登入Freya menoleh ke belakang karena penasaran dengan obrolan yang tertangkap indra pendengarannya. Gerakannya lambat, sebisa mungkin berharap tak ketahuan sengaja mencuri dengar.“Salahnya di mana? Si cewek, kan, baru gandengan sama yang lain setelah mereka putus. Nggak kayak dia yang jelas-jelas mesra-mesraan sama orang lain waktu mereka masih pacaran.”Freya mengangguk-angguk kecil. Dia setuju dengan omongan satu orang yang tampaknya berada di pihaknya itu.“Siapa tahu perempuan yang namanya Freya ini sebenarnya malah selingkuh duluan, tapi dia berlagak jadi korban biar dapat simpati dari orang-orang.”“Wah, iya juga, ya. Mereka sebenarnya sama-sama selingkuh, tapi Freya lebih licik. Dia membuat seolah-olah cuma Juan yang salah.”Freya berdecak tak suka. Tanpa sadar, suara decakannya ternyata lumayan keras hingga terdengar oleh gerombolan di belakangnya itu.Ketika mereka melihat ke arahnya, barulah Freya menyadari kecerobohannya. Dia kemudian berlagak sibuk mengamati sekitar hingga ak
“Kamu masih khawatir soal si Aryan?”Freya mengangguk tanpa berusaha mengelak sedikit pun. Chika menghentikan aktivitasnya sejenak. Melihat Freya yang sama sekali tidak berupaya menutupi rasa cemasnya, ia pun mengulum senyum.“Apa coba yang bikin kamu khawatir sampai sebegininya?” Chika kembali bertanya sambil lanjut berdandan. “Dia itu cuma pulang ke rumahnya, bukan pergi ke medan perang.”Duduk di ujung kasur kakaknya, Freya cuma diam memperhatikan Chika yang kini tengah memulas maskara pada bulu mata lentiknya.“Justru karena itu, Kak.”Setelah Chika beres dengan riasan mata, barulah Freya mulai buka suara. “Suasana rumah keluarganya Aryan mungkin setara medan perang, makanya aku khawatir.”Jawaban Freya membuat Chika tertawa. Dia paham kenapa Freya bisa berpikir seperti itu. Akan tetapi, lucu saja mendengar sang adik menyamakan ketegangan di rumah orang tua Aryan dengan medan perang.Sambil memilih-milih lipstik, Chika lalu berkata, “Bapaknya Aryan itu murni pebisnis, bukan pengu
Freya menyimak penjelasan dokter dengan seksama. Setiap kali ada yang terasa mengganjal atau tidak dimengerti, dia tak ragu menyela dan bertanya. Alih-alih orang terdekat pasien, Freya kini lebih mirip jurnalis kesehatan yang sedang melakukan liputan khusus. Dia begitu gigih meminta si dokter menerangkan semuanya secara mendetail dengan bahasa yang lebih mudah dipahami orang awam.Sesekali Freya juga berbicara dengan nada menjebak, seolah ingin mengetes kemampuan sang dokter. Benar-benar seperti saat dirinya reportase.“Jadi, intinya pasien nggak perlu rawat inap?” tanya Freya, masih dengan ekspresinya yang sangat serius.“Iya, Bu,” jawab dokter setelah diam-diam menarik napas. Lelah rasanya menghadapi tipe pendamping pasien seperti Freya.“Berdasarkan hasil observasi kami, pasien tidak perlu rawat inap. Cukup istirahat di rumah dan diberi obat sesuai yang diresepkan.”“Namun, jika ke depannya ada keluhan seperti nyeri atau sakit yang tak tertahankan, pasien bisa dibawa kembali ke ru
- Bagas -[Kak Rey, ini Pak Aryan, kan?]- Tata -[Rey, cepet lihat video ini!]- Bagas -[Pak Aryan ditonjok Juan, Kak!][Udah rame banget di medsos][Kak Rey lagi di mana? Ada di TKP, nggak?]- Tata -[Mantanmu ngamuk, Rey!][Parah banget! Babak belur itu si Aryan]Freya mulanya berniat mengabaikan notifikasi pesan masuk yang muncul di layar ponselnya. Lagi seru-serunya mengobrol dengan Sara dan Chika, jadi pikirnya dibuka nanti saja.Namun, notifikasi pesan yang berasal dari grup obrolannya bersama Bagas dan Tata itu terus saja berdatangan. Akhirnya, Freya pun meraih ponselnya dan seketika kehilangan rona ceria di wajahnya.“Kenapa? Ada masalah?” tanya Tata yang duduk di samping Freya.Freya lantas membuka sebuah tautan yang dikirim Bagas. Sejurus kemudian, bola matanya membesar panik.Video berdurasi tak sampai 30 detik itu memperlihatkan Aryan yang dihajar habis-habisan oleh Juan. Aryan sama sekali tidak membalas. Pria itu seolah membiarkan dirinya menjadi samsak amarah Juan hing
Sialannya, orang seperti Juan ini memang ada. Sudah jelas dia yang salah, tetapi masih saja mencari-cari pembenaran untuk menyalahkan orang lain. Entah seperti apa Juan memperlakukan Freya selama pacaran bertahun-tahun. Bagaimana bisa Freya tidak menyadari sifat buruk laki-laki manipulatif yang ternyata bermental korban ini?“Sepertinya Chef Juan melupakan bagian yang paling penting. Jadi, saya dengan senang hati akan membantu supaya Chef Juan mengingatnya kembali.”Aryan tersenyum membalas tatapan nyalang Juan. Dia lantas maju selangkah, sengaja menantang amarah lawan bicaranya dengan mendongak angkuh.“Semua ini terjadi karena kesalahan Anda sendiri. Biang masalahnya itu diri Anda sendiri,” ucap Aryan yang wajahnya kini sudah tak berhias senyum lagi.“Bukan gara-gara saya atau siapapun, tapi ini adalah akibat dari ulah Chef Juan sendiri,” tegas Aryan sambil menekan kuat bahu Juan dengan telunjuk tangan kirinya.Perbuatan Aryan tak pelak membuat Juan semakin marah. Mulutnya pun terb
[Iya, ini masih sama Sara. Ada Kak Chika juga yang barusan datang][Kamu mau ke sini, Yan?]Aryan tak hentinya tersenyum saat berkirim pesan dengan Freya. Jemarinya pun begitu lincah mengetik balasan.[Iya. Boleh, kan?]Sejatinya Aryan sudah dalam perjalanan menuju restoran tempat Freya makan malam bersama adiknya. Entah boleh datang atau tidak, Aryan tetap akan ke sana.Freya pun mulai hafal dengan perangai Aryan. Oleh karenanya, dia tidak ingin capek-capek melarang pria itu datang. Tanpa pikir dua kali, lampu hijau diberikan. Bukan dengan mengatakan iya atau tidak, melainkan langsung mengingatkan agar Aryan hati-hati di jalan.Senyuman Aryan jelas makin lebar setelahnya. Sepertinya sudah sangat lama sejak terakhir kali dia merasa bahagia hanya karena ada yang memintanya hati-hati di jalan.“Reno, ini kita …”Ucapan Aryan menggantung. Begitu pula dengan lengkungan manis di bibirnya yang seketika menghilang.Aryan menangkap gelagat waspada Reno yang duduk di kursi kemudi. Sekretarisny







