LOGIN"Jadi... Yang Mulia!" Magnus menoleh ke arah Aldren yang duduk di kursi di dalam kamar tamu yang saat itu sedang ditempatinya. Sorot matanya tampak santai, tetapi ada kilatan rasa penasaran di sana. Ia menyandarkan bahu pada sandaran kursi, seolah topik yang hendak ia lontarkan hanyalah percakapan ringan untuk mengusir bosan. "Apa kau pernah memberi Alianne sesuatu seperti bunga?"
Aldren bahkan tidak membutuhkan waktu untuk berpikir. Kepalanya langsung bergerak pelan, menggeleng dengSetetes air mata kembali jatuh, membasahi pipi Alianne tanpa bisa ia tahan. Seolah bendungan yang selama ini ia bangun runtuh begitu saja.Aldren tidak mengatakan apa pun pada awalnya. Ia hanya mengangkat tangannya perlahan, lalu dengan sangat hati-hati menghapus air mata yang terus mengalir di wajah Alianne. Sentuhannya ringan, nyaris tak terasa. Namun justru itu yang membuat pertahanan Alianne semakin goyah."Meskipun suatu hari kau kembali ke tubuh asalmu dan aku memiliki kesempatan untuk menyentuhnya, aku tetap tidak akan menyentuhnya dengan tujuan melukai."Nada suaranya rendah. Stabil. Tidak tergesa-gesa. Seolah setiap kata telah ia timbang dengan sangat matang.Tanpa memberi ruang bagi Alianne untuk menjauh, Aldren memutar tubuhnya perlahan hingga kini mereka saling berhadapan. Gerakannya tenang, tetapi pasti, tidak memaksa, namun juga tidak memberi celah untuk menolak.Lalu ia menarik Alianne ke dalam pelukannya. Dekapan itu hanga
'Kenapa dia selalu memanggil menggunakan nama asliku?' batin Alianne, alisnya sedikit berkerut meski tangannya tetap bekerja. 'Dia memang mengatakan lebih suka jiwaku daripada tubuhku. Tapi... itu hanya gombalan semata saja! Fix!'Ia menghela napas pelan, memaksa pikirannya kembali ke situasi yang jauh lebih mendesak. Luka. Darah. Dan waktu yang tidak bisa disia-siakan.Tanpa ragu, Alianne kembali fokus pada lengan kiri Aldren. Dengan gerakan cepat namun tetap terukur, ia mulai membalut luka itu menggunakan kain basah yang telah ia siapkan sebelumnya. Kain itu dililitkan dengan tekanan yang pas, cukup kuat untuk menahan aliran darah, tetapi tidak sampai membuat sirkulasi terhambat.Setiap lilitan terasa krusial. Setiap simpul harus tepat."Jangan dilepas sebelum darahnya benar-benar berhenti!" titah Alianne tegas, nyaris seperti perintah yang tidak boleh ditawar.Namun respons yang ia terima justru bertolak belakang. Aldren hanya tersenyu
Alianne kembali memusatkan seluruh perhatiannya pada Aldren. Tanpa ragu, tangannya bergerak cepat membuka satu per satu kancing pakaian pria itu. Setiap bunyi kecil dari kancing yang terlepas terasa begitu jelas di tengah suasana yang tegang. Begitu semuanya terbuka, ia menarik pakaian itu hingga tersingkap sepenuhnya.Namun, di baliknya, masih ada lapisan jirah besi yang menutupi bagian vital.'Sepertinya bagian ini aman,' batin Alianne, matanya menyapu permukaan logam itu dengan cermat. 'Tapi tetap saja. Ini jirah besi! Jika dibiarkan dan ternyata di dalamnya ada luka, luka sekecil apapun akan bergesekan dengan besi dan semakin bertambah parah.'Rahangnya mengeras. Ia tidak punya pilihan selain memastikan."Aldren!" Alianne menatap suaminya dengan sorot mata serius, nyaris menekan. "Jirah besinya boleh ikut dibuka saja untuk sementara? Nanti jika ternyata tidak ada luka sama sekali di dalam, kau boleh memakainya lagi. Aku tahu itu untuk melindun
"Tapi—""Tapi apa?" Suara Alianne memotong ucapan Aldren dengan keras. Nada suaranya tajam, tidak memberi ruang untuk bantahan. Ia bahkan tidak menunggu Aldren menyelesaikan kalimatnya. Dengan gerakan cepat, Alianne menunjuk ke arah lengan kiri Aldren."Lihat ini! Ini masih menancap di sini! Jika kau memaksakan diri untuk menggendong orang lain, ada kemungkinan orang tersebut malah ikut tertusuk panah ini dan membuat luka orang itu semakin parah!"Anak panah itu masih tertancap dalam. Ujungnya berlumuran darah, sebagian sudah mengering, sebagian lagi masih merembes perlahan. Setiap gerakan kecil dari Aldren membuat luka itu sedikit bergeser, cukup untuk memperparah kondisi tanpa ia sadari.Aldren terdiam. Matanya menatap luka itu sejenak."Masuk, akal. Baiklah. Aku akan membersihkan lukaku dulu," ucap Aldren akhirnya. Nada suaranya lebih rendah dan lebih tenang. Namun ada sedikit keengganan yang masih tersisa.Ia berjalan ke arah
Alianne berlari tanpa menoleh ke belakang, napasnya teratur meski langkahnya cepat. Serpihan pilar tak terlihat itu masih berada dalam genggamannya, digunakan berulang kali untuk menggores batang-batang pohon yang ia lewati.Setiap goresan meninggalkan tanda panah yang jelas, arah keluar.Di belakangnya, Serin mengikuti dengan langkah tergesa, sesekali menoleh ke arah hutan yang mereka tinggalkan.Suara-suara dari dalam hutan mulai memudar. Digantikan oleh suara air. Semakin lama, semakin jelas. Hingga akhirnya Alianne dan Serin keluar dari kawasan hutan. Langkah mereka melambat secara refleks.Di hadapan mereka, ruang terbuka terbentang. Pepohonan masih ada, namun jauh lebih jarang. Sinar matahari menembus celah-celah daun tanpa terhalang, menyinari tanah dengan terang yang hampir menyilaukan setelah kegelapan hutan.Di samping mereka, sungai mengalir dengan jernih.Airnya berkilau, memantulkan cahaya matahari seperti lembaran k
"Kalian cocok, deh! Kapan menikah?" tanya Alianne yang otaknya langsung membentuk ship baru.Ucapan itu meluncur begitu saja dengan ringan, nyaris tidak selaras dengan suasana mencekam yang masih menyelimuti hutan. "Sekarang bukan waktunya untuk itu!" ucap Aldren. Suaranya tegas, hampir memotong udara.Ia memegangi lengan kirinya sendiri yang masih tertancap anak panah. Darah mengalir perlahan dari luka itu, membasahi lengan bajunya. Otot-otot di rahangnya mengencang, menahan rasa sakit yang jelas belum mereda."Yang harus kita lakukan sekarang adalah... Membawa keluar semua orang dari hutan ini untuk menghindari serangan lanjutan." Nada bicaranya tidak memberi ruang untuk bantahan.Aldren menoleh ke belakang. Tatapannya menyapu seluruh pasukan yang berdiri, yang terhuyung, yang bahkan hampir tak sanggup bangkit."Semua yang bisa berjalan, bawa semua orang yang terluka untuk keluar dari hutan secepatnya!" Perintah itu jatuh sepe







