Share

Di Ujung Tenaga

Penulis: THANISA
last update Terakhir Diperbarui: 2025-03-20 10:23:51
Ruang operasi penuh dengan keheningan yang mendebarkan. Alat-alat medis berdenting pelan, suster-suster dan asisten bedah bekerja cepat, mengikuti instruksi Elera yang tegas dan fokus.

Sudah hampir enam jam berlalu sejak operasi dimulai—operasi yang rumit, melibatkan trauma parah di bagian toraks dan perut. Semua mata tertuju pada Elera. Meski kelelahan sudah tampak jelas di wajahnya, dia tetap berdiri, tangan tetap stabil, matanya tajam.

Tak ada yang tahu, semalaman Elera tak bisa tidur karena mimpi buruk tentang masa lalu dan segala kekacauan yang menimpa hidupnya akhir-akhir ini. Tapi saat berada di ruang operasi, semua itu menghilang. Di sana, dia adalah dokter. Penolong. Seseorang yang tak boleh gagal.

Tangan bersarung lateksnya bergetar sedikit saat akhirnya dia meletakkan alat bedah terakhir. “Jahit luka bagian bawah… hati-hati,” ujarnya lirih.

Asisten bedah mengangguk dan melanjutkan prosedur dengan cekatan.

Elera melepas sarung tangan, menyenderkan tubuh ke dinding untuk sejen
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Terjerat Pesona Mafia, Aku Tawanan Cintanya   Retakan yang Tidak Bersuar

    Malam turun pelan di mansion Santiago, terlalu pelan sampai terasa mencurigakan.Si kembar terbaring di boks bayi, satu mengoceh tanpa arah, satu lagi sibuk menarik kaus Leon yang sedang duduk di lantai. Alfa membangun benteng dari bantal—kali ini serius, struktur segitiga, “anti serangan monster,” katanya.“Papa, kamu jaga pintu,” perintah Alfa.Leon menurut. Duduk tegak, wajah serius. “Siap. Papa di sini.”Elera berdiri di ambang pintu, menyandarkan bahu. Lelahnya hari itu belum hilang, tapi melihat pemandangan ini—anak-anak, Leon yang rela jadi penjaga benteng—ada hangat yang menambal retakan kecil di dadanya.Kai memperhatikan dari kejauhan.Ia selalu begitu. Tidak masuk ke tengah lingkaran, tapi memastikan lingkaran itu aman.Dante muncul membawa dua gelas kopi. Menyodorkan satu ke Kai. “Kamu tahu nggak,” katanya pelan, “orang normal kalau bahagia tuh santai.”Kai menyesap. “Aku nggak daftar jadi orang normal.”“Ketahuan.”Mereka saling pandang. Ada humor di situ, tapi juga kelel

  • Terjerat Pesona Mafia, Aku Tawanan Cintanya   Yang Terlihat Aman

    Hari itu terlalu normal untuk keluarga Santiago.Dan justru itu yang bikin Kai gelisah.Alfa berangkat sekolah sambil menyeret tas yang hampir lebih besar dari badannya. Si kembar dititipkan ke Elera—satu di gendongan, satu lagi menggenggam jas dokternya seolah itu pegangan hidup. Leon berdiri di pintu, merapikan kerah seragam Alfa dengan wajah papa yang kelihatan galak tapi isinya marshmallow.“Papa,” Alfa mendongak, “hari ini family day. Papa sama Mama dateng kan?”Leon menoleh ke Elera.Elera tersenyum. Capek, tapi hangat.“Tentu,” jawab Leon mantap. “Papa nggak pernah bolos acara penting.”Alfa mengangguk puas. Dunia aman lagi.Kai berdiri sedikit menjauh, memperhatikan semuanya seperti biasa. Bukan karena dia tidak ikut bahagia—justru karena dia terlalu paham betapa rapuhnya momen seperti ini.Bahagia itu… mahal.Dan selalu ada yang mau menagih.~~~~Rumah kembali sepi setelah semua berangkat.Kai masuk ke ruang kerjanya. Pintu ditutup. Dikunci. Tirai ditarik.Di layar, sistem ke

  • Terjerat Pesona Mafia, Aku Tawanan Cintanya    Saat Penjaga Memilih Diam

    Sistem Santiago tidak pernah benar-benar tidur. Tapi malam itu, ia bernapas berbeda.Di salah satu cabang server yang bahkan Leon Santiago jarang sentuh, muncul denyut kecil—bukan alarm, bukan kesalahan fatal. Hanya anomali mikro, seperti jari asing yang sekadar menguji permukaan air.Kai merasakannya.Ia sedang duduk di kamar dengan pakaian rumah, tablet di pangkuan, ketika layar menyala sendiri. Tidak berbunyi. Tidak panik. Justru terlalu tenang.Shadow layer pinged.Kai menegakkan punggung. Napasnya tertahan setengah detik, lalu kembali stabil.“Cepat juga,” gumamnya.Jarinya bergerak cepat, membuka jalur cadangan, menghubungkan ke node yang bahkan Dante tidak tahu keberadaannya. Ini bukan serangan langsung. Ini uji nyali. Uji reaksi.“Mereka ngendus,” katanya pelan pada tim IT di kanal privat. “Bukan mau masuk. Cuma mau tahu kita bangun atau tidur.”Di layar, grafik bergerak perlahan. Jalurnya rapi. Profesional.“Biarkan,” perintah Kai. “Tapi tanam umpan. Bikin sistem kelihatan tu

