Share

{Bab 3} Tawaran Pernikahan

last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-15 17:07:33

Alianne membulatkan matanya. Napasnya tercekat saat menatap sosok besar yang berdiri di depan tubuhnya. Meski tubuh itu dipenuhi luka, bekas pertempuran yang belum sepenuhnya kering, kehadiran pria itu justru terasa seperti tembok raksasa yang menutup jalan keluar.

“Ada apa ini? Kenapa kalian mengacungkan senjata kalian pada warga sipil?” Nada suaranya terdengar tegas, meski dadanya berdegup kencang.

Dua ksatria yang sebelumnya mengarahkan pedang ke tubuh Alianne langsung bergerak serempak. Dengan gerakan cepat dan terlatih, mereka berlutut di hadapan Aldren, kepala tertunduk dalam-dalam sebagai tanda kepatuhan mutlak.

“Yang mulia, maaf atas kelancangan kami pada kerajaan Valtarian. Namun, ini adalah perintah langsung dari yang mulia ratu kami.”

“Benar, yang mulia,” sahut ksatria satunya lagi. “Ratu kami memerintahkan kami untuk membasmi para penyihir yang berbahaya untuk kelangsungan hidup masyarakat di kerajaan kami.”

“Penyihir?” gumam Aldren, pelan.

Satu kata itu jatuh ke udara seperti pisau.

“Yang mulia, sepertinya mereka berdua benar. Gadis ini memang penyihir!” ucap Hery sambil menunjuk ke arah Alianne. “Buktinya dia bisa mengubah alkohol yang hanya minuman menjadi sebuah obat! Luka di tubuh para Ksatria benar-benar kering!”

Alianne menoleh cepat ke arah Hery dengan tatapan kesal. 'Itu tandanya bukan aku penyihir. Itu tandanya aku pintar.'

Aldren berbalik.

Tubuhnya yang tinggi dan besar sepenuhnya menghalangi cahaya matahari, membuat bayangan gelap jatuh menelan tubuh Alianne. Perbedaan ukuran itu membuat Alianne tampak kecil, rapuh, dan berada dalam posisi yang sangat tidak menguntungkan.

“Apa yang mereka katakan benar?”

Pertanyaan itu dilontarkan tanpa emosi, justru itulah yang membuatnya terasa menakutkan.

Alianne dengan cepat memasang ekspresi bingung, wajahnya tampak pucat dan ragu. “Maafkan aku, yang mulia. Aku benar-benar tidak tahu apa yang mereka katakan.” Ia kemudian menoleh ke arah dua ksatria yang masih berlutut. Suaranya melembut, matanya mulai berkaca-kaca.

“Kakak-kakan Ksatria, bukankah kalian bilang, kalian diperintahkan langsung oleh yang mulia ratu untuk membawaku ke istana? Kalian bilang, yang mulia ratu memberiku beasiswa. Kenapa sekarang kalian menuduhku sebagai penyihir?” tanya Alianne dengan suara bergetar, berakting sedih. “Kalian benar-benar jahat sudah menjebak rakyat jelata yang tidak tahu apa-apa ini.”

Keheningan menyusul.

Aldren kini menoleh sepenuhnya ke arah dua ksatria Aurenthia yang masih berlutut. Tatapan dinginnya menusuk, seolah mampu membekukan darah. Perlahan, sudut bibirnya terangkat membentuk seringai tipis. Dingin, tajam, dan berbahaya.

“Oh, jadi begitu cara main kerajaan Aurenthia?” tanyanya dengan suara rendah.

Aura gelap seolah merembes dari tubuhnya, menekan udara di sekitar. Para ksatria Valtarian yang berada tak jauh dari sana secara refleks menegakkan badan, merasakan perubahan suasana yang drastis.

“Pasukan! Ikat dua orang ini!” titah Aldren dengan tegas.

“Baik, yang mulia!” jawab Hery tanpa ragu.

Beberapa ksatria yang sebelumnya duduk karena luka segera bangkit, menahan rasa sakit mereka. Bersama-sama, mereka menangkap dua ksatria Aurenthia.

“A- apa-apaan ini?”

