MasukKeesokan harinya. Karena tadi adanya Evan di rumah itu, membuat Meyra lebih banyak menghabiskan waktu dengan Glen. Kesedihan Meyra berkurang drastis setelah menghabiskan malam dengan Glen.Di lantai 2 kamar tidur utama, mereka terbangun saat mendengar suara bel rumah.Ting! Tong!Meyra mengucek sebelah matanya. "Kayaknya ada tamu, Mas."Glen menarik napas, sedikit kesal dan juga malas untuk keluar. Dia menatap ke arah jam dan masih menunjukkan pukul 06.15."Bi Tuti aja masih belum datang jam segini. Siapa, sih, pagi-pagi begini? Ganggu aja," gumamnya menggerutu. "Padahal aku mau bersantai mumpung akhir pekan."Meyra terkekeh pelan. "Ya udah. Kalau gitu aku aja yang lihat."Glen segera menghentikan Meyra yang hendak turun dari tempat tidur."Jangan. Aku aja. Penampilan kamu agak berantakan. Nanti harus pakai banyak concealer."Meyra menunduk, menatap tubuh polosnya yang penuh dengan bercak cupang. Dia langsung memukul pundak Glen."Gara-gara siapa aku begini?" protesnya.Glen selaku pe
Meyra mengerjap kaget mendengar pertanyaan Glen. Meski sudah beberapa kali pria itu menawarkan, tetap saja Meyra tak terbiasa.Dengan kepala menunduk, Meyra menjawab sedikit malu. "Iya."Glen tersenyum puas. Satu tangannya meraih tangan Meyra untuk digenggam. Lalu mengecup punggung tangan Meyra."Kamu pasti keliatan cantik pakainya.""A-apa sih, Mas!" ucap Meyra. Wajahnya langsung merona, sedikit salah tingkah. "Pada akhirnya bakal dilepas juga."Glen terkekeh pelan, tak menyangkalnya. "Iya juga."Meyra hanya memutar bola matanya sambil menghambuskan napas. Dia mencoba menenangkan debaran di hatinya.Glen langsung melajukan kendaraannya lebih cepat. Dalam waktu yang lebih singkat, mereka akhirnya tiba di rumah.Meyra turun lebih dulu. Sedangkan Glen harus memarkirkan kendaraannya di garasi.Meyra masuk ke rumah, dan bergegas menuju kamar. Tapi di dalam sana, sedikit berantakan. Sepatu, jas, dan dasi berserakan. Beberapa helai pakaian di lemari pun tak dibereskan lagi.Dan pelaku semau
Tak lama kemudian, Erina merasa lebih baik setelah memuntahkan semuanya. Dia kembali menuju tempat tidur dan mengambil ponselnya. Panggilan masih berlangsung."Sayang, kamu kenapa tiba-tiba ngilang?" tanya Evan dengan nada khawatir.Erina berdehem pelan dan menjawab, "Nggak tau, nih. Tiba-tiba mual. Mungkin asam lambungku naik lagi.""Kirain apa, bikin kaget aja," sahut Evan terdengar lega. "Kalau gitu cepet makan, minum obat, terus istirahat. Kamu pasti suka lewat jam makan, kan?"Erina mendengus pelan mendengar omelannya."Iya, iya," jawabnya singkat, lalu memutus panggilan begitu saja.Erina kemudian berdiri dan hendak mengambil pakaian dari lemari. Tapi di meja riasnya terdapat sebuah kalender kecil. Seketika Erina menyipit tajam."Terakhir aku haid kapan, ya?" gumamnya bicara sendiri. Refleks, Erina menunduk dan menatap tubuhnya, terutama bagian perut. Dalam hati ia menduga-duga.'Jangan-jangan ....'Tiga hari berlalu tanpa terasa. Di bandara, Evan keluar sambil menggeret koperny
Meyra terdiam mendengar perkataan Glen. Matanya membelalak kaget. Rahangnya menegang, namun coba ia sembunyikan."Ya terserah. Aku nggak punya hak larang-larang kamu," jawabnya dengan suara sedikit bergetar, dan kembali menundukkan kepalanya.Meyra fokus menyantap makanannya lagi. Tapi kini terasa sulit untuk menelannya.Sedangkan Glen, di depannya terlihat santai. Dia terus memperhatikan gerak-gerik dan ekspresi Meyra. Dia sangat menikmati tingkah Meyra saat ini."Aku jarang lihat kamu cemburu kayak gini, ternyata lucu ya," ucapnya dengan nada bermain-main.Meyra menatapnya lagi. Raut wajahnya semakin kesal."Siapa yang cemburu?!" bantahnya. "Silahkan aja kamu kalau mau sama siapa aja."Glen tentu tak percaya dengan perkataan itu. Dia berdiri lalu beralih duduk di samping Meyra. Satu tangannya terulur mengelus wajah Meyra."Aku udah punya kamu, sayang. Buat apa cari yang lain?"Namun Meyra tak menjawab. Dia malah memalingkan pandangan, menjauh dari sentuhan Glen. Perkataannya masih k
Meyra terdiam beberapa saat setelah mendengar pertanyaan itu. Entah kenapa dadanya terasa sesak. Namun dia bersusah payah menyembunyikannya.Meyra tersenyum tipis dan akhirnya menjawab, "Aku nggak yakin, Tante. Coba tanya aja nanti ke Papa."Tiana menarik napas, lalu menyilangkan kedua lengannya."Tapi saya nggak punya nomor teleponnya. Kalau tiba-tiba dateng ke kantornya juga kan aneh."Luna terkekeh pelan. Dia mengeluarkan ponselnya."Bilang aja mau minta nomornya. Nih kukasih," ucapnya sambil menekan-nekan tombol di ponselnya.Wajah Tiana kembali cerah, lalu ia tersenyum sedikit malu-malu. "Kamu tau aja, Lun."Meyra tak berkomentar apa pun. Melarang pun ia tak punya hak. Jadi hanya bisa membiarkannya saja.Di tengah rasa tak nyaman di hati, tiba-tiba terdengar seseorang yang memanggil."Mey!"Meyra menoleh mendengar suara yang familier. Itu adalah sahabatnya, Lisa, yang mereka tunggu-tunggu."Tante Tiana, temen saya udah dateng. Kami pergi dulu, ya," pamitnya dengan ramah.Tiana lan
Meyra sedikit tersentak mendengar pertanyaan tiba-tiba itu. "Tante, kok bisa tau?" Luna menoleh sekilas sambil menyeringai kecil, lalu kembali menatap jalanan di depan. "Siapa pun di posisiku yang lihat kejadiannya langsung pasti bakal sadar. Pikir aja, istrinya ditabrak, malah penabraknya yang ditemui duluan. Kan aneh." Meyra hanya tersenyum kecut mengingat kejadian itu. Luna melanjutkan. "Dan lihat perilaku kamu hari ini, dugaanku jadi makin kuat." "Hm. Gimana ya, Tan. Aku sempat desak dia juga, nggak mau ngaku," sahut Meyra dengan nada tenang, walaupun tersirat kemarahan dan kekecewaan yang mendalam. Luna menarik napas panjang. Mobilnya berhenti saat lampu merah. "Apa kamu nggak mau berencana buat cerai sama dia?" Meyra kembali tersenyum, namun kemudian menghela napas berat. "Rumit, Tante." "Iya juga, sih," balas Luna kembali berpikir. "Pasti nggak gampang, apalagi kalau si suami nggak mau ngaku dan kita nggak ada bukti kuat. Itu yang nyebelin dan bikin stres para perempuan







