MasukKematian ayahnya merenggut segalanya. Evelyn Laurent, seorang celloist dan balerina berbakat, kehilangan hak warisnya setelah seluruh kekayaan keluarga jatuh ke tangan ibu tiri dan adik tirinya yang selama ini berpura-pura menyayanginya. Pengkhianatan itu semakin lengkap ketika tunangannya memilih meninggalkannya demi wanita yang kini menguasai harta keluarga Laurent. Saat menerima undangan untuk tampil dalam sebuah gala bergengsi di Italia, Evelyn menganggapnya sebagai kesempatan untuk memulai hidup baru. Namun tanpa sepengetahuannya, perjalanan itu adalah sebuah jebakan. Demi melunasi utang besar kepada keluarga Bellucci, ibu tiri dan adik tirinya diam-diam menjadikan Evelyn sebagai alat pembayaran. Dalam sekejap, ia terjebak di dunia mafia yang asing dan berbahaya, di bawah pengawasan Mattheo Bellucci—pewaris tampan, dingin, dan paling ditakuti di Italia. Awalnya Mattheo menganggap Evelyn tidak lebih dari beban yang dikirim untuk menyelesaikan urusan keluarga. Namun keceriaan, kecerdasan, dan keberanian wanita itu perlahan menghancurkan tembok yang selama ini melindungi hatinya. Sementara keluarga Bellucci mulai menerima Evelyn sebagai bagian dari mereka, orang-orang yang pernah menghancurkan hidupnya justru mulai menyesali pilihan mereka. Tetapi ketika rahasia di balik kematian ayah Evelyn mulai terungkap, ia menyadari bahwa dirinya tidak pernah dijual secara kebetulan. Dan kali ini, bukan hanya hatinya yang dipertaruhkan, melainkan juga nyawanya.
Lihat lebih banyak"Ada apa ini, Bu?"
Aku menghentikan langkah begitu memasuki ruang keluarga.
Beberapa pria dan wanita bersetelan jas hitam duduk mengelilingi meja yang biasa digunakan Ayah menerima tamu bisnis. Sebagian mengetik di laptop, sebagian lagi memeriksa dokumen.
Vivian Laurent menoleh kepadaku sambil mengaduk teh di cangkirnya.
Sepuluh tahun lalu, Ayah membawanya ke rumah ini sebagai istri kedua. Sejak saat itu, ia dan putrinya, Sophia, tinggal bersama kami.
"Ah, kau sudah datang rupanya," katanya santai.
"Ada apa ini?"
"Pembacaan wasiat."
Aku mengernyit.
"Wasiat? Ayah bahkan belum genap tujuh hari meninggal."
"Lalu?"
"Apa tidak terlalu cepat membahas warisan?"
Vivian mengangkat bahu.
"Yang telah meninggal sudah tenang. Kita yang masih hidup harus memikirkan masa depan."
Dadaku langsung terasa sesak.
Aku sendiri bahkan belum sanggup menerima kenyataan bahwa Ayah telah pergi.
"Menurut Ibu ini pantas?"
Vivian tersenyum tipis.
"Jangan berlebihan, Evelyn."
Belum sempat aku membalas, suara langkah kaki terdengar dari arah pintu.
Tuan Adrian Moreau, pengacara keluarga Laurent, memasuki ruangan sambil membawa sebuah amplop cokelat.
"Maaf atas keterlambatan saya, Nyonya."
"Tidak apa-apa."
Ia melihat kami bergantian.
"Kalau semua anggota keluarga sudah hadir, kita bisa segera memulai."
"Tentu," jawab Vivian cepat.
Aku duduk di samping Sophia.
Sejak tadi ia bahkan tidak mengangkat kepala dari ponselnya.
"Kau tidak bekerja hari ini?" tanyaku.
"Cuti."
"Hmm."
Hubungan kami berubah sejak aku mengetahui perselingkuhannya dengan Nathaniel.
