LOGIN“Aku tidak akan membiarkan Tante hanya berdua dengan pria brengsek itu.”Suara Gara rendah, namun penuh penekanan yang bergetar. Tangannya mengepal di sisi tubuh, urat-urat di lehernya menegang saat tatapannya menghunus tajam ke arah sosok pria yang duduk angkuh di sofa ruang kerja Mita.Mita menghela napas, menyentuh lengan Gara dengan lembut, sebuah gestur menenangkan yang justru membuat Gara semakin enggan beranjak.“Tenang saja, Gara. Semua akan baik-baik saja.”“Tenang?” Gara berbalik, menatap Mita dengan mata yang memerah. “Tante lupa apa yang terjadi beberapa hari yang lalu? Dia hampir mencelakai Tante!”Ada rasa cemburu yang mengiris di balik proteksinya. Dia takut, bukan hanya karena fisik Mita yang terancam, tapi dia takut pada sisa-sisa kenangan yang mungkin masih tersimpan di hati Mita. Dia takut Mita akan goyah.“Dia tidak akan berani melakukannya lagi,” ucap Mita, suaranya begitu tenang, seolah dia sudah mengendalikan keadaan. “Jika dia melakukannya lagi, itu akan menjad
Pram merasakan seolah oksigen di ruangan itu mendadak menguap.Dunia yang selama ini ia kendalikan mendadak goyah, miring, dan siap menimpanya. Jantungnya berdegup liar, menghantam rongga dada dengan ritme yang menyakitkan.Jadi, anak Amara tahu.Pikiran itu menyengatnya seperti bisa ular. Selama ini ia merasa paling cerdik, merasa telah menidurkan lawan-lawannya dalam kenyamanan palsu.Namun sekarang, kenyataan pahit menghantamnya, dialah yang selama ini sedang ditidurkan, dibiarkan terbuai dalam rasa aman yang semu, hanya untuk diseret ke meja eksekusi pada saat yang paling tidak terduga.Pram menelan ludah, tenggorokannya terasa seperti dipenuhi pecahan kaca. Ia berusaha keras mengatur napas, membusungkan dada untuk menutupi gemetar halus di tangannya.“Kau lancang,” desis Pram. Suaranya serak, mencoba memungut sisa-sisa kuasa yang sudah remuk. “Di mana Mita?”Gara tidak berkedip. Ia justru tersenyum tipis, sebuah senyum yang dingin, hampa, dan sama sekali tidak menyentuh matanya y
Gemericik air dari shower menghantam bahu Pram dengan ritme yang menyakitkan.Setiap tetesnya seolah menekan luka memar di dadanya yang belum pulih benar sisa dari pukulan gara yang nyaris merenggut nyawanya minggu lalu. Namun, rasa perih di kulitnya tak sebanding dengan kekosongan yang menganga di ulu hati.Pram menyandarkan dahi pada dinding keramik yang dingin. Napasnya berat, berasap tipis di udara kamar mandi yang lembap.Perceraian ini bukan sekadar akhir dari janji suci. Ini adalah eksekusi mati bagi masa depannya. Mita tidak hanya ingin pergi, dia ingin membumihanguskan seluruh dunia Pram sebelum melangkah keluar pintu."Sialan..." desis Pram, suaranya parau.Mita telah menguras segalanya. Brankas di ruang kerja kini melompong. Namun, yang membuat jantung Pram seolah diremas adalah hilangnya map biru berisi rancangan Proyek Amara.Itu bukan sekadar tumpukan kertas, itu adalah detak jantung kariernya, hasil begadang berbulan-bulan yang ia susun bersama Amara, rekan kerja sekali
Adnan tidak langsung menjawab. Ia menoleh, menimbang kata-katanya seolah setiap suku kata memiliki konsekuensi hukum yang berat."Ketidakhadirannya bisa mempercepat proses secara verstek, Bu Mita. Tapi..." Adnan menggantung kalimatnya. Matanya yang tajam menatap pintu masuk lobi dengan dahi berkerut dalam."Pria seperti Pram biasanya tidak membiarkan mangsanya pergi semudah itu. Diamnya dia saat ini bukan berarti menyerah. Bisa jadi ini adalah rencana yang sudah dia siapkan untuk sidang berikutnya."Mita merapatkan pelukannya pada bundel berkas di dadanya. Kertas-kertas itu terasa seperti perisai rapuh melawan bayangan Pram yang dominan.Di tengah keraguan yang menghimpit, ibu satu anak itu tiba-tiba teringat tatapan nekat Gara pagi tadi. Keberanian liar pemuda itu entah bagaimana menyusup ke dalam nadinya, memberinya sedikit tenaga untuk tetap berdiri tegak.Mita merasakan dingin merambat di tengkuknya. "Maksud Anda, dia sengaja membiarkan saya merasa menang hari ini?""Predator pali
Udara di ruang kerja Mita pagi itu terasa seperti oksigen yang menipis di puncak gunung, dingin, mencekik, dan membuat setiap tarikan napas terasa berat.Di atas meja jati yang biasanya rapi, sebuah kalender duduk dengan lingkaran merah yang tampak seperti luka terbuka. Hari ini adalah sidang perdana perceraiannya dengan Pram.Pikirannya melayang pada tatapan Samudra pagi tadi. Putranya itu berdiri di depan pintu dengan mata yang merah karena kurang tidur."Ma, aku bolos hari ini, ya? Aku mau di samping Mama," pintanya. Namun, Mita tetaplah Mita.Dengan senyum tipis yang dipaksakan, ia mengantar putranya ke depan gerbang sekolah.Ia tak ingin racun dari hubungan orang dewasa mengontaminasi masa muda Samudra. Tugas anak itu adalah belajar, bukan menyaksikan keruntuhan rumah tangga orang tuanya di depan hakim.Namun, mengusir Samudra ternyata jauh lebih mudah daripada menghadapi sosok yang kini berdiri di ambang pintu kantornya.Gara.Pemuda itu tidak bergerak. Punggungnya bersandar pad
Setiap tarikan napas terasa seperti tusukan belati bagi Pram. Tulang rusuknya yang retak seolah memprotes setiap gerakan, namun ia tetap tegak. Ia tidak boleh terlihat lemah di hadapan orang asing.Kafe itu tersembunyi, Amara sengaja memilih meja di sudut paling remang. Meja itu strategis, memberi mereka jarak pandang ke pintu masuk tanpa harus menjadi pusat perhatian.Tak lama, denting lonceng di pintu memecah keheningan. Seorang pria berusia lima puluhan masuk dengan langkah yang terlalu stabil untuk seseorang seusianya.Jas abu-abu gelapnya tampak sederhana, namun jenis kainnya memantulkan cahaya lampu dengan cara yang hanya bisa dilakukan oleh barang mahal. Senyumnya terpasang rapi, presisi seperti kartu nama yang baru dicetak."Amara," sapa pria itu dengan suara baritonnya, hangat namun memiliki resonansi otoritas yang tak terbantahkan. "Lama tidak bertemu.""Pak Adnan." Amara berdiri, menjabat tangan pria itu dengan formalitas yang kaku. "Terima kasih sudah meluangkan waktu di j







