Se connecterNamira harus melerakan kejayaan karirnya lantaran terjerat skandal bersama Elang—taipan kaya yang juga calon kakak iparnya sendiri. Tidak ada pilihan lain selain menikah dengan pria itu, meski Namira sama sekali tidak memiliki perasaan apapun padanya. Meski awalnya Namira tidak setuju dengan pernikahan tersebut, Elang justru menawarkan sesuatu yang membuat Namira luluh. Impiannya. Lambat laun, semuanya berubah. Elang bukan orang yang terlalu buruk, di balik itu semua—dia benar-benar suami impian semua orang. Di saat Namira sudah mulai menaruh rasa, satu persatu keraguan muncul secara perlahan. Bersama Elang mungkin bisa memperbaiki hidupnya yang kacau, namun di sisi lain benturan tak terlihat membuat Namira semakin yakin kalau pernikahan ini harus segera dihentikan—apalagi rahasia kelam yang Elang sembunyikan selama ini terbongkar. Apa yang harus Namira lakukan?
Voir plus"Breaking News"
"Artis yang sedang naik daun, Namira Adiningrat, diduga terlibat skandal video panas bersama pengusaha Elang Pradeepa Raespati, yang diketahui akan menikah dengan kakak kandungnya pekan depan." Laura membuka pintu sedikit terburu-buru, ia menunjukkan video panas itu ke Namira. Sama dengan Namira, wajah Laura juga tampak cemas. Wanita itu lalu sibuk dengan tabnya, membalas satu persatu pesan yang masuk dari pihak endorsement termasuk pihak rumah produksi film yang akan tayang dalam waktu dekat. "Kacau, Ra. Kacau. Beberapa brand putus kerjasama dalam sekejap gara-gara video syur itu. Ditambah, sekarang film kamu terancam gagal tayang," ujar Laura. Tangannya terus scroll ke bawah, "Banyak banget yang menyerukan boikot sama brand yang belum putus kerjasama sama kamu," lanjutnya. Namira hanya diam, ia tidak tahu harus berbuat apa saat ini. Kepalanya terasa penuh akan ketakutan satu hal yakni respon keluarganya. Ia baru saja membuka ponsel dan berita skandalnya bocor begitu saja. Bagaimana ia terbangun dengan Elang di tempat tidur, ingatan persetubuhan itu, lalu senyuman Elang yang sangat menakutkan membuat pikiran Namira terasa kacau—sangat kacau sampai ingin mati rasanya. Mengingat kejadian beberapa hari lalu membuatnya menyesal, kenapa ia harus minum alkohol? Pemotretan yang sudah Namira lakukan seharian ini gagal dan brand telah putus kerjasama. Laura mengantarkannya ke apartemen dan berusaha menenangkannya, namun wanita itu hanya diam dan tak mengucapkan satu kata pun. "Aku pergi dulu, sebaiknya kamu jangan lihat internet dalam beberapa hari ini. Apapun yang terjadi, kesalahan yang kamu lakukan malam itu, cukup sampai di sini. Aku akan menghubungi media untuk menurunkan berita," ujarnya sebelum benar-benar pergi meninggalkan Namira sendiri di apartemen. Namira mengecek ponselnya alih-alih menuruti ucapan Laura. Ia membuka video yang beberapa jam lalu dikirimkan oleh Laura. Di dalam video tersebut wajahnya dan Elang terekspos jelas tanpa blur sama sekali. Ia mengamati raut wajahnya—tampak menikmati, mendesah, lalu meminta Elang untuk masuk lebih dalam. Sebuah pesan masuk dari ayahnya membuat Namira terdiam. Jantungnya berdetak kian lebih cepat kala tahu hidupnya terancam kali ini. 'Cepat pulang sekarang!' **** Wajah Namira terpelanting ke samping karena tamparan Jonathan. Rasa panas menyeruak di pipi hingga telinganya terasa berdenging hebat. Air matanya mengenang di pelupuk mata, namun sekuat tenaga Namira menahannya agar tak jatuh. Ia bukan wanita lemah yang sedikit-sedikit menangis, rasa sakit ini bukanlah apa-apa. Di sana, Zahra dalam kondisi kacau. Wajahnya sembab karena terlalu banyak menangis. Sorot mata Zahra tampak kecewa dan membuat Namira merasa bersalah. Jonathan sangat amat murka kala tahu video syur putrinya tersebar di dunia maya dan dijadikan tontonan gratis oleh banyak orang. Sebagai pembisnis terkemuka, masalah ini tentu saja bukan masalah kecil, akibatnya saham langsung merosot tajam. "Saya nggak pernah peduli kamu tidur dengan siapa saja di luar sana, tapi jangan bawa nama Adiningrat! Lihat atas perbuatan kamu, saham merosot