Share

Bab 9

Author: Chloe Laurent
Rasanya seperti tanah di bawah kakiku bergeser. Sudut ruangan itu seolah tampak miring dan aku harus benar-benar memaksa diriku tetap berdiri tegak. Konfrontasi ini sebenarnya tidak pernah bisa dihindari.

Jauh di dalam diriku, di tempat aku menyimpan semua kenyataan yang selalu berusaha kuhindari, aku sebenarnya sudah tahu hari ini pasti akan datang.

Hari ketika dia menemukan kami.

Hari ketika dia mengetahui semuanya.

Hanya saja, aku tidak pernah benar-benar membiarkan diriku percaya bahwa hari
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Terjerat Malam Bergelora dengan Sahabat Kakakku   Bab 74

    Sudut Pandang Rosie:Telepon itu datang pada Selasa pagi saat jam persiapanku.Aku sedang duduk di meja di ruang seni, mendata persediaan di lemari sebelum menyerahkan daftarnya ke kantor sekolah paling lambat hari Jumat. Aku menghitung stoples cat tempera dan gulungan selotip lukis sambil mencoba memperkirakan berapa banyak lem stik yang kira-kira bisa dihabiskan dua puluh tiga murid kelas satu dalam sebulan, yang entah bagaimana selalu jauh lebih banyak daripada yang dibayangkan siapa pun.Telepon berdering.Identitas penelepon menunjukkan kantor utama sekolah."Bu Rosie."Suara kepala sekolah terdengar dengan nada yang sudah kukenali setiap kali dia harus menyampaikan kabar buruk. Tenang. Lembut. Seperti seseorang yang sudah berlatih menyusun kata-katanya secukupnya."Bisa nggak Ibu datang ke kantor saya kalau ada waktu? Sebelum kelas berikutnya, kalau memungkinkan.""Tentu," jawabku.Aku meletakkan lembar pendataan persediaan dan berjalan menyusuri lorong.Kantornya berada di bagia

  • Terjerat Malam Bergelora dengan Sahabat Kakakku   Bab 73

    "Itu perubahan yang signifikan," katanya. "Menurutmu, kenapa sekarang kamu bisa melakukannya, padahal sebelumnya nggak bisa?"Aku menoleh ke arah jendela."Karena malam-malam itu," jawabku. "Malam ketika Lucy bersama Aiden. Tiba-tiba aku punya waktu luang tanpa tanggung jawab apa pun. Aku nggak perlu lagi memikirkan bagaimana caranya mengisi waktu selama berjam-jam itu. Jadi, aku melukis.""Berarti pengaturan ini juga memberikan sesuatu kembali padamu.""Iya," aku mengakui.Mengatakannya dengan lantang ternyata tidak mudah."Aku nggak pernah menyangka akan seperti itu."Dokter Susan mengamatiku cukup lama. "Apakah hanya itu yang berubah?"Tatapanku beralih ke dinding.Lebih tepatnya, ke ruang kosong di antara rak buku dan jendela, tempat yang tanpa sadar terus kupandangi selama sesi-sesi terapi ini."Mungkin ...." Aku mulai berkata perlahan, "Mungkin aku sudah berhenti menunggu semuanya berantakan."Dia tetap diam, memberiku kesempatan untuk melanjutkan."Sejak Aiden masuk ke ruang kon

  • Terjerat Malam Bergelora dengan Sahabat Kakakku   Bab 72

    Sudut Pandang Rosie:Lukisan berjudul "Kepulangan" terjual keesokan paginya.Aku baru melihat notifikasi penjualannya ketika sudah berada di sekolah, di sela-sela jam pelajaran, saat berdiri di lorong di depan ruang seni dengan secangkir kopi yang mulai dingin di tanganku. Aplikasi itu mengirimkan pesan otomatis.Pembayaran diterima.Identitas pembelinya tersembunyi di balik nama pengguna asing yang terhubung dengan sesuatu yang tampak seperti perusahaan manajemen. Aku menduga pembelinya adalah galeri kecil, asisten yang membeli atas nama seorang kolektor atau perantara yang mewakili klien pribadi.Empat setengah juta.Aku berdiri di tengah lorong sambil menatap ponsel, diliputi emosi yang sama sekali tidak kuduga.Bukan hanya kegembiraan karena berhasil menjual lukisan, meskipun perasaan itu tentu saja ada. Empat setengah juta adalah jumlah uang yang cukup berarti bagiku.Namun, yang kurasakan jauh lebih besar daripada itu. Itu adalah perasaan ketika menciptakan sesuatu dengan jujur,

