LOGIN
“Kalian?!” Kayra bertanya tajam sambil menatap Ethan dan Laura dengan mata membelalak lebar.
“Apa?” Ethan menjawab santai sambil merapikan celana jeansnya. Laura sibuk menurunkan rok mininya tanpa rasa bersalah. Mulut Kayra terbuka lebar, tetapi tidak ada suara yang berhasil keluar. “Ethan...” Kayra berbisik gemetar. Ethan berdecak keras, lalu merangkul pinggang Laura dan menariknya semakin dekat. “Kalian jahat...” Kayra berbisik lirih. “Baru sadar?” Ethan tertawa sinis. Laura ikut terkikik geli. Keduanya menikmati penderitaan Kayra secara terang-terangan. “Kamu pikir aku beneran suka sama kamu?” Ethan bertanya sambil tersenyum meremehkan. Kayra membeku di tempatnya. Selama dua tahun terakhir, ia mengira hubungan mereka nyata. Kayra percaya perhatian Ethan, pesan kecil, dan genggaman tangan di depan teman-teman adalah bentuk kasih sayang tulus. Ternyata semuanya kebohongan murni. “Kamu cuma berguna buat ngerjain tugas.” “Apa?!” Kayra tertegun. “Kamu pintar, Kayra. Itu saja alasannya.” Kayra menggeleng pelan. Dadanya terasa sangat sesak. “Kalau bukan karena tugas, aku bahkan nggak bakal melirik kamu.” Kalimat itu menghantam lebih keras daripada tamparan fisik. Ethan melanjutkan dengan wajah datar tanpa beban. “Aku bahkan jijik harus pura-pura pegangan tangan sama kamu di depan orang-orang.” “Ethan...” Laura menyela manja. “Apa? Dia berhak tahu, kan?” Ethan mengangkat bahu acuh tak acuh. “Lagipula, masa aku benar-benar mau pacaran sama cewek jelek dan cupu begitu?” Laura tersenyum puas. “Tuh, ngaca dong! Masa Ethan suka sama bebek kayak kamu?” Kata-kata mereka terasa seperti pisau tajam yang mengiris harga diri Kayra. Pandangannya beralih ke cermin di dekat wastafel. Seorang gadis berkacamata tebal menatap balik kepadanya. Rambut panjangnya diikat seadanya. Kaos polos kebesaran dan celana longgar membuat penampilannya semakin jauh dari kata menarik. “Terima kasih, ya, dua tahun ini,” ujar Laura santai. “Nilai kami jadi bagus.” Kayra mengepalkan tangan erat-erat. Air mata terasa panas di pelupuk matanya. Pandangannya tertuju pada ember berisi air kotor milik petugas kebersihan di dekat pintu. Tanpa berpikir panjang, ia meraih benda itu. Byur! Seluruh isi ember langsung disiramkan ke arah Ethan dan Laura. “Aaaah!” Jeritan Laura menggema di dalam toilet. Air kotor membasahi rambut, wajah, dan pakaian mereka. Ethan tidak luput dari siraman tersebut. “Brengsek!” Ethan memaksa marah. “Cewek jelek sialan!” Laura menjerit histeris. Kayra berbalik cepat dan berlari meninggalkan toilet. Hari itu ia bolos kuliah dan langsung pulang ke kos. *** Begitu pintu kamar tertutup, pertahanannya runtuh seketika. Kayra menangis sampai matanya bengkak dan kepalanya terasa berat. Kayra memaki Ethan, memaki Laura dan juga memaki dirinya sendiri karena begitu bodoh selama dua tahun terakhir. Tangisnya perlahan mereda hingga akhirnya ia tertidur lelap. *** Kepala Kayra berdenyut nyeri saat terbangun. Aroma kopi dan roti panggang memenuhi ruangan. Ia mengerjapkan mata beberapa kali. Langit-langit putih dengan lampu elegan membuatnya langsung tersentak kaget. Ini bukan kamar kosnya. “Ya Tuhan...” Jantungnya berdegup kencang. Kayra menoleh ke samping. Tempat tidur itu kosong. Ketika bergerak sedikit, bagian bawah tubuhnya terasa tidak nyaman. Kayra langsung menunduk. Selimut putih tebal menjadi satu-satunya benda yang menutupi tubuhnya. “Apa?” Kayra berdiri terlalu cepat hingga kepalanya berputar pusing. Potongan-potongan ingatan mulai muncul di kepalanya. Musik jazz, lampu redup, alkohol, dan seorang pria tinggi dengan bahu lebar serta tatapan tajam yang sulit dilupakan. Kayra menutup wajah dengan kedua tangan. “Jangan bilang aku...” Pandangannya berkeliling ke