Masuk"Mau ketemu Erick, kan?" Jasmine baru saja menginjakkan kakinya di depan sebuah coffe shop saat tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya. Jasmine bergeser sedikit menjauh lalu memutar sedikit badannya. Dahinya mengernyit saat menyadari bahwa Giorgino lah yang sudah menyapanya. "Kamu ngapain di sini?" tanya Jasmine penuh selidik. Meskipun Giorgino adalah adik Damian, kedua pria ini sangatlah berbeda. Damian lebih serius dan penuh wibawa, sementara Gio lebih cenderung slengean dan tidak jarang berlaku kurang baik. Gio lebih suka menghabiskan banyak waktu di tongkrongan daripada membantu Damian di perusahaan. Ia juga cenderung kasar dan tidak terkontrol emosinya. Dari segi penampilan pun jauh berbeda. Damian dengan gaya formalnya sementara Gio lebih suka gaya kasual. Kesamaan mereka hanya satu yaitu santer digosipkan dengan banyak perempuan. Mirisnya sekarang Jasmine justru masuk ke dalam list wanita yang dekat dengan Damian. "Hai, calon Kakak Ipar!" Gio dengan lancangnya hendak me
"Aakh... iya, begitu, Mas!" Jasmine terus mendesah penuh nikmat. Ia yang awalnya ingin menolah kini sudah terbaring di ranjang kamar Damian dengan mata terpejam. Tubuhnya terus merasakan kenikmatan yang tiada tara saat Damian terus menyentak tubuhnya.Jemari Jasmine mencengkeram sprei lembut di bawahnya. Sementara mulutnya terus mengeluarkan desahan yang membuat Damian semakin bergairah. Sudah beberapa menit olahraga panas tersebut mereka lakukan. Tubuh mereka pun sudah polos tanpa penghalang apapun. Pakaian mereka sudah tergeletak sembarangan di lantai. Damian terus menggerakkan tubuhnya di atas Jasmine. Pikirannya tidak lagi tertuju pada Renan yang kemungkinan akan marah jika tau ia melakuan ini pada sang adik. "Aah, terus, Mas!" racau Jasmine lalu mengigit bibir bawahnya. Sementara Damian yang mulai merasakan rasa nikmatnya sudah hampir di puncak, semakin mempercepat tempo gerakannya. "Aaakh... Jasmine, saya sudah mau keluar!" tekan Damian serak. Jasmine tidak lagi menjawab.
"Kalau rasanya agak aneh, jangan protes ya, Mas. Aku benar-benar hanya mengikuti instingku." Jasmine meletakkan piring Damian di hadapan pria itu. Sementara dirinya segera duduk di kursi di samping Damian. Di hadapannya juga sudah tersedia sepiring makanan yang siap ia santap. "Kalau tidak enak berarti harus ada kompensasinya." Damian mengatakan itu sembari menatap makanan di hadapannya dengan datar. Jasmine menahan diri untuk tidak tertawa. Bukannya takut, nada serta sorot kesal Damian justru terdengar menggelikan di telinga Jasmine. Sayangnya meski sudah berusaha ditahan, suara tawa Jasmine pun terdengar samar di telinga Damian. Pria itu menoleh. Kemudian, memandangi wajah gadis kecil yang berhasil menggodanya pagi ini. "Saya serius soal itu, Jasmine. Lagipula meeting yang Renan katakan ke kamu itu tidak terlalu penting untuk saya sekarang." Jasmine mendadak takut. Nada bicara Damian menjadi rendah tetapi penuh penekanan. "Kompensasinya bukan....""Iya. Saya mungkin akan mem
Jasmine bersenandung kecil dengan suara pas-pasan nya sembari menggoreng telur untuk ia jadikan menu sarapan untuknya dan Damian. Meski kemampuan memasak Jasmine tidak terlalu mumpuni, tetapi kalau hanya menggoreng telur itu sangat bisa ia lakukan. Makanan dengan perpaduan warna putih dan orange tersebut selalu menjadi bahan andalan Jasmine saat memasak. Dan ia beruntung, karena menemukan tiga butir telur di dapur apartemen Damian. Dengan hati-hati, Jasmine meletakkan telur sapi tersebut di piring, tepatnya di samping olahan beef yang sudah lebih dulu ia sajikan. "Naah, tinggal aku siapkan alpukatnya deh!" seru Jasmine dengan riang. Langkahnya perlahan berpindah ke area . Masih disertai dengan senandung tanpa lirik, Jasmine yang sedang bahagia itu meraih sebuah alpukat dengan ukuran cukup besar tersebut. "Untung Kak Maurin rajin mengisi stock makanan di sini. Kalau nggak bisa kelaparan deh kayaknya." Jasmine lalu kembali ke meja dapur. Tangannya dengan terampil membelah dan mele
"Mas beneran? Nggak lagi bercanda, kan?" tanya Jasmine masih tidak percaya. Dengan cahaya senter ponsel seadanya, Jasmine bisa melihat Damian mengangguk yakin lalu mengulas sebuah senyuman yang membuat hati Jasmine ikut menghangat. "Saya lupa bawa dokumennya. Tapi saya jujur soal itu. Pertemuan kita malam ini juga nggak sengaja. Makanya saya nggak bawa," ujar Damian.Jasmine mendekat. "Nggak apa-apa, Mas. Kabar ini aja aku udah senang banget. Tapi kok bisa?" "Ceritanya panjang. Ini kayaknya nggak cocok banget harus diceritakan di sini. Mau menginap di tempat saya?" tanya Damian, tanpa sadar mulai membuka kancing kemejanya. Mata Jasmine melotot. Meskipun mereka sudah pernah melakukan itu, tapi jika terlalu mendadak seperti ini rasanya Jasmine tidak siap. Jasmine mundur beberapa langkah, membuat Damian menatapnya heran. Saat Jasmine semakin menimbulkan gelagat aneh, Damian pun tertawa. Kancing kemejanya hanya dibuka sampai kancing ketiga dari atas. Jasmine segera membuang muka, me
Mas Renan : Kayaknya Mas malam ini gak pulang. Ada acara sama teman kuliah. Kuncinya di tempat biasa. Embusan napas Jasmine terdengar kasar. Baru saja Damian pulang setelah mengantarnya pulang, pesan singkat dari sang kakak justru baru masuk. Kini Jasmine berdiri di teras rumah. Dengan malas ia melangkah menuju tempat biasa ia dan kakaknya menyimpan kunci rumah. Tidak ada pilihan lain selain memilih untuk di rumah sendirian malam ini. Setelah mendapatkan kunci, ia segera memasukkan ponselnya ke tas. Jasmine itu penakut. Makanya setelah berhasil membuka kunci rumah ia buru-buru masuk dan mengunci kembali dari dalam. "Bisa-bisanya baru ngabarin sekarang. Kalau nggak kan, aku bisa minta anterin ke tempat Anya aja." Jasmine segera ke dapur. Ia butuh minum. Saat berada di dapur, tiba-tiba pikirannya tertuju pada Clara. "Ah, sial memang! Malah keinget lagi." Jasmine memijit pelipisnya. "Biasanya ada Clara yang selalu mau aku ajak nginep. Andai aja kamu nggak nusuk aku dari belakang g







