Share

Bab 6

Penulis: Hopefulen
last update Terakhir Diperbarui: 2025-07-25 12:02:25

Natasha melirik pelan pada Jasper yang terlihat santai duduk di sebelahnya sambil membaca salah satu buku koleksi Natasha. Jantung gadis itu berdebar kencang takut-takut kalau Jasper akan melakukan sesuatu padanya apalagi saat ini mereka berdua sedang berada di dalam kamar setelah Natasha memohon pada Jasper untuk bisa melanjutkan pekerjaannya, bersyukur pria itu setuju namun ada konsekuensi yang harus diterima Natasha yaitu Jasper yang duduk di sebelahnya dengan tali yang mengikat pinggannya dan tersambung juga dengan salah satu tangan Jasper sehingga sekarang mereka saling menempel.

“Cepat kerjakan pekerjaanmu jangan melirikku terus.”

Natasha tersentak kaget tapi buru-buru merubah mimik wajahnya menjadi sok santai.

“Aku punya mata, ya aku gunakan untuk melihat.”

Jasper menutup buku yang dia baca dan sepenuhnya menoleh pada Natasha. Sedangkan gadis itu tahu tatapan tajam Jasper mengarah padanya membuat dirinya semakin menciut, tapi namanya juga anak dari Calsine

“Kau mau tanya apa?”

Natasha mengerutkan dahinya sambil menatap Jasper dengan penuh tanda tanya.

“Kau mau tahu kenapa aku membunuh tunanganku?”

Natasha tidak menjawab tapi mafia tampan itu tahu bahwa yang dia katakan itu benar adanya—gadis itu ingin tahu lebih dalam lagi.

“Jangan katakan kau hanya ingin, jawab yang sebenarnya.”

“Kau memerintahku?”

‘Damn … mati kau Natasha.’

“Tidak … aku tidak memerintahmu. Kau bertanya begitu berarti secara tidak langsung akan menjawab dengan jujur kenapa kau membunuh tunanganmu,” jawab gadis itu dengan wajah sok berani tapi dalam hati jantungnya sudah akan lompat keluar.

“Kenapa kau membunuhnya? Dia berselingkuh atau apa?”

Jasper berdecak sebal dengan kecerewetan Natasha. Mafia tampan itu benar-benar tidak habis pikir dengan gadis yang saat ini dia sandera, apa tidak ada rasa takut sama sekali? Tapi jika dilihat sebenarnya Natasha itu takut hanya sok berani.

“Tidak, dia wanita yang sangat setia,” jawab Jasper singkat.

Natasha melihat Jasper dengan tatapan takut tapi juga ada rasa jengah yang tiba-tiba merayap di dalam hatinya. Gadis itu menggigit bibir dalamnya menahan sumpah serapah dan sebutan-sebutan kebun binatang yang sudah di ujung mulutnya, tapi yang pasti gadis itu tidak seberani itu menumpahkan kekesalannya karena bisa-bisa sebelum mulutnya tertutup kepalanya dulu yang lubang.

“Lalu kenapa kau membunuhnya?”

“Aku hanya ingin dia bebas dariku,” jawab pria itu singkat namun membuat Natasha semakin ingin menyumpah serapahi Jasper—bukan lebih tepatnya ingin mencekik pria yang ada di hadapannya sekarang.

“Ka-kau ingin dia bebas darimu? Dan kau membunuhnya, begitu?”

Jasper hanya mengangguk tanpa merubah raut wajahnya seakan-akan yang dia katakana hal sepele, seperti baru saja membunuh seekor nyamuk yang terbang-terbang di sekitar telinganya.

“Kau gila! Kenapa harus dibunuh? Kau bisa memutuskan hubungan kalian tanpa ada pertumpahan darah,” pekik Natasha tanpa sadar.

“Akkkhhh … diatidak mau putus ya denganmu? Atau kau punya wanita lain? Ya … ya … kau punya wanita lain dan karena tunanganmu tidak mau putus mangkannya kau bunuh, begitukan?”

“Aku bukan pria sekeji itu.”

Natasha menutup matanya sesaat seperti menahan amarah. “Apa? Tidak sekeji itu? Tapi sudah main bunuh-bunuh saja, itu bukan keji namanya.”

