๋ก๊ทธ์ธSuasana lorong yang semula dipenuhi bisikan dan keheningan tiba-tiba pecah.
"Alianne!" Suara Caelum Valtazar menggema penuh emosi. Dalam beberapa langkah cepat, ia sudah berdiri tepat di depan Alianne. Tanpa memberi ruang untuk menjauh tinju Caelum menghantam dinding lorong di samping kepala Alianne.Benturan keras itu memantul di sepanjang lorong batu. Retakan tipis menjalar di permukaan dinding, sementara kulit di buku-buku jari Caelum langsung robek. Darah segar merembesPasukan kuda itu kini bergerak dalam barisan rapi, meninggalkan kediaman Count Arcelmont perlahan namun pasti. Derap kaki kuda terdengar berirama, menyatu dengan hembusan angin pagi yang masih dingin. Di salah satu kuda terdepan, Alianne duduk di depan Aldren. Tubuhnya sedikit condong ke depan, matanya menatap lurus ke arah jalan yang membentang. Senyuman tipis terukir di wajahnya. Matanya berbinar. Ada sesuatu dalam ekspresinya, bebas, ringan, seolah untuk sesaat ia melupakan semua beban yang kemarin menghimpitnya. 'Apa dia sangat suka naik kuda?' Aldren memperhatikan dari belakang. Ia tidak berkata apa-apa sejenak, hanya mengamati perubahan kecil itu. "Kau sepertinya sangat suka naik kuda, ya? Sepertinya aku harus mengajarimu cara menunggangi kuda agar kau bisa menaiki kuda sendiri." Suaranya tenang, tetap menjaga wibawa, namun tidak sepenuhnya dingin. "Benarkah?" Alianne langsung menoleh ke belakang, wajahnya begitu dekat dengan Aldren. Tatapannya penuh antusias, jujur, tanpa
Pagi hari kembali menyambut kediaman Count Arcelmont.Langit masih diselimuti warna pucat fajar, sementara embun tipis menggantung di dedaunan. Udara terasa dingin, menusuk perlahan, seolah mengingatkan bahwa malam yang panjang baru saja berlalu.Namun suasana di halaman depan sudah hidup.Beberapa kuda berdiri berjajar, napas mereka mengepul di udara dingin. Kereta-kereta kuda telah dipersiapkan, roda-rodanya diam namun siap bergerak kapan saja. Para pelayan mondar-mandir, memastikan semua kebutuhan perjalanan telah terpenuhi.Hari perpisahan. Atau setidaknyaโฆ jeda sebelum pertemuan berikutnya."Paman, terima kasih telah menjamu dan menyediakan tempat menginap yang aman untuk kami," ucap Aldren dengan tulus sebagai seorang keponakan. Suaranya tenang, namun jelas membawa beban yang belum sepenuhnya hilang. "Sekarang kami akan segera kembali ke kediaman kami masing-masing. Sampai bertemu lagi di pesta pernikahan Leon."Edward berdiri di hadapannya. Ia tidak langsung menjawab. Tangannya
Di ruang tengah, pintu kembali terbuka. Aldren melangkah masuk.Suasana yang sebelumnya sudah berat kini terasa semakin padat, seolah udara di ruangan itu mengeras. Semua mata langsung tertuju padanya, bukan dengan rasa ingin tahu, melainkan dengan tekanan yang tidak diucapkan.Belum sempat Aldren berbicaraโ"Kenapa kau balik lagi ke sini, kakak?" Suara Caelum langsung memotong. Tatapannya kesal, tajam, tanpa basa-basi. Ia bahkan mengangkat jari telunjuknya, menunjuk lurus ke arah pintu yang baru saja dilalui Aldren. "Kembali lagi ke istrimu! Dia sedang membutuhkanmu sekarang!" Nada suaranya tinggi, mendesak, hampir seperti perintah. Tidak memberi ruang untuk penolakan."Itu benar!" Edward menyusul dengan cepat. Ia berdiri setengah dari duduknya, ekspresinya serius. "Kami semua di sini sudah paham posisimu. Tidak ada lagi yang perlu dijelaskan." Kata-katanya tegas, memperkuat tekanan yang sudah ada.Aldren terdiam sejenak. Tatapannya meny
"Aku sudah menjawab pertanyaanmu tentang pendapatku tentangmu. Aku setuju denganmu. Tapi kita tetap berbeda. Kau masih bisa merasa bersalah karena membunuh orang tuamu bahkan menerima saat ada yang menganggap mu iblis. Aku? Tidak ada rasa bersalah sama sekali saat aku meninggalkan orang tuaku untuk merantau di kota. Aku bahkan memutus hubungan dari mereka sepenuhnya."Suara Alianne terdengar stabil untuk seseorang yang matanya mulai dipenuhi air. Namun setiap kata yang keluar terasa seperti potongan-potongan tajam yang dilemparkan tanpa ragu.Mata Alianne semakin kabur. Air mata yang menggenang membuat pandangannya pecah, seolah dunia di depannya retak menjadi serpihan yang tidak lagi utuh."Kau selalu mencoba menjadi layak untukku. Tapi pernahkah kau berpikir apakah aku layak untukmu?"Pertanyaan itu tidak keras. Namun justru karena itu, dampaknya terasa lebih dalam. Seperti sesuatu yang selama ini ia tahanโฆ akhirnya keluar tanpa filter.
Alianne terdiam.Tubuhnya masih berada di ruangan itu, namun pikirannya seolah terseret jauh. Jatuh ke dalam ruang gelap yang tiba-tiba terbuka tanpa peringatan.Seketika, ingatan-ingatan dari dunia asalnya menyeruak naik ke permukaan."Kau itu anak perempuan, harus memakai hijab, pakaian tertutup yang menutupi seluruh tubuh, tidak boleh menampakkan lekuk tubuh sama sekali!"Suara itu menggema keras. Tidak hanya terdengar, tetapi terasa, seperti menghantam langsung ke kepalanya."Jangan keluar rumah tanpa keluarga! Atau kau mau mendapatkan perlakuan buruk dari laki-laki?!"Suara lain menyusul, tumpang tindih, saling menekan."Untuk apa kuliah tinggi-tinggi? Perempuan itu tempatnya di dapur, sumur, kasur!""Perempuan adalah aurat! Bahkan suaranya saja bisa menjadi fitnah dan dosa besar untuk laki-laki!"Semua suara itu datang bersamaan.Seolah ribuan orang berbicara di saat yang sama, memaksakan
Alianne yang duduk di sofa perlahan mengangkat sebelah tangan. Gerakannya tenang, namun cukup untuk menarik perhatian semua orang di ruangan itu. "Aku setuju dengan apa yang dilakukan Raja Aldren."Semua mata sontak menoleh ke arahnya. Beberapa penuh keterkejutan, yang lain mengandung penilaian tajam. Pernyataan itu bukan sekadar opini, itu seperti percikan api di tengah tumpukan jerami."Di masa depan atau tepatnya di dunia asalku, memang ada yang namanya hukuman mati untuk koruptor. Jika semua bukti sudah terpenuhi. Dari yang diceritakan Aldren, buktinya sudah sangat jelas mulai dari ketidaktersediaan peralatan medis untuk ksatria, mungkin juga korupsi pupuk dan benih tanaman, juga menghamburkan dana kerajaan untuk pesta pribadi."Nada suaranya datar, nyaris tanpa emosi. Justru itu yang membuat kata-katanya terasa lebih berat. Tidak ada keraguan. Tidak ada goyah.Alianne menatap Aldren dengan sorot mata tajam, penuh rasa ingin tahu yang terukur.







