MasukKereta kuda yang mengangkut Alianne dan Raja Aldren perlahan bergerak ke arah Utara.
Derit roda kayu terdengar berirama, memecah keheningan padang rumput yang mulai ditinggalkan. Kereta yang sebelumnya tersembunyi di antara semak-semak, kini keluar menuju sebuah jalan berbatu yang panjang dan luas, jalur utama yang jelas sering dilalui rombongan besar. Setiap guncangan roda terasa nyata, seolah menandai bahwa Alianne benar-benar sedang menjauh dari kehidupan lamanya. Di luar kereta, belasan pasukan ksatria Aldren berjalan mengawal dengan formasi rapi. Langkah mereka serempak, armor logam beradu pelan satu sama lain. Dua orang sandera dari Kerajaan Aurenthia diseret di tengah barisan, tangan mereka terikat, wajah mereka tegang menahan takut dan malu. Di dalam kereta kuda, suasananya jauh lebih sunyi. Aldren duduk bersandar, satu lengannya bertumpu santai, namun sorot matanya tak pernah lepas dari Alianne. Sejak tadi, gadis itu sama sekali tidak menoleh ke arahnya. Alianne justru menatap keluar jendela kereta dengan mata berbinar, penuh kekaguman, seolah-olah dunia di luar sana adalah lukisan hidup yang baru pertama kali ia lihat. Aldren berdehem pelan, suara rendah itu cukup untuk menarik perhatian. Alianne menoleh sekilas, hanya sepersekian detik sebelum kembali memalingkan wajahnya ke luar. "Kau bilang mau menjelaskan alasanmu nanti, kan? Jadi selama perjalanan, tidak perlu ada dialog di antara kita." Aldren menghela napas panjang, napas yang terdengar berat namun terkendali. "Bisa-bisanya ada rakyat jelata yang berani marah pada seorang raja." "Aku tidak marah. Tapi jika kau merasa demikian, itu masalahmu sendiri." Alianne kembali menatap pemandangan di luar. Jalan berbatu membuat kereta berguncang pelan, ritmenya terasa di tubuh. Langit masih cerah, namun semburat oranye mulai menggerogoti biru pucat di ufuk barat, pertanda sore yang perlahan datang. Burung-burung beterbangan rendah, satu per satu kembali ke sarang mereka. "Yang mulia, berapa lama lagi kita akan sampai di Kerajaan Valtarian?" tanya Alianne dengan antusias, seolah baru ingat larangan dialog yang ia buat sendiri. Aldren menopang kepalanya dengan kepalan tangan, menatap dingin ke arahnya. "Kau bilang, tidak perlu ada dialog di antara kita selama perjalanan." Alianne memutar mata, jelas kesal. "Bagus! Kau membuatku merasa seperti menjilat ludahku sendiri." Setelah itu, keheningan kembali menguasai ruang sempit kereta kuda. Derak roda terus mengiringi perjalanan hingga akhirnya jalan berbatu itu membawa mereka mendekati sebuah tembok raksasa. Tembok itu menjulang tinggi, kokoh, dan luas, membentang melingkari sebuah kerajaan besar di dalamnya. Beberapa penjaga berdiri di atas menara, tombak dan panah siap siaga, mata mereka mengawasi setiap rombongan yang mendekat. Tembok batu itu bukan sekadar pertahanan. Ia seperti simbol pemisah antara dunia luar yang liar dan kehidupan di dalamnya yang tertata. Mata Alianne membulat saat melihatnya melalui jendela kereta. Napasnya tertahan, kagum pada arsitektur yang berdiri begitu megah meski tanpa teknologi modern. Perlahan, dua ekor kuda yang dikendalikan seorang kusir melangkah melewati gerbang besar, memasuki wilayah di dalam tembok. Pemandangan pertama yang menyambut Alianne adalah pasar. Pasar tradisional yang ramai langsung terbentang di depan mata. Suara teriakan para pedagang bersahut-sahutan, menawarkan kain, rempah, biji-bijian, hingga barang-barang asing yang jelas berasal dari negeri jauh. Bau roti panggang, daging asap, dan tanah bercampur memenuhi udara. Bangunan-bangunan bergaya Eropa abad pertengahan berdiri rapat namun tertata rapi, jauh berbeda dari gedung-gedung tinggi dan rumah yang menumpuk tidak beraturan di dunia asal Alianne. Pemandangan itu membuat dadanya terasa sesak oleh rasa takjub. Aldren tetap di posisinya. Ia memperhatikan Alianne dengan tatapan tajam yang tersembunyi di balik ekspresi tenangnya, menganalisis setiap reaksi kecil, setiap napas tertahan, setiap kilau mata. Ia sedang memastikan sesuatu. "Ini adalah Pasar Serikat Valtaria. Pusat perdagangan yang menjual barang baik ekspor maupun impor. Penduduk kami sepenuhnya bergantung pada perputaran ekonomi melalui perdagangan dan pertanian." Suara Aldren yang tiba-tiba itu membuat Alianne menoleh cepat, wajahnya langsung dipenuhi semangat. Dengan antusias, ia bertanya, "Lalu, tembok besar tadi namanya apa?" "Tembok besar tadi bernama Perak Selatan. Karena gerbang itu adalah gerbang yang menjadi pintu utama untuk kerajaan di Selatan, kerajaan Aurenthia." "Lalu nama jalan berbatu yang besar itu?" tanya Alianne lagi. "Itu adalah Jalur Valen-Auren. Jalan utama yang menghubungkan kerajaan Valtarian dan Aurenthia. Dua negara yang saling bertetangga meski saling berbeda ideologi." Aldren menatap Alianne dengan santai, jelas siap menjawab pertanyaan berikutnya. Senyum tipis mengejek terukir di sudut bibirnya. "Ada lagi yang ingin kau ketahui, manusia yang bukan dari dunia ini?" Alianne mendengus kesal. "Kenapa kau selalu menuduhku bukan dari dunia ini? Aku adalah rakyat jelata yang tinggal di pedesaan. Masuk akal jika aku tidak tahu dunia luar." Aldren hanya mengangguk singkat. Gerakannya tenang, terlalu tenang. Jelas menunjukkan bahwa anggukan itu bukan tanda percaya, melainkan sekadar cara elegan untuk mengakhiri perdebatan. Alianne menangkapnya. Ia menoleh, menatap Aldren dengan sorot mata yang tidak lagi sekadar penasaran, melainkan mengamati. Seolah-olah sedang membedah seseorang yang berdiri di balik lapisan dingin dan kekuasaan. "Kau terlihat seperti seseorang yang sudah pernah mati karena orang terpercaya. Hingga akhirnya tidak bisa percaya pada siapapun lagi." Ucapan itu meluncur begitu saja, ringan, namun menghantam tepat sasaran. Aldren tidak menunjukkan keterkejutan. Ia hanya bersandar lebih santai di kursinya, sikap yang bertolak belakang dengan makna kata-kata Alianne. "Bisa dibilang seperti itu." Jawaban singkat. Tidak ada pembelaan. Tidak ada bantahan. Alianne menyipitkan mata, lalu tersenyum samar. "Jadi, kenapa malah memutuskan menikah denganku? Kau tidak takut akan membunuhmu saat sudah jadi ratu nanti seperti apa yang dilakukan ratu Seraphine pada suaminya?" Senyumnya berubah jahat, sengaja memancing reaksi. Namun Aldren hanya mengangkat sebelah alisnya, ekspresinya datar, nyaris malas. "Itu beda kasus! Kalau kau ingin membunuhku, maka yang akan diangkat menjadi raja adalah adikku yang jelas-jelas laki-laki dan darah murni raja sebelumnya," jawab Aldren santai, seolah sedang membicarakan cuaca. "Dunia ini tidak semudah seperti yang kau bayangkan." Alianne mendengus pelan. "Dunia patriarki, ya?" tanyanya memastikan. "Apakah alasanmu menikahiku juga karena patriarki?" Aldren meluruskan duduknya. Suasana di dalam kereta seakan berubah. Udara terasa lebih berat. "Bisa ya dan tidak." Ia menatap Alianne langsung, tanpa senyum, tanpa topeng. "Singkatnya, kondisimu saat ini hanya memungkinkan selamat jika kau menikah dengan seseorang yang memiliki kekuasaan. Lagi pula, aku masih membutuhkan orang cerdas seperti dirimu untuk kemajuan kerajaan." Alianne terdiam sejenak, lalu matanya berbinar, terlalu cepat untuk seseorang yang seharusnya terpojok. "Kenapa tidak menjadikan diriku sejenis seperti tabib istana atau bagian administrasi? Bagian akuntan atau apapun juga boleh!" Nada suaranya naik penuh harapan. "Kebetulan aku belum memiliki pekerjaan! Jika aku menjadi anak buahmu, itu juga bisa melindungiku dari tuduhan penyihir, kan? Kau bisa melindungiku sebagai raja dan atasan." Aldren tersenyum miring. Senyum yang tidak kejam, tapi dingin. "Kau ini tinggal di dunia seperti apa? Lihatlah dirimu sendiri! Anak perempuan dari keluarga miskin, berharap mendapatkan pekerjaan semacam itu di kerajaan. Bahkan wanita miskin paling ambisius tidak akan kepikiran hal itu." Kata-kata itu menghantam telak. Alianne memijat pelipisnya, bahunya sedikit turun. "Jadi, kau menikahiku juga sebagai bentuk dari mengambil celah sistem agar aku tetap terlindungi dan punya kekuasaan?" Aldren mengangguk. "Bisa dibilang seperti itu." Ia lalu menoleh ke arah jendela. Sorot matanya meredup, seolah memikul beban yang tidak bisa dibagi dengan siapa pun. "Bisa dibilang, aku sedang mencari penyihir dari dunia lain. Dan aku yakin itu adalah dirimu." Jantung Alianne berdegup lebih cepat. Namun alih-alih panik, ia justru tersenyum nakal, penuh perhitungan. "Baiklah, kalau begitu, aku ingin mengajukan perjanjian pranikah!" Aldren menoleh, menatapnya santai, seolah sudah menduga arah pembicaraan ini. "Katakan!" "Satu!" Alianne mengangkat jari telunjuknya tepat di depan wajah Aldren. "Kau tidak boleh menyentuhku tanpa izin, sedikitpun!" Aldren mengangguk. Tapi kali ini tatapannya berubah lebih serius. "Kecuali jika kau dalam bahaya! Setuju?" Alianne terdiam sesaat. 'Licik.' Namun akhirnya ia mengangguk. "Baiklah." "Selanjutnya!" titah Aldren. "Dua!" Alianne mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya. "Nafkah sifatnya wajib! Meskipun aku hanya bermalas-malasan di istana, kau tetap harus memberiku uang!" Aldren mengangguk tanpa ragu. "Selanjutnya?" "Tiga!" Alianne mengangkat tiga jarinya sekaligus. "Aku tidak mau bekerja! Aku mau bermalas-malasan di istana! Aku tidak mau melakukan pekerjaan apapun termasuk urusan domestik. Kecuali jika kau mau memberi bayaran tambahan." Aldren mengangguk lagi, tenang, nyaris terlalu mudah. "Ada lagi?" Alianne membulatkan mata, merasa sangat terkejut dengan respon Aldren. "Yang benar saja! Kau menyetujui semua itu?" Aldren menatap Alianne tajam. Aura dingin dan dominan itu kembali menekan ruang di antara mereka. "Kenapa? Jangan bilang bahwa perjanjian yang kau sebutkan tadi adalah strategi untuk membuat tekadku untuk menikahimu, goyah?"Alianne memukuli dada Aldren berkali-kali. Pukulannya tidak keras, namun sarat emosi yang selama ini ia tahan rapat-rapat. Anehnya, meskipun tangannya terus mendorong dan memukul, tubuhnya justru tidak berusaha menjauh. Ia tetap berada dalam jarak yang terlalu dekat, seolah hatinya menolak untuk melepaskan.Air mata semakin membasahi pipinya, jatuh tanpa bisa ia kendalikan. "Bodoh! Kau itu seharusnya menanyakan hal yang sama pada dirimu sendiri! Kau terlalu berusaha menyesuaikan diri pada orang lain. Tapi apakah kau... Peduli pada dirimu sendiri?" Suaranya bergetar. Napasnya tidak teratur. Setiap kata terdengar seperti pecahan yang dipaksa keluar dari dada yang sesak.Aldren hanya diam. Ia membiarkan pukulan-pukulan kecil itu mengenai dadanya. Tidak menahan. Tidak menghindar. Tidak pula membalas. Seolah-olah ia menerima semua itu sebagai sesuatu yang pantas ia terima.Aldren menunduk. Ekspresinya terlihat bingung. Bukan bingung karena tidak mengerti maksud
Matahari pagi mulai sedikit menunjukkan dirinya di ufuk timur. Cahaya keemasan perlahan menembus tirai langit, mengusir sisa-sisa kegelapan malam. Kabut tipis yang menggantung di jalanan desa mulai memudar, seolah dunia baru saja menarik napas panjang setelah bertahan dalam gelap.Roda kereta kencana berderit pelan, bergerak stabil di atas jalan tanah yang masih lembap oleh embun. Di dalamnya, suasana jauh lebih sunyi dibanding suara roda di luar."Bagaimana? Apa rencana ini benar-benar sesuai harapanmu?" tanya Aldren, menatap lurus ke arah Alianne yang duduk di dalam kereta kencana di seberangnya dengan ekspresi datar.Cahaya pagi menyentuh separuh wajahnya, menciptakan bayangan tegas di sisi lainnya. Tatapannya tajam, namun tidak bisa sepenuhnya menyembunyikan sesuatu yang lebih dalam, kekhawatiran yang terpendam rapi."Sangat sesuai!" Alianne tersenyum lebar, campuran senang dan bangga. Senyuman itu seketika berubah menjadi senyuman licik. "Bay
"Sedang apa lagi, kakak?" Caelum tersenyum nakal, senyum yang terlihat sangat natural meskipun dia hanya akting. "Jika kami berdua ada di satu tempat yang sama, maka yang akan kami bahas adalah..." Jeda sepersekian detik terasa begitu panjang. Jantungnya masih berdetak keras akibat pembicaraan barusan. Namun wajahnya sempurna. Tidak ada retakan sedikit pun dalam topeng itu."Ship Papa Hery dan Mama Serin!" Alianne tersenyum nakal, senyuman yang sangat natural, menutupi ketegangan di wajahnya dengan sempurna.Nada suaranya ringan. Terlalu ringan untuk seseorang yang beberapa menit lalu membahas surat wasiat dan kematian. Bahkan pupil cokelatnya berhasil menyembunyikan kegelisahan yang sempat bergetar di sana.Udara pagi yang membeku seolah ikut menahan napas."Baiklah." Aldren hanya mengangguk mengerti, tidak mau melarang ataupun ikut-ikutan dalam permainan mereka.Kemudian, Aldren berbalik, berjalan meninggalkan mereka, membuat
Pagi sebelumnya, matahari bahkan belum menunjukkan dirinya. Langit masih gelap pekat, hanya dihiasi garis tipis kebiruan di ufuk timur yang belum cukup untuk disebut fajar. Dari pada pagi, saat itu lebih mendekati tengah malam yang hening, dingin, dan seolah menahan napas.Embun membeku di ujung dedaunan. Uap tipis keluar setiap kali seseorang bernapas.Alianne keluar dari kediaman Marquess Redmond dengan langkah pelan namun mantap. Ia mengenakan hoodie tebal dan celana panjang, setelan pakaian modern yang dipesannya dari Lysa. Pakaian itu terasa asing di dunia yang masih dipenuhi gaun dan korset, tetapi justru itulah yang ia butuhkan. Praktis. Ringkas. Tidak mencolok.Angin dini hari menyapu wajahnya, menusuk kulit seperti jarum halus. "Dingin!" Suara Aldren terdengar tegas tapi lembut dari belakangnya. Sebuah jubah kebesaran berwarna hitam tiba-tiba menyelimuti bahu Alianne. Kain tebal itu jatuh sempurna, berat namun hangat, jelas jubah milik Aldren send
Di sebuah desa kecil yang tertutup kabut tipis musim gugur, Mariana berdiri di depan para penduduk dengan gaun tebal berwarna lembut yang menutupi perutnya yang sedikit membesar. Angin dingin berembus pelan, membuat ujung kerudung dan rambutnya berkibar halus.Di belakangnya, beberapa pelayan dan pengawal sibuk menurunkan karung-karung gandum, kentang, serta daging asin dari kereta. Suara kayu beradu dan derit roda bercampur dengan gumaman haru para warga yang mengantre dengan tertib.Wajah-wajah yang semula muram kini memancarkan secercah harapan."Terima kasih, Yang Mulia. Berkat dirimu, kami semua tidak perlu takut lagi mengalami kelaparan untuk musim dingin kali ini," ucap salah seorang nenek tua di desa itu.Tangannya yang keriput menggenggam tangan Mariana dengan penuh rasa syukur.Mariana hanya tersenyum riang. Senyumnya tampak cerah, hangat, seolah benar-benar menjadi cahaya di tengah udara dingin yang menggigit. Matanya melengkun
Pupil hijau gelap Aldren menatap pupil biru cerah Caelum dengan tatapan datar. Tidak ada emosi yang terlihat di wajahnya, tidak marah, tidak tersinggung, tidak juga terkejut. Terlalu tenang. Namun di balik ketenangan itu, ingatan lama menyusup tanpa permisi. Ia masih mengingatnya. Hari eksekusi itu. Kedua matanya ditutup kain hitam yang kasar, membuat dunia hanya tersisa suara dan bau darah yang samar. Lututnya dipaksa menyentuh tanah dingin. Angin membawa teriakan rakyat yang memekakkan telinga. "Bunuh dia!" "Bunuh raja tiran!" "Bunuh!" Ia tidak bisa melihat siapa pun. Namun ia bisa mendengar. Dan di antara teriakan itu, Suara Caelum. Berpidato dengan gagah berani. Tegas. Lantang. Tanpa ragu. Seolah dirinya adalah pahlawan yang akan membunuh iblis. Dan iblis itu adalah dirinya sendiri. "Rakyat-rakyatku sekalian... Aku sangat mengerti







