LOGINElara tidak pernah menyangka bahwa keahliannya sebagai dokter akan menyeretnya ke dalam dunia yang penuh bahaya. Suatu malam, ia dipaksa menyelamatkan seorang pria yang sekarat—Leon, pemimpin mafia yang kejam dan tak kenal ampun. Bukan hanya nyawa pria itu yang berada di tangannya, tapi juga takdirnya sendiri. Karena setelah insiden itu, Leonardo tidak bisa membiarkannya pergi begitu saja. “Menikahlah denganku, atau aku pastikan kau tidak akan pernah merasa aman lagi.” Elara tahu pernikahan ini bukan karena cinta, melainkan paksaan. Ia hanya ingin hidupnya kembali normal, tetapi Leonardo memiliki alasan lain. Sebagai mafia, ia tidak bisa membiarkan seorang saksi bebas, terlebih seseorang yang telah menyentuh batas antara hidup dan matinya. Namun, semakin lama mereka bersama, semakin sulit bagi Leonardo untuk mengabaikan keberadaan Elara. Kebaikan dan keteguhan hati perempuan itu perlahan menembus tembok yang telah ia bangun selama ini. Tapi di dunia mafia, perasaan adalah kelemahan yang bisa berujung kehancuran. Ketika musuh mulai mengendus identitas Elara, pernikahan rahasia mereka menjadi target yang berbahaya. Di tengah pengkhianatan, darah, dan rahasia yang lebih dalam dari yang ia bayangkan, Elara harus memilih—bertahan di sisi pria yang berbahaya atau melarikan diri meskipun tahu ia tak akan pernah benar-benar bebas.
View More四回目の結婚記念日。
その夜、夫は初恋の女を連れて帰ってきた。
テーブルの上の料理は、すっかり冷めていた。
優が好きだったレストランの味を再現した料理。
小さな白い花束。
栓を開けないままのワイン。
四時間前に送ったメッセージには、「既読」の二文字だけが残っている。
返信は来ない。
それ自体は、もう珍しいことではなかった。
慣れてしまったことが、一番嫌だった。
私は諦めきれずに、もう一度時計を見る。
午後十時を過ぎていた。
本当なら、七時には帰ってくるはずだった。
料理を温め直す気にもなれず、スマホを手に取る。
何気なく開いたSNSで、指が止まった。
『今年もありがとう♡』
投稿者は、白川咲子。
——優の初恋の人だ。
そして、今も関係の続いている恋人。
写真に顔は写っていない。
けれど、画面の端に映り込んだ腕時計を見た瞬間、呼吸が止まった。
見間違えるはずがない。
結婚祝いに、私が優へ贈った時計だった。
胸の奥が、すうっと冷えていく。
ああ。
今日も、そっちなんだ。
結婚記念日よりも。
妻よりも。
咲子と過ごす時間を選んだんだ。
……知っていた。
この結婚が、父親同士の事情から始まった、期限付きの契約だということも。
結婚する前、優は私にはっきり言った。
「誤解しないでほしい」
「咲子との関係は終わらない」
「結婚は五年だけ。お互い、割り切ろう」
それでも、私は優が好きだった。
頭が良くて。
自信に満ちていて。
誰に対しても堂々としている。
冷たく見えるのに、ときどき不意に優しい。
そんな優を、いつか私だけが知ることができるのではないかと思っていた。
時間を重ねれば。
ほんの少しでも、私を妻として見てくれる日が来るかもしれない。
そんな期待を、四年間も捨てられなかった。
午後十時半。
玄関のロックが外れる音がした。
ようやく帰ってきた。
そう思って立ち上がった瞬間、身体が凍りつく。
「ただいま」
優の隣には、当たり前のように咲子が立っていた。
「こんばんは、綾香さん」
咲子は、まるで自分の家へ帰ってきたような顔で笑っている。
綺麗で、可憐を絵に描いたような人。
昔から何も変わらない。
優がずっと好きな女。
「……なんで」
喉が詰まり、うまく声が出なかった。
優はネクタイを緩めながら、当然のように言う。
「咲子が終電逃したら困るし、今日も泊まらせる」
一瞬、意味が理解できなかった。
今日は結婚記念日だ。
たとえ形だけだったとしても、私たち夫婦の記念日であるはずなのに。
愛人を堂々と家へ連れて帰り、そのうえ泊まらせるというの?