  • Terjerat Malam Bergelora dengan Sahabat Kakakku   Bab 71

    Rosie melukisnya seorang diri di apartemennya, pada malam pertama putrinya tidur di tempat lain.Di tengah malam, dia mengeluarkan semua yang mengelilinginya dari dalam dirinya dan menuangkannya ke atas kanvas.Kesunyian yang begitu ditakutinya. Ketidakhadiran yang memiliki bentuk begitu jelas.Itulah yang keluar dari dalam dirinya.Aku meletakkan ponsel dengan layar menghadap ke bawah di meja samping tempat tidur. Sambil berbaring dalam kegelapan, aku mendapati diriku membayangkan hal-hal yang belum siap kuwujudkan.Keesokan paginya, setelah Lucy melahap panekuk yang kubuat di bawah pengawasannya yang sangat teliti, Rosie datang menjemputnya pukul sepuluh.Dia terlihat cukup beristirahat dan lebih rileks.Setelah mereka pergi, aku duduk di meja dapur bersama secangkir kopi dan menelepon asistenku.Namanya Priya dan dia sudah bekerja denganku selama tiga tahun. Dia memiliki kemampuan langka untuk menyelesaikan segala sesuatu dengan efisiensi tanpa ampun tanpa pernah menuntut penjelasan

  • Terjerat Malam Bergelora dengan Sahabat Kakakku   Bab 70

    Sudut Pandang Aiden:Aku menemukan akun itu empat bulan sebelumnya.Informasi tentang akun tersebut terselip di dalam laporan latar belakang awal yang disusun oleh penyelidikku. Sebuah laporan lengkap yang merinci rutinitas harian Rosie, tempat kerjanya, alamatnya, dan kondisi keuangannya.Di bagian bawah laporan, hampir seperti catatan tambahan yang tidak terlalu penting, dia mencantumkan sebuah akun publik kecil tempat Rosie mengunggah lukisan-lukisannya dengan menggunakan nama gadis ibunya. Pengikutnya sangat sedikit dan dia hanya sesekali mengunggah sesuatu. Penyelidikku memasukkan informasi itu semata-mata agar laporannya lengkap.Aku langsung mencari akun itu sore harinya, setelah laporan tersebut sampai di mejaku.Aku tidak berharap banyak. Penyelidikku menggambarkan akun itu sebagai akun yang hampir tidak aktif dan memiliki interaksi yang sangat sedikit.Secara teknis, dia memang tidak salah.Namun, dia sama sekali tidak memahami intinya.Ada sebelas unggahan yang tersebar sepa

  • Terjerat Malam Bergelora dengan Sahabat Kakakku   Bab 69

    Aku terus melukis sampai akhirnya berhenti melihat setiap detail secara terpisah dan mulai melihat lukisan itu sebagai satu kesatuan. Kemudian, aku meletakkan kuas dan mundur selangkah.Saat itu pukul dua dini hari.Punggungku terasa pegal, tetapi pegal yang memuaskan setelah seharian melakukan pekerjaan sungguhan. Noda cat memenuhi kedua tanganku hingga pergelangan. Dapur diselimuti kehangatan lembut dari lampu-lampu yang kubiarkan menyala dan keheningan mendalam yang hanya muncul setelah berjam-jam berkonsentrasi penuh.Aku memandangi lukisan itu.Itu adalah karya terindah yang pernah kubuat selama bertahun-tahun.Aku mengetahuinya seperti seseorang mengetahui sebuah kebenaran yang tak terbantahkan.Bukan karena bangga, melainkan karena ada kesadaran tenang bahwa sesuatu memang sudah tepat sebagaimana adanya.Lukisan itu jujur.Sosok yang berdiri di ambang pintu.Anak yang berlari ke arahnya.Cahaya yang mengalir masuk dari sisi lain.Itu bukan ilustrasi, bukan pula sekadar hiasan. I

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status