Saat aku sibuk menjaga Ayah di rumah sakit, mereka justru menjalin hubungan di belakangku.
"Bagaimana hubunganmu dengannya?" tanyaku.
Sophia akhirnya menoleh.
"Baik. Nathaniel bahkan berniat melamarku."
Aku mengangguk.
"Baguslah."
Ia terus menatapku, mungkin berharap aku marah atau sedih.
Sayangnya, aku sudah terlalu lelah untuk mempertahankan laki-laki yang jelas tidak memilihku.
Suara Tuan Adrian memecah keheningan.
"Pembacaan wasiat Almarhum Tuan William Laurent akan segera dimulai."
Ia mengangkat amplop di tangannya.
"Dokumen ini selama ini disimpan di brankas pribadi beliau di Bank Swiss."
Pandangannya beralih kepada Vivian.
"Saya juga mengucapkan terima kasih kepada Nyonya Vivian Laurent karena telah menemukan kata sandi brankas tersebut sehingga surat ini akhirnya dapat dibuka."
Ia menyobek segel amplop.
Ruangan berubah sunyi.
Entah kenapa, senyum Vivian membuat perasaanku tidak enak.
"Aneh..." gumamku pelan.
Tuan Adrian mulai membaca.
"Kepada istri tercinta dan putri cantikku..."
Aku mendengarkan setiap katanya.
Lalu satu per satu isi wasiat mulai dibacakan.
Seluruh perusahaan keluarga diwariskan kepada Vivian.
Rumah utama keluarga diberikan kepada Sophia.
Seluruh rekening di Bank Swiss dan Amerika juga diwariskan kepada Sophia.
Jantungku berdetak semakin cepat.
Ini tidak mungkin.
"Ini pasti salah..." bisikku.
Aku hampir tidak lagi mendengar suara Tuan Adrian.
Denging memenuhi telingaku.
Saat kembali sadar, kulihat Vivian sudah menerima dokumen yang harus ditandatangani.
"TIDAK!"
Semua orang menoleh.
"Tidak mungkin!" teriakku. "Ayah tidak mungkin melakukan ini!"
Aku merebut surat wasiat itu dari tangan Tuan Adrian.
Tanganku gemetar saat membaca setiap kalimat.
Tulisan itu memang milik Ayah.
Tapi...
Kenapa namaku tidak ada?
"Nona Evelyn," ucap Tuan Adrian pelan. "Kami sudah memastikan keaslian dokumen ini. Tidak ada kesalahan."
Aku tidak mendengarnya lagi. Lebih tepatnya tidak bisa mendengarnya.
Mataku hanya melihat dua nama.
Vivian Laurent.
Sophia Laurent.
Namaku tidak ada.
Seolah aku bukanlah putri William Laurent.
Aku mengepalkan surat itu hingga kusut.
Saat menoleh, kulihat Sophia menutup tawanya dengan telapak tangan.
"KAU!"
Aku menunjuknya.
"Kau tahu soal ini, kan?"
Belum sempat Sophia menjawab—
PLAK!
Tamparan Vivian mendarat di pipiku.
Aku memegang pipi yang terasa panas.
"Ibu... menamparku?"
Vivian menatapku tajam.
"Jangan membuat keributan yang tidak semestinya."
Aku tertawa pelan.
Tawa yang bahkan terdengar asing bahkan di telingaku sendiri.
"Aku mengerti sekarang."
"Apa?"
"Bahwa ternyata selama ini aku hanyalah orang asing di rumahku sendiri. Rumah yang dibeli oleh kedua orangtuaku."
"Itu sudah jadi keputusan ayahmu," ucap Vivian.
"Tidak."
Aku menggeleng. "Itu tidak mungkin."
Ayah mungkin pernah marah padaku.
Ayah mungkin pernah kecewa.
Tapi beliau tidak mungkin menghapusku dari hidupnya.
Tidak mungkin. Ini pasti kesalahan.
"Kau harus belajar menerima kenyataan, Evelyn."
