Share

{Bab 5} Istana Obsidian

last update Petsa ng paglalathala: 2026-01-15 17:09:00

Alianne tidak merasa panik. Tidak ada jantung berdebar berlebihan, tidak ada napas tercekat. Ia hanya membalikkan tubuhnya sedikit, menatap Aldren dengan senyuman mengejek yang tenang, seolah sedang menilai hasil pemikirannya sendiri. “Walaupun hidup di dunia patriarki, rupanya pemikiranmu tidak ikut seperti itu.”

Tatapan Aldren tidak berubah. Namun roda kereta kuda tiba-tiba berhenti, disusul hentakan kecil ketika dua ekor kuda penariknya ikut menghentikan langkah. Getaran halus menjalar ke lantai kereta, menandakan perjalanan mereka telah usai.

Kereta kuda itu berhenti tepat di depan istana Obsidian.

Sebuah bangunan raksasa menjulang di hadapan mereka, mendominasi pandangan dengan warna hitam pekat. Batu obsidian berwarna gelap membentuk dinding-dinding tebal yang tinggi, menyerap cahaya matahari sore alih-alih memantulkannya. Istana itu tidak berkilau, tidak memikat mata dengan kemewahan, ia berdiri seperti bayangan masa lalu yang keras, dingin, dan tak tergoyahkan.

Sepasang mata cokelat milik Alianne terpaku. Ia menatap arsitektur bangunan itu tanpa berkedip, merasakan tekanan aneh di dadanya.

Istana itu terlihat tua. Bukan tua yang rapuh, melainkan tua karena telah bertahan dari terlalu banyak perang, pengkhianatan, dan darah. Sebuah warisan turun-temurun yang tidak dibangun untuk menyenangkan, melainkan untuk bertahan.

“Selamat datang di istana Obsidian! Istana utama yang menjadi pusat pemerintahan sekaligus tempat tinggalku,” ucap Aldren memperkenalkan istananya pada Alianne.

Nada suaranya datar, nyaris tanpa kebanggaan. Seolah istana sebesar ini hanyalah alat kerja baginya, bukan simbol kejayaan.

Aldren kemudian berbalik, menoleh ke arah para ksatria yang membawa dua orang sandera. Suasana langsung menegang. “Bawa mereka berdua ke penjara bawah tanah! Aku akan menginterogasi mereka secara langsung jika sudah mengantar Alianne ke kamarnya.” Nada perintahnya tenang, namun mutlak. Tidak ada ruang untuk bantahan.

“Siap, laksanakan!” jawab para ksatria dengan kompak.

Belasan ksatria itu segera bergerak, menyeret dua orang sandera yang masih terikat tali tambang. Sepatu mereka bergesekan dengan tanah batu, suara langkah bercampur erangan tertahan.

Dua sandera itu dibawa menuju pintu samping yang mengarah ke penjara bawah tanah, sebuah tempat gelap yang bahkan dari kejauhan saja sudah terasa menelan cahaya.

Alianne mengikuti mereka dengan pandangan mata sesaat, merasakan hawa dingin menjalar di tengkuknya.

“Silakan masuk.”

Aldren mengulurkan tangannya ke arah Alianne dengan sikap sopan dan terkontrol, menunggu Alianne menyentuhnya. Sebuah gestur etiket kerajaan yang sempurna.

Namun Alianne justru terdiam. Ia menatap tangan itu, tangan besar dengan urat-urat yang tegas, masih menyisakan noda darah kering di sela-sela kulitnya. Bekas pertempuran belum lama berlalu. Itu bukan tangan bangsawan yang hidup nyaman, melainkan tangan seorang raja yang benar-benar turun ke medan perang.

Aldren menangkap keraguan di mata Alianne.

Tanpa ragu, ia melangkah maju. Tubuhnya yang tinggi mendekat, membuat jarak di antara mereka menghilang. Ia sedikit membungkuk, cukup dekat hingga suaranya hanya terdengar oleh Alianne.

“Semua yang ingin kau ketahui akan aku ceritakan. Tapi sekarang, kau harus masuk ke kamar dulu agar aman sementara aku menginterogasi dua ksatria dari Aurenthia. Setelah itu, baru kita bisa membahas semuanya dengan leluasa.” Nada suaranya rendah, tegas, dan menenangkan dalam cara yang aneh. Bukan perintah kosong, melainkan janji.

Aldren mundur beberapa langkah, memberi ruang. Ia kembali mengulurkan tangannya. “Ayo!”

Alianne menghela napas kecil sebelum akhirnya mengulurkan tangannya. Jemarinya menyentuh tangan besar itu, dingin dan kokoh. Ia membiarkan Aldren menuntunnya memasuki istana Obsidian.

Gerbang besar terbuka perlahan.

Dua orang ksatria berjaga di kanan dan kiri pintu, berdiri tegak dengan ekspresi waspada. Tatapan mereka tajam, tubuh mereka tegang, seolah bahaya bisa muncul kapan saja bahkan di dalam istana sendiri.

Saat Alianne dan Aldren melangkah masuk, kesan pertama yang ia dapatkan justru jauh dari kemewahan.

Tidak ada karpet merah. Tidak ada lukisan megah atau dekorasi emas. Lorong-lorong batu terbentang kaku, diterangi cahaya obor yang minim. Istana itu lebih menyerupai gedung pertemuan besar, tempat orang bekerja, berdiskusi, berdebat, dan mengambil keputusan, bukan tempat berfoya-foya.

“Ada apa? Apa istana ini membuatmu tidak nyaman? Haruskah aku menitipkanmu ke istana Silverkeep saja?” tanya Aldren, melirik sekilas ke arah Alianne.

“Ada istana lainnya?” tanya Alianne dengan penasaran.

Aldren mengangguk. “Ya, istana itu kini ditinggali oleh adikku, Caelum Valtazar. Berbeda dengan kerajaan Obsidian yang menjadi pusat pemerintahan, istana Silverkeep adalah pusat pesta dan perayaan. Para bangsawan dari negara lain yang ingin berpesta, akan dipindahkan ke istana Silverkeep. Agar istana Obsidian hanya fokus mengatur urusan administratif.”

Alianne mengangguk pelan, memahami pembagian fungsi itu dengan cepat. “Sepertinya aku lebih betah di istana Obsidian. Friendly introvert.”

Aldren tersenyum tipis. Senyum yang nyaris tak terlihat, namun cukup untuk membuat ekspresinya melunak sesaat. Hampir saja ia terkekeh. “Seleramu boleh juga.”

“Aku tidak suka tempat ramai dan bising. Aku lebih suka tempat gelap dan sepi,” ucap Alianne jujur.

“Kalau begitu, maka kau akan mendapatkan kamar sesuai keinginanmu.”

Aldren menuntun Alianne menyusuri lorong yang semakin sempit dan gelap. Cahaya obor semakin jarang, suara langkah mereka menggema di dinding batu. Hingga akhirnya mereka berhenti di depan sebuah pintu besar dari kayu hitam, tebal dan berat, dengan ukiran sederhana namun tegas.

Aldren melepas genggaman tangannya.

“Silakan masuk. Untuk sementara, kau akan tinggal di kamar tamu sebelum kita resmi menikah.”

Alianne melihat pintu itu terbuka perlahan, memperlihatkan sebuah kamar besar dengan ranjang berukuran nyaris tak masuk akal. Cahaya temaram dari lilin dinding menyinari ruangan yang didominasi warna gelap. Furnitur kayu berukir memenuhi sudut-sudut ruangan, menghadirkan kesan klasik yang berat, sedikit mengerikan bagi kebanyakan orang.

Namun tidak bagi Alianne.

Baginya, kamar itu adalah surga.

Tanpa pikir panjang, Alianne langsung melompat ke atas ranjang besar itu. Tubuhnya tenggelam ke dalam empuknya ranjang, membuatnya menghela napas panjang penuh kepuasan. Ia membiarkan dirinya terbuai dalam kenikmatan paling sederhana namun sakral: berbaring tanpa beban.

“Ranjang ini sangat nyaman!” ucap Alianne sambil menggerakkan tangan dan kakinya, meraba luasnya ranjang seolah ingin memastikan ini nyata.

Ranjang itu sepenuhnya terisi kapas lembut, ditopang kerangka kayu ukir yang kokoh. Tidak ada per yang berdecit, tidak ada lapisan sintetis seperti ranjang modern. Empuknya terasa alami, stabil, dan menenangkan, seolah dibuat khusus untuk seseorang yang benar-benar butuh istirahat setelah hidup yang terlalu panjang.

Aldren berdiri tak jauh dari sana, menatap pemandangan itu dengan ekspresi tipis yang sulit dibaca. Sudut bibirnya sedikit terangkat. Ia lalu melangkah ke arah pintu dan menutupnya perlahan.

“Kalau begitu, aku permisi untuk menginterogasi dua sandera dari Kerajaan Aurenthia. Sebentar lagi pelayanmu akan datang. Jika butuh sesuatu, mintalah padanya.”

Pintu kayu tertutup rapat, meninggalkan bunyi samar yang menggema di ruangan besar itu. Alianne kini sendirian.

“Pelayan?” Alianne langsung bangkit berdiri, matanya berbinar. Otaknya langsung membayangkan makanan lezat, minuman hangat, dan seseorang yang siap memenuhi permintaannya. “Apa ini mimpi? Aku bahkan tidak pernah bermimpi untuk punya pelayan.”

Tidak lama setelah itu, pintu kamar kembali terbuka.

Alianne refleks menatap ke arah pintu dengan penuh harap. “Itu dia!”

Seorang wanita muda masuk ke dalam kamar. Ia mengenakan pakaian pelayan berwarna putih yang rapi, rambutnya tersanggul sederhana, wajahnya bersih dan cantik.

“Selamat sore, yang mulia. Aku Serin, siap melayanimu.”

Alianne menatap Serin dari atas hingga bawah. Seragam pelayan itu tertangkap jelas di matanya. Sederhana, praktis, dan… sempurna untuk sebuah ide iseng.

“Serin, boleh kemari sebentar?” tanya Alianne dengan nada santai.

“Baik, yang mulia.” Serin melangkah mendekat. “Ada yang bisa dibantu?”

Alianne bangkit berdiri dan tersenyum ramah. “Jangan memanggilku seperti itu! Panggil saja Alianne. Kita berdua sama-sama rakyat jelata.”

Serin terlihat terkejut sesaat, namun langsung mengangguk. “Baiklah, Alianne.”

“Nah, Serin…” Alianne mendekat dan berbisik pelan di telinga Serin, suaranya penuh rencana. “Saat ini aku tidak punya pakaian ganti. Boleh aku meminjam satu saja pakaian pelayanmu untuk aku kenakan?”

---

Alianne dan Serin melangkah memasuki dapur istana Obsidian.

Suasana di sana jauh berbeda dari lorong-lorong sunyi istana. Dapur itu rapi dan tertata, namun penuh aktivitas. Suara panci beradu, api yang menyala, dan langkah para pelayan membuat dapur menjadi bagian paling ramai dan berisik di seluruh istana. Meski nuansanya tetap gelap, kehidupan terasa berdenyut di sana.

“Alianne, apa tidak masalah kau ada di sini?” tanya Serin dengan nada khawatir. Pandangannya gelisah, apalagi melihat Alianne kini mengenakan seragam pelayan.

Alianne hanya tersenyum santai. “Tidak masalah. Siapa yang melarang? Raja kalian juga tidak bisa melarangku melakukan apapun di istana ini.”

Serin hendak membalas, namun tiba-tiba Alianne menghentikan langkahnya. Dalam satu gerakan cepat, Alianne menarik Serin dan mengajaknya bersembunyi di balik tumpukan tong berisi gandum.

Di depan mereka, dua orang wanita berdiri terlalu dekat dengan meja minuman. Tangan mereka bergerak cepat, menuangkan serbuk aneh ke dalam cangkir teh. Gerak-gerik mereka kaku, mata mereka gelisah, jelas bukan pelayan biasa yang sedang bekerja.

Mereka tampak linglung, saling melirik, seolah mencari seseorang yang bisa dijadikan kambing hitam.

‘Oh… ini bukan dapur biasa,’ batin Alianne. ‘Ini TKP.’

Tanpa ragu sedikit pun, Alianne keluar dari tempat persembunyian. Langkahnya ringan, wajahnya polos seperti pelayan baru yang tak tahu apa-apa.

Salah satu wanita itu langsung menunjuk ke arahnya. “Kau! Anak baru yang di sana!” panggilnya. “Kemarilah! Berikan teh ini pada yang mulia raja!”

Alianne menghampiri mereka tanpa ragu. Tangannya menerima cangkir teh itu dengan tenang. “Baik, kakak senior. Dengan senang hati aku akan memberinya pada yang mulia raja.”

Serin membeku di tempat persembunyian. Wajahnya pucat saat menyadari apa yang terjadi.

“Apa yang ingin dilakukannya?” tanya Serin dengan tatapan terkejut. “Jangan bilang dia ingin meracuni yang mulia raja!”

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Terjerat Pernikahan Raja Villain Tirani    {Bab 196} Hukuman untuk Duke Utara

    "Biarkan kami masuk!""Kami menderita menghadapi musim dingin andai jika Yang Mulia Raja tidak membantu kami!""Biarkan kami bertemu Yang Mulia Duke!"Teriakan itu bergema tanpa henti, saling bertumpuk hingga menciptakan riuh yang memekakkan telinga. Halaman depan kediaman. Wajah-wajah pucat, pakaian lusuh, serta mata penuh keputusasaan memenuhi setiap sudut gerbang besi yang tertutup rapat.Di kejauhan, Alianne berdiri dengan sikap santai, seolah semua kekacauan itu hanyalah pertunjukan yang telah lama ia nantikan. Tatapannya menyapu kerumunan, memperhatikan setiap detail dengan cermat, sebelum senyum tipis terukir di bibirnya. "Sudah dimulai ternyata. Silakan, para aktor!"Dari dalam halaman, langkah kaki tergesa terdengar mendekat. Leon muncul lebih dulu, wajahnya tegang dan napasnya sedikit memburu. Ia berjalan cepat menuju gerbang, matanya membesar melihat kerumunan yang nyaris tak terkendali."Apa-apaan ini?!" bentaknya, suaranya meninggi, berusaha menutupi kegelisahan yang mula

  • Terjerat Pernikahan Raja Villain Tirani    {Bab 195} Dia Duluan

    Sementara itu di kumpulan pria...Suasana di sisi ini tampak lebih tenang di permukaan, namun percakapan yang terjadi memiliki bobot yang berbeda. Tidak ada tawa berlebihan atau sikap mencolok, hanya tatapan-tatapan tajam dan kata-kata yang dipilih dengan hati-hati.Aldren berdiri dengan postur tegap, tetapi perhatiannya tidak sepenuhnya tertuju pada percakapan di sekitarnya. Matanya justru mengarah pada seorang pria di depannya yang tampak tidak fokus, seolah pikirannya berada di tempat lain.Aldren mempersempit pandangannya.Dengan rasa penasaran, Aldren mengikuti arah pandangan pria itu. Tatapannya menembus kerumunan tamu, melewati gaun-gaun mewah dan jas formal, hingga akhirnya berhenti pada satu titik.Di sana, Alianne dan Magnolia terlihat berdiri berdekatan.Keduanya tampak akrab, berbicara dengan santai seolah sudah saling mengenal cukup lama. Gestur mereka terbuka, tidak ada jarak, tidak ada kecanggungan.Aldren mengangkat alisnya tipis."Erylus, istrimu dan istriku cepat ber

  • Terjerat Pernikahan Raja Villain Tirani    {Bab 194} Ditinggalkan

    Leon berdiri tegap di altar, tangannya bergerak perlahan namun pasti saat mengambil cincin itu. Cahaya lilin memantul pada permukaan logamnya, menciptakan kilau kecil yang terasa hampir menyilaukan di tengah suasana yang hening.Mariana mengulurkan tangannya.Untuk sesaat, waktu seolah melambat.Leon memakaikan cincin pada Mariana, bagian yang sangat sakral dalam sebuah pernikahan. Tidak ada suara yang benar-benar hilang, namun semua terasa teredam, seolah seluruh dunia memberi ruang bagi momen itu untuk terjadi tanpa gangguan.Namun, ketenangan itu tidak sepenuhnya menjangkau setiap sudut ruangan.Sementara itu di bagian para tamu...Bisikan mulai muncul lagi, kali ini lebih tajam, lebih terbuka, dan tidak lagi berusaha disembunyikan."Lihatlah mereka! Mereka sama sekali tidak terlihat seperti bangsawan!""Benar-benar menjijikkan! Apa lagi wanita di sana adalah seorang ratu. Aku tidak sudi memanggilnya dengan panggilan Yang Mulia Ratu."Nada suara itu dipenuhi rasa muak yang terang-t

  • Terjerat Pernikahan Raja Villain Tirani    {Bab 193} Menjarah Makanan

    Hari pernikahan Leon akhirnya tiba.Salju turun tanpa henti, menyelimuti seluruh Kerajaan Valtarian dalam warna putih yang membekukan. Udara terasa lebih berat dari biasanya, seolah setiap napas yang diambil harus dipaksa keluar dari paru-paru. Di tengah suasana yang kaku dan dingin itu, para bangsawan mulai berdatangan. Gaun-gaun mewah berwarna cerah tampak kontras dengan lanskap musim dingin, berkilau di bawah cahaya kristal dan obor yang berjajar di sepanjang aula utama.Namun, kehadiran Alianne segera merusak harmoni visual yang ‘sempurna’ itu.Dia datang bersama Aldren.Berbeda jauh dengan para wanita bangsawan lainnya, Alianne tidak mengenakan gaun. Tidak ada rok panjang, tidak ada renda halus, tidak ada perhiasan mencolok. Sebagai gantinya, dia mengenakan setelan jas formal dengan potongan tegas, dipadukan dengan celana panjang yang memperlihatkan siluetnya yang berbeda dari norma.Beberapa kepala langsung menoleh. Bisikan-bisikan kecil mulai bermunculan, lirih namun cukup ta

  • Terjerat Pernikahan Raja Villain Tirani    {Bab 192} Misi Selanjutnya

    Fajar kembali menyingsing, membawa cahaya pucat yang perlahan mengusir sisa kegelapan malam. Langit masih berwarna abu-abu kebiruan, sementara udara pagi terasa dingin dan tajam di kulit. Di halaman depan istana Obsidian, suasana jauh dari kata tenang. Derap langkah para penjaga, gesekan baju zirah, dan bisikan-bisikan pelan membentuk ketegangan yang tidak terlihat namun terasa jelas.Di tengah halaman itu, Alianne berdiri tegak. Tatapannya tertuju pada beberapa wanita muda yang berbaris di hadapannya. Pakaian mereka sederhana, wajah mereka menunjukkan sisa kelelahan, tetapi juga harapan yang belum sepenuhnya padam."Jadi... Apa yang kau tahu mengenai pengobatan herbal?" tanya Alianne, menunjuk pada Bethany.Suaranya tidak keras, tetapi cukup untuk membuat semua orang fokus. Tidak ada nada mengancam, namun tekanan dalam pertanyaan itu tidak bisa diabaikan.Bethany menarik napas sejenak sebelum menjawab. Bahunya menegang, tetapi suaranya tetap berusaha stabil."Aku bisa mengobati berba

  • Terjerat Pernikahan Raja Villain Tirani    {Bab 190} Tempat Aman

    "Dan akhirnya kalian diajarkan memanah, disuruh masuk ke dalam benda aneh tak terlihat yang bisa memindahkan manusia dari satu tempat ke tempat lainnya, dan disuruh menggigit pil yang diselipkan ke gigi kalian jika kalian tertangkap."Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Alianne, tanpa jeda, tanpa keraguan, seolah ia sedang menyebutkan sesuatu yang sudah sangat ia pahami. Nada suaranya datar, bahkan cenderung santai, tetapi isi ucapannya terasa seperti pisau yang menguliti lapisan demi lapisan rahasia.Ruangan itu mendadak terasa lebih sunyi.Truman dan Fidel menatap Alianne dengan mata yang membesar. Tidak ada kata yang langsung keluar. Hanya keterkejutan yang perlahan berubah menjadi kekaguman, bercampur dengan sedikit ketakutan yang sulit disembunyikan."Sampai tahu sedetail itu..." gumam Truman."Luar biasa..." komentar Fidel.Reaksi mereka jujur. Terlalu jujur.Alianne tidak langsung menanggapi pujian itu. Ia

  • Terjerat Pernikahan Raja Villain Tirani    {Bab 143} Gosip

    "Jadi... Yang Mulia!" Magnus menoleh ke arah Aldren yang duduk di kursi di dalam kamar tamu yang saat itu sedang ditempatinya. Sorot matanya tampak santai, tetapi ada kilatan rasa penasaran di sana. Ia menyandarkan bahu pada sandaran kursi, seolah topik yang hendak ia lontarkan hanyalah percakapa

  • Terjerat Pernikahan Raja Villain Tirani    {Bab 142} Tidak Ada yang Pantas Disalahkan

    "Hah..." Aldren menarik napas panjang. Dan tiba-tiba, ia tertawa. Bukan tawa kecil. Bukan juga tawa sinis. Melainkan tawa terbahak-bahak yang terdengar begitu lepas hingga menggema di lorong panjang itu. Suaranya bahkan terdengar sangat geli. Seolah sesuatu yang sangat lucu baru saja terjadi.

  • Terjerat Pernikahan Raja Villain Tirani    {Bab 140} Rasa Tidak Pantas

    Suasana lorong yang semula dipenuhi bisikan dan keheningan tiba-tiba pecah."Alianne!" Suara Caelum Valtazar menggema penuh emosi. Dalam beberapa langkah cepat, ia sudah berdiri tepat di depan Alianne. Tanpa memberi ruang untuk menjauh tinju Caelum menghantam dinding lorong di samping ke

  • Terjerat Pernikahan Raja Villain Tirani    {Bab 139} Drama Salah Paham

    Senyum nakal perlahan kembali muncul di wajah Magnus Valzaren.Tatapan Caelum Valtazar yang penuh kecurigaan justru seperti bahan bakar bagi sifat jahilnya. Alih-alih merasa bersalah, Magnus malah tampak semakin menikmati situasi itu. Ia bangkit dari sofa tempatnya duduk. Langkahnya sant

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status