Share

Like Father Like Son

Author: itnaynurain
last update publish date: 2026-08-24 15:41:55

Kayra menelan ludah susah payah. Leon Arkan, pria dari bar yang menghabiskan malam bersamanya, adalah ayah dari mantan kekasihnya.

"Tuhan... aku tidur dengan Ayah dari pria yang mencampakkan dan menghinaku,” batin Kayra.

Sialnya, Leon tidak memberinya waktu untuk bernapas. Pria itu berjalan ke papan tulis dengan gerakan tenang dan berwibawa, mengambil kapur putih, dan mulai menulis rumus Termodinamika.

"Hukum Pertama Termodinamika," ujar Leon sembari memutar spidol di jemarinya. "Prinsip paling mendasar di mata kuliah ini. Energi tidak bisa diciptakan, tidak bisa dimusnahkan. Energi hanya berpindah atau berubah bentuk."

Kayra berusaha fokus pada penjelasannya, tetapi mustahil. Setiap kali Leon berjalan melewati barisannya, aroma cedar dan musk yang sama menusuk indranya.

Tiba-tiba, langkah sepatu Leon berhenti, membuat Kayra langsung menegang. Tanpa menoleh, ia tahu pria itu berdiri tepat di samping mejanya. Ia bisa merasakan bayangan tinggi menaungi tubuhnya. 

Tak lama tapi cukup membuat napas Kayra sesak. 

​"Kamu." Tiba-tiba Leon menunjuk tepat dirinya.

 

​Kayra tersentak. 

"Y-ya, Pak?"

“Siapa namamu?”

“Kayra, Pak.” 

​"Kayra. Kalau saya memberikan sistem ini kalor yang besar, tapi sistem tidak melakukan kerja sama sekali… ke mana perginya energi itu?"

​Ruang kelas mendadak hening. Semua mata kini tertuju pada Kayra yang otomatis menelan ludah, berusaha mengingat-ingat variabel Q dan W di kepalanya yang mendadak kosong.

​"Ke... ke perubahan energi dalam, Pak? Delta U-nya naik.” Suara Kayra terbata-bata.

​Leon berjalan kembali mendekati meja Kayra. Dia menyandarkan pinggulnya di tepi meja paling depan sambil melipat kedua tangannya di dada. Senyum tipis yang sulit diartikan terbit di wajahnya.

​"Betul. Energinya menumpuk di dalam," kata Leon dengan suara beratnya. Tatapannya tak lepas dari Kayra. "Sama seperti perasaan atau emosi yang kamu tahan. Kalau kamu menerima banyak tekanan tanpa pernah menyalurkannya menjadi usaha atau tindakan, sistem di dalam diri kamu akan mengalami overheating."

​Gumam terkejut mendadak riuh berbisik di barisan belakang. Beberapa mahasiswi menahan napas, terpesona sekaligus gemetar mendengar analogi halus tersebut.

 

​Kayra terpaku, pipinya mendadak terasa panas.

​Leon kembali berdiri tegak dan mengetuk pelan papan tulis dengan spidolnya. "Pertemuan berikutnya, saya tidak mau melihat ada mahasiswa yang pasif di kelas saya. Buka bab lima, kerjakan soal neraca energi reaktor. Kumpulkan sebelum pertemuan berikutnya!"

​Dia berjalan kembali ke mejanya, meninggalkan seisi kelas yang terengah-engah antara terpesona dan panik menghadapi tenggat waktu.

Kayra sendiri panas dingin. Pikirannya terlalu kacau.

**

Kuliah usai. Kayra hampir melesat keluar, tapi ponselnya bergetar.

Pesan dari nomor tak dikenal. 

"Ke ruanganku. Sekarang! — L"

Kayra menelan ludah. “Bagaimana dia punya nomorku?”

Sepuluh puluh menit kemudian, Kayra berdiri di depan pintu ruangan Leon yang berada di lantai paling atas dan paling sepi. 

Tangan Kayra gemetar saat mengetuk pintu kayu besar itu, dia tahu Leon menunggunya. 

 

"Masuk!"

Kayra membuka pintu. Ruangannya besar, rapi, dengan aroma kayu dan cologne yang sama. Leon berdiri di balik meja, lengan kemejanya digulung hingga siku, memperlihatkan lengan bawah berotot yang membuat Kayra menelan ludah. Ekspresinya jauh lebih gelap dari tadi di kelas.

"Tutup pintunya." 

Kayra menutup pintu. Bunyi klik terkunci membuatnya tersentak dan berdebar. Leon berjalan perlahan mendekati meja di samping, lalu duduk di tepinya dengan tangan bersilang di dada.

Suasana mendadak terasa pengap. Kayra merasakan bulu kuduknya berdiri.

"Mendekatlah," perintah Leon.