seluruh kamar. Secarik kertas di atas nakas langsung menarik perhatiannya. Dengan tangan gemetar, ia mengambil kertas itu. ‘Jangan panik. Obat sakit kepala ada di laci. Sarapan sudah kubayar. Dan lain kali, jangan menyebut nama pria lain saat mencium seseorang. — L’ “WHAAAT?!” Pipi Kayra terasa panas membara. “Ya Tuhan... ya Tuhan....” Kayra berjalan mondar-mandir sambil menjambak rambutnya sendiri. “Mati aku. Benar-benar mati.” Beberapa detik kemudian ia berhenti. “Siapa dia?” Sedikit demi sedikit, ingatan tentang malam sebelumnya mulai kembali. Malam itu, Dira menarik Kayra ke lorong belakang saat melihatnya memasuki lounge tempat ia bekerja. Tatapan Dira menyapu penampilan sahabatnya dari atas sampai bawah. “Kamu... baju siapa itu?” Dira bertanya curiga. “Bajuku.” Kayra menjawab singkat. Gaun tanpa lengan dengan potongan sederhana itu jauh berbeda dari pakaian longgar yang biasa ia kenakan. “Kamu kesurupan?” Kayra tertawa hambar. “Aku cuma ingin terlihat cantik.” “Kamu bikin aku takut.” “Siapa tahu ada cowok yang mau memperhatikanku.” Dira menghela napas panjang. “Duduk di sini. Jangan ke mana-mana sampai shift-ku selesai.” “Tenang aja.” Namun, sebenarnya Kayra tidak setenang itu. Malam itu ia hanya ingin melupakan Ethan. Satu gelas berubah menjadi dua. Dua gelas menjadi tiga. Alkohol perlahan mengaburkan pikirannya. “Aku benci dia...” Kayra kembali menangis di meja bar. “Kayra, cukup!” kata Dira tegas. “Itu gelas ketiga.” Namun, Kayra tetap meraih gelas lain yang ada di meja. “Maaf.” Suara seorang pria membuat ia menoleh. Kayra langsung terpaku di tempat. Pria itu tinggi, berbahu lebar, dan mengenakan kemeja hitam yang pas di tubuhnya. Rahangnya tegas, matanya tajam, dan ada bekas luka tipis di alis kirinya yang menambah karisma. “Itu milikku,” ujarnya sambil menunjuk gelas di tangan Kayra. Kayra langsung berdiri kaku. “Maaf. Aku kira itu punyaku.” Tubuhnya justru oleng seketika. Pria itu sigap menahan lengannya. “Hei.” Suara rendah dan hangat itu membuat Kayra menegang hebat. “Aku akan menggantinya.” “Boleh.” Pria itu tersenyum tipis. “Kamu tahu seperti apa wajahmu sekarang?” Ia menunjuk cermin di dekat bar. Kayra menoleh dan langsung ingin menghilang. Maskaranya luntur ke mana-mana. “Astaga!” Tawa pria itu terdengar renyah. Anehnya, untuk pertama kali malam itu, Kayra tidak merasa sedang dihakimi. *** Dua hari kemudian, Kayra berada di kampus bersama teman-temannya. “Kamu apa?” Elisa hampir tersedak saat mendengar ceritanya. “Ssst!” Kayra buru-buru menutup mulut sahabatnya yang terkejut mendengar pengalaman tidur dengan pria asing kemarin malam. Bukan hanya kaget. Elisa bahkan terlihat tidak yakin karena Kayra tidak menjelaskan rasanya dengan detail. Kayra mengerang kesal. Ia yakin kalau Dira tahu, dia akan marah besar. Elisa menggeleng pelan, lalu tiba-tiba teringat sesuatu. “Sudahlah. Ada gosip baru soal dosen pengganti Termodinamika.” Kayra langsung merinding ngeri. “Mengerikan?” “Kebalikannya.” Elisa menyeringai lebar. “Katanya ganteng.” Kayra memutar mata malas. Namun, ketika mereka berjalan menuju kelas, seorang pria muncul dari arah berlawanan. Langkah Kayra langsung terhenti seketika. Wajah itu. Jantungnya berdetak jauh lebih cepat. “Kalau dia dosennya,” bisik Elisa, “aku rela remedial.” Pria itu melewati mereka begitu saja. Sesaat sebelum berlalu, matanya menoleh tepat ke arah Kayra. Tatapan itu. Ia sangat mengenalnya. “Tidak mungkin...” bisik Kayra gemetar. “Apa?” Elisa bertanya heran. Kayra berbisik pelan mengatakan pada Elisa bahwa pria tampan yang barusan lewat sepertinya adalah pria yang sama. Pria yang menghabiskan malam itu bersamanya. Mata Elisa langsung membesar sempurna. “APA?” Kelas sudah hampir penuh. Ethan dan Laura