Dua ksatria itu meronta-ronta, berusaha melepaskan diri. Namun, jumlah dan kondisi mereka tidak memungkinkan perlawanan berarti. Tali segera melilit pergelangan tangan mereka, tubuh mereka diseret dan diikat kuat pada batang pohon terdekat.

Alianne menatap kejadian itu dengan mata melebar. Ia menunduk perlahan, pikirannya bekerja cepat. 'Apa maksudnya ini? Kenapa raja Aldren malah memerintahkan pasukannya mengikat dua ksatria itu? Jika dugaanku benar, sepertinya ini karena penyerangan setelah perjanjian gencatan senjata itu.'

Aldren berjalan menjauh dari Alianne, menuju sebuah pohon besar yang rindang. Cuaca cerah membuat semilir angin bertiup pelan, menerbangkan rambut hitamnya. Ia berjongkok di hadapan dua ksatria yang terikat, posturnya santai, terlalu santai untuk situasi seberbahaya ini.

Namun, tatapan itu.

Tatapan itu mengintimidasi.

“Sekarang, jelaskan apa yang ratu kalian rencanakan!”

Dua ksatria itu terdiam. Keringat dingin mengalir di pelipis mereka. Bukan karena udara hangat, melainkan karena ketakutan yang perlahan mencengkeram.

“Apa yang mulia Aldren Valtazar dari kerjaan Valtarian ingin tahu?” tanya salah satu dari mereka, suaranya bergetar meski berusaha terdengar tenang.

Aldren terkekeh pelan. Suara berat itu justru membuat rasa takut mereka semakin dalam. Ia bangkit berdiri dengan gerakan tenang, membiarkan tubuhnya yang masih telanjang dada diterpa angin. Luka-luka di tubuhnya tampak mulai mengering, seolah rasa sakit bukanlah sesuatu yang perlu ia pedulikan.

Ia menoleh ke arah Selatan.

Di sana, terbentang padang rumput luas dan semak-semak hijau yang tampak damai, pemandangan yang berbanding terbalik dengan ketegangan yang kini menyelimuti tempat itu. Mata hijau zamrud gelapnya menatap jauh, seakan sedang mengukur jarak dan kemungkinan.

“Saat ini, kalian sedang berada di tempat yang lumayan jauh dari kerajaan Aurenthia. Pasti sangat mustahil kalian akan mendapatkan bantuan. Apa lagi, misi kalian adalah menangkap penyihir.”

Ia kembali menatap dua ksatria itu.

“Jadi...” Aldren berdiri tepat di hadapan mereka, bayangannya menekan seperti ancaman yang nyata. Tatapannya kini jauh lebih tajam, lebih mengintimidasi daripada sebelumnya.

“Jelaskan! Apa maksud dari penyerangan pasukan kalian? Bukankah seluruh pasukan Ksatria kerajaan Aurenthia sudah mengetahui perjanjian gencatan senjata? Kenapa ada pasukan Ksatria yang menyerang kami dan menculik tabib kami di perjalanan pulang?”

Udara seakan membeku.

Dan di tengah keheningan itu, Alianne menyadari satu hal dengan jelas:

ia bukan hanya terjebak di antara dua kerajaan, tetapi juga berada tepat di pusat konflik yang bisa mengubah seluruh alur cerita yang ia kenal.

“Yang mulia, kami tidak tahu soal hal itu! Percayalah pada kami!” ucap salah satu dari ksatria itu dengan suara bergetar. Bahunya naik turun, napasnya tidak lagi beraturan.

“Itu benar, yang mulia! Kami hanya diperintahkan oleh yang mulia ratu untuk membawa salah satu penyihir berbahaya untuk dibakar di alun-alun!” sahut ksatria yang satunya lagi, suaranya nyaris terdengar seperti ratapan.

Angin berembus pelan, membuat dedaunan pohon di atas mereka bergoyang. Namun, suasana sama sekali tidak terasa ringan.

Alianne melangkah maju. Langkahnya tenang, bahkan terkesan santai, kontras dengan situasi di sekitarnya. Ia berhenti tepat di samping Aldren, berdiri sejajar dengannya di hadapan dua ksatria yang terikat.