Kayra melangkah maju dengan langkah pendek. Jarak mereka menyusut. Kini ia bisa mencium aroma khasnya, perpaduan kayu cedar, sedikit musk, dan sesuatu yang hangat. 

Leon menatapnya dari atas dengan mata setengah menyipit. Kemudian, dengan gerakan tiba-tiba, ia meraih pergelangan tangan Kayra dan menariknya hingga tubuh gadis itu terhuyung di antara kedua kakinya.

Kayra menahan napas. Hidung Leon hanya berjarak beberapa sentimeter dari lehernya. Ia bisa merasakan hembusan napas hangat pria itu di kulitnya.

"Mantan yang mengkhianati kamu itu... Ethan?" suara Leon berbisik rendah, hampir seperti geraman.

Kayra menggigil hebat. "I-iya."

"Kamu mendekati saya di bar malam itu, lalu tidur dengan saya..." Leon memberi jeda, tatapannya semakin tajam, "...untuk balas dendam?"

Kayra terkejut. Ia langsung mendongak, matanya membelalak.

"Tidak! Saya tidak kenal Anda sebelumnya! Saya bahkan tidak tahu Ethan punya Ayah yang masih muda dan... dan.." Kayra menggigit bibirnya, sadar ia hampir memuji pria ini di hadapannya.

"Dan?" Leon tersenyum tipis. Senyum dingin yang tetap membuat tubuh Kayra panas. 

"Dan saya tidak pernah bermaksud memanfaatkan Anda!" Kayra memalingkan wajah, mencoba melepaskan diri. 

"Saya mabuk! Saya tidak tahu siapa Anda! Saya hanya... saya hanya ingin melupakan rasa sakit yang saya rasakan malam itu!”

Leon tidak melepaskannya. Malah, jemarinya bergerak menyentuh dagu Kayra, memaksanya menatap lurus ke mata pria itu.

"Jadi, malam itu murni kebetulan?"

"Ya!" Kayra hampir berteriak, air mata mulai menggenang. "Saya bahkan tidak begitu mengingatnya” 

Kayra tak berbohong. Sampai hari ini, ingatannya   tentang dua malam lalu masih samar. 

Leon menatapnya cukup lama. Mata hitamnya seperti sedang membaca setiap sudut jiwa Kayra. Lalu perlahan, sudut bibirnya naik tipis. 

“Kamu yakin itu bukan sengaja?”

Kayra makin panas dingin, karena jari Leon yang menyusur lengan atasnya. 

“Anda—Anda adalah dosen saya. Anda juga... Ayahnya. Saya tidak akan pernah sengaja melakukan ini!"

Leon terkekeh. "Baiklah," ucapnya akhirnya. "Aku percaya."

Kayra menghela napas lega. Tapi, tidak berlangsung lama. Leon menariknya lebih dekat, hingga dada Kayra hampir menempel ke dadanya.

Leon lantas mencondongkan tubuh ke arah telinga Kayra. Bibirnya hampir menyentuh daun telinga gadis itu saat ia berbisik:

"Tapi sekarang...kamu adalah mahasiswa ku."

Napas Kayra tersengal. Aroma Leon memenuhi seluruh indranya. Kedekatan itu menyesakkan, membuat kepalanya berputar, lututnya lemas, dan seluruh tubuhnya bergidik tak terkendali.

“Kamu boleh pergi. Tapi ingat ini…" Leon menoleh, menyorotkan tatapan tajam ke arah Kayra, "...jika kamu berani menyebutkan satu kata pun tentang malam itu kepada Ethan, atau siapapun di kampus ini, aku akan memastikan kamu menyesal"

Leon mundur selangkah. Wajahnya kembali datar dan dingin, seperti tidak terjadi apa-apa. Namun, ada kilatan di matanya yang membuat Kayra tahu, pria ini tidak akan pernah membiarkan malam itu menjadi sekadar kenangan.

"Kembalilah ke kelas," perintah Leon sambil membalikkan badan. "Besok, bawa tugas Termodinamika. Jangan datang terlambat."

Kayra berlari keluar dari ruangan itu secepat mungkin. Begitu pintu tertutup, ia bersandar di dinding koridor, dadanya naik turun dengan cepat. 

Napasnya masih terasa panas. Seluruh tubuhnya bergetar. Leon Arkan mungkin berkata bahwa ia hanya mahasiswanya, tapi caranya menatap, caranya menyentuh, dan caranya berbisik, itu adalah bahasa yang sama sekali berbeda.

Kayra menggigit bibir bawahnya. Ia sangat takut.

Karena malam itu bukanlah akhir dari segalanya.

Itu hanya awalnya. 

**

“Kayra? Ngapain kamu disini?”

Kayra ingin mengumpat melihat Ethan  di depannya. Kenapa dari sekian banyak hal, harus bertemu dia di saat ini. 

