LOGINAxel berpikir bisa mendengarkan pikiran orang lain saat menyentuh tangan mereka adalah suatu hal yang menyiksa. Ia bahkan lebih memilih bekerja sebagai pegawai perpustakaan daripada bekerja di perusahaan besar agar terhindar dari keharusan berinteraksi dengan mereka. Suatu hari tiba-tiba kedua orang tuanya menghilang. Ia dan adik perempuannya yang mencari mereka justru berakhir di tempat yang tidak pernah mereka bayangkan. Sebuah dunia penuh peri dan sihir. Disana, mau tidak mau kemampuannya harus digunakan. Karena tidak semua peri yang mereka temui cantik dan lucu seperti dalam dongeng.
View MoreAku mengulurkan tanganku berniat menyentuh ranting di dekatku ketika tiba-tiba angin kencang berhembus memutari pohon Pirua dari atas kebawah. Membawa serta seluruh dedaunan sehingga hanya menyisakan pohon dengan rantingnya.Saat dedaunan tersebut mencapai langit bebas, tiba-tiba angin yang membawanya berhenti berputar. Dedaunan yang sebelumnya membumbung tinggi berjatuhan bagai hujan. Dan suara itu kembali terdengar, menggema berulang-ulang tak hanya di telingaku tapi juga di kepalaku.“Dengarkan.”Aku menghela nafas dan membuka mata.Mimpi yang sama lagi. Mimpi yang kualami selalu memberiku kenyamanan namun saat terbangun aku selalu merasa ada sesuatu yang kurang.Kuletakkan punggung tanganku menutupi mata, menghalangi cahaya matahari yang menyinari wajahku melalui jendela yang terbuka. Sudah lima hari ini aku memimpikan mimpi yang sama tapi baru hari ini dedaunan pohon pirua berguguran seperti tadi.Dan suara itu, kali ini bahkan saat aku sudah bangun-pun masih bisa kudengar dengan
“Apa maksudmu tadi? “ protesku pada Flaresh setelah hanya ada kami. Kami berkumpul di kamarku dan Esen.“Apa?” Tanyanya.“Aku tidak ingat Ratu Samirana mengatakan apa yang kau katakan.”“Benarkah? “ Flaresh mengangkat bahu acuh. “Hmm.. Mungkin ia mengatakannya hanya padaku.”“Flaresh. “ Aku berniat protes tapi nada suara yang keluar dari bibirku setengah merajuk. Ia telah meletakkan beban yang sangat berat di pundakku.“Kata-katamu bisa membuat Putri Kaya menaruh harapan padaku! Bagaimana kalau nanti aku tidak bisa mendengar apapun? Bagaimana jika aku tidak bisa membantu mereka? Aku tidak mau mereka terlalu berharap padaku dan berakhir mengecewakan mereka. “Flaresh menghela nafas tak sabar.“Apakah kau tidak cukup yakin dengan kemampuanmu? Apakah kau tidak yakin kau bisa mendengar Raja Vathu? Kukira kau sudah berlatih di Hutan Seda. Apa kau yakin kau berlatih dan bukannya bertamasya di sana? “Aku melongo mendengar rentetan kata-katanya yang tajam dan menyakitkan lalu teringat hari-h
Kuletakkan telapak tanganku di lengannya yang kemudian kugenggam erat. Kupusatkan seluruh perhatian dan pikiranku padanya. Berusaha mendengar apa yang ada di kepalanya, apa yang ingin dikatakannya. Tapi yang dapat kudengar hanya suara yang sangat samar dan terdengar jauh.Selama waktu yang cukup lama aku berusaha mendengarkannya tapi sia-sia. Aku tidak mendapat satu katapun yang bisa kupahami atau kumengerti.Kubuka matakuAku memandangi Raja Vathu lalu melihat tangannya yang memegang dada. Ah, mungkin dengan memegang tangannya, seperti yang biasa kulakukan saat mendengarkan pikiran orang lain, akan membuatku bisa mendengar lebih jelas. Aku segera merubah posisi badanku dan menyentuh tangan kiri Raja Vathu. Kututup mataku rapat-rapat. Kukosongkan pikiranku dan hanya terpusat padanya. Tapi sama saja. Yang kudengar hanya suara samar yang asing. Agak sedikit lebih jelas tapi tidak satu katapun yang kudengar atau kutangkap.Aku mengangkat kepalaku, memutar keras otakku. Berusaha mencari ca
“Apakah Lord Enki sudah kembali?”Hari ini kami ditemui penjaga yang sama seperti di hari pertama kami tiba.“Ya. Tapi hari ini ia tidak bersedia menemui siapapun karena masih ada urusan yang belum terselesaikan dari perjalanan kemarin. Jadi kalian kembalilah besok.”Aku mendesah tak senang.“Tapi beliau tahu bahwa kami datang kan?”“Ya. Karena itu kalian besok akan kami beri kabar saat Lord Enki siap menerima kalian.”“Tapi benar-benar besok kan?” Aku mulai kehilangan kesabaranku. Selalu begini setiap kali kami ingin bertamu di Dharana. Padahal kali ini bukan kami yang ingin datang. Tapi masih saja kami dipersulit.Penjaga itu mengangguk.Mau tak mau kami pun beranjak pergi. Bagaimanapun kami tidak punya pilihan lain.Dan panggilan ke istana itu benar-benar datang keesokan harinya. Tepat disaat hidangan makan siang Pratvi baru saja disajikan di meja. Pikiran dan perutku berseteru. Kedongkolanku semakin memuncak jadinya.Tapi mau tak mau kami harus segera berangkat ke istana. Takut ji






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews