berada di sisi tubuh perlahan mengepal.Aku ingin mengatakan tidak.Aku ingin mengatakan bahwa semua ini hanya karena kami terlalu sering bersam
Aku menatap pintu kamar Evelyn yang sudah tertutup sejak beberapa menit lalu.Tanganku mengepal.Aku masih bisa melihat ekspresinya sebelum pintu itu ditutup.Tatapan kecewa.Bukan marah.Justru itu yang membuat dadaku terasa sesak.Aku menoleh kepada Angela.Untuk pertama kalinya sejak ia datang malam ini, tidak ada sedikit pun kesabaran tersisa dalam diriku.“Pergi.”Angela mengangkat alis.“Mattheo—”“Sekarang.”“Tapi aku hanya—”“Aku tidak peduli apa alasanmu.”Suaraku terdengar lebih rendah.Namun justru semakin tegas.“Kau sudah membuat semuanya terlihat seperti sesuatu yang tidak pernah terjadi.”Angela terdiam.Aku berjalan mendekatinya.“Dan aku tidak akan membiarkanmu membuat Evelyn salah paham.”Ia tertawa kecil.“Jadi sekarang