tajam dan kamu hanya bisa diam tanpa melakukan apa-apa!" Jonathan memborbardir Namira dengan banyak kalimat menyakitkan hingga membuatnya sakit di area dada. "Saya heran dengan sifat kamu yang satu ini, sebenarnya sifat ini turunan dari siapa?" "Maaf," kata Namira pelan. "Saya nggak butuh maaf kamu, Namira. Kamu mencoreng nama Adiningrat. Keputusan final, kamu harus menikah dengan Elang." "Pa!" Zahra berseru kencang, ia menatap Jonathan dengan tatapan tak percaya. Matanya sudah berkaca-kaca, ia tidak bisa menerima bagaimana keputusan ini mengubur impiannya untuk menikah dengan pria yang selama ini ia kagumi. Hatinya remuk seketika, terasa sakit hingga membuatnya ingin pingsan. "Papa nggak bisa melakukan ini," ujarnya pelan, hampir tak terdengar. "Keputusan ini nggak bisa diganggu gugat. Pernikahan Namira dan Elang akan dipercepat," ujar Jonathan mutlak. Jonathan pergi, disusul Zahra yang mengejarnya sambil menangis. Sedangkan Namira hanya terdiam mengamati bagaimana terlukanya Zahra. Namira menatap Ranum yang saat ini masih di sana, tatapannya tampak menunjukkan kesedihan. "Kakakmu hancur, mama nggak tahu harus berbuat apa. Kenapa kamu melakukan ini pada kakakmu, Ra?" tanya Ranum. "Mama boleh percaya dengan berita itu, tapi tolong, jangan anggap aku sengaja melakukan hal yang buat Kak Zahra sakit." Namira pergi setelah mengatakan itu, rasanya hatinya sakit sekali saat mengatakannya. Di dalam mobil, Namira menangis sejadi-jadinya. Permasalahan kali ini Namira sangat amat ketakutan. Mengingat batas minum alkoholnya cukup tinggi, Namira yakin kalau ia tidak akan mabuk kalau hanya minum segelas wine. Ada yang tidak beres, ia yakin ada yang menjebaknya. Tapi siapa? Berkat kejadian malam itu, hidup Namira hancur dalam sekejap. Karirnya terancam redup, filmnya rencana diboikot? Elang adalah jawabannya. Ia harus menemui pria itu untuk meminta penjelasan. Dengan cepat ia segera pergi ke rumah pria itu, tak peduli hari sudah malam, tak peduli jepretan wartawan menghantui, atau semakin banyaknya media miring yang menyebutnya jalang. Hari sudah tengah malam, Namira berjalan menuju unit apartemen Elang. Ia menekan bel, beberapa menit pintu terbuka menampilkan Elang tengah berdiri tanpa ekspresi. Pria itu tidak mengucapkan satu kata pun, ia berbalik seolah menyuruh Namira mengikutinya dari belakang. "Kita akan menikah secepatnya," ujar Elang, mutlak tak terbantahkan. Pria itu menyesap nikotinnya, menatap Namira dengan sorot datar. "Kita nggak bisa menikah! Kamu tunangan kakakku!" seru Namira tersulut emosi. "Pertunangan kami sudah batal karena insiden malam itu." "Nggak, kalian akan tetap menikah. Kamu pasti punya cara untuk mengatasi masalah ini, keluargamu berkuasa, seharusnya kamu bisa membungkam media dan mencari cara agar—" "Kamu menikmati saat aku memasukimu, Namira." Wanita itu terdiam. Skakmat, ia tak bisa berkata-kata karena ucapan fakta Elang. Mengingat bagaimana ia menikmati sentuhan Elang, sedikit demi sedikit Namira tidak bisa menolak fakta bahwasanya ia bersifat munafik. "Itu kecelakaan! Aku ... kita pasti dijebak," elak Namira yakin. "Apapun itu, media akan terus menggonggong. Cara untuk mengatasi semua ini hanya dengan kita menikah. Nggak ada cara lain," ujar Elang. Pria itu maju selangkah demi selangkah, mengurung Namira dalam sekejap dan membuatnya terjebak. Napas Namira tercekat kala wajah Elang semakin dekat dengan wajahnya. Embusan napas Elang dapat ia rasakan, berat dan sangat dominan. "Aku nggak mau menikah dengan kamu," tolak Namira pelan. "Karir kamu akan hancur. Ingat bagaimana kamu merintis karir ini dari nol, dan sekarang hancur dalam sekejap. Kamu nggak punya pilihan, Namira." Elang berbisik dan membuat bulu kuduk Namira merinding. "Pernikahan ini akan menguntungkan kamu. Selama kamu jadi istri saya, karir kamu akan aman. Pikirkan dulu," ujar Elang melanjutkan. Namira mengepalkan tangan hingga kuku jarinya menusuk ke telapak. Ia menatap Elang penuh putus asa sekaligus benci. "Jadi ... apa keputusanmu?"Namira bangun dengan rasa sakit di sekujur tubuhnya, ia menatap ke arah samping, tampak Elang masih tertidur pulas. Ia melirik jam, setelah pingsan karena perbuatan Elang, Namira tidak tahu selanjutnya apa yang Elang lakukan pada tubuhnya. Ia segera bangun dan bersiap pergi, tak lupa ia menghubungi Laura untuk segera menjemputnya. 