Jasper menatap Natasha datar dan saat itu gadis itu sadar baru saja mengucapkan kata-kata yang—hmm—akan sangat berpengaruh mungkin.

Natasha menelan air liurnya sulit saat mata mafia kejam itu terus menatapnya tanpa berkedip.

“Jangan menatapku begitu, nanti kau jadi suka padaku kan bisa gawat.”

“Aku memang suka padamu.”

Uhukkk … uhukkk ….

Natasha terbatuk tersedak air liurnya sendiri. Gadis itu menatap Jasper dengan tatapan seperti mengatakan bahwa pria yang menyanderahnya ini benar-benar gila, bahkan sudah sangat-sangat tidak waras. Baru saja dia membunuh tunangannya sekarang pria ini sedang merayunya? Yang benar saja.

“Aku suka padamu untukku jadikan, mungkin manekin latihan menembakku. Sangat pas sekali dengan tinggi dan bentuk tubuhmu, bayangkan kau terikat dan dari jauh aku menggunakan senapan laras pendek dan yang aku sasar duluan adalah kakimu, atau tanganmu? Kau pilih yang mana?”

Natasha melotot dengan napas memburu, percampuran antara jengkel, marah tapi juga ada rasa takut dan khawatir menjadi satu membuat perutnya mulas.

‘Fix, dia psikopat gila.’

“Ya, aku memang psikopat gila.”

Natasha terbelalak kaget dengan ucapan Jasper.

‘Fix, dia juga cenayang. Bisa-bisanya membaca pikiranku.’

“Sayangnya aku bukan cenayang.”

‘Dia punya setan yang membantunya, ya?’

“Bukan setan tapi malaikat maut yang membantuku. Ck … aku bukan cenayang atau juga ada setan yang membantuku, mulutmu diam tapi wajahmu penuh dengan teks tulisan—dan mohon diingat Nona Natasha Calsine—” Jasper semakin mendekati Natasha dan gadis itu jelas semakin beringsut kecil.

“Kau punya bukti aku membunuh tunanganku karena wanita lain? Nona Natasha Calsine dengarkan aku baik-baik, kita baru saja kenal dan aku hanya kenal baik ayahmu dan kakakmu, aku tidak mengenalmu bahkan melihat wajahmu saja tidak. Aku juga tidak tahu kau jujur anak Tuan Calsine atau kau hanya mengaku-ngaku anak Abraham Calsine entah untuk apa, tapi yang pasti jangan berasumsi sendiri sebelum mengenal lebih dalam. Kau tidak tahu aku begitu juga aku tidak dirimu jadi jangan asal bicara.”

“Kau juga jangan asal bicara.”

Jasper menautkan dahinya saat mendengar suara bergetar Natasha bahkan mafia itu tersentak kaget saat melihat setetes air mata keluar dari mata gadis itu. Apa dia salah bicara? Yang mana? Apa saat dia bilang Natasha bisa saja berpura-pura jadi anak Abraham Calsine? Seharusnya marah bukan menanngis.

‘Penjara? Aku sudah merasakannya sejak kecil. Aku sudah merasakan yang namanya penjara dan penjajahan sejak aku bayi, jadi kalau kau bertanya seperti itu maka jawabanku adalah aku lebih baik masuk penjara dari pada harus mati, kau tahu kenapa? Karena aku belum bisa membuktikan pada ayahku kalau aku bisa dan aku mampu lebih tepatnya aku bukan produk gagal.’

Tiba-tiba Jasper ingat ucapan Natasha yang membuatnya penasaran.

‘Apa dia tersisihkan? Apa dia anak tidak sah?’

Hanya itu yang ada di otak Jasper saat ini, ditambah dengan keadaan gadis itu yang tinggal di rumah kontrakan murah dan jelek, barang-barang yang boleh dikatakan tidak layak pakai, makanan yang tidak layak saat dia membuka lemari pendingin gadis itu tadi, dan banyak sekali yang tidak bisa dia sebutkan.

Jasper tersadar dari pemikirannya saat mendengar decitan kecil dari kursi yang diduduki Natasha, dan dia sadar sudah menyakiti gadis itu.

