Beranda / Fantasi / Terjerat Pernikahan Raja Villain Tirani / {Bab 2} Tuduhan Penyihir uduhan Penyihir

Share

{Bab 2} Tuduhan Penyihir uduhan Penyihir

last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-15 17:07:00

Ksatria itu segera melangkah maju dan berlutut di hadapan pria berjubah gelap tersebut. Lututnya menghantam tanah dengan suara berat, menunjukkan keseriusan situasi.

“Lapor, yang mulia.” Ksatria itu menundukkan kepala lebih dalam. “Wanita ini berlari kemari dengan terburu-buru. Dia terlihat mencurigakan. Ditakutkan, dia adalah bala bantuan yang dikirim untuk menyerang kami yang sudah terluka.”

Ujung senjata para ksatria masih terarah ke tubuh Alianne. Udara di sekitarnya terasa menekan, seolah satu gerakan salah saja bisa mengakhiri segalanya.

“Bu- bukan! Aku benar-benar hanya rakyat jelata,” ucap Alianne, membela diri. Kini ia tidak bisa lagi menyembunyikan kepanikan di wajahnya. Napasnya tersengal, tangannya gemetar di sisi tubuhnya.

Langkah kaki berat terdengar mendekat.

Aldren, pria bertubuh tinggi itu berjalan ke arahnya dengan tenang. Setiap langkahnya mantap, tanpa ragu, tanpa tergesa. Ia berhenti tepat di hadapan Alianne.

Cahaya matahari terhalang oleh tubuh Aldren, menelan Alianne sepenuhnya ke dalam bayangannya. Sosok itu menjulang, membuatnya terasa kecil dan rapuh, seolah satu keputusan dari pria ini cukup untuk menentukan hidup dan matinya.

Alianne meneguk salivanya sendiri dengan panik. Tenggorokannya kering, dadanya terasa sesak. 'Sepertinya ini kesalahan besar. Seharusnya aku tidak ke sini.' Ia menundukkan kepala semakin dalam, pandangannya tertancap pada tanah.

Di dalam kepalanya, sumpah serapah mengalir deras, semuanya ditujukan pada alur cerita game yang ia kutuk setengah mati. 'Lagi pula di game tidak ada adegan seperti ini! Game hanya fokus mengambil sudut pandang peran utama hingga karakter lain hampir tidak pernah diceritakan sama sekali.'

“Kau terluka?” tanya Aldren dengan lembut, kontras dengan suaranya yang berat dan sedikit serak.

Pertanyaan itu menghantam Alianne lebih keras dari ancaman apa pun.

Alianne tersentak. Ia dengan cepat mengangkat wajahnya, menatap Aldren dengan tatapan bingung dan terkejut. Ia tidak melihat kemarahan, tidak pula niat membunuh, hanya sepasang mata hijau gelap yang dingin, namun jernih.

Aldren berbalik. Tanpa sepatah kata tambahan, ia kembali naik ke atas kereta kudanya. “Istirahatlah dulu di sini jika ingin. Kami tidak akan melukaimu.”

“Yang mulia! Tapi dia—”

Belum sempat ksatria itu menyelesaikan kalimatnya, Aldren menoleh. Tatapan tajam itu cukup untuk membuat udara di sekitarnya membeku. Pupil hijau gelap tersebut menekan tanpa perlu kata-kata.

Ksatria itu terdiam seketika.

“Hery, sudah berapa kali aku katakan kepadamu? Kita tidak boleh menyerang warga sipil.” Aldren kemudian menoleh ke belakang, ke arah Alianne. “Meski warga sipil itu berasal dari kerajaan yang melanggar perjanjian gencatan senjata tepat setelah perjanjian itu disahkan.”

Dengan itu, Aldren masuk kembali ke dalam kereta kuda.

Alianne berdiri terpaku. Jantungnya berdetak tak karuan. 'Apa maksudnya ini? Kerajaan Valtarian dan kerajaan Aurenthia melakukan perjanjian gencatan senjata tapi kerajaan Aurenthia melanggarnya?'

Pikiran Alianne berputar cepat, menyusun potongan-potongan informasi yang baru saja ia dengar. 'Kalau begini, Aldren Valtazar kemungkinan besar bukan vilain! Vilain sesungguhnya memang MC game ini, ratu Seraphine Veyra Athenaeum.'

Belum sempat ia mencerna semuanya, tirai kereta kembali tersibak.

Tubuh Alianne menegang saat Aldren keluar lagi, kali ini membawa sebotol wine dengan botol kaca tebal yang berkilau di bawah cahaya matahari. Bahkan dari kejauhan, benda itu tampak mahal, terlalu mahal untuk dibawa dalam perjalanan perang.

“Minumlah, kau pasti merasa haus setelah berlari.”

Alianne membeku. Tangannya refleks mundur selangkah. Kepalanya dipenuhi kebingungan antara menolak dan takut menyinggung. “Ti- tidak, itu... Saya tidak minum.”

Aldren menunduk sedikit, menatapnya sekilas. Lalu ia mengangguk kecil, seolah baru memahami sesuatu. “Maaf, kau masih di bawah umur, ya?”

Alianne terdiam. Kata-kata itu justru membuat pikirannya semakin kacau.

'Umur? Di dunia asalku, usiaku sudah dua puluh empat tahun. Aku mahasiswi semester akhir. Sementara tubuh ini, sepertinya memang seperti masih usia tujuh belas sampai dua puluh tahun.'

“Ada apa? Kenapa diam saja?” tanya Aldren dengan lembut.

Alianne tersentak dan segera mengganti topik, tidak ingin tenggelam lebih jauh dalam kebingungannya sendiri.

“Omong-omong, apa yang terjadi di sini?”

Aldren terdiam sejenak. Pandangannya beralih ke sekeliling, ke arah para ksatria yang duduk atau terbaring di padang rumput. Darah mengering, baju zirah penyok, napas tertahan oleh rasa sakit.

“Seperti yang kau lihat.”

Alianne mengikuti arah pandangnya. Ksatria-ksatria itu tampak kelelahan, beberapa memegangi luka, beberapa lainnya menunduk menahan rasa sakit. Ia kembali menatap Aldren, mendengarkan dengan saksama.

“Kami baru saja menandatangani perjanjian gencatan senjata dari Kerajaan Aurenthia. Namun, kami diserang secara tiba-tiba oleh Ksatria kerajaan Aurenthia. Mereka juga menculik tabibku. Sekarang, kami tidak bisa melanjutkan perjalanan karena banyak Ksatria yang terluka.”

Mata Alianne membulat. Dadanya terasa panas. Tanpa sadar, tangannya mengepal di sisi tubuhnya. Amarah pada ratu Kerajaan Aurenthia membuncah, mengendap menjadi tekad yang dingin.

Ia mengangkat wajahnya dan menatap Aldren dengan sorot mata yang berubah.

“Persediaan wine milikmu masih banyak? Kita bisa menggunakannya untuk menyembuhkan para Ksatria!”

Aldren menatap Alianne cukup lama. Tatapannya sulit diartikan. Antara ragu, tertarik, dan waspada. Akhirnya, ia mengulurkan botol wine itu.

“Silakan tunjukkan terlebih dahulu pada luka di kakimu!”

Tanpa ragu, Alianne menerima botol tersebut. Ia duduk di padang rumput, menarik kain roknya sedikit, memperlihatkan kaki yang lecet dan memerah akibat sandal jerami.

“Di sini sepertinya tidak ada kapas, ya? Jika memakai kain dari pakaian, takutnya malah infeksi. Tapi kalau wine ini langsung dituangkan begitu saja, banyak terbuang.”

Aldren mendengarkan semua gumaman itu tanpa menyela. Dengan nada santai, ia berkata, “Wine itu adalah hadiah dari ratu Seraphine setelah menandatangani perjanjian gencatan senjata. Habiskan saja jika kau mau. Aku juga tidak berniat meminumnya. Jika masih kurang, di dalam kereta kuda masih banyak.”

Alianne tersenyum tipis. Senyum kecil yang mengandung kepuasan pahit.

“Bagus! Aku tidak perlu merasa rugi.”

Ia menuangkan sedikit wine ke luka di kakinya.

Cairan itu menyentuh kulit yang terbuka.

Alianne meringis dan memejamkan mata. “Perih...”

“Kau baik-baik saja?” tanya Aldren. Tatapannya masih datar, namun ada sesuatu di balik sorot mata hijau gelap itu. Kekhawatiran yang tidak ia ucapkan dengan kata-kata.