'Aku pergi pemotretan dulu selama 2 hari, jangan cari aku' Sebuah note sengaja Namira tinggalkan di atas meja rias semata-mata takut kalau Elang mencari keberadaannya. Lalu, ia pergi dengan koper menuju bandara bersama Laura. Selang satu jam, Elang bangun dan tidak menemukan Namira di sebelahnya. Ia hanya menemukan note kecil di atas meja rias. Elang menghela napas, wanita itu jelas kesal dan marah karena semalam ia terlalu memaksanya berhubungan. Rasa amarah karena Namira membicarakan mengenai perceraian membuat Elang gelap mata dan melakukan hal itu secara paksa. Lain dengan Elang, Namira langsung memulai hari dengan sesi pemotretan tanpa henti. Setela
"Kamu gila? Jangan asal menuduh kakakku, Elang. Dia bukan orang seperti itu." Namira merasa dunianya runtuh kala Elang menyebutkan nama Zahra sebagai orang yang sudah mencoba menghancurkan karirnya. "Kalau kamu nggak percaya, saya ada buktinya, Namira." Namira terdiam setelah mendengar ucapan Elang. "Keluarga kamu nggak ada yang beres, mereka sangat membencimu, Sayang. Hanya ada aku di sini," lanjutnya memprovokasi. Dering ponsel menyadarkan Elang, ia segera pergi kala tahu ada nama Arjuna di layar ponsel. "Bagaimana, Jun? Orangnya sudah ditangkap?" "Sudah, Pak. Anda bisa ke ruang interogasi sekarang. Dia sangat keras kepala," kata Arjuna di seberang sana. "Saya ke sana sekarang." Elang kembali menemui Namira, wanita itu masih terdiam di sana. Matanya kosong. "Saya pergi sebentar, kamu jangan menunggu saya," pamitnya, tak lupa ia mencium kening Namira lembut. Sesampainya di tempat interogasi, Elang mendapati Arjuna sedang berdiri di belakang wanita yang tangan dan kakinya sudah
Acara gala premiere di mulai dengan para tamu undangan dan media melakukan registrasi, lalu disusul pembukaan acara oleh MC. Acara berlangsung lancar, banyak candaan ringan yang dilontarkan MC untuk mencairkan suasana. Sekitar 30 menit kemudian, sesi perkenalan dan sesi sapa pemain dimulai. Di sinilah ketakutan Namira muncul. Anindya, aktris senior yang ada di sebelahnya mencoba menenangkan dan memberinya dukungan lewat genggangan tangan. Wanita itu berkedip pelan, mengisyaratkan bahwa semua akan baik-baik saja. Dan benar saja, ketika Namira memulai sesi sapa dengan para penonton tidak ada lontaran kebencian yang diajukan padanya. Semuanya tampak penuh apresiasi dan dukungan, Namira lega karena ketakutannya selama ini tidak benar-benar terjadi. Setelah giliran Namira, pemeran lain juga ikut sesi sapa dengan para penonton. Mereka melakukan tanya jawab dengan MC tentang isi film dan proses pelaksanaan syuting, apa kesulitan dalam memainkan peran, bagaimana perasaan para pemain saat
Laura mengirim schedule Gala Premiere yang diadakan lusa. Beberapa kru juga tengah mempersiapkan diri termasuk penata busana dan make up artis yang sudah berkoordinasi dengan para pemain film. Namira menatap lembar schedule ragu, ia sedikit tidak percaya diri menghadiri acara tersebut lantaran skandal panasnya masih belum reda sepenuhnya. Ia hanya takut merugikan semua orang yang terlibat dan membuat acara menjadi sia-sia. Setelah rapat bersama tim kru film, Namira tidak langsung pulang. Ia duduk sebentar di kursi kosong dekat pintu keluar. Tatapannya kosong, pikirannya sibuk berkelana. "Kamu belum pulang?" tanya Pak Bambang, sutradara film. "Habis ini, Pak. Bapak sendiri belum pulang?" "Belum, Namira. Saya masih mengurusi buat acara besok. Mengenai skandal kamu, sebaiknya nggak perlu dipikirkan." "Bagaimana bisa? Saya bisa saja menghambat promosi film ini, apa saya nggak usah datang ya?" tanyanya penuh keraguan. "Namira, kamu pemeran utamanya. Kamu harus datang,






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.