LOGINKayra tersentak. Dengan panik ia menjangkau ponsel milik Leon dan menekan tombol hijau. Kali ini tangan Leon meremas pinggulnya. "Dad!" Suara Ethan ceria dari speaker. "Aku baru sampai hotel. Bali panas banget, tapi pantainya keren."Leon mengambil ponsel itu dari tangan Kayra. Ia menempelkannya ke telinga, lalu berjalan santai ke arah jendela, punggungnya menghadap Kayra yang terengah. "Bagus," jawabnya datar. "Jangan keluar malam-malam.""Tenang, Dad. Aku nggak sendiri. Ada teman-teman.""Bagus."Kayra masih berdiri kaku di dekat meja dapur. Napasnya belum kembali normal. Lehernya masih terasa panas. Ia menyentuh lehernya tanpa sadar, lalu tiba-tiba terbatuk. "Dad, aku dengar suara batuk. Perempuan?" tanya Ethan tiba-tiba.Kayra hampir tersedak udara.Leon tidak berkedip. "Televisi.""Televisi lagi?" Ethan tertawa. "Dad, itu kali kedua har
Satu jam kemudian, Kayra sudah berada di apartemen milik Leon yang berada di gedung apartemen mewah di pusat kota."Kamar tamu ada di ujung lorong," ucap Leon sambil melepas jam tangannya dan meletakkannya di meja. "Kamar mandi ada di dalamnya. Kamu bisa mandi dan berganti."Kayra mengangguk kaku, lalu menyeret koper kecilnya menyusuri lorong apartemen. Langkahnya terhenti di depan pintu kamar tamu. Ia sempat menoleh ke arah pintu kamar utama yang sedikit terbuka. Tapi, Kayra cepat-cepat mengalihkan pandangan dan masuk ke kamar tamunya.Kamar yang jauh lebih besar dari kamar kosnya, dengan tempat tidur besar dan empuk. Dinding kaca setinggi langit-langit menghadap kota, memperlihatkan panorama gedung-gedung yang berkilau di bawah cahaya senja membuatnya terpesona.Kayra menahan napas, lalu meletakkan kopernya sebelum masuk ke kamar mandi. Air hangat mengalir di tubuhnya, tapi tidak mampu mengusir ketegangan di otot-ototnya.
Kayra, bisa bicara sebentar?" Bu Kartini, ibu kos Kayra, melongok dari balik pintu kamarnya yang terbuka sebagian."Ya, Bu, ada apa?" Kayra menjawab sambil mempersilahkan Bu Kartini masuk ke kamarnya yang sempit."Kayra, Ibu mau mengingatkan, minggu depan kamu harus memperbarui perpanjangan kos." Nada suara Bu Kartini datar, tanpa basa-basi. "Kamu akan perpanjang untuk enam bulan lagi, kan? Ibu tidak lagi terima sewa bulanan."Kayra membeku. Beasiswanya baru akan turun akhir bulan ini. Ayah tirinya baru saja pindah ke pedesaan menikmati masa pensiun. Ia tak mau merepotkan pria tua yang sudah membesarkannya dengan susah payah itu."Bu, saya—" Kayra menggigit bibir, mencoba tersenyum meskipun bibirnya terasa kaku. "Iya, Bu. Saya akan perpanjang.""Ibu tunggu ya. Sewa minimal untuk enam bulan, lima belas juta.""Baik, Bu," jawab Kayra pelan, berusaha terdengar tenang. Dia tahu betul saldo di rekeningnya
Leon berdiri di ambang pintu dengan kemeja lengan pendek berwarna abu-abu yang membuat bahu bidangnya semakin menawan. Rambutnya masih sedikit basah, seperti baru selesai mandi, membuat Kayra menelan ludah."Tepat waktu," ucap Leon datar. "Masuk!"Kayra melangkah masuk. Rumah itu luas, cahaya pagi menembus melalui jendela besar, menciptakan kilauan lembut di seluruh ruangan. Dindingnya dipenuhi lukisan abstrak gelap, penuh teka-teki, seperti pemiliknya.Kayra tidak sempat mengagumi interiornya. Hidungnya langsung menangkap aroma hangat bubur ayam, menurut penciumannya."Makan dulu," perintah Leon sambil berjalan menuju meja makan.Kayra mengikuti dengan ragu. Di atas meja, tersaji semangkuk bubur ayam hangat dengan taburan bawang goreng, cakwe, dan sambal di sampingnya. Di sebelahnya, segelas jus jeruk segar."Pak, saya sudah sarapan—" Kayra berbohong."Mie instan bukan sarapan. Duduk!"Kayra duduk dengan hati berdebar. Ia mengambil sendok dan menyuap bubur itu. Hangatnya menyebar di
Kayra menarik keranjang belanja plastiknya dengan malas. Kepalanya masih pusing, perutnya sakit, tapi persediaan obat dan persediaan makannya habis. Penampilannya sangat jauh dari menarik. Kaos longgar, celana pendek belel, dan rambut yang diikat asal-asalan. Ia meraih dua bungkus mie goreng, lalu berbalik untuk mencari rak bumbu. Di pertigaan lorong, tubuhnya menabrak sesuatu yang keras dan kokoh. Kayra hampir jatuh, tetapi sebuah tangan sigap menahan sikunya. "Maaf—" Kalimatnya tertahan di tenggorokan. Leon Arkan berdiri di depannya. Kaos hitam polos membalut dadanya yang bidang, rambutnya sedikit berantakan. Penampilannya membuat Kayra sulit bernapas. Dua hari tidak bertemu, Leon tetap terlihat menawan dan berbahaya. "P—Pak Leon?!" Kayra refleks mundur selangkah. "Maaf, saya tidak lihat." "Kayra." Suaranya datar. "Belanja?" Kayra mengangguk kaku. "Sendiri?" "Iya." Leon menatap keranjang Kayra yang berisi mie instan dan keripik. Alisnya naik. "Makanan sampah."
Hari pengumpulan tugas Termodinamika tiba.Kayra mengantri di luar ruangan Leon bersama mahasiswa lain. Tangannya menggenggam erat lembar jawaban yang sudah ia kerjakan ulang tiga kali. Jantungnya berdebar kencang, bukan karena takut nilai, tapi karena ia harus kembali berhadapan dengan Leon.Laura berada tepat di depannya. Gadis itu tiba-tiba menoleh, menyeringai sinis. “Kayra, kamu yakin tugasmu layak dikumpulkan? Atau kamu minta bantuan dosen secara khusus?”Kayra mendelik, tetapi memilih tak menjawab. Ia tahu Laura sedang mencoba memancing emosinya.“Masuk!” panggil suara Leon dari dalam.Satu per satu mahasiswa masuk dan keluar. Hingga akhirnya giliran Kayra dan Laura. Kayra hendak melangkah saat Laura mendahuluinya dengan sengaja, menyenggol bahu Kayra hingga hampir terjatuh.“Dasar perempuan murahan,” bisik Laura.Kayra menahan napas, lalu mengikuti masuk.