“Bukan urusanmu!” Kayra menjawab ketus dan berusaha melewatinya menuju tangga di ujung lorong. 

Tapi tangan Ethan menarik lengannya, membuat Kayra terpaksa berbalik. 

“Ngapain sih kamu? Lepas!” 

Kayra menghentak tangannya agar terlepas, dan berhasil. 

Ethan menertawakannya dengan mata meremehkan. Kayra mendekik dan berniat pergi, malas melayaninya. 

Ethan tidak membiarkan nya. 

“Kamu dari ruangan Daddy-ku?” tanyanya tajam. 

“Iya!” Kayra jujur, berpikir menemui dosen adalah hal wajar. 

Ethan tertawa, “kamu caper banget ya? Daddy aku sukanya perempuan dewasa yang cantik dan seksi, bukan cuma pintar”

Kayra berdecak, “Siapa yang minat sama Daddy kamu sih? Anaknya brengsek dan manipulatif, pasti mencontoh Ayahnya. Like Father Like Son. Pasti kalian sama-sama brengsek” 

Ethan hampir membuka mulut, namun sebelum ada suara yang keluar, suara berat lain terdengar. 

“Sedang apa kalian? Ini bukan tempat pacaran.”

Kayra kembali panas dingin mendengarnya, apalagi melihat tatapan matanya yang gelap. Kayra mengutuk Ethan  dalam hatinya. 

“Masuk ruangan,  Ethan! “ Perintahnya tegas, tapi matanya tak lepas dari Kayra.

 

Ethan tak membantah, dia langsung berjalan ke ruangan Leonn setelah mendelik kesal pada Kayra. 

Leon masih berdiri menatapnya. 

“Like Father Like Son, huh?“

ujar Leon sinis dengan mata memindai tubuh Kayra. 

Tatapannya berhenti lama di mata Kayra, sebelum berbalik pergi ke ruangannya. 

Kayra menyender lemas di dinding beberapa saat, sebelum melanjutkan langkahnya dengan ketakutan. 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjerat Dekapan Ayah Mantan   Bab 8

    Kayra tersentak. Dengan panik ia menjangkau ponsel milik Leon dan menekan tombol hijau. Kali ini tangan Leon meremas pinggulnya. "Dad!" Suara Ethan ceria dari speaker. "Aku baru sampai hotel. Bali panas banget, tapi pantainya keren."Leon  mengambil ponsel itu dari tangan Kayra. Ia menempelkannya ke telinga, lalu berjalan santai ke arah jendela, punggungnya menghadap Kayra yang terengah. "Bagus," jawabnya datar. "Jangan keluar malam-malam.""Tenang, Dad. Aku nggak sendiri. Ada teman-teman.""Bagus."Kayra masih berdiri kaku di dekat meja dapur. Napasnya belum kembali normal. Lehernya masih terasa panas. Ia menyentuh lehernya tanpa sadar, lalu tiba-tiba terbatuk. "Dad, aku dengar suara batuk. Perempuan?" tanya Ethan tiba-tiba.Kayra hampir tersedak udara.Leon tidak berkedip. "Televisi.""Televisi lagi?" Ethan tertawa. "Dad, itu kali kedua har

  • Terjerat Dekapan Ayah Mantan   bab 7

    Satu jam kemudian, Kayra sudah berada di apartemen milik Leon yang berada di gedung apartemen mewah di pusat kota."Kamar tamu ada di ujung lorong," ucap Leon sambil melepas jam tangannya dan meletakkannya di meja. "Kamar mandi ada di dalamnya. Kamu bisa mandi dan berganti."Kayra mengangguk kaku, lalu menyeret koper kecilnya menyusuri lorong apartemen. Langkahnya terhenti di depan pintu kamar tamu. Ia sempat menoleh ke arah pintu kamar utama yang sedikit terbuka. Tapi, Kayra cepat-cepat mengalihkan pandangan dan masuk ke kamar tamunya.Kamar yang jauh lebih besar dari kamar kosnya, dengan tempat tidur besar dan empuk. Dinding kaca setinggi langit-langit menghadap kota, memperlihatkan panorama gedung-gedung yang berkilau di bawah cahaya senja membuatnya terpesona.Kayra menahan napas, lalu meletakkan kopernya sebelum masuk ke kamar mandi. Air hangat mengalir di tubuhnya, tapi tidak mampu mengusir ketegangan di otot-ototnya.