“Jadi, aku mau diberi beasiswa atau ditangkap? Kenapa kalian sangat tidak konsisten?” tanya Alianne, suaranya dibuat bergetar, ekspresi sedihnya tampak meyakinkan. “Yang mulia, bukankah kita berdua senasib? Kita adalah korban ratu Seraphine yang janjinya semanis madu. Tapi pada faktanya, sang ratu ingin kita berdua mati saja.”

Ucapan itu jatuh seperti batu ke permukaan air yang tenang.

“Hentikan ucapanmu itu! Dasar tidak sopan—”

“Aku setuju dengannya!” ucap Aldren, memotong ucapan Hery.

Semua suara langsung terhenti.

Aldren berbalik ke arah Hery. Tatapannya tajam, penuh tekanan yang tidak membutuhkan ancaman tambahan. “Hery, lihatlah situasinya! Baik kita maupun Alianne, kita sama-sama korban penipuan oleh ratu.”

Hery terdiam. Rahangnya mengeras, tetapi ia tidak membantah.

Alianne kemudian mengalihkan pandangannya ke dua ksatria Aurenthia yang masih terikat di pohon. “Omong-omong, kenapa aku dituduh penyihir? Aku tidak punya sihir apapun,” tanyanya, nada suaranya terdengar polos.

“Tentu saja karena kau adalah gadis pembawa sial yang tidak mau menikah meski usiamu sudah dua puluh tahun!” ucap salah satunya dengan nada getir, seolah mengulang doktrin yang telah ditanamkan sejak lama.

“Yang jelas, kau memiliki sihir penyembuhan! Kau bisa menyembuhkan orang lain lebih cepat dari tabib manapun! Itu pasti sihir!” sambung ksatria yang satunya lagi.

Alianne memiringkan kepala, alisnya berkerut. Ekspresi bingungnya tampak tulus, seolah ia benar-benar tidak memahami logika di balik tuduhan itu.

“Syarat jadi penyihir mudah sekali. Jika begitu, para wanita di masa depan, hampir setengahnya adalah seorang penyihir.”

Kalimat itu meluncur begitu saja. Ringan, nyaris bercanda.

Namun tepat di belakangnya, Aldren berdiri diam. Tubuh tingginya kembali menutupi cahaya matahari, membuat bayangan jatuh menyelimuti Alianne.

“Kau sepertinya tahu banyak tentang masa depan,” ucap Aldren.

Nada suaranya datar, tetapi justru karena itu terasa berbahaya.

Alianne membeku sesaat. Ia segera membalikkan tubuhnya, menggeleng cepat. “Ti- tidak, yang mulia! Aku hanya asal bicara.”

Aldren tidak langsung menjawab. Tatapannya menelusuri wajah Alianne, seolah mencoba menimbang sesuatu yang belum ia ucapkan.

“Yang mulia, sekarang, mau diapakan dua orang ini?” tanya Hery, berdiri tegak di sisi Aldren, memecah keheningan yang menekan.

Aldren menengadah, menatap langit cerah yang membentang luas di atas mereka. Matahari telah bergeser ke arah barat, cahayanya mulai menguning, menandakan waktu terus berjalan tanpa menunggu siapa pun.

“Kita tidak boleh berlama-lama di sini. Perjalanan kita masih lumayan panjang,” ucap Aldren akhirnya. “Bawa mereka ke kerajaan sebagai sandera! Mereka masih berutang penjelasan mengenai rencana ratu.”

“Baik, yang mulia!”

Hery dan para ksatria lainnya segera bergerak. Ikatan pada pohon dilepaskan, namun tangan kedua ksatria Aurenthia tetap terikat kuat. Mereka diseret untuk berjalan sendiri, wajah mereka pucat dan penuh ketakutan.

Alianne memperhatikan semua itu. Dan perlahan, senyum tipis muncul di bibirnya.

Saat pasukan Aldren mulai bergerak meninggalkan tempat itu, Alianne berlari kecil mengejar dari belakang, langkahnya ringan seolah beban di dadanya telah berkurang. “Aku ikut!”

Aldren menoleh. Tanpa ragu, ia melangkah ke kereta kencana dan membukakan pintunya. “Tentu saja kau harus ikut! Ayo naik ke dalam sini!”

