INICIAR SESIÓNFreya menyimak penjelasan dokter dengan seksama. Setiap kali ada yang terasa mengganjal atau tidak dimengerti, dia tak ragu menyela dan bertanya. Alih-alih orang terdekat pasien, Freya kini lebih mirip jurnalis kesehatan yang sedang melakukan liputan khusus. Dia begitu gigih meminta si dokter menerangkan semuanya secara mendetail dengan bahasa yang lebih mudah dipahami orang awam.Sesekali Freya juga berbicara dengan nada menjebak, seolah ingin mengetes kemampuan sang dokter. Benar-benar seperti saat dirinya reportase.“Jadi, intinya pasien nggak perlu rawat inap?” tanya Freya, masih dengan ekspresinya yang sangat serius.“Iya, Bu,” jawab dokter setelah diam-diam menarik napas. Lelah rasanya menghadapi tipe pendamping pasien seperti Freya.“Berdasarkan hasil observasi kami, pasien tidak perlu rawat inap. Cukup istirahat di rumah dan diberi obat sesuai yang diresepkan.”“Namun, jika ke depannya ada keluhan seperti nyeri atau sakit yang tak tertahankan, pasien bisa dibawa kembali ke ru
- Bagas -[Kak Rey, ini Pak Aryan, kan?]- Tata -[Rey, cepet lihat video ini!]- Bagas -[Pak Aryan ditonjok Juan, Kak!][Udah rame banget di medsos][Kak Rey lagi di mana? Ada di TKP, nggak?]- Tata -[Mantanmu ngamuk, Rey!][Parah banget! Babak belur itu si Aryan]Freya mulanya berniat mengabaikan notifikasi pesan masuk yang muncul di layar ponselnya. Lagi seru-serunya mengobrol dengan Sara dan Chika, jadi pikirnya dibuka nanti saja.Namun, notifikasi pesan yang berasal dari grup obrolannya bersama Bagas dan Tata itu terus saja berdatangan. Akhirnya, Freya pun meraih ponselnya dan seketika kehilangan rona ceria di wajahnya.“Kenapa? Ada masalah?” tanya Tata yang duduk di samping Freya.Freya lantas membuka sebuah tautan yang dikirim Bagas. Sejurus kemudian, bola matanya membesar panik.Video berdurasi tak sampai 30 detik itu memperlihatkan Aryan yang dihajar habis-habisan oleh Juan. Aryan sama sekali tidak membalas. Pria itu seolah membiarkan dirinya menjadi samsak amarah Juan hing
Sialannya, orang seperti Juan ini memang ada. Sudah jelas dia yang salah, tetapi masih saja mencari-cari pembenaran untuk menyalahkan orang lain. Entah seperti apa Juan memperlakukan Freya selama pacaran bertahun-tahun. Bagaimana bisa Freya tidak menyadari sifat buruk laki-laki manipulatif yang ternyata bermental korban ini?“Sepertinya Chef Juan melupakan bagian yang paling penting. Jadi, saya dengan senang hati akan membantu supaya Chef Juan mengingatnya kembali.”Aryan tersenyum membalas tatapan nyalang Juan. Dia lantas maju selangkah, sengaja menantang amarah lawan bicaranya dengan mendongak angkuh.“Semua ini terjadi karena kesalahan Anda sendiri. Biang masalahnya itu diri Anda sendiri,” ucap Aryan yang wajahnya kini sudah tak berhias senyum lagi.“Bukan gara-gara saya atau siapapun, tapi ini adalah akibat dari ulah Chef Juan sendiri,” tegas Aryan sambil menekan kuat bahu Juan dengan telunjuk tangan kirinya.Perbuatan Aryan tak pelak membuat Juan semakin marah. Mulutnya pun terb
[Iya, ini masih sama Sara. Ada Kak Chika juga yang barusan datang][Kamu mau ke sini, Yan?]Aryan tak hentinya tersenyum saat berkirim pesan dengan Freya. Jemarinya pun begitu lincah mengetik balasan.[Iya. Boleh, kan?]Sejatinya Aryan sudah dalam perjalanan menuju restoran tempat Freya makan malam bersama adiknya. Entah boleh datang atau tidak, Aryan tetap akan ke sana.Freya pun mulai hafal dengan perangai Aryan. Oleh karenanya, dia tidak ingin capek-capek melarang pria itu datang. Tanpa pikir dua kali, lampu hijau diberikan. Bukan dengan mengatakan iya atau tidak, melainkan langsung mengingatkan agar Aryan hati-hati di jalan.Senyuman Aryan jelas makin lebar setelahnya. Sepertinya sudah sangat lama sejak terakhir kali dia merasa bahagia hanya karena ada yang memintanya hati-hati di jalan.“Reno, ini kita …”Ucapan Aryan menggantung. Begitu pula dengan lengkungan manis di bibirnya yang seketika menghilang.Aryan menangkap gelagat waspada Reno yang duduk di kursi kemudi. Sekretarisny
Freya tidak bisa pura-pura tak mengerti maksudnya. Dia paham benar ke mana arahnya. Namun, masa iya mereka harus membahasnya juga di siang bolong begini?Oh, tidak. Bahkan meski hari sudah gelap sekalipun, mana mungkin Freya menceritakan gaya mainnya Aryan di depan adik kandungnya!“Penasaran aja, sih, Kak. Soalnya bekasnya beneran ada di mana-mana. Kayak semangat banget gitu Kak Aryan bikinnya.”Sara kembali bicara dengan begitu entengnya, seolah ini adalah topik yang wajar untuk diobrolkan. Sementara, Freya semakin tak bisa berkata-kata.Mulutnya memang diam, tetapi rona merah yang bersemu di pipi Freya sekonyong-konyong membocorkan isi hatinya.“Semangat gimana maksudnya?” Freya akhirnya coba menanggapi walau suaranya terbata.Sara cuma tersenyum dengan tatapan jenaka. Dia tampak menyukai kepanikan yang masih coba Freya tutupi meski nyatanya sudah gagal total sejak awal.Di sisi lain, Freya bingung dengan dirinya yang tak berdaya menyembunyikan rasa gugupnya. Walau konteksnya berbe
“Kak Aryan mulai berubah setelah Kak Bayu berantem sama Papa.”Sara mengenang kembali situasi menegangkan yang menimpa keluarganya sekitar 14 tahun lalu. Kala itu, kakak sulungnya memutuskan untuk hengkang dari perusahaan. Alih-alih berkomitmen membesarkan Harsa Group, Bayu malah bersikeras merintis bisnisnya sendiri. Ambisinya tak bisa dibendung, bahkan jika itu berarti harus memulai semuanya dari nol.Tekad kuat Bayu jelas membuat banyak orang terkejut, terutama sang ayah. Bagaimanapun, Kresna telah mencurahkan segalanya demi mempersiapkan Bayu untuk menjadi penerusnya. Itulah mengapa keputusan anak pertamanya tersebut dianggap sebagai bentuk pengkhianatan.Setelah perdebatan panas dan perang dingin yang seolah tak berujung, Kresna membiarkan Bayu meninggalkan perusahaan. Kresna pun langsung menunjuk calon penerus baru yang tidak lain tidak bukan adalah Aryan.Aryan bukannya tidak lebih baik ketimbang kakaknya. Hanya saja, berbeda dengan Bayu, Aryan tidak pernah membayangkan diriny







