MasukAryan tampak menakutkan saat sisi dominannya muncul. Jangankan bernapas dengan benar, Freya bahkan tak bisa melakukan apa-apa selain terpaku pada tatapan dingin pria itu.Namun, berbarengan dengan rasa takut yang membuat tubuhnya membeku, Freya juga mendapati jantungnya berdetak lebih cepat. Semakin lama mereka beradu pandang, siapa sangka Freya malah tersipu.“Aryan …,” ucap Freya terbata.“Ya, Sayang,” sahut Aryan sambil terus menatap Freya dengan ekspresi datarnya.Rona merah di pipi Freya seketika menjalar hingga telinga. Padahal Aryan sudah berulang kali menyebut Freya sayang, tetapi ternyata beda sekali rasanya jika Aryan mengucapkannya dengan sorot intensnya begini.Freya sebenarnya ingin kembali mengingatkan Aryan tentang kesepakatan mereka yang hampir berakhir. Jika itu tak cukup, Freya akan menyinggung trauma yang belakangan membuatnya sering mimpi buruk.Andai Aryan masih keras kepala, Freya bertekad menekankan perbedaan status sosial mereka. Hubungan mereka bukan lagi soal
Seorang perempuan bersepatu hak tinggi keluar dari restoran dengan muka masam. Mulutnya tak berhenti bergumam kesal, memaki pria yang baru saja dia temui.“Cowok bangsat! Ternyata itu bukan cuma rumor. Aslinya memang bajingan!”Jeda 20 menit, hal serupa dilakukan perempuan lain. Jalan cepat sambil menghentakkan kaki, serapah marah terlontar dari bibir merahnya.“Sinting! Harusnya dia dikurung di rumah sakit jiwa!”Sekitar 30 menit kemudian, kejadian yang hampir sama kembali terulang. Tidak ada umpatan kasar, tapi si perempuan kelihatan sangat jengkel. Dia mendengus kasar berulang kali, seolah baru saja berhadapan dengan pria paling menyebalkan sedunia.Perempuan keempat agak beda. Dia tidak cuma mengumpat, tetapi juga menyiram lawan bicaranya dengan secangkir es kopi. Untungnya, si pria gercep menghindar sehingga minuman itu tidak mengenai wajahnya.“Saya juga nggak minat menikah dengan orang gila seperti Anda! Dasar berengsek!”Perempuan berikutnya beda lagi. Bukannya marah-marah, di
“Kamu itu terlalu baik. Bisa-bisanya malah melindungi perempuan yang mengandung anak mantan pacarmu.”Freya tertawa ringan mendengar pujian bernada sindiran yang dilontarkan Aryan. “Nggak ada salahnya, kan?” balasnya.“Mau gimana juga, kalau bukan karena dia, mungkin sekarang aku masih nggak tahu apa-apa soal kelakuan busuknya Juan.”Freya menghormati keputusan Naya untuk mempertahankan janin dalam kandungannya. Dia juga mendukung Naya yang bertekad menghilang dari kehidupan Juan, bahkan menawarkan tempat tinggal sementara yang jauh dari jangkauan pria itu.Setidaknya Naya aman di sana hingga bayinya lahir. Bakal ada orang kepercayaan Freya yang mendampingi juga, memastikan Naya baik-baik saja hingga hari persalinan tiba.“Hitung-hitung ucapan terima kasih. Selain itu, emangnya kamu nggak kasihan? Dia lagi hamil, lho.”Berdiri di tepi balkon atap kantor, Freya bertelepon sambil menikmati teh susu premium yang dikirim Aryan sore ini.Oh, Aryan tentu tidak hanya membeli teh untuk Freya.
Hari pertama kembali bekerja setelah cuti patah hati, Freya melangkah santai menuju ruang pemimpin redaksi. Dia bahkan tidak mampir ke mejanya dulu untuk sekedar menaruh tas, seolah sangat tidak sabar bertemu bosnya.“Selamat pagi, Pak Eka!”Freya menyapa dengan senyum ceria. Namun, Eka hanya balas memandangnya dengan tatapan tak bersahabat.“Pak Eka mau kopi? Saya bawa yang sesuai preferensinya Pak Eka,” ujar Freya sambil menaruh segelas kopi di meja bosnya.Setelahnya, Freya juga meletakkan kantong kertas berukuran sedang di sisi gelas kopi. “Saya juga jajan roti bebas gluten khusus untuk Pak Eka yang sabarnya seluas samudera.”Eka bukan orang yang gampang disogok. Namun, melihat Freya yang terus tersenyum dengan mata berbinar-binar, lambat laun hatinya dia luluh juga. “Semua ayah di dunia ini katanya ditakdirkan selalu kalah dari anak perempuannya,” gumam Eka seraya menghela napas panjang.Senyum Freya masih tercetak jelas di bibirnya saat menanggapi pria yang akhirnya mau meminum
Aryan memang sering dibanding-bandingkan dengan kakaknya. Gara-gara itu juga, hubungannya dengan si kakak pernah diwarnai perang dingin selama bertahun-tahun.Sekeras apa pun Aryan berusaha, ada saja kurangnya. Wirya bahkan tak pernah sekalipun kelihatan tulus memuji Aryan. Padahal, sejak Aryan menduduki jabatan strategis, Harsa Group nyatanya menunjukkan kemajuan bisnis yang konsisten melampaui ekspektasi.Hanya saja, kinerja Aryan di perusahaan kini tak lagi menjadi satu-satunya hal yang disorot.“Cinta itu perkara merepotkan, Aryandika Hutama.”Belakangan ini, Wirya juga mulai menaruh perhatian khusus pada kehidupan pribadi Aryan, terlebih semenjak anaknya itu memutuskan untuk mengakhiri pertunangannya dengan Lucy.“Jangan buang-buang waktu dan energimu untuk sesuatu yang pada akhirnya cuma menawarkan kesenangan semu.”Aryan sesaat hanya diam memandang Wirya yang tersenyum meremehkan. Bibirnya lantas turut menyimpul senyum tipis yang perlahan melebar. Dia bahkan mendengus kecil, se
“Saya paling suka ini. Romantisnya dapet banget. Nakalnya juga terasa.”Nadya tersenyum menunjukkan foto Aryan dan Freya yang seolah sedang berciuman di dalam mobil. Potret tersebut diambil saat Aryan mengantar Freya bekerja beberapa hari lalu. “Oh, tapi sebentar. Ada yang lebih menarik,” kata Nadya sambil mencari-cari foto yang dimaksud.Dalam hitungan detik, Nadya kembali memperlihatkan layar ponselnya kepada Reno. Foto yang dia tunjukkan berikutnya ternyata mengabadikan momen lain di hari yang sama.“Iya, kan? Mas Reno pasti setuju dengan saya.”Reno memperhatikan foto Aryan yang kali ini tampak bahagia memeluk Freya di depan lobi utama gedung tempat si perempuan bekerja. Senyumannya memang cerah sekali, kontras dengan Freya yang kelihatan kaget sekaligus tersipu.“Ini romantisnya natural, bukan yang sengaja dibuat-buat.”Sudut bibir Nadya masih tersenyum melengkung ke atas saat kemudian berkata, “Beda dengan foto sebelumnya yang kelihatan sekali kalau dua-duanya sadar kamera.”Be