Alianne berhenti sejenak. Ia menunduk sopan, menyembunyikan kegelisahan di balik sikap rendah hati. “Yang mulia terlalu baik. Aku jalan kaki saja ikut yang lain. Mana mungkin rakyat jelata seperti ini duduk berdua di dalam kereta kencana bersama yang mulia raja?”

Aldren terkekeh pelan.

Tawa itu singkat, rendah, dan entah kenapa terasa jauh lebih mengancam daripada diamnya. “Jika rakyat jelata itu akan segera menjadi istri raja, kenapa tidak?”

Alianne tersentak. Matanya membulat, napasnya tertahan. Refleks sedikit berteriak.

“Apa?!”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Terjerat Pernikahan Raja Villain Tirani    {Bab 123} Pengakuan

    Alianne memukuli dada Aldren berkali-kali. Pukulannya tidak keras, namun sarat emosi yang selama ini ia tahan rapat-rapat. Anehnya, meskipun tangannya terus mendorong dan memukul, tubuhnya justru tidak berusaha menjauh. Ia tetap berada dalam jarak yang terlalu dekat, seolah hatinya menolak untuk melepaskan.Air mata semakin membasahi pipinya, jatuh tanpa bisa ia kendalikan. "Bodoh! Kau itu seharusnya menanyakan hal yang sama pada dirimu sendiri! Kau terlalu berusaha menyesuaikan diri pada orang lain. Tapi apakah kau... Peduli pada dirimu sendiri?" Suaranya bergetar. Napasnya tidak teratur. Setiap kata terdengar seperti pecahan yang dipaksa keluar dari dada yang sesak.Aldren hanya diam. Ia membiarkan pukulan-pukulan kecil itu mengenai dadanya. Tidak menahan. Tidak menghindar. Tidak pula membalas. Seolah-olah ia menerima semua itu sebagai sesuatu yang pantas ia terima.Aldren menunduk. Ekspresinya terlihat bingung. Bukan bingung karena tidak mengerti maksud

  • Terjerat Pernikahan Raja Villain Tirani    {Bab 122} Perasaan yang Membingungkan

    Matahari pagi mulai sedikit menunjukkan dirinya di ufuk timur. Cahaya keemasan perlahan menembus tirai langit, mengusir sisa-sisa kegelapan malam. Kabut tipis yang menggantung di jalanan desa mulai memudar, seolah dunia baru saja menarik napas panjang setelah bertahan dalam gelap.Roda kereta kencana berderit pelan, bergerak stabil di atas jalan tanah yang masih lembap oleh embun. Di dalamnya, suasana jauh lebih sunyi dibanding suara roda di luar."Bagaimana? Apa rencana ini benar-benar sesuai harapanmu?" tanya Aldren, menatap lurus ke arah Alianne yang duduk di dalam kereta kencana di seberangnya dengan ekspresi datar.Cahaya pagi menyentuh separuh wajahnya, menciptakan bayangan tegas di sisi lainnya. Tatapannya tajam, namun tidak bisa sepenuhnya menyembunyikan sesuatu yang lebih dalam, kekhawatiran yang terpendam rapi."Sangat sesuai!" Alianne tersenyum lebar, campuran senang dan bangga. Senyuman itu seketika berubah menjadi senyuman licik. "Bay

  • Terjerat Pernikahan Raja Villain Tirani    {Bab 121} Tangan dan Otak

    "Sedang apa lagi, kakak?" Caelum tersenyum nakal, senyum yang terlihat sangat natural meskipun dia hanya akting. "Jika kami berdua ada di satu tempat yang sama, maka yang akan kami bahas adalah..." Jeda sepersekian detik terasa begitu panjang. Jantungnya masih berdetak keras akibat pembicaraan barusan. Namun wajahnya sempurna. Tidak ada retakan sedikit pun dalam topeng itu."Ship Papa Hery dan Mama Serin!" Alianne tersenyum nakal, senyuman yang sangat natural, menutupi ketegangan di wajahnya dengan sempurna.Nada suaranya ringan. Terlalu ringan untuk seseorang yang beberapa menit lalu membahas surat wasiat dan kematian. Bahkan pupil cokelatnya berhasil menyembunyikan kegelisahan yang sempat bergetar di sana.Udara pagi yang membeku seolah ikut menahan napas."Baiklah." Aldren hanya mengangguk mengerti, tidak mau melarang ataupun ikut-ikutan dalam permainan mereka.Kemudian, Aldren berbalik, berjalan meninggalkan mereka, membuat