  • Terjerat Pesona Mafia, Aku Tawanan Cintanya   Hari yang Kami Izinkan untuk Bahagia

    Di lapangan sekolah itu terlalu ramai untuk dunia mereka yang biasanya sunyi dan penuh perhitungan.Leon berdiri di bawah tenda kecil, memegang dua gelas minuman anak-anak, kebingungan sendiri melihat Alfa berlari ke sana kemari dengan wajah paling bahagia yang pernah ia punya.“Dia nggak capek?” Leon bertanya pelan.Elera menggeleng, tersenyum. “Dia capek kalau kita pulang.”Alfa tiba-tiba berhenti di depan mereka. “Ayah, Mama, foto!”Seorang guru sudah siap dengan kamera. Leon refleks meraih bahu Elera. Gerakan kecil, spontan, seolah itu sudah kebiasaan lama sebelum dunia jadi ribut.Klik.Momen itu singkat. Tapi cukup untuk membuat Kai yang berdiri agak jauh menahan napas.Ia melihat mereka seperti melihat sesuatu yang rapuh tapi keras kepala. Cinta yang tumbuh di tanah berbahaya, tapi tetap mekar.Si kembar mulai ribut di stroller. Satu mengoceh sambil menunjuk balon, satu lagi mencoba berdiri, gagal, lalu tertawa keras seolah kegagalan itu lucu.“Dia nertawain hidup,” komentar Da

  • Terjerat Pesona Mafia, Aku Tawanan Cintanya   Rumah yang Tetap Bernapas

    Pagi datang tanpa alarm.Tidak ada suara notifikasi, tidak ada panggilan darurat, hanya cahaya matahari yang menyelinap lewat tirai tipis dan tawa kecil yang belum fasih bicara.Si kembar sudah merangkak. Bukan pelan-pelan lagi—mereka seperti sedang balapan tanpa garis finis.“Eh—eh—eh—pelan!” Elera refleks menahan napas saat salah satunya tergelincir, jatuh dengan bunyi duk kecil.Tangis pecah.Dan di detik yang sama, si kembar satunya… tertawa.Tertawa keras. Puas. Jahil.“Ya Tuhan,” Leon mengusap wajahnya. “Yang satu drama queen, yang satu villain.”Alfa, yang sedang membangun benteng dari bantal sofa, menoleh cepat. “Papa, bentengku kuat. Bisa lindungin semua.”Kai yang duduk di lantai, menyandarkan punggung ke sofa, tersenyum tipis. “Oke. Aku lupa Alfa ada. Anak jenius.”Alfa membusungkan dada. “Aku tau.”Suasana itu—sederhana, riuh, hangat—membuat Elera berhenti sejenak. Ia memandangi mereka semua. Rumah ini. Keluarga ini. Napasnya terasa penuh.Leon mendekat, berdiri di belakan

  • Terjerat Pesona Mafia, Aku Tawanan Cintanya   Hari yang Tidak Dikejar Waktu

    Pagi datang tanpa drama. Tidak ada alarm darurat, tidak ada panggilan mendesak, tidak ada laporan merah di tablet Leon. Matahari masuk santai lewat jendela besar, jatuh ke lantai seperti tamu yang tahu diri.Itu… mencurigakan. Tapi untuk sekali ini, mereka memilih menikmatinya.Alfa bangun dengan satu misi: membangun benteng yang “tidak bisa ditembus siapa pun, termasuk Papa.” Ia menyeret bantal, kursi kecil, bahkan selimut bayi—yang langsung diprotes Elera.“Itu selimut steril, Alfa.”“Tapi ini darurat militer, Mama.”Leon tertawa sambil mengangkat salah satu bayi kembar. “Bilang saja kamu butuh insinyur.”Kai, yang duduk di lantai dengan kaki selonjor, menguap lebar. “Aku mundur. Benteng generasi baru terlalu canggih.”Dante lewat sambil membawa kopi. “Catat. Hari ini Kai menyerah sebelum bertarung.”Bayi kembar berceloteh keras, seolah menertawakan mereka semua. Salah satunya merangkak cepat—terlalu cepat—lalu menabrak kaki Kai dan jatuh terduduk. Tidak menangis. Ia menatap Kai, la

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status