Se connecterUdara di ruang kerja Mita pagi itu terasa seperti oksigen yang menipis di puncak gunung, dingin, mencekik, dan membuat setiap tarikan napas terasa berat.Di atas meja jati yang biasanya rapi, sebuah kalender duduk dengan lingkaran merah yang tampak seperti luka terbuka. Hari ini adalah sidang perdana perceraiannya dengan Pram.Pikirannya melayang pada tatapan Samudra pagi tadi. Putranya itu berdiri di depan pintu dengan mata yang merah karena kurang tidur."Ma, aku bolos hari ini, ya? Aku mau di samping Mama," pintanya. Namun, Mita tetaplah Mita.Dengan senyum tipis yang dipaksakan, ia mengantar putranya ke depan gerbang sekolah.Ia tak ingin racun dari hubungan orang dewasa mengontaminasi masa muda Samudra. Tugas anak itu adalah belajar, bukan menyaksikan keruntuhan rumah tangga orang tuanya di depan hakim.Namun, mengusir Samudra ternyata jauh lebih mudah daripada menghadapi sosok yang kini berdiri di ambang pintu kantornya.Gara.Pemuda itu tidak bergerak. Punggungnya bersandar pad
Setiap tarikan napas terasa seperti tusukan belati bagi Pram. Tulang rusuknya yang retak seolah memprotes setiap gerakan, namun ia tetap tegak. Ia tidak boleh terlihat lemah di hadapan orang asing.Kafe itu tersembunyi, Amara sengaja memilih meja di sudut paling remang. Meja itu strategis, memberi mereka jarak pandang ke pintu masuk tanpa harus menjadi pusat perhatian.Tak lama, denting lonceng di pintu memecah keheningan. Seorang pria berusia lima puluhan masuk dengan langkah yang terlalu stabil untuk seseorang seusianya.Jas abu-abu gelapnya tampak sederhana, namun jenis kainnya memantulkan cahaya lampu dengan cara yang hanya bisa dilakukan oleh barang mahal. Senyumnya terpasang rapi, presisi seperti kartu nama yang baru dicetak."Amara," sapa pria itu dengan suara baritonnya, hangat namun memiliki resonansi otoritas yang tak terbantahkan. "Lama tidak bertemu.""Pak Adnan." Amara berdiri, menjabat tangan pria itu dengan formalitas yang kaku. "Terima kasih sudah meluangkan waktu di j
Langkah Amara terasa berat, seolah setiap inci lantai marmer itu berusaha mengisap sisa tenaga yang ia miliki.Fisik perempuan yang sedang hamil terlihat lelah, namun psikisnya jauh lebih hancur, tercabik antara rasa bersalah dan rahasia yang kian menghimpit. Dalam kegelapan ruang tamu, ia hanya ingin merebahkan diri dan menghilang.Klik.Cahaya lampu ruang tengah menyala tiba-tiba, menusuk matanya yang sembap. Amara tersentak, jantungnya berpacu liar saat menangkap siluet pria yang duduk tegak di sofa tunggal. Gara. Putranya itu duduk di sana layaknya seorang hakim yang siap menjatuhkan vonis."Dari mana Mama jam segini?"Suara Gara datar, namun memiliki ketajaman yang sanggup mengiris keheningan. Ia tidak beranjak, hanya tatapannya yang mengunci Amara, dingin dan penuh penghakiman yang tak terucap."Mama... hanya mencari udara segar, Gar," jawab Amara terbata, jemarinya tanpa sadar meremas ujung blusnya yang kusut.Gara berdiri, langkah kakinya mendekat dengan ritme yang mengintimid
Pram menatap ruang tamu yang mendadak terasa asing. Keheningan di rumah itu biasanya adalah bentuk kepatuhan Mita yang menenangkan, namun kini keheningan itu terasa seperti jerat yang mencekik lehernya.Jika melihat perubahan sikap Mita askhir-akhir ini, langkah yang diambil Mita tidak mengejutkan. Pram tahu istrinya bukan wanita bodoh, namun akan sejauh ini.Selama bertahun-tahun, Pram memelihara kejumawaan di bawah atap ini. Ia yakin Mita akan selalu patuh nurut dengan titahnya. Namun, satu pemberontakan dingin dari Mita ternyata cukup untuk meruntuhkan kesombongannya."Untuk saat ini, tidak banyak yang bisa kulakukan," suara Pram terdengar parau, nyaris seperti bisikan untuk dirinya sendiri. "Aku hanya perlu mempersiapkan diri untuk sidang pertama."Amara, yang duduk di seberangnya, langsung menajamkan tatapan. Mereka beradu pandang, bukan lagi dengan binar asmara seperti biasanya, melainkan dengan perhitungan untung rugi yang tidak boleh salah."Mita sudah menguras semua hartamu,
Udara di dalam kabin mobil terasa menipis, seolah oksigen enggan singgah di paru-paru Amara. Jari-jarinya gemetar hebat saat kunci mobil itu berdenting menghantam dashboard. Bayangan wajah Mita yang sedingin es dan tatapan Samudra yang menghakimi masih menari-nari di pelupuk matanya."Pram harus tahu," bisiknya pada kekosongan. Suaranya serak, nyaris pecah oleh beban ketakutan yang menggunung. "Aku tidak bisa membiarkan Mita menghancurkan segalanya. Tidak sekarang."Amara mengelus perutnya yang masih rata. Di sana ada nyawa yang ia jadikan tameng sekaligus senjata. Pram bukan sekadar kekasih gelapnya selama dua tahun ini, Pram adalah asuransi masa depannya.Setelah Gara dewasa, aliran dana dari Sadewa akan mengering. Ia tak sudi membayangkan masa tua di mana ia harus menengadahkan tangan pada putranya sendiri demi selembar rupiah.Pram adalah tiket bagi Amara menuju kenyamanan abadi. Pram harus bertanggung jawab atas bayi yang dikandungnya beserta masa depan mereka, apa pun risikonya.
Malam itu, di antara rak-rak yang menjulang terasa menyempit. Udara malam terasa semakin tipis, seolah oksigen direnggut paksa oleh kehadiran mereka bertiga.Mita, yang biasanya adalah sosok yang penuh kehangatan dan tawa renyah, kini berdiri kaku. Wajahnya terlihat beku, tanpa ekspresi, seolah-olah Amara hanyalah orang asing yang kebetulan menghalangi jalannya.Amara mencoba menarik sudut bibirnya, memaksakan sebuah senyum yang terasa seperti luka robek di wajahnya. Namun, saat matanya beradu dengan sepasang netra tajam milik Samudra yang berdiri di samping Mita, senyum itu raib tanpa bekas.Ada kilat kebencian yang murni di mata remaja itu. Amara teringat siluet Samudra yang beberapa kali tertangkap matanya di lorong hotel saat ia bersama Pram. Dulu, ia mengira itu hanya kebetulan. Kini, ia sadar, Samudra adalah saksi nyata yang mengumpulkan setiap kepingan dosa papanya."Mit..." Suara Amara bergetar, nyaris tertelan deru napasnya sendiri.Mita tak segera menjawab. Ia mengatur napas