  • Terjerat Dekapan Ayah Mantan   Bab 6

    Kayra, bisa bicara sebentar?" Bu Kartini, ibu kos Kayra, melongok dari balik pintu kamarnya yang terbuka sebagian."Ya, Bu, ada apa?" Kayra menjawab sambil mempersilahkan Bu Kartini masuk ke kamarnya yang sempit."Kayra, Ibu mau mengingatkan, minggu depan kamu harus memperbarui perpanjangan kos." Nada suara Bu Kartini datar, tanpa basa-basi. "Kamu akan perpanjang untuk enam bulan lagi, kan? Ibu tidak lagi terima sewa bulanan."Kayra membeku. Beasiswanya baru akan turun akhir bulan ini. Ayah tirinya baru saja pindah ke pedesaan menikmati masa pensiun. Ia tak mau merepotkan pria tua yang sudah membesarkannya dengan susah payah itu."Bu, saya—" Kayra menggigit bibir, mencoba tersenyum meskipun bibirnya terasa kaku. "Iya, Bu. Saya akan perpanjang.""Ibu tunggu ya. Sewa minimal untuk enam bulan, lima belas juta.""Baik, Bu," jawab Kayra pelan, berusaha terdengar tenang. Dia tahu betul saldo di rekeningnya

  • Terjerat Dekapan Ayah Mantan   Sorry, Daddy

    Leon berdiri di ambang pintu dengan kemeja lengan pendek berwarna abu-abu yang membuat bahu bidangnya semakin menawan. Rambutnya masih sedikit basah, seperti baru selesai mandi, membuat Kayra menelan ludah."Tepat waktu," ucap Leon datar. "Masuk!"Kayra melangkah masuk. Rumah itu luas, cahaya pagi menembus melalui jendela besar, menciptakan kilauan lembut di seluruh ruangan. Dindingnya dipenuhi lukisan abstrak gelap, penuh teka-teki, seperti pemiliknya.Kayra tidak sempat mengagumi interiornya. Hidungnya langsung menangkap aroma hangat bubur ayam, menurut penciumannya."Makan dulu," perintah Leon sambil berjalan menuju meja makan.Kayra mengikuti dengan ragu. Di atas meja, tersaji semangkuk bubur ayam hangat dengan taburan bawang goreng, cakwe, dan sambal di sampingnya. Di sebelahnya, segelas jus jeruk segar."Pak, saya sudah sarapan—" Kayra berbohong."Mie instan bukan sarapan. Duduk!"Kayra duduk dengan hati berdebar. Ia mengambil sendok dan menyuap bubur itu. Hangatnya menyebar di

  • Terjerat Dekapan Ayah Mantan   Cemburu

    Kayra menarik keranjang belanja plastiknya dengan malas. Kepalanya masih pusing, perutnya sakit, tapi persediaan obat dan persediaan makannya habis. Penampilannya sangat jauh dari menarik. Kaos longgar, celana pendek belel, dan rambut yang diikat asal-asalan. Ia meraih dua bungkus mie goreng, lalu berbalik untuk mencari rak bumbu. Di pertigaan lorong, tubuhnya menabrak sesuatu yang keras dan kokoh. Kayra hampir jatuh, tetapi sebuah tangan sigap menahan sikunya. "Maaf—" Kalimatnya tertahan di tenggorokan. Leon Arkan berdiri di depannya. Kaos hitam polos membalut dadanya yang bidang, rambutnya sedikit berantakan. Penampilannya membuat Kayra sulit bernapas. Dua hari tidak bertemu, Leon tetap terlihat menawan dan berbahaya. "P—Pak Leon?!" Kayra refleks mundur selangkah. "Maaf, saya tidak lihat." "Kayra." Suaranya datar. "Belanja?" Kayra mengangguk kaku. "Sendiri?" "Iya." Leon menatap keranjang Kayra yang berisi mie instan dan keripik. Alisnya naik. "Makanan sampah."

  • Terjerat Dekapan Ayah Mantan   Menolak Ajakan Pulang

    Hari pengumpulan tugas Termodinamika tiba.Kayra mengantri di luar ruangan Leon bersama mahasiswa lain. Tangannya menggenggam erat lembar jawaban yang sudah ia kerjakan ulang tiga kali. Jantungnya berdebar kencang, bukan karena takut nilai, tapi karena ia harus kembali berhadapan dengan Leon.Laura berada tepat di depannya. Gadis itu tiba-tiba menoleh, menyeringai sinis. “Kayra, kamu yakin tugasmu layak dikumpulkan? Atau kamu minta bantuan dosen secara khusus?”Kayra mendelik, tetapi memilih tak menjawab. Ia tahu Laura sedang mencoba memancing emosinya.“Masuk!” panggil suara Leon dari dalam.Satu per satu mahasiswa masuk dan keluar. Hingga akhirnya giliran Kayra dan Laura. Kayra hendak melangkah saat Laura mendahuluinya dengan sengaja, menyenggol bahu Kayra hingga hampir terjatuh.“Dasar perempuan murahan,” bisik Laura.Kayra menahan napas, lalu mengikuti masuk.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status