“Nona Natasha.”

“Maafkan aku sudah berasumsi yang tidak-tidak terhadapmu, aku minta maaf. Bisakah aku meminta tolong padamu—”

Jasper tidak langsung menjawab dia hanya diam menunggu Natasha selesai bicara.

Brakkk ….

Keduanya berjengit kaget saat mendengar suara keras dari arah jendela dapur.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Terjerat Cinta Mafia Buron   Bab 13

    "Sudah-sudah jangan bahas itu, Nat tolong jelaskan mereka siapa? karena ini masih rumahku dan kamu masih menyewanya jadi kamu harus bertanggung jawab dengan siapa saja yang keluar masuk rumah ini.”Natasha diam sesaat menatap dalam gadis berkulit tan itu dengan wajah penuh pertimbangan. Bukan—bukannya dia tidak percaya pada teman-temannya itu tapi dia hanya takut Jasper akan marah.“Sebentar.” Natasha meninggalkan teman-temannya dan menghampiri Jasper.“Jas, boleh aku memberi tahu mereka berdua? Hmmm … itu—aku tidak mungkin tidak menjelaskannya pada mereka karena—”“Lakukan,” potong pemuda itu cepat.“Yakin?”Jasper menatap sepenuhnya pada Natasha dengan tatapan menusuk membuat gadis itu langsung menciut takut.“Kamu bilang harus menjelaskan pada mereka, bukan? Aku sudah memberi izin dan dirimu masih mempertanyakannya lagi?”Natasha menggeleng ribut dan langsung berbalik menuju kedua sahabatnya. Gadis itu menarik keduanya menuju dapur seperti akan membicarakan sesuatu yang penting.“D

  • Terjerat Cinta Mafia Buron   Bab 12

    Kleekkk … kleeekkk ….Keempatnya langsung melihat ke arah pintu. Wajah Natasha sudah memucat bahkan dia reflek berdiri sambil mendorong kecil lengan Jasper yang terlihat santai-santai saja.“Tenanglah Nat.”“Mana bisa tenang, bagaimana kalau itu kakakku atau –”“Benar itu kuncinya?”“Benar.”“Kenapa tidak bisa dibuka?”“Yang punya rumah siapa?“Kamu.”“Ya sudah, tunggu aku sedang berusaha membukanya.”“Ya Tuhan, ini lebih parah dari kakakku. Kenapa mereka ke sini malam-malam, aduh aku harus apa? Ohhh … kalian sembunyi di kamarku cepat-cepat.”“Tidak mau.”“Kau gila ya, bagaimana kalau mereka melihat kalian bertiga—aku harus menjelaskannya bagaimana?!”“Tidak perlu dijelaskan, mereka juga kalau berani bicara tinggal dihabisi.”“Kau gila!” teriak Natasha tanpa sadar dan langsung gadis itu membekap mulutnya sendiri.Jasper tertawa kecil melihat wajah panik Natasha. Baginya yang harusnya panik itu dia bukan gadis ini, tapi Natasha benar-benar sepanik itu sampai-sampai berteriak tanpa sadar

  • Terjerat Cinta Mafia Buron   Bab 11

    “Nat,” panggil Jasper membuat Natasha kembali dari imajinasinya“Hmmm? Apa?”“Kenapa kamu bilang aku bodoh?”“Ya memang kamu bodoh, kalau tidak bodoh mana mungkin kamu menyakiti dirimu sendiri.”Jasper menatap Natasha lekat seperti melihat betapa beraninya gadis ini menyebutnya bodoh, padahal selama ini tidak ada yang berani menyebutnya bodoh bahkan menatap matanya langsung saja banyak yang tidak berani kecuali tunangannya dan seseorang.“Kau boleh marah aku tidak melarang, kau boleh melampiaskan rasa marah dan emosimu pada hal apapun itu tapi ingat untuk tidak menyakiti diri sendiri. Aku tidak tahu apa yang terjadi dan aku tidak tahu apa yang kau sembunyikan dariku, tapi aku tahu bukan kau yang membunuh tunanganmu.”Jasper tersenyum mengejek seperti menganggap Natasha tahu apa. “Kau tahu apa Nona Calsine.”Natasha menatap Jasper dengan tatapan cuek tapi ada rasa kasihan pada pria yang ada di hadapannya ini. Natasha merasa Jasper itu tidak sekuat itu, ada sisi lemah yang pria itu tutu