  • Terjerat Pernikahan Raja Villain Tirani    {Bab 120} Yang Dibicarakan

    Pagi sebelumnya, matahari bahkan belum menunjukkan dirinya. Langit masih gelap pekat, hanya dihiasi garis tipis kebiruan di ufuk timur yang belum cukup untuk disebut fajar. Dari pada pagi, saat itu lebih mendekati tengah malam yang hening, dingin, dan seolah menahan napas.Embun membeku di ujung dedaunan. Uap tipis keluar setiap kali seseorang bernapas.Alianne keluar dari kediaman Marquess Redmond dengan langkah pelan namun mantap. Ia mengenakan hoodie tebal dan celana panjang, setelan pakaian modern yang dipesannya dari Lysa. Pakaian itu terasa asing di dunia yang masih dipenuhi gaun dan korset, tetapi justru itulah yang ia butuhkan. Praktis. Ringkas. Tidak mencolok.Angin dini hari menyapu wajahnya, menusuk kulit seperti jarum halus. "Dingin!" Suara Aldren terdengar tegas tapi lembut dari belakangnya. Sebuah jubah kebesaran berwarna hitam tiba-tiba menyelimuti bahu Alianne. Kain tebal itu jatuh sempurna, berat namun hangat, jelas jubah milik Aldren send

  • Terjerat Pernikahan Raja Villain Tirani    {Bab 119} Ekspektasi Tidak Sesuai Realita

    Di sebuah desa kecil yang tertutup kabut tipis musim gugur, Mariana berdiri di depan para penduduk dengan gaun tebal berwarna lembut yang menutupi perutnya yang sedikit membesar. Angin dingin berembus pelan, membuat ujung kerudung dan rambutnya berkibar halus.Di belakangnya, beberapa pelayan dan pengawal sibuk menurunkan karung-karung gandum, kentang, serta daging asin dari kereta. Suara kayu beradu dan derit roda bercampur dengan gumaman haru para warga yang mengantre dengan tertib.Wajah-wajah yang semula muram kini memancarkan secercah harapan."Terima kasih, Yang Mulia. Berkat dirimu, kami semua tidak perlu takut lagi mengalami kelaparan untuk musim dingin kali ini," ucap salah seorang nenek tua di desa itu.Tangannya yang keriput menggenggam tangan Mariana dengan penuh rasa syukur.Mariana hanya tersenyum riang. Senyumnya tampak cerah, hangat, seolah benar-benar menjadi cahaya di tengah udara dingin yang menggigit. Matanya melengkun

  • Terjerat Pernikahan Raja Villain Tirani    {Bab 118} Rencana Pencitraan Leon

    Pupil hijau gelap Aldren menatap pupil biru cerah Caelum dengan tatapan datar. Tidak ada emosi yang terlihat di wajahnya, tidak marah, tidak tersinggung, tidak juga terkejut. Terlalu tenang. Namun di balik ketenangan itu, ingatan lama menyusup tanpa permisi. Ia masih mengingatnya. Hari eksekusi itu. Kedua matanya ditutup kain hitam yang kasar, membuat dunia hanya tersisa suara dan bau darah yang samar. Lututnya dipaksa menyentuh tanah dingin. Angin membawa teriakan rakyat yang memekakkan telinga. "Bunuh dia!" "Bunuh raja tiran!" "Bunuh!" Ia tidak bisa melihat siapa pun. Namun ia bisa mendengar. Dan di antara teriakan itu, Suara Caelum. Berpidato dengan gagah berani. Tegas. Lantang. Tanpa ragu. Seolah dirinya adalah pahlawan yang akan membunuh iblis. Dan iblis itu adalah dirinya sendiri. "Rakyat-rakyatku sekalian... Aku sangat mengerti

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status