Aku menatap Vivian sepersekian detik.
Lalu mengangguk.
"Baik."
Untuk sesaat wajahnya tampak lega.
Namun aku melanjutkan,
"Kalau memang rumah ini bukan lagi milikku... aku akan pergi."
Senyum Sophia langsung menghilang.
"Kau serius?" tanya Vivian.
Aku tidak menjawab.
Aku berbalik dan menaiki tangga.
"Evelyn!" teriak Vivian.
Setiap anak tangga terasa semakin berat.
Begitu sampai di kamar, aku menjatuhkan diri di tepi ranjang dan menatap kosong ke arah jendela.
Rumah ini terasa asing.
Padahal aku tumbuh di sini.
Setiap sudutnya menyimpan kenangan tentang Ayah, tetapi entah sejak kapan tempat yang dulu terasa paling aman kini justru membuatku ingin pergi sejauh mungkin.
Aku memejamkan mata.
Wajah Ayah muncul dalam benakku.
Lalu wajah Nathaniel.
Disusul tawa Sophia yang masih terngiang di telingaku.
Dadaku kembali sesak.
Dalam waktu singkat, hidupku berubah berantakan.
Aku kehilangan Ayah.
Kehilangan tunangan.
Dan hari ini, aku kehilangan rumah yang selama ini kuanggap milikku.
Saat mengangkat kepala, pandanganku menangkap sebuah amplop merah yang tergeletak di atas meja rias.
Aku mengernyit.
Seingatku, tadi pagi benda itu belum ada.
Perlahan aku bangkit dan mengambilnya.
Sebuah undangan.
Aku membuka amplop itu.
Aku membuka isinya dan mendapati namaku tercetak rapi di sana.
Undangan untuk tampil sebagai seorang celloist dalam sebuah acara eksklusif yang akan diselenggarakan di Italia.
Biasanya aku akan mempertimbangkannya berkali-kali sebelum memberikan jawaban.
Namun kali ini, yang kurasakan justru berbeda.
Italia.
Mendengar nama Negara itu seperti akan cocok untuk melepas semua kepenatan ini.
Jauh dari Vivian.
Jauh dari Sophia.
Dan, jauh dari Nathaniel.
Tanpa sadar jemariku menggenggam undangan itu lebih erat.
Mungkin ini hanya sebuah pekerjaan. Sebuah perjalanan singkat yang tidak berarti apa-apa.
Atau mungkin... ini adalah kesempatan untuk meninggalkan semua hal yang selama ini menahanku.
Pandanganku berhenti pada nama penyelenggara yang tercetak di bagian bawah surat.
Bellucci Foundation.
Aku belum pernah mendengar nama itu sebelumnya.
Namun entah mengapa, ada sesuatu yang mengusik diriku dan membuatku bertanya haruskah aku menerima undangan ini?
