Troli perlengkapan kebersihanku masih berada di luar lorong.Itu satu-satunya pikiran yang masih bisa kupahami saat aku berdiri mematung di ambang pintu ruang konferensi tiga, menatap pria yang duduk di ujung meja.Troli itu masih menungguku di luar, lengkap dengan pel, botol-botol cairan pembersih, dan tumpukan handuk yang terlipat rapi. Seharusnya 40 menit lagi aku sudah berada di lantai empat.Namun, semua itu sudah tidak penting lagi.Karena Aiden ada di sini, hanya sekitar tiga meter dariku.Dia mengenakan setelan jas yang mungkin harganya lebih mahal daripada biaya sewa apartemenku selama sebulan. Selain itu, dia telah berubah.Itulah hal pertama yang kusadari, bahkan sebelum rasa panik datang atau sebelum darahku terasa membeku.Aiden tampak berbeda. Dia masih setegap dulu, masih memiliki wibawa yang mampu membuat seluruh ruangan terasa mencekam. Namun, tujuh tahun telah mengukir sisi-sisi baru dalam dirinya. Membuatnya semakin keras.Garis-garis wajahnya kini tampak lebih tegas
Baca selengkapnya