「……今日」
声が震えた。
「今日、結婚記念日なんだけど」
優は少しだけ眉を上げた。
本当に、不思議そうに。
「だから?」
空気が凍りついた。
咲子が小さく笑う。
「あ、ごめんね。気を遣わせちゃった?」
悪びれる様子もなく、優へ顔を向けた。
「優、あの台湾で買った紅茶ある?」
——あの紅茶。
私は知らない。
この家に、咲子がいつも飲んでいる紅茶が置かれていることを。
優は迷うことなく棚を開けた。
「これ?」
「そう、それ」
二人のやり取りは、驚くほど自然だった。
四年間ここで暮らした私の方が、余計な人間に思えるほどに。
気づけば、笑っていた。
もう、笑うしかなかった。
「……すごいね」
自分のものではないような声が出る。
「結婚記念日に、愛人を連れて帰ってくるんだ」
一瞬、空気が止まった。
けれど、優は怒りもしなければ、悪びれもしなかった。
少し困った顔をしただけだった。
まるで、本気で私の言葉が理解できないように。
「最初に言ったよね?」
その声は、残酷なほど平静だった。
「これは期間限定の結婚なんだからさ」
「俺、咲子と別れるなんて言ってないし、責められる筋合いもない」
「綾香に変な期待させた覚えもない」
「プロジェクトも、あと半年もかからず終わる見込みだし」
その瞬間。
何かが、ぷつんと切れた。
ああ、そうか。
この人は、最初から一度も私を妻だと思っていなかったんだ。
私は妻ではない。
優が体裁を保つために置いている、肩書きだけの道具だった。
「ごめん、私……」
静かにバッグを掴む。
「少し、外に行ってくる」
優は一度だけこちらを見た。
けれど、止めようとはしなかった。
「遅くなりすぎるようなら連絡して」
それだけ。
まるで、私がどこへ行っても構わないみたいに。
玄関の扉を閉めた瞬間、涙が落ちた。
悔しかった。
こんな扱いを、四年間も当たり前のように受け入れてきた自分が。
けれど、何よりも辛かったのは。
——まだほんの少しだけ、優に期待していたことだった。
スマホが震える。
親友のみかからのメッセージだった。
『生きてる? 今日どうだった?』
数秒迷ってから、私は返信した。
『最悪。今から会えない?』
数分後、すぐに返事が届く。
『青山駅前のカフェいる。おいで』
顔を上げる。
街灯が、涙で滲んで見えた。
この時の私は、今夜が自分の結婚生活のどん底だと思っていた。
けれど、まだ知らなかった。
この家を出た一歩が。
優が私を失い始める、最初の一歩になることを。
Malam itu terlalu sempurna.Si kembar tidur tanpa drama. Alfa bahkan tidak minta dibacakan cerita kedua. Maya pulang lebih awal karena “besok ada jadwal operasi pagi.” Dante tidak mengeluh. Kai tidak berdiri terlalu lama di balkon.Semua terasa… normal.Dan justru itu yang membuat Leon sulit tidur.Ia berdiri di depan kamar anak-anak. Pintu sedikit terbuka. Cahaya lampu tidur menyinari wajah kecil yang damai.Elera mendekat dari belakang. “Kau overthinking.”Leon tersenyum tipis. “Insting.”Elera memegang tangannya. “Instingmu jarang salah.”“Justru itu.”Hening.Dari monitor bayi terdengar suara kecil. Salah satu kembar bergumam dalam tidur. Alfa membalikkan badan.Hidup.Nyata.Leon menatapnya lama. Lalu berkata pelan, “Kalau suatu hari sesuatu terjadi—”Elera langsung memotong. “Tidak.”Leon menatapnya.“Kita tidak bicara ‘kalau’,” lanjut Elera tegas. “Kita bicara ‘bagaimana kita menghadapinya’.”Leon mengangguk kecil. Wanita ini selalu seperti itu. Tidak menyangkal bahaya. Tidak t
Pagi itu datang tanpa alarm, tanpa tergesa. Matahari masuk malu-malu lewat tirai, seolah tahu rumah ini butuh waktu sebelum dunia kembali menagih.Alfa sudah bangun duluan. Ia duduk di lantai, menyusun bantal dan selimut jadi benteng dadakan. “Papa, ini markas rahasia,” katanya serius.Leon menatap hasil karya itu, lalu berjongkok. “Markas rahasia tapi pintunya kebuka semua?”“Itu strategi,” jawab Alfa cepat. “Biar musuh bingung.”Kai yang baru keluar dari kamar tertawa kecil. “Oke, aku lupa Alfa ada,” gumamnya. “Anak jenius.”Elera muncul dengan salah satu kembar di gendongan. Yang satu lagi merangkak cepat, terlalu cepat, lalu—bruk. Tangis pecah. Kembarnya justru tertawa, keras dan bangga, seolah baru memenangkan sesuatu.