duduk bersama seperti biasa. Begitu melihat Kayra masuk, Laura langsung tersenyum mengejek. “Lihat siapa yang datang.” Ethan ikut menoleh tajam. “Kamu dandan.” “Ada masalah?” Kayra membalas dingin. “Mau cari pacar baru?” sindir Laura pedas. Ethan menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Aku nggak bakal balik sama kamu.” Kayra menatapnya datar. “Siapa bilang aku mau balikan? Aku juga nggak sudi.” Wajah Ethan langsung mengeras kesal. Namun, sebelum ia sempat membalas, pintu kelas terbuka lebar. Langkah sepatu terdengar mantap memasuki ruangan. Kayra menoleh cepat. Napasnya tercekat di tenggorokan. Dia. Pria yang berada di hotel bersamanya. Pria yang menolongnya di lounge malam itu. Namun, kejutan sebenarnya baru terjadi beberapa detik kemudian. Ethan tiba-tiba berdiri dari kursinya. Wajahnya mendadak pucat pasi. “Daddy?” panggil Ethan terbata. Ruangan seketika sunyi senyap. Pria itu berhenti berjalan di depan kelas. Tatapannya berpindah kepada Ethan dengan ekspresi tajam. Setelah itu, perlahan, matanya bergeser ke arah Kayra. Sesaat, Kayra melihat senyum tipis di sudut bibir pria tersebut. “Selamat pagi.” Suara rendah dan berwibawa itu memenuhi seluruh ruangan. Pria tersebut berdiri di depan kelas dengan sikap tenang, seolah tidak terjadi apa-apa di antara mereka. “Nama saya Leon Arkan.” Jantung Kayra seolah berhenti berdetak saat itu juga. Leon. Pria bernama L. Pria yang meninggalkan secarik pesan di kamar hotelnya. Dan sekarang, pria itu berdiri tepat di depan kelasnya sebagai pengajar. Tatapan Leon kembali bertemu dengan mata Kayra. “Dan mulai hari ini...” Ia berhenti sejenak, sengaja membiarkan ketegangan memenuhi ruangan. Senyum tipis kembali muncul di wajahnya. “Saya yang akan mengajar kalian.”Leon berdiri di ambang pintu dengan kemeja lengan pendek berwarna abu-abu yang membuat bahu bidangnya semakin menawan. Rambutnya masih sedikit basah, seperti baru selesai mandi, membuat Kayra menelan ludah."Tepat waktu," ucap Leon datar. "Masuk!"Kayra melangkah masuk. Rumah itu luas, cahaya pagi menembus melalui jendela besar, menciptakan kilauan lembut di seluruh ruangan. Dindingnya dipenuhi lukisan abstrak gelap, penuh teka-teki, seperti pemiliknya.Kayra tidak sempat mengagumi interiornya. Hidungnya langsung menangkap aroma hangat bubur ayam, menurut penciumannya."Makan dulu," perintah Leon sambil berjalan menuju meja makan.Kayra mengikuti dengan ragu. Di atas meja, tersaji semangkuk bubur ayam hangat dengan taburan bawang goreng, cakwe, dan sambal di sampingnya. Di sebelahnya, segelas jus jeruk segar."Pak, saya sudah sarapan—" Kayra berbohong."Mie instan bukan sarapan. Duduk!"Kayra duduk dengan hati berdebar. Ia mengambil sendok dan menyuap bubur itu. Hangatnya menyebar di
Kayra menarik keranjang belanja plastiknya dengan malas. Kepalanya masih pusing, perutnya sakit, tapi persediaan obat dan persediaan makannya habis. Penampilannya sangat jauh dari menarik. Kaos longgar, celana pendek belel, dan rambut yang diikat asal-asalan. Ia meraih dua bungkus mie goreng, lalu berbalik untuk mencari rak bumbu. Di pertigaan lorong, tubuhnya menabrak sesuatu yang keras dan kokoh. Kayra hampir jatuh, tetapi sebuah tangan sigap menahan sikunya. "Maaf—" Kalimatnya tertahan di tenggorokan. Leon Arkan berdiri di depannya. Kaos hitam polos membalut dadanya yang bidang, rambutnya sedikit berantakan. Penampilannya membuat Kayra sulit bernapas. Dua hari tidak bertemu, Leon tetap terlihat menawan dan berbahaya. "P—Pak Leon?!" Kayra refleks mundur selangkah. "Maaf, saya tidak lihat." "Kayra." Suaranya datar. "Belanja?" Kayra mengangguk kaku. "Sendiri?" "Iya." Leon menatap keranjang Kayra yang berisi mie instan dan keripik. Alisnya naik. "Makanan sampah."