Alianne mengangguk pelan. Gerakannya kecil, hampir tak terlihat. “Ya, rasanya agak sedikit perih. Tapi ini lumayan untuk membersihkan luka.”

“Tahu dari mana wine bisa digunakan untuk membersihkan luka? Apa kau seorang tabib?” tanya Aldren. Ekspresinya tetap dingin, namun kini ada kewaspadaan yang jelas.

Pertanyaan itu membuat dada Alianne terasa mengencang. Ia terdiam. Di kepalanya, berbagai kemungkinan beradu dengan cepat.

'Jadi, jawaban apa yang seharusnya aku ambil? Jika aku mengiyakan, artinya aku harus tahu semua jenis pengobatan tradisional di dunia ini. Sementara aku bukan berasal dari jurusan farmasi. Jika aku mengaku bukan tabib, jawaban apa yang aman agar dia tidak menuduhku penyihir?'

Keheningan itu memanjang.

Aldren tidak mengatakan apa pun. Namun tatapannya semakin intens, seolah sedang menimbang sesuatu yang tidak kasat mata.

'Wanita ini sepertinya membutuhkan waktu untuk menjawab pertanyaan mudah. Sepertinya dia benar-benar bukan dari dunia ini.'

“Tentu saja tidak!” jawab Alianne akhirnya. Senyum canggung terlukis di wajahnya, terlalu cepat, terlalu dipaksakan. “Aku hanya mempelajarinya dari kampung halamanku. Jika luka, kami memang memakai alkohol antiseptik untuk membersihkan luka. Karena tidak ada, sepertinya wine juga tidak masalah.”

Aldren mengangguk pelan, seolah menerima penjelasan itu. Tanpa berkata lebih jauh, ia berbalik dan berjalan ke arah kereta kuda. Tirai disingkap, lalu sosoknya menghilang sesaat di dalamnya.

Tak lama kemudian, Aldren keluar kembali dengan beberapa botol wine di tangannya. “Hary!” panggil Aldren kepada salah seorang ksatria.

“Ya, yang mulia!” jawab Hery sigap, berdiri di depan kereta kuda.

Tanpa ragu, Aldren melepas jubah rajanya. Kain berat itu meluncur jatuh, disusul gerakan tangan yang perlahan membuka bagian baju dalamnya.

Tubuhnya terekspos sepenuhnya.

Mata Hery dan Alianne membulat bersamaan.

Dada dan leher Aldren dipenuhi bekas luka. Ada yang telah memudar, ada pula yang masih jelas terukir di kulitnya. Luka-luka itu bukan sekadar goresan kecil, melainkan bekas pertempuran besar yang tak terhitung jumlahnya. Di bahu bagian belakang, sebuah luka robek akibat goresan pedang tampak masih terbuka, merah dan basah.

“Tolong tuangkan wine ke luka di tubuhku!”

Hery menelan ludah. Tangannya bergetar saat memegang botol wine. “Yang mulia yakin soal ini?” tanyanya ragu.

Aldren menjawab singkat, tanpa keraguan. “Ya.”

Cairan wine mengalir membasahi luka terbuka itu.

Namun ekspresi Aldren tidak berubah sedikit pun. Tidak ada desisan napas, tidak ada kerutan kesakitan. Seolah rasa perih itu sama sekali tidak berarti baginya.

“Ba- bagaimana, yang mulia? Apa ada yang sakit?” tanya Hery dengan suara cemas.

Aldren hanya meraih kembali pakaiannya dan bersiap mengenakannya.

Namun sebelum kain itu benar-benar menyentuh kulitnya, Alianne bergerak cepat.

“Tunggu, yang mulia!”

Aldren berhenti. Ia menoleh sedikit ke arah Alianne, sorot matanya mengandung rasa penasaran. “Apa lagi tips pengobatan dari kampung halamanmu?”

“Karena pakaian yang mulia masih kotor dan basah dengan darah, sebaiknya jangan dipakai dulu untuk menghindari infeksi,” jawab Alianne dengan lantang, suaranya tegas meski jantungnya berdegup kencang.

Aldren menatapnya sesaat, lalu mengangguk. “Baiklah.” Ia menyimpan pakaiannya kembali ke dalam kereta kuda. Setelah itu, ia menyerahkan beberapa botol wine kepada Hery.

“Ini, tuangkan wine pada luka para Ksatria dan jangan biarkan mereka memakai armor mereka untuk sementara.”

“Baik, yang mulia!” jawab Hery, segera menerima botol-botol itu dan membagikannya kepada para ksatria yang terluka.

Aldren kembali berdiri di hadapan Alianne. Tatapannya kembali tertuju padanya, dingin namun penuh tanda tanya. “Soal kampung halamanmu—”

“Itu penyihirnya! Tangkap dia!” Teriakan itu menghantam udara seperti petir.

Seorang ksatria yang sebelumnya membawa Alianne ke kereta kuda, berteriak sambil maju ke depan. Dalam sekejap, dua pedang terhunus dan diarahkan ke kanan dan kiri tubuh Alianne.

Refleks mengambil alih.

Alianne langsung mengangkat kedua tangannya, napasnya tersengal.

'Ga- gawat! Aku terlalu santai! Harusnya aku tidak berhenti berlari lebih jauh ke Utara!'

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Terjerat Pernikahan Raja Villain Tirani    {Bab 123} Pengakuan

    Alianne memukuli dada Aldren berkali-kali. Pukulannya tidak keras, namun sarat emosi yang selama ini ia tahan rapat-rapat. Anehnya, meskipun tangannya terus mendorong dan memukul, tubuhnya justru tidak berusaha menjauh. Ia tetap berada dalam jarak yang terlalu dekat, seolah hatinya menolak untuk melepaskan.Air mata semakin membasahi pipinya, jatuh tanpa bisa ia kendalikan. "Bodoh! Kau itu seharusnya menanyakan hal yang sama pada dirimu sendiri! Kau terlalu berusaha menyesuaikan diri pada orang lain. Tapi apakah kau... Peduli pada dirimu sendiri?" Suaranya bergetar. Napasnya tidak teratur. Setiap kata terdengar seperti pecahan yang dipaksa keluar dari dada yang sesak.Aldren hanya diam. Ia membiarkan pukulan-pukulan kecil itu mengenai dadanya. Tidak menahan. Tidak menghindar. Tidak pula membalas. Seolah-olah ia menerima semua itu sebagai sesuatu yang pantas ia terima.Aldren menunduk. Ekspresinya terlihat bingung. Bukan bingung karena tidak mengerti maksud

  • Terjerat Pernikahan Raja Villain Tirani    {Bab 122} Perasaan yang Membingungkan

    Matahari pagi mulai sedikit menunjukkan dirinya di ufuk timur. Cahaya keemasan perlahan menembus tirai langit, mengusir sisa-sisa kegelapan malam. Kabut tipis yang menggantung di jalanan desa mulai memudar, seolah dunia baru saja menarik napas panjang setelah bertahan dalam gelap.Roda kereta kencana berderit pelan, bergerak stabil di atas jalan tanah yang masih lembap oleh embun. Di dalamnya, suasana jauh lebih sunyi dibanding suara roda di luar."Bagaimana? Apa rencana ini benar-benar sesuai harapanmu?" tanya Aldren, menatap lurus ke arah Alianne yang duduk di dalam kereta kencana di seberangnya dengan ekspresi datar.Cahaya pagi menyentuh separuh wajahnya, menciptakan bayangan tegas di sisi lainnya. Tatapannya tajam, namun tidak bisa sepenuhnya menyembunyikan sesuatu yang lebih dalam, kekhawatiran yang terpendam rapi."Sangat sesuai!" Alianne tersenyum lebar, campuran senang dan bangga. Senyuman itu seketika berubah menjadi senyuman licik. "Bay

  • Terjerat Pernikahan Raja Villain Tirani    {Bab 121} Tangan dan Otak

    "Sedang apa lagi, kakak?" Caelum tersenyum nakal, senyum yang terlihat sangat natural meskipun dia hanya akting. "Jika kami berdua ada di satu tempat yang sama, maka yang akan kami bahas adalah..." Jeda sepersekian detik terasa begitu panjang. Jantungnya masih berdetak keras akibat pembicaraan barusan. Namun wajahnya sempurna. Tidak ada retakan sedikit pun dalam topeng itu."Ship Papa Hery dan Mama Serin!" Alianne tersenyum nakal, senyuman yang sangat natural, menutupi ketegangan di wajahnya dengan sempurna.Nada suaranya ringan. Terlalu ringan untuk seseorang yang beberapa menit lalu membahas surat wasiat dan kematian. Bahkan pupil cokelatnya berhasil menyembunyikan kegelisahan yang sempat bergetar di sana.Udara pagi yang membeku seolah ikut menahan napas."Baiklah." Aldren hanya mengangguk mengerti, tidak mau melarang ataupun ikut-ikutan dalam permainan mereka.Kemudian, Aldren berbalik, berjalan meninggalkan mereka, membuat

  • Terjerat Pernikahan Raja Villain Tirani    {Bab 120} Yang Dibicarakan

    Pagi sebelumnya, matahari bahkan belum menunjukkan dirinya. Langit masih gelap pekat, hanya dihiasi garis tipis kebiruan di ufuk timur yang belum cukup untuk disebut fajar. Dari pada pagi, saat itu lebih mendekati tengah malam yang hening, dingin, dan seolah menahan napas.Embun membeku di ujung dedaunan. Uap tipis keluar setiap kali seseorang bernapas.Alianne keluar dari kediaman Marquess Redmond dengan langkah pelan namun mantap. Ia mengenakan hoodie tebal dan celana panjang, setelan pakaian modern yang dipesannya dari Lysa. Pakaian itu terasa asing di dunia yang masih dipenuhi gaun dan korset, tetapi justru itulah yang ia butuhkan. Praktis. Ringkas. Tidak mencolok.Angin dini hari menyapu wajahnya, menusuk kulit seperti jarum halus. "Dingin!" Suara Aldren terdengar tegas tapi lembut dari belakangnya. Sebuah jubah kebesaran berwarna hitam tiba-tiba menyelimuti bahu Alianne. Kain tebal itu jatuh sempurna, berat namun hangat, jelas jubah milik Aldren send

  • Terjerat Pernikahan Raja Villain Tirani    {Bab 119} Ekspektasi Tidak Sesuai Realita

    Di sebuah desa kecil yang tertutup kabut tipis musim gugur, Mariana berdiri di depan para penduduk dengan gaun tebal berwarna lembut yang menutupi perutnya yang sedikit membesar. Angin dingin berembus pelan, membuat ujung kerudung dan rambutnya berkibar halus.Di belakangnya, beberapa pelayan dan pengawal sibuk menurunkan karung-karung gandum, kentang, serta daging asin dari kereta. Suara kayu beradu dan derit roda bercampur dengan gumaman haru para warga yang mengantre dengan tertib.Wajah-wajah yang semula muram kini memancarkan secercah harapan."Terima kasih, Yang Mulia. Berkat dirimu, kami semua tidak perlu takut lagi mengalami kelaparan untuk musim dingin kali ini," ucap salah seorang nenek tua di desa itu.Tangannya yang keriput menggenggam tangan Mariana dengan penuh rasa syukur.Mariana hanya tersenyum riang. Senyumnya tampak cerah, hangat, seolah benar-benar menjadi cahaya di tengah udara dingin yang menggigit. Matanya melengkun

  • Terjerat Pernikahan Raja Villain Tirani    {Bab 118} Rencana Pencitraan Leon

    Pupil hijau gelap Aldren menatap pupil biru cerah Caelum dengan tatapan datar. Tidak ada emosi yang terlihat di wajahnya, tidak marah, tidak tersinggung, tidak juga terkejut. Terlalu tenang. Namun di balik ketenangan itu, ingatan lama menyusup tanpa permisi. Ia masih mengingatnya. Hari eksekusi itu. Kedua matanya ditutup kain hitam yang kasar, membuat dunia hanya tersisa suara dan bau darah yang samar. Lututnya dipaksa menyentuh tanah dingin. Angin membawa teriakan rakyat yang memekakkan telinga. "Bunuh dia!" "Bunuh raja tiran!" "Bunuh!" Ia tidak bisa melihat siapa pun. Namun ia bisa mendengar. Dan di antara teriakan itu, Suara Caelum. Berpidato dengan gagah berani. Tegas. Lantang. Tanpa ragu. Seolah dirinya adalah pahlawan yang akan membunuh iblis. Dan iblis itu adalah dirinya sendiri. "Rakyat-rakyatku sekalian... Aku sangat mengerti

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status