  • Terjerat Cinta Mafia Buron   Bab 10

    Sebuah rumah bernuansa hitam dan merah dengan lampu remang-remang terasa mengerikan dan misterius bagi siapa saja yang melihatnya. Seorang pria dengan setelan jas perlente berdiri di depan jendela besar yang memperlihatkan hamparan pohon pinus yang berjejer rapi mengeluarkan bau lembab khas hutan basah.“Tuan, kami sudah menemukan makam tunangan Jasper Bravinson, kami harus apakan selanjutnya?”“Biarkan saja dulu, aku ingin melihat apa yang akan dilakukan Jasper selanjutnya.”“Baik Tuan.”“Tunggu Marlon, kalian sudah tahu di mana Jasper bersembunyi?” Pria itu berbalik berjalan ke sisi kursi kebesarannya."Belum Tuan.”"Charlie dan Hactor juga tidak kalian temukan?”“Maaf Tuan belum juga.”Prangg..."Cari mereka bertiga, bunuh mereka bawa kepala mereka padaku, jika tidak berhasil kepala kalian yang akan aku jadikan pajangan di rumah ini. Pergi!!" teriak marah pria itu."Siap Tuan!!"Pria itu menatap foto Jasper dan Victoria yang tertempel di papan dart arrow dan sudah sedikit sobek bek

  • Terjerat Cinta Mafia Buron   Bab 9

    “Tidak Tuan jangan begitu, sejak kami anda angkat menjadi pengawal anda kami sudah bertekad akan selalu melayani dan melindungi anda apapun yang terjadi, bahkan kami rela menyerahkan nyawa kami asalkan anda baik-baik saja,” Hactor menatap Jasper dengan tatapan serius bahkan bagi pria itu tatapan Hactor benar-benar langka.Charlie hanya diam manatap Jasper dengan tatapan tenang namun ada rasa sedih yang dia tutupi saat melihat wajah atasannya itu. Pria yang lebih tua tiga tahun dari Jasper itu melihat guratan lelah, sedih, marah, dan frustasi yang tertutupi dengan wajah dingin dan kaku Jasper. Tidak ada senyum atau candaan yang selama ini keluar dari mulut Jasper pada para bawahannya, atau tatapan bersahabat dan ramah yang biasanya ditampilkan Jasper pada sekutu-sekutunya atau orang-orang terdekatnya. Semuanya hilang terganti dengan Jasper yang kaku dan dingin layaknya balok es besar yang susah mencair.“Tuan, kami dulu hanya sampah bahkan kami adalah kotoran tidak berguna yang anda an

  • Terjerat Cinta Mafia Buron   Bab 8

    “Hmmm … maaf Tuan, it-”Jasper mengernyit saat mata salah satu anak buahnya melihat ke arah belakang tubuhnya. Jasper diam sejenak dan saat itulah dia sadar apa yang mereka lihat.“Keluarlah,” ucap Jasper pelan.Natasha hanya melongok sedikit melihat kedua anak buah Jasper yang menatapnya datar bahkan mereka tanpa sadar masih menggenggam senjata api mereka.“Hmmm … maaf … ap-apa ka-kalian akan te-tetap menggenggam it-itu?”Jasper sadar kalau mereka masih menggenggam pistol, pantas Natasha takut.“Masukkan pistol kalian,” perintah Jasper pada keduanya.“Tapi Tuan—dia.”“Kalian tidak mau menuruti perintahku?”Keduanya menunduk hormat dan langsung mematuhi perintah atasannya. Jasper dan kedua anak buahnya memasukkan kembali senjata api mereka ke kantong sehingga Natasha sudah tidak melihat senjata-senjata mereka lagi.“Kau boleh keluar, tidak apa-apa mereka bawahanku mereka yang menolongku.”Natasha mengintip sedikit melihat ke arah kedua pria berbadan tegap dan kekar sama seperti Jasper

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status