Hari pengumpulan tugas Termodinamika tiba.Kayra mengantri di luar ruangan Leon bersama mahasiswa lain. Tangannya menggenggam erat lembar jawaban yang sudah ia kerjakan ulang tiga kali. Jantungnya berdebar kencang, bukan karena takut nilai, tapi karena ia harus kembali berhadapan dengan Leon.Laura berada tepat di depannya. Gadis itu tiba-tiba menoleh, menyeringai sinis. “Kayra, kamu yakin tugasmu layak dikumpulkan? Atau kamu minta bantuan dosen secara khusus?”Kayra mendelik, tetapi memilih tak menjawab. Ia tahu Laura sedang mencoba memancing emosinya.“Masuk!” panggil suara Leon dari dalam.Satu per satu mahasiswa masuk dan keluar. Hingga akhirnya giliran Kayra dan Laura. Kayra hendak melangkah saat Laura mendahuluinya dengan sengaja, menyenggol bahu Kayra hingga hampir terjatuh.“Dasar perempuan murahan,” bisik Laura.Kayra menahan napas, lalu mengikuti masuk.
Kayra menelan ludah susah payah. Leon Arkan, pria dari bar yang menghabiskan malam bersamanya, adalah ayah dari mantan kekasihnya."Tuhan... aku tidur dengan Ayah dari pria yang mencampakkan dan menghinaku,” batin Kayra.Sialnya, Leon tidak memberinya waktu untuk bernapas. Pria itu berjalan ke papan tulis dengan gerakan tenang dan berwibawa, mengambil kapur putih, dan mulai menulis rumus Termodinamika."Hukum Pertama Termodinamika," ujar Leon sembari memutar spidol di jemarinya. "Prinsip paling mendasar di mata kuliah ini. Energi tidak bisa diciptakan, tidak bisa dimusnahkan. Energi hanya berpindah atau berubah bentuk."Kayra berusaha fokus pada penjelasannya, tetapi mustahil. Setiap kali Leon berjalan melewati barisannya, aroma cedar dan musk yang sama menusuk indranya.Tiba-tiba, langkah sepatu Leon berhenti, membuat Kayra langsung menegang. Tanpa menoleh, ia tahu pria itu berdiri tepat di samping meja
“Kalian?!” Kayra bertanya tajam sambil menatap Ethan dan Laura dengan mata membelalak lebar.“Apa?” Ethan menjawab santai sambil merapikan celana jeansnya.Laura sibuk menurunkan rok mininya tanpa rasa bersalah. Mulut Kayra terbuka lebar, tetapi tidak ada suara yang berhasil keluar.“Ethan...” Kayra berbisik gemetar.Ethan berdecak keras, lalu merangkul pinggang Laura dan menariknya semakin dekat.“Kalian jahat...” Kayra berbisik lirih.“Baru sadar?” Ethan tertawa sinis.Laura ikut terkikik geli. Keduanya menikmati penderitaan Kayra secara terang-terangan.“Kamu pikir aku beneran suka sama kamu?” Ethan bertanya sambil tersenyum meremehkan.Kayra membeku di tempatnya. Selama dua tahun terakhir, ia mengira hubungan mereka nyata. Kayra percaya perhatian Ethan, pesan kecil, dan genggaman tangan di depan teman-teman adalah bentuk kasih sayang tulus.