"Aku tetap tidak mau." Jawaban ia masih sama seperti seminggu yang lalu walaupun sebanyak apapun negosiasi yang telah kulakukan. Mengingat kata-kata itu saja sudah membuatku sangat kesal. Apalagi melihat wajahnya. Ya Tuhan, kenapa pria ini begitu keras kepala? Rasa cemas memenuhi isi kepalaku. Besok Bianca dan Isabella akan mengajakku untuk fitting gaun pengantin dan aku tidak mau apa yang kucuri dengar dari pembicaraan mereka sungguh terjadi kepadaku. Setidaknya aku harus membalaskan dendamku pada Vivian sebelum aku mati sia-sia. Aku kembali membentuk tembikar di atas mesin putar yang kuminta dari Alice. "Memang berengsek," ucapku pada tembikar itu. Selama dua minggu sejak kedatanganku di sini, tidak ada satu hari pun aku merasa menganggur. Walaupun dua puluh dua jam selalu kuhabiskan di kamarku, aku selalu memiliki kesibukan. Menjahit pakaian, belajar bahasa Belanda dan Arab, membaca buku, dan bahkan hari ini aku membuat tembikar. Aku sudah meminta Alice untuk menyiapkan ce
"Bagaimana cara meyakinkannya?" gumamku pada diri sendiri. Sudah puluhan kali aku mondar-mandir di kamarku yang begitu luas ini. Tapi belum ada ide satupun. Kemarin aku sempat berbicara dengan Bianca dan Isabella tapi jika aku boleh memilih aku lebih menyukai berbicara dengan Mattheo. Seluruh keluarga Bellucci kuakui memiliki watak yang keras dan menganggap argumennya adalah hal yang pasti dan tidak bisa diganggu gugat. Mereka tidak ingin pernikahan terjadi di antara aku dan Mattheo. Aku seharusnya setuju tentang itu. Tapi, nyawaku yang jadi ancamannya. Setelah pembicaraan di antara kami bertiga, aku tidak sengaja mencuri dengar bahwa kedua orang itu telah mengatur cara agar aku keluar dari rumah ini dengan dalih mempersiapkan pernikahan dan menggunakan momen itu untuk menghabisiku. Oh, Tuhan. Neraka apa yang ada di rumah ini. Aku terus mondar-mandir agar aku menemukan cara meyakinkan Mattheo untuk mau menikah denganku, dan aku ingin terus berada di samping Mattheo sampai dirasa k
"Nona? Apa anda mendengar saya?" Alice menyiapkan pakaian yang akan kugunakan untuk makan malam. Ia meletakkan sebuah gaun berwarna hitam, off-shoulder, dengan sentuhan aksen tali melilit di leher. Gaun malam yang sangat indah. Entah kenapa aku menyukai semua pakaian di kloset yang disediakan di kamarku."Apa yang sedang Nona pikirkan?" tanyanya. "Tidak ada," balasku singkat. "Apa Nona membutuhkan bantuan untuk merias wajah dan menata rambut Nona juga?"Aku tersenyum kecil. "Kurasa tidak perlu, Alice. Aku bisa melakukannya sendiri." "Baiklah, kalau begitu. Seperti biasa jika Nona membutuhkanku silahkan—" "Menghubungiku di telepon dengan menekan tombol satu." "Aku terharu Nona menghapalnya." Aku tersenyum. "Kau mengatakan itu sejak tiga hari yang lalu, Alice. Hampir setiap tiga jam sekali." Alice tertawa kecil. Aku kembali menatap diriku di depan cermin. Pakaian yang indah, aksesori indah. Segala hal di ruangan ini indah. Tapi tidak dengan yang ada di luar sana. Sudah tiga ha
"Selamat pagi." Aku bergulung di kasur dan meregangkan tubuhku. Sinar matahari yang cerah menusuk mataku. "Aku ingin kembali tidur. Ayah, bisakah gordennya kembali ditutup?" gumamku. "Selamat pagi." "Iyaa, Ayah. Selamat pagi," jawabku malas-malasan, masih menutup mataku dan menenggelamkan kepalaku ke bawah bantal. Tunggu. Suara laki-laki. Bukan ayah. Ah—mungkin tamu ayah. Aku kembali tidur. "Selamat datang di Mansion Tuan Mattheo." Kilas balik ingatanku kembali muncul. Benar, aku kan di Italia. Di rumah orang asing. Lalu, itu suara siapa?"Selamat pagi!" ucapnya sekali lagi. Aku langsung beranjak bangun dan menoleh ke kanan-kiri. Lalu ke belakangku. Kulihat Mattheo Bellucci sudah duduk di sofa kecil, kakinya bersilang di satu sisi. Tangan kanannya memegang gelas kaca berisi wiski. Aku sedikit terperanjat dan langsung bangkit dari kasur. Bingung. "Kau mau ke mana?" tanyanya. "Ke kamarku." balasku. "Pasti aku salah kamar." Aku berjalan ke pintu, tapi aku melihat sepatu






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.