INICIAR SESIÓN“Saya nggak sengaja mbak!” Seira membela diri. Ia memang salah tidak jalan hati-hati. Tapi dengan kesadaran diri, ia langsung meminta maaf. “Saya sudah minta maaf! Mbak juga nggak jatuh kan?” “Heh! Kamu panggil aku apa?!” serunya marah. Mauren Gilbert. Model papan atas yang tengah naik daun. Seringkali menjadi brand ambassador merk ternama. “Sudah Mauren, jangan cari masalah. Ingat ini di tempat umum, banyak orang. Nama kamu bisa tercemar,” bisik Elsa— asisten Mauren mengingatkan untuk menyudahi perselisihan ini. Namanya sedang melambung, tidak baik jika tersandung gosip. Meskipun masih marah, Mauren menurut, meninggalkan Seira yang juga kesal dengan tingkah arogan Mauren. “Model apa sih? Bad attitude banget! Harusnya tadi aku rekam biar viral kelakuannya!” Seira terus menggerutu. Seira sudah menemukan desain gaun yang ia inginkan. Minggu depan ia datang lagi untuk fitting. Sudah dua hari di Vallas, Seira masih belum bisa menemui Alexander. Entah kemana pria itu pergi. “Sei,
Seira langsung menutup panggilan. “Siapa?” Seira meletakkan ponsel di dashboard. Ia pikir Alexander menghubungi balik setelah mengabaikan panggilan darinya. Tapi malah suara perempuan yang terdengar. “Mungkin temannya,” gumam Seira. Harusnya Seira pulang ke rumah, tapi ia teringat kalau stock pembalut di rumah habis. Seira sedang mendapat tamu bulanan. Seira berhenti di sebuah minimarket. Karena barang yang dibutuhkan tidak banyak, Seira tidak perlu berlama-lama. Ia segera mengantri di kasir. “Seira…” panggil seseorang yang berdiri di belakang Seira. Seira menolah. Sempat terkejut melihat mantan calon mertuanya. “Tante…” Diana memperhatikan Seira. “Ada yang mau tante bicarakan.”Seira mengangguk. Selesai membayar barang belanjaan, Seira dan Diana mencari tempat untuk bicara. Seira sudah siap bila Diana kembali mengungkit masalah yang menurutnya sudah usai meski Seira belum menemukan bukti untuk mengembalikan nama baiknya. “Ada apa tante?” Seira sudah duduk di hadapan Diana. D
“Akh… tunggu!” Seira memang menyukai kegiatan dewasa bersama Alexander. Tapi Seira masih ragu untuk memberikan hal yang paling berharga pada pria ini. Kadang menggebu-gebu ingin lepas perawan, tapi kalau sudah di depan mata, Seira mendadak takut. Kemarin malam, nyaris saja ia memberikan mahkotanya pada Alexander. “Kenapa, hem?” Alexander mengecupi leher Seira. Tangannya bergerak liar di bawah sana. “Ini sudah basah.” “Jessica dan kak Andrew bentar lagi datang. Kita harus berhenti,” bisik Seira dengan suara serak. Matanya masih terpejam, menikmati gerakan halus jari Alexander. Alexander mengabaikan ucapan Seira, malahan terus menikmati payudara Seira yang menggantung indah di depannya. Seira blingsatan. Meremas kuat rambut Alexander. Mulutnya minta berhenti, tapi gerakan tubuhnya justru menerima, seolah sangat menikmati lumatan Alexander. “Alex, stop!” Seira meriah kaosnya yang tergeletak di lantai. Suara pintu terbuka membuat Seira cepat-cepat menghentikan kegilaan ini.“sial!
“Siapa yang datang, Sei?” suara Andrew terdengar sampai luar.“Seira?!” panggil Andrew lagi. Penasaran, karena Seira tidak menyahut, Andrew bergegas menyusul. Ingin tahu siapa yang bertamu malam-malam begini.“Sei?” tanya Andrew. Seira lekas menutup pintu, berbalik dengan wajah gugup. Hampir saja ketahuan. Alexander berhasil ia halau sebelum Andrew melihat kedatangannya. “Siapa yang datang?” tanya Andrew.“Em— itu, bukan siapa-siapa. Cuma kurir,” jawab Seira berusaha tenang. Seira merangkul lengan Andrew untuk kembali ke dalam. “Kak, malem ini berarti nginap?” ia mengalihkan pembicaraan. “Iya, kamu nggak keberatan kan, aku dan Jessica menginap malam ini?” Andrew duduk kembali di sofa. “Boleh lah, masa nggak boleh,” ucap Seira. Gagal sudah bermesraan dengan Alexander malam ini. Seira tidak bisa mengunjungi Alexander. Bisa ketahuan nanti.“Oh iya, Sei. Alex tinggal di apartemen ini. Nanti aku suruh dia main. Boleh kan?” Andrew berniat menghubungi Alexander untuk datang ke unit Sei
“Sei, kenapa senyum-senyum sendiri? Pelanggan sudah menunggu!” Suasana restoran sangat ramai di jam makan siang. Hari ini Seira bertugas menjadi pelayan— mengantar dan mencatat pesanan.“Hehe … maaf,” ucap Seira. Ia pun segera kembali bekerja.Meskipun Seira anak dari pemilik restoran ini, ia tetap rendah hati, mau belajar dan ditegur bila melakukan kesalahan. Seira menarik nafas sebelum mengangkat nampan berisi minuman. “Semangat! Lupakan yang semalam!” Gara-gara Alexander, seharian ini Seira tidak fokus bekerja. Bayang-bayang kesenangan semalam masih teringat jelas. Ia yang sebelumnya polos berubah liar sejak semalam.“Silahkan,” ucap Seira sambil menaruh minuman di meja pelanggan.Saat hendak berbalik, pelanggan di meja nomor 24 memanggil. Seira pun segera menghampiri.Seira terkejut, di sana, di meja nomor 24, Alexander duduk tenang dengan beberapa temannya. Seira baru menyadari kalau Alexander ada di tempat ini. Mungkin karena terlalu ramai, Seira tidak bisa memperhatikan sat
“Tapi aku mau lagi.” mulut Seira berbicara sesuai keinginan hatinya. Ia masih penasaran. Baru sentuhan di bibir saja sudah senikmat ini. Seira ingin merasakan kegilaan lainnya.Dada Alexander kembang kempis, nafasnya memburu. Terlihat sekali sedang menahan sesuatu. Alexander menggeleng. “Aku bilang pulang sekarang!” lagi, Alexander mengusir Seria dari apartemennya. Sebelum ia kehilangan kendali. Bukannya pergi, Seira malah mendekat, menatap Alexander. “balum juga satu jam aku di sini.” tangan Seira mulai berani menyentuh dada bidang Alexander. Tanpa Seira sadari, ia telah menyulut api gairah seorang Alexander. ‘shit!’ Alexander mengumpat dalam hati. Tidak biasanya seperti ini. Alexander tipe pria yang bisa mengendalikan diri. Sentuhan dan nada bicara Seira pun sama sekali tidak terdengar sedang menggoda, tapi hasrat Alexander melambung hanya karena gerakan kecil dari tangan lembut Seira. “Alex, aku mau belajar lebih dari ini,” lirih Seira. Alexander menggenggam tangan Seira, men







