Share

{Bab 4} Perjanjian Pranikah

last update Tanggal publikasi: 2026-01-15 17:08:22

Kereta kuda yang mengangkut Alianne dan Raja Aldren perlahan bergerak ke arah Utara.

Derit roda kayu terdengar berirama, memecah keheningan padang rumput yang mulai ditinggalkan.

Kereta yang sebelumnya tersembunyi di antara semak-semak, kini keluar menuju sebuah jalan berbatu yang panjang dan luas, jalur utama yang jelas sering dilalui rombongan besar. Setiap guncangan roda terasa nyata, seolah menandai bahwa Alianne benar-benar sedang menjauh dari kehidupan lamanya.

Di luar kereta, belasan pasukan ksatria Aldren berjalan mengawal dengan formasi rapi. Langkah mereka serempak, armor logam beradu pelan satu sama lain. Dua orang sandera dari Kerajaan Aurenthia diseret di tengah barisan, tangan mereka terikat, wajah mereka tegang menahan takut dan malu.

Di dalam kereta kuda, suasananya jauh lebih sunyi.

Aldren duduk bersandar, satu lengannya bertumpu santai, namun sorot matanya tak pernah lepas dari Alianne. Sejak tadi, gadis itu sama sekali tidak menoleh ke arahnya. Alianne justru menatap keluar jendela kereta dengan mata berbinar, penuh kekaguman, seolah-olah dunia di luar sana adalah lukisan hidup yang baru pertama kali ia lihat.

Aldren berdehem pelan, suara rendah itu cukup untuk menarik perhatian. Alianne menoleh sekilas, hanya sepersekian detik sebelum kembali memalingkan wajahnya ke luar. "Kau bilang mau menjelaskan alasanmu nanti, kan? Jadi selama perjalanan, tidak perlu ada dialog di antara kita."

Aldren menghela napas panjang, napas yang terdengar berat namun terkendali.

"Bisa-bisanya ada rakyat jelata yang berani marah pada seorang raja."

"Aku tidak marah. Tapi jika kau merasa demikian, itu masalahmu sendiri." Alianne kembali menatap pemandangan di luar.

Jalan berbatu membuat kereta berguncang pelan, ritmenya terasa di tubuh. Langit masih cerah, namun semburat oranye mulai menggerogoti biru pucat di ufuk barat, pertanda sore yang perlahan datang. Burung-burung beterbangan rendah, satu per satu kembali ke sarang mereka.

"Yang mulia, berapa lama lagi kita akan sampai di Kerajaan Valtarian?" tanya Alianne dengan antusias, seolah baru ingat larangan dialog yang ia buat sendiri.

Aldren menopang kepalanya dengan kepalan tangan, menatap dingin ke arahnya. "Kau bilang, tidak perlu ada dialog di antara kita selama perjalanan."

Alianne memutar mata, jelas kesal. "Bagus! Kau membuatku merasa seperti menjilat ludahku sendiri."

Setelah itu, keheningan kembali menguasai ruang sempit kereta kuda.

Derak roda terus mengiringi perjalanan hingga akhirnya jalan berbatu itu membawa mereka mendekati sebuah tembok raksasa.

Tembok itu menjulang tinggi, kokoh, dan luas, membentang melingkari sebuah kerajaan besar di dalamnya. Beberapa penjaga berdiri di atas menara, tombak dan panah siap siaga, mata mereka mengawasi setiap rombongan yang mendekat.

Tembok batu itu bukan sekadar pertahanan. Ia seperti simbol pemisah antara dunia luar yang liar dan kehidupan di dalamnya yang tertata.

Mata Alianne membulat saat melihatnya melalui jendela kereta. Napasnya tertahan, kagum pada arsitektur yang berdiri begitu megah meski tanpa teknologi modern.

Perlahan, dua ekor kuda yang dikendalikan seorang kusir melangkah melewati gerbang besar, memasuki wilayah di dalam tembok.

Pemandangan pertama yang menyambut Alianne adalah pasar.

Pasar tradisional yang ramai langsung terbentang di depan mata. Suara teriakan para pedagang bersahut-sahutan, menawarkan kain, rempah, biji-bijian, hingga barang-barang asing yang jelas berasal dari negeri jauh. Bau roti panggang, daging asap, dan tanah bercampur memenuhi udara.

Bangunan-bangunan bergaya Eropa abad pertengahan berdiri rapat namun tertata rapi, jauh berbeda dari gedung-gedung tinggi dan rumah yang menumpuk tidak beraturan di dunia asal Alianne. Pemandangan itu membuat dadanya terasa sesak oleh rasa takjub.

Aldren tetap di posisinya. Ia memperhatikan Alianne dengan tatapan tajam yang tersembunyi di balik ekspresi tenangnya, menganalisis setiap reaksi kecil, setiap napas tertahan, setiap kilau mata. Ia sedang memastikan sesuatu.

"Ini adalah Pasar Serikat Valtaria. Pusat perdagangan yang menjual barang baik ekspor maupun impor. Penduduk kami sepenuhnya bergantung pada perputaran ekonomi melalui perdagangan dan pertanian."

Suara Aldren yang tiba-tiba itu membuat Alianne menoleh cepat, wajahnya langsung dipenuhi semangat.

Dengan antusias, ia bertanya, "Lalu, tembok besar tadi namanya apa?"

"Tembok besar tadi bernama Perak Selatan. Karena gerbang itu adalah gerbang yang menjadi pintu utama untuk kerajaan di Selatan, kerajaan Aurenthia."

"Lalu nama jalan berbatu yang besar itu?" tanya Alianne lagi.

"Itu adalah Jalur Valen-Auren. Jalan utama yang menghubungkan kerajaan Valtarian dan Aurenthia. Dua negara yang saling bertetangga meski saling berbeda ideologi."

Aldren menatap Alianne dengan santai, jelas siap menjawab pertanyaan berikutnya. Senyum tipis mengejek terukir di sudut bibirnya. "Ada lagi yang ingin kau ketahui, manusia yang bukan dari dunia ini?"

Alianne mendengus kesal. "Kenapa kau selalu menuduhku bukan dari dunia ini? Aku adalah rakyat jelata yang tinggal di pedesaan. Masuk akal jika aku tidak tahu dunia luar."

Aldren hanya mengangguk singkat. Gerakannya tenang, terlalu tenang. Jelas menunjukkan bahwa anggukan itu bukan tanda percaya, melainkan sekadar cara elegan untuk mengakhiri perdebatan.

Alianne menangkapnya. Ia menoleh, menatap Aldren dengan sorot mata yang tidak lagi sekadar penasaran, melainkan mengamati. Seolah-olah sedang membedah seseorang yang berdiri di balik lapisan dingin dan kekuasaan. "Kau terlihat seperti seseorang yang sudah pernah mati karena orang terpercaya. Hingga akhirnya tidak bisa percaya pada siapapun lagi."

Ucapan itu meluncur begitu saja, ringan, namun menghantam tepat sasaran.

Aldren tidak menunjukkan keterkejutan. Ia hanya bersandar lebih santai di kursinya, sikap yang bertolak belakang dengan makna kata-kata Alianne. "Bisa dibilang seperti itu." Jawaban singkat. Tidak ada pembelaan. Tidak ada bantahan.

Alianne menyipitkan mata, lalu tersenyum samar. "Jadi, kenapa malah memutuskan menikah denganku? Kau tidak takut akan membunuhmu saat sudah jadi ratu nanti seperti apa yang dilakukan ratu Seraphine pada suaminya?"

Senyumnya berubah jahat, sengaja memancing reaksi. Namun Aldren hanya mengangkat sebelah alisnya, ekspresinya datar, nyaris malas.

"Itu beda kasus! Kalau kau ingin membunuhku, maka yang akan diangkat menjadi raja adalah adikku yang jelas-jelas laki-laki dan darah murni raja sebelumnya," jawab Aldren santai, seolah sedang membicarakan cuaca. "Dunia ini tidak semudah seperti yang kau bayangkan."

Alianne mendengus pelan. "Dunia patriarki, ya?" tanyanya memastikan. "Apakah alasanmu menikahiku juga karena patriarki?"

Aldren meluruskan duduknya. Suasana di dalam kereta seakan berubah. Udara terasa lebih berat. "Bisa ya dan tidak."

Ia menatap Alianne langsung, tanpa senyum, tanpa topeng.

"Singkatnya, kondisimu saat ini hanya memungkinkan selamat jika kau menikah dengan seseorang yang memiliki kekuasaan. Lagi pula, aku masih membutuhkan orang cerdas seperti dirimu untuk kemajuan kerajaan."

Alianne terdiam sejenak, lalu matanya berbinar, terlalu cepat untuk seseorang yang seharusnya terpojok. "Kenapa tidak menjadikan diriku sejenis seperti tabib istana atau bagian administrasi? Bagian akuntan atau apapun juga boleh!"

Nada suaranya naik penuh harapan. "Kebetulan aku belum memiliki pekerjaan! Jika aku menjadi anak buahmu, itu juga bisa melindungiku dari tuduhan penyihir, kan? Kau bisa melindungiku sebagai raja dan atasan."

Aldren tersenyum miring. Senyum yang tidak kejam, tapi dingin. "Kau ini tinggal di dunia seperti apa? Lihatlah dirimu sendiri! Anak perempuan dari keluarga miskin, berharap mendapatkan pekerjaan semacam itu di kerajaan. Bahkan wanita miskin paling ambisius tidak akan kepikiran hal itu."

Kata-kata itu menghantam telak.

Alianne memijat pelipisnya, bahunya sedikit turun. "Jadi, kau menikahiku juga sebagai bentuk dari mengambil celah sistem agar aku tetap terlindungi dan punya kekuasaan?"

Aldren mengangguk. "Bisa dibilang seperti itu." Ia lalu menoleh ke arah jendela. Sorot matanya meredup, seolah memikul beban yang tidak bisa dibagi dengan siapa pun. "Bisa dibilang, aku sedang mencari penyihir dari dunia lain. Dan aku yakin itu adalah dirimu."

Jantung Alianne berdegup lebih cepat.

Namun alih-alih panik, ia justru tersenyum nakal, penuh perhitungan.

"Baiklah, kalau begitu, aku ingin mengajukan perjanjian pranikah!"

Aldren menoleh, menatapnya santai, seolah sudah menduga arah pembicaraan ini. "Katakan!"

"Satu!" Alianne mengangkat jari telunjuknya tepat di depan wajah Aldren. "Kau tidak boleh menyentuhku tanpa izin, sedikitpun!"

Aldren mengangguk. Tapi kali ini tatapannya berubah lebih serius. "Kecuali jika kau dalam bahaya! Setuju?"

Alianne terdiam sesaat. 'Licik.'

Namun akhirnya ia mengangguk. "Baiklah."

"Selanjutnya!" titah Aldren.

"Dua!" Alianne mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya. "Nafkah sifatnya wajib! Meskipun aku hanya bermalas-malasan di istana, kau tetap harus memberiku uang!"

Aldren mengangguk tanpa ragu. "Selanjutnya?"

"Tiga!" Alianne mengangkat tiga jarinya sekaligus. "Aku tidak mau bekerja! Aku mau bermalas-malasan di istana! Aku tidak mau melakukan pekerjaan apapun termasuk urusan domestik. Kecuali jika kau mau memberi bayaran tambahan."

Aldren mengangguk lagi, tenang, nyaris terlalu mudah. "Ada lagi?"

Alianne membulatkan mata, merasa sangat terkejut dengan respon Aldren. "Yang benar saja! Kau menyetujui semua itu?"

Aldren menatap Alianne tajam. Aura dingin dan dominan itu kembali menekan ruang di antara mereka. "Kenapa? Jangan bilang bahwa perjanjian yang kau sebutkan tadi adalah strategi untuk membuat tekadku untuk menikahimu, goyah?"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Terjerat Pernikahan Raja Villain Tirani    {Bab 199} Syarat Pemilihan Umum

    "Yang Mulia Duke telah menyerang barak militer, menyerang pasukan kami, bahkan menyerangku dan ayahku juga. Kemudian, barulah dia menculik para tabib."Suara itu keluar dengan tegas, meski masih tersisa getaran emosi yang belum sepenuhnya stabil. Orang-orang yang dibawa oleh Thalira berdiri dengan canggung, namun keberanian mereka perlahan tumbuh di bawah sorotan semua mata yang kini tertuju pada mereka."Itu benar!" ucap salah seorang tabib, suaranya gemetar ketakutan. "Kami semua diikat dan diseret paksa. Kami tidak bisa melawan sama sekali."Ia menunduk, tangannya saling menggenggam erat seolah mencoba menahan ingatan yang masih segar di benaknya."Kami sangat ketakutan... Saat itu hanya sedikit pasukan yang berjaga di barak militer. Kami sama sekali tidak bisa membela diri."Setiap kata yang mereka ucapkan menambah beban yang menekan Leon. Tuduhan demi tuduhan kini bukan lagi sekadar dugaan, melainkan rangkaian kesaksian yang saling m

  • Terjerat Pernikahan Raja Villain Tirani    {Bab 198} Kumpulan Bukti

    "Jawabannya sudah jelas!"Suara itu memotong ketegangan yang menggantung, tajam namun tetap terkontrol. Elyana melangkah maju dari barisan belakang dengan gerakan anggun yang kontras dengan kekacauan di sekitarnya. Setiap langkahnya terukur, seolah ia telah menunggu momen ini sejak awal.Di tangannya, selembar surat terangkat jelas untuk dilihat semua orang.Dia menunjukkan surat yang bertuliskan pemberhentian anggaran untuk Count Arcelmont."Yang Mulia Duke memang menghentikan anggaran untuk Count Arcelmont."Kalimat itu sederhana, tetapi dampaknya langsung terasa. Beberapa bangsawan saling bertukar pandang, sementara rakyat mulai mengangkat kepala mereka sedikit lebih tinggi, mencoba melihat bukti yang ditunjukkan.Leon yang masih berada di tanah menggerakkan tubuhnya dengan susah payah. Wajahnya kotor, napasnya tidak teratur, namun sorot matanya tetap menyala. Ia tidak berniat menyerah begitu saja."Kalau mau menyalah

  • Terjerat Pernikahan Raja Villain Tirani    {Bab 197} Siapa yang Jahat?

    Alianne melangkah maju tanpa ragu, posisinya kini sejajar dengan Aldren. Tatapannya tajam, tidak menunjukkan sedikit pun keraguan meski berada di tengah para bangsawan dan rakyat yang menyaksikan. Dengan gerakan yang jelas dan tegas, ia mengangkat tangannya lalu menunjuk Leon dengan sangat tidak hormat."Aku, Alianne, ratu kerajaan Valtarian, memberi saran untuk mencabut Leon dari jabatannya sebagai duke."Kata-kata itu jatuh seperti petir di siang bolong.Semua orang terdiam. Tidak ada bisikan, tidak ada gerakan. Bahkan udara terasa berat, seolah menekan dada setiap orang yang hadir. Beberapa bangsawan menahan napas, sementara rakyat hanya bisa saling berpandangan dengan mata melebar, mencoba mencerna apa yang baru saja mereka dengar.Leon tetap berlutut, namun bahunya sedikit bergetar. Lalu, perlahan, suara tawa kecil keluar dari bibirnya.Leon terkekeh pelan, mencoba menghibur dirinya sendiri."Mencabut jabatan? Apa-apaan ini?"Nada suaranya terdengar meremehkan, tetapi ada retakan

  • Terjerat Pernikahan Raja Villain Tirani    {Bab 196} Hukuman untuk Duke Utara

    "Biarkan kami masuk!""Kami menderita menghadapi musim dingin andai jika Yang Mulia Raja tidak membantu kami!""Biarkan kami bertemu Yang Mulia Duke!"Teriakan itu bergema tanpa henti, saling bertumpuk hingga menciptakan riuh yang memekakkan telinga. Halaman depan kediaman. Wajah-wajah pucat, pakaian lusuh, serta mata penuh keputusasaan memenuhi setiap sudut gerbang besi yang tertutup rapat.Di kejauhan, Alianne berdiri dengan sikap santai, seolah semua kekacauan itu hanyalah pertunjukan yang telah lama ia nantikan. Tatapannya menyapu kerumunan, memperhatikan setiap detail dengan cermat, sebelum senyum tipis terukir di bibirnya. "Sudah dimulai ternyata. Silakan, para aktor!"Dari dalam halaman, langkah kaki tergesa terdengar mendekat. Leon muncul lebih dulu, wajahnya tegang dan napasnya sedikit memburu. Ia berjalan cepat menuju gerbang, matanya membesar melihat kerumunan yang nyaris tak terkendali."Apa-apaan ini?!" bentaknya, suaranya meninggi, berusaha menutupi kegelisahan yang mula

  • Terjerat Pernikahan Raja Villain Tirani    {Bab 195} Dia Duluan

    Sementara itu di kumpulan pria...Suasana di sisi ini tampak lebih tenang di permukaan, namun percakapan yang terjadi memiliki bobot yang berbeda. Tidak ada tawa berlebihan atau sikap mencolok, hanya tatapan-tatapan tajam dan kata-kata yang dipilih dengan hati-hati.Aldren berdiri dengan postur tegap, tetapi perhatiannya tidak sepenuhnya tertuju pada percakapan di sekitarnya. Matanya justru mengarah pada seorang pria di depannya yang tampak tidak fokus, seolah pikirannya berada di tempat lain.Aldren mempersempit pandangannya.Dengan rasa penasaran, Aldren mengikuti arah pandangan pria itu. Tatapannya menembus kerumunan tamu, melewati gaun-gaun mewah dan jas formal, hingga akhirnya berhenti pada satu titik.Di sana, Alianne dan Magnolia terlihat berdiri berdekatan.Keduanya tampak akrab, berbicara dengan santai seolah sudah saling mengenal cukup lama. Gestur mereka terbuka, tidak ada jarak, tidak ada kecanggungan.Aldren mengangkat alisnya tipis."Erylus, istrimu dan istriku cepat ber

  • Terjerat Pernikahan Raja Villain Tirani    {Bab 194} Ditinggalkan

    Leon berdiri tegap di altar, tangannya bergerak perlahan namun pasti saat mengambil cincin itu. Cahaya lilin memantul pada permukaan logamnya, menciptakan kilau kecil yang terasa hampir menyilaukan di tengah suasana yang hening.Mariana mengulurkan tangannya.Untuk sesaat, waktu seolah melambat.Leon memakaikan cincin pada Mariana, bagian yang sangat sakral dalam sebuah pernikahan. Tidak ada suara yang benar-benar hilang, namun semua terasa teredam, seolah seluruh dunia memberi ruang bagi momen itu untuk terjadi tanpa gangguan.Namun, ketenangan itu tidak sepenuhnya menjangkau setiap sudut ruangan.Sementara itu di bagian para tamu...Bisikan mulai muncul lagi, kali ini lebih tajam, lebih terbuka, dan tidak lagi berusaha disembunyikan."Lihatlah mereka! Mereka sama sekali tidak terlihat seperti bangsawan!""Benar-benar menjijikkan! Apa lagi wanita di sana adalah seorang ratu. Aku tidak sudi memanggilnya dengan panggilan Yang Mulia Ratu."Nada suara itu dipenuhi rasa muak yang terang-t

  • Terjerat Pernikahan Raja Villain Tirani    {Bab 143} Gosip

    "Jadi... Yang Mulia!" Magnus menoleh ke arah Aldren yang duduk di kursi di dalam kamar tamu yang saat itu sedang ditempatinya. Sorot matanya tampak santai, tetapi ada kilatan rasa penasaran di sana. Ia menyandarkan bahu pada sandaran kursi, seolah topik yang hendak ia lontarkan hanyalah percakapa

  • Terjerat Pernikahan Raja Villain Tirani    {Bab 142} Tidak Ada yang Pantas Disalahkan

    "Hah..." Aldren menarik napas panjang. Dan tiba-tiba, ia tertawa. Bukan tawa kecil. Bukan juga tawa sinis. Melainkan tawa terbahak-bahak yang terdengar begitu lepas hingga menggema di lorong panjang itu. Suaranya bahkan terdengar sangat geli. Seolah sesuatu yang sangat lucu baru saja terjadi.

  • Terjerat Pernikahan Raja Villain Tirani    {Bab 140} Rasa Tidak Pantas

    Suasana lorong yang semula dipenuhi bisikan dan keheningan tiba-tiba pecah."Alianne!" Suara Caelum Valtazar menggema penuh emosi. Dalam beberapa langkah cepat, ia sudah berdiri tepat di depan Alianne. Tanpa memberi ruang untuk menjauh tinju Caelum menghantam dinding lorong di samping ke

  • Terjerat Pernikahan Raja Villain Tirani    {Bab 138} Dua Alasan

    Langkah kaki Hery dan Caelum Valtazar perlahan menjauh dari ruang tengah kediaman Count Arcelmont. Suara pintu yang tertutup pelan menjadi tanda berakhirnya keributan yang sejak tadi memenuhi ruangan itu.Kini yang tersisa hanya dua orang. Aldren Valtazar dan Magnus Valzaren. Serta kehen

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status