“Kenapa yang ini ketawa mulu sih?” Leon mengangkat bayi yang tertawa itu. “Papa tuh jatuh harga dirinya, tau?”Maya datang tepat saat itu, membawa kopi dan komentar. “Tenang. Yang satu empati, yang satu sadis. Seimbang.”Rumah itu kembali penuh suara. Tawa kecil, c
Pagi itu datang tanpa alarm, tanpa teriakan, tanpa suara sepatu berlarian panik seperti hari-hari lain. Matahari jatuh lembut di balik tirai, seolah dunia sepakat memberi keluarga Santiago jeda—sebentar saja—dari segala kekacauan yang biasanya mengintai.Elera terbangun lebih dulu. Bukan karena jadwal operasi, bukan karena panggilan darurat. Tapi karena suara kecil yang sedang belajar mengenal dunia.Si kembar.Satu merangkak terlalu cepat, terlalu percaya diri, lalu—bruk—jatuh dengan bunyi pelan. Tangis pun pecah. Yang satunya? Bukannya ikut menangis, malah tertawa kecil, puas, seakan baru menemukan hiburan baru bernama “kekacauan”.“Yang satu drama, yang satu komedian,” gumam Elera sambil menggendong yang menangis.Dari balik pintu, Leon muncul dengan rambut acak-acakan, kaus rumah, dan wajah yang jarang orang lihat—wajah papa yang belum sepenuhnya bangun, tapi sudah siap siaga.“Yang mana sekarang?” tanyanya.“Yang ini,” kata Elera. “Yang satunya lagi kayaknya bangga.”Leon terkeke
Malam turun perlahan di mansion Santiago.Anak-anak sudah tidur. Alfa lebih dulu, kelelahan setelah seharian “mengawasi” si kembar. Dua bayi itu terlelap berdampingan, napas mereka kecil dan teratur—ritme yang biasanya menenangkan.Tapi malam ini, tidak.Leon berdiri di balkon kamar, menatap gelap. Elera tidak memaksanya bicara. Ia tahu kapan harus menunggu.Akhirnya Leon menarik kursi dan duduk. Ia menyentuh wajahnya sebentar, seperti orang yang sedang mengumpulkan keberanian.“Namanya Valerio Cruz,” katanya pelan.Elera menoleh. Nama itu jatuh berat.“Dulu,” lanjut Leon, “dia bukan musuh. Dia… keluarga. Bukan sedarah. Tapi lebih dekat dari itu.”Elera duduk di hadapannya, diam, memberi ruang.“Kami membangun jaringan bersama. Dari nol. Kotor. Berdarah. Tapi jujur. Valerio orang yang brilian. Dan kejam.”Leon tertawa kecil tanpa senyum. “Dia percaya kekuasaan harus ditakuti. Aku percaya… harus dijaga.”“Perbedaan visi,” gumam Elera.“Perbedaan batas,” koreksi Leon. “Dia mulai menyent
Malam turun pelan di mansion Santiago, terlalu pelan sampai terasa mencurigakan.Si kembar terbaring di boks bayi, satu mengoceh tanpa arah, satu lagi sibuk menarik kaus Leon yang sedang duduk di lantai. Alfