Masuk
“Alianne Luverna Ashbourne!”
“Alianne Luverna Ashbourne! Bangunlah, nak!” Suara seorang pria dan wanita paruh baya bersahut-sahutan, menembus kesadaran seorang gadis yang terlelap. Kelopak matanya bergetar, lalu perlahan terbuka. Pupil cokelat gelap itu memantulkan cahaya pagi yang masuk dari jendela kayu di samping ranjang. Rambut panjang berwarna senada terurai di atas bantal kasar, terlalu kasar untuk ukuran tempat tidur modern. Pandangan gadis itu masih buram ketika dua sosok manusia berdiri di sisinya. “Alianne, tidak biasanya kau bangun terlambat! Ada apa, ini?” tanya seorang wanita paruh baya yang memiliki ciri fisik mirip dengan gadis yang dipanggil Alianne, hanya saja terlihat lebih tua. Ia mengenakan setelan gaun pedagang roti abad pertengahan berwarna cokelat tua, serasi dengan warna mata dan rambutnya. “Sudahlah, ibu. Sepertinya Alianne kita kelelahan karena belajar semalaman,” ucap seorang pria paruh baya bertubuh besar. Pakaiannya didominasi warna cokelat, dengan mata dan rambut yang warnanya nyaris sama seperti sang istri. “Alianne, ayo bersiap! Ksatria kerajaan sudah menjemputmu!” Gadis yang dipanggil Alianne itu memiringkan kepala. Alisnya sedikit berkerut. Ia mengedipkan mata berkali-kali, seolah mencoba menyesuaikan dunia di hadapannya. Namun, rasa ganjil justru semakin menguat, bukan menghilang. ‘Alianne? Namaku Alia. Lagi pula, ini di mana? Terakhir kali yang aku ingat, aku sedang berkumpul dengan teman-teman mahasiswaku. Ada yang aneh di sini,’ batin Alianne. “Nak, apa kau tidak enak badan? Kenapa diam saja dari tadi?” tanya sang ayah dengan nada khawatir. “Sepertinya ini efek karena baru bangun tidur. Biarkan saja dia, ayah! Ayo kita jamu para ksatria sambil menunggu Alianne bersiap!” Sang ibu berbalik dan berjalan keluar kamar, langkahnya cepat seolah tak ingin membuang waktu sedetik pun. Ayahnya melangkah lebih dekat. Nada suaranya melunak, penuh kebanggaan yang tulus, sesuatu yang terasa asing, namun hangat dan menyesakkan dada. Ayahnya melangkah mendekat. Tubuh besar itu sedikit membungkuk, seolah tak ingin jarak di antara mereka terasa terlalu jauh. Wajahnya memancarkan kebanggaan yang jujur, hangat. Namun, entah kenapa justru membuat dada Alianne terasa sesak. “Nak, hari ini para ksatria menjemputmu ke istana untuk menghadap ratu. Hari ini adalah hari yang sangat kau nantikan.” Ia berhenti sejenak, seakan memberi waktu bagi kata-katanya untuk meresap. “Hari dimana kau bisa belajar di akademia secara gratis karena bantuan yang mulia ratu. Ayah tahu kau masih tidak percaya dengan semua ini.” Nada suaranya melembut, sarat keyakinan yang tak tergoyahkan. “Tapi, ayah sangat bangga padamu. Ini semua adalah akumulasi dari semua kerja kerasmu yang pantang menyerah dan tidak kenal lelah.” Ayahnya tersenyum kecil sebelum berbalik pergi. “Ayah permisi dulu. Jangan membuat ksatria menunggu lama, ya!” Dengan itu, sang ayah meninggalkan kamar, menutup pintu kayu dengan lembut. Sunyi. Terlalu sunyi. Alianne duduk di tepi ranjang, menurunkan kakinya ke lantai batu yang dingin. Sensasi itu nyata, terlalu nyata. Ia mengamati ruangan kecil itu dengan napas tertahan: dinding batu, perabot kayu sederhana, bau tepung dan roti yang samar-samar masih melekat di udara. ‘Alianne Luverna Ashbourne. Sepertinya aku pernah mendengar nama ini. Nama yang tidak asing di telingaku.’ Dadanya mengencang. Ingatan terakhir yang muncul di benaknya terasa begitu jelas. Saat itu ia masih Alia, duduk di ruang kelas kampus, ponsel di tangan, sementara seorang mahasiswi menegurnya dengan wajah frustrasi. “Alia! Kau bermain game apa sampai saat mengajukan pertanyaan mematikan itu kau tetap fokus pada ponselmu?” Ia ingat dirinya menghela napas, menjawab tanpa merasa bersalah bahwa ia sedang memainkan sebuah otome visual novel berjudul ‘Ratu Pertama’. Sebuah game yang membuatnya muak sejak chapter pertama, ketika seorang NPC dituduh penyihir hanya karena terlalu pintar dan ingin belajar di akademi kerajaan. Ingatan itu berakhir dengan satu kesimpulan pahit: ia membenci cerita itu dan ratu di dalamnya. Kesadaran Alianne kembali ke kamar sempit berdinding batu. Alianne menarik napas panjang. Tangannya gemetar ketika ia berdiri dan melangkah ke depan cermin kecil yang permukaannya sudah buram dimakan usia. Pantulan di sana menunjukkan seorang gadis asing. Wajah muda, polos, dengan mata cokelat gelap yang kini dipenuhi keterkejutan. Ia mengangguk pelan. “Semua bukti mengarah ke satu hal. Aku adalah Alianne Luverna Ashbourne. Seorang NPC di game 'Ratu Pertama' yang harus mati di chapter pertama,” ucap Alianne sambil menatap dirinya sendiri di pantulan cermin. “Aku sudah mati sekali di kehidupan sebelumnya. Kenapa aku harus mati lagi di sini?” Jantungnya berdegup lebih cepat. Ingatan tentang kereta kencana, istana, ratu, semuanya tiba-tiba terasa bukan sebagai kesempatan, melainkan hitungan mundur menuju akhir yang sudah tertulis. Alianne melangkah keluar kamar dengan langkah gontai, menyembunyikan kegelisahan di balik wajah datar. “Sudahlah, yang penting sekarang adalah berpura-pura tidak terjadi apapun.” Namun di dalam dadanya, satu kesadaran pahit telah tertanam kuat: Jika ini benar dunia game itu, maka setiap langkah ke depan bukan menuju masa depan, melainkan mendekati kematian yang seharusnya sudah menunggunya. --- Di ruang tamu yang sempit namun hangat, ibu Alianne menarik tangan Alianne dengan gerakan cekatan. “Nak, kenapa masih belum bersiap? Kau ini benar-benar! Sini biar ibu yang mendandani!” Tanpa memberi kesempatan membantah, sang ibu segera menyisir rambut Alianne. Sisir kayu itu bergerak cepat, menarik helaian rambut cokelat gelapnya lalu mengepangnya menjadi dua kepang rapi. Jari-jari kasar karena adonan roti itu bekerja dengan penuh perhatian, seolah ingin memastikan putrinya tampil sebaik mungkin di hari penting ini. Alianne hanya diam, menahan gejolak di dadanya. “Sudah selesai, ayo hampiri para ksatria!” ucap ibunya puas. Alianne melangkahkan kaki ke luar rumah. Cahaya matahari pagi menyambutnya bersama pemandangan yang membuat napasnya tertahan. Sebuah kereta kuda berlapis kayu kokoh terparkir di depan rumah, dijaga dua orang ksatria bersenjata lengkap di sisi kanan dan kiri. ‘Ini bukan mimpi,’ pikirnya singkat. “Aku berangkat, ya. Ayah, ibu.” Alianne berjalan dengan langkah santai menuju kereta kuda, menjaga ekspresi tetap tenang. Tidak ada keraguan, tidak ada kepanikan yang ia perlihatkan. Seolah ia benar-benar seorang gadis desa yang bahagia mendapat kesempatan emas. “Hati-hati Alianne! Semoga harimu menyenangkan! Kami sayang padamu!” ucap kedua orang tuanya sambil melambaikan tangan ke arah kereta kuda yang perlahan bergerak menjauh. Tirai kereta tertutup. Di dalam kereta kuda yang berguncang pelan, Alianne menunduk. Wajahnya tampak diam, nyaris kosong. Namun di balik ketenangan itu, pikirannya bekerja tanpa henti, menyusun kemungkinan, menghitung jarak, mencari celah. Otaknya bukan sedang pasrah. Otaknya sedang merencanakan pelarian. Kereta kuda melaju mengikuti jalan tanah. Alianne menoleh ke depan, ke arah tempat matahari terbit. Lalu perlahan ia mengalihkan pandangan ke kiri, mengamati semak-semak lebat dan jalanan yang tampak sering dilalui kereta lain. ‘Jika mengikuti cerita di dalam game, di sebelah Utara adalah kerajaan Valtarian. Kerajaan yang paling dekat dengan Kerajaan Aurenthia. Kerajaan yang saat ini dipimpin oleh ratu Seraphine Veyra Athenaeum. Jika aku bisa kabur ke negara tetangga, aku akan aman,’ batin Alianne. Detak jantungnya sedikit meningkat. ‘Baiklah, rencana dimulai!’ batin Alianne. Ia segera memegangi roknya sendiri, bahunya sedikit merosot, wajahnya menampilkan ekspresi menahan sakit yang terlihat meyakinkan. “Kakak-kakak ksatria, saat ini aku sedang dalam keadaan tidak suci. Boleh aku pergi ke semak-semak untuk buang air kecil sebelum cairan kotor bulananku mengotori kereta kuda ini dan membawa malapetaka bagi perjalanan kita?” Kereta kuda berhenti mendadak. Roda kayu berdecit keras. Salah satu ksatria langsung turun dan membukakan pintu dengan wajah tidak nyaman. “Cepatlah! Jangan lama-lama!” titahnya tegas. “Baik, Terima kasih!” Alianne turun dengan langkah tergesa, lalu berlari ke arah semak-semak di Utara, tentu saja bukan untuk buang air kecil, melainkan untuk kabur. Begitu tubuhnya tertutup oleh rimbunnya semak, Alianne langsung berjongkok, berpura-pura buang air kecil. Ia menutup mulutnya, terkekeh pelan agar suaranya tak terdengar. “Ternyata menstruasi benar-benar sangat tabu. Mereka jadi mudah ditipu. Aku memang jenius!” Begitu memastikan para ksatria tidak memperhatikannya, Alianne berdiri dan berlari. Ia berlari sekuat tenaga. Nafasnya memburu. Sandal jerami di kakinya mulai longgar, kulit telapak kakinya terasa perih saat menyentuh tanah kasar. Namun ia tidak berhenti. Di depan matanya, sebuah kereta kuda lain tampak berhenti di pinggir jalan. Matanya langsung berbinar penuh harapan. “Itu dia! Itu pasti kereta kuda yang ingin ke kerajaan Valtarian! Aku ingin ikut!” Namun harapan itu runtuh seketika. Beberapa orang ksatria yang tampak terluka mengangkat senjata mereka, ujung besi berkilau mengarah tepat ke tubuh Alianne. Tatapan mereka tajam, dingin, dan penuh kecurigaan. Tatapan orang-orang yang terlalu sering berhadapan dengan kematian. “Siapa kau? Apa kau adalah bala bantuan yang dikirim untuk menyerang kami?” Alianne tersentak, refleks mengangkat kedua tangannya. “Bu- bukan! Aku hanya rakyat jelata—” “Ada apa? Apa ada yang menyerang lagi?” Suara itu datang dari dalam kereta kuda. Dalam. Tenang. Dan justru karena itu, menyeramkan. Tirai kereta tersibak. Seorang pria keluar. Tubuhnya tinggi dan besar, dibalut jubah raja yang tampak berat dan gelap. Rambutnya pendek, hitam legam. Pupil matanya berwarna hijau tua, seperti batu zamrud yang telah kehilangan kilaunya, dingin dan tak memantulkan cahaya apa pun. Alianne membulatkan mata. Seluruh darah di tubuhnya terasa membeku. ‘I- ini adalah... Raja Aldren Valtazar! Karakter vilain utama yang akan mati di akhir cerita nanti!’ teriak Alianne dalam batin.Langkah kaki para pengawal menggema memenuhi ruangan, cepat dan terkoordinasi. Dalam hitungan detik, mereka bergerak membentuk formasi, mengelilingi target dengan presisi yang nyaris sempurna. Pedang-pedang terhunus terangkat serempak, ujungnya mengarah tajam ke pusat lingkaran, menciptakan jebakan yang mustahil ditembus tanpa terluka.Cahaya lampu gantung yang menampung lilin memantul di bilah-bilah pedang itu, mempertegas ancaman yang kini menggantung di udara. Namun ada sesuatu yang salah.Target yang mereka kepung bukanlah dua sosok di balkon. Melainkan... Seraphine sendiri."Tunggu! Kenapa kalian malah mengelilingiku?!" tanya Seraphine, keringat mulai keluar dari dahinya, merasa keheranan dengan situasi yang dihadapinya. "Kalian seharusnya mengelilingi dua orang itu!" Telunjuknya kembali menunjuk ke arah Aldren dan Alia. "Berani-beraninya kalian mengarahkan senjata ke arah seorang ratu! Cepat turunkan senjata kalian! Jika tidak, keluarga kal
Ketukan tiba-tiba memecah keheningan kamar yang sebelumnya begitu tenang. Suaranya tidak keras, namun cukup untuk menarik perhatian, seolah membawa sesuatu yang mendesak dari luar pintu."Yang Mulia Ratu!" Salah seorang pengawal mengetuk pintu kamar Seraphine, membuat Seraphine harus bangkit dari tempat tidurnya.Gerakan Seraphine tidak tergesa, namun juga tidak lambat. Ia duduk perlahan, matanya menyipit tipis, seolah sudah memiliki dugaan tentang apa yang akan disampaikan. Sudut bibirnya terangkat, membentuk senyum yang semakin lebar, penuh keyakinan."Ada apa itu?" tanya Seraphine dengan penasaran, senyumnya melebar, seolah merasa bahwa apa yang disampaikan pengawal di depan kamarnya adalah hal baik.Ia melangkah menuju pintu, setiap langkahnya mantap tanpa keraguan. Tangannya terangkat, membuka pintu dengan satu gerakan halus."Ya, ada apa?" tanya Seraphine setelah membuka pintu. Pupil silver itu langsung bertemu dengan seorang pria m
Di dalam istana Mahkota, malam terasa jauh lebih sunyi dibandingkan dunia luar. Dinding-dinding tinggi yang dilapisi marmer putih memantulkan cahaya bulan yang masuk melalui celah terbuka, menciptakan bayangan panjang yang diam namun menekan. Tidak ada suara langkah kaki, tidak ada bisikan pelayan. Hanya keheningan yang terlalu rapi, seolah semua telah diatur dengan sengaja.Seraphine berdiri di balkon kamarnya, tubuhnya tegak dengan sikap yang nyaris sempurna. Angin malam berhembus pelan, mengibaskan ujung gaun putihnya tanpa mengganggu ketenangan ekspresinya. Dari tempatnya berdiri, seluruh wilayah istana Aurenthia terlihat jelas, tenang, tertib, dan seolah tak tersentuh ancaman apa pun."Hah..." Seraphine bernapas lega. "Meskipun teleport waypoint dihancurkan oleh kakakku, setidaknya aku masih punya rencana cadangan."Napas itu keluar perlahan, membawa serta ketegangan yang sebelumnya tersembunyi. Namun kelegaan itu tidak sepenuhnya menghapus sesuatu ya
Istana Mahkota di Aurenthia menjulang megah di bawah langit yang pucat, seolah berdiri sebagai simbol kekuasaan yang tak tergoyahkan. Dinding-dindingnya yang putih bersih memantulkan cahaya redup, menciptakan kesan suci yang justru terasa menekan. Lorong-lorong panjang yang dilalui Alianne dipenuhi keheningan yang aneh, seakan setiap langkahnya diawasi oleh sesuatu yang tak terlihat. Kini, ia telah berdiri di ruang singgasana.Udara di dalam ruangan itu terasa berbeda. Lebih dingin, lebih berat. Napasnya tanpa sadar menjadi lebih teratur, seolah tubuhnya memahami bahwa satu kesalahan kecil saja bisa berakibat fatal. Dan kemudian, ia melihatnya.Seorang wanita berdiri anggun di depan singgasana. Gaun putihnya jatuh sempurna, tanpa cela. Kulitnya halus seperti porselen, nyaris tak memiliki noda kehidupan. Namun yang paling mencolok adalah matanya. Silver, tajam, memantulkan cahaya dengan cara yang sulit dijelaskan. Senyum manis menghiasi wajahnya, namun entah mengapa
Pupil hitam itu akhirnya menampakkan dirinya perlahan, seolah menembus kabut tebal yang mengurung kesadaran. Cahaya samar masuk, memaksa penglihatannya menyesuaikan diri.Bayangan pertama yang tertangkap adalah wajah Aldren, begitu dekat, begitu jelas, dengan sorot mata yang dipenuhi kecemasan yang belum sempat mereda. Wajah itu terpantul di dalam pupilnya, sedikit bergetar seiring napas yang belum stabil."Alia!" Aldren segera menahan pinggang Alia saat dirinya hendak beranjak bangun dari posisi berbaringnya.Gerakan itu terasa terlalu tiba-tiba. Dunia di sekeliling Alia berputar pelan, seakan realitas belum sepenuhnya kembali menapak. Ia mengerjapkan mata beberapa kali, berusaha mengusir sisa kabut yang mengganggu pandangan. Tangan kirinya terangkat, memegangi kepala yang terasa berat dan berdenyut, seperti dihantam sesuatu yang tak kasatmata.Alia menoleh, menyapu sekeliling dengan pandangan yang masih belum sepenuhnya fokus. Napasnya tertahan sejenak ketika matanya berhenti pada s
Aldren menyipitkan mata, sorot pupil hijau gelapnya menajam saat menelusuri luka yang terbentang di pinggang Alia. Napasnya tertahan tanpa ia sadari. Luka itu tidak hanya besar, tetapi juga memiliki bentuk yang tidak wajar. Garis-garis panjang yang telah mengering membentuk pola yang tidak beraturan, namun jelas menunjukkan tekanan yang luar biasa kuat.Sekilas, luka itu menyerupai bekas seseorang yang terlindas roda kereta kencana. Namun tidak sama. Lebih besar. Lebih berat. Lebih menghancurkan.Di antara garis-garis luka itu, terdapat sesuatu yang membuatnya semakin membeku. Beberapa garis kecil, tersusun rapi, melintang di atas luka utama.Jahitan. Meski asing, bentuknya terlalu teratur untuk disebut kebetulan.Ruangan itu terasa semakin sunyi saat Aldren perlahan mengulurkan tangannya. Jarinya menyentuh permukaan kulit yang kasar di sekitar bekas jahitan tersebut. Teksturnya berbeda. Kaku. Tidak alami.Sentuhan itu memicu sesuatu. Sebuah ingatan. Suara. Ucapan yang pernah ia denga
“Soal itu...” Caelum memberi jeda sebelum menjawab. Nada suaranya terdengar tenang, namun pikirannya berputar cepat. “Aku akan berdiskusi pada kakak. Mau bagaimanapun, dialah raja sekaligus pengantin. Tidak etis jika membawa tamu tanpa sepengetahuannya.” Seraphine tersenyum lembut.
Kereta kuda yang ditumpangi Caelum melambat saat mendekati gerbang besar istana Silverkeep. Derak roda kayu yang bergesekan dengan batuan jalan terdengar menggema di tengah malam yang tenang. Dua baris penjaga berdiri tegak di sisi gerbang, tombak mereka memantulkan cahaya lentera yang berjejer r
Kuda putih milik Aldren berlari kencang, menembus gelapnya malam yang seolah menelan jalanan di depan mereka. Derap kukunya menggema di tanah, berpadu dengan desir angin dingin yang menyayat wajah. Kedua tangan Aldren mencengkeram tali kekang dengan kuat, otot lengannya menegang saat ia memastika
“Akhirnya... Drama percincinan ini selesai...” gumam Alianne pelan, bahunya mengendur saat napas lega keluar dari dadanya. Ketegangan yang sejak tadi menekan kepalanya perlahan luruh, seiring Aldren akhirnya berhasil membeli cincin berlian yang ia pilih, kilauannya masih terasa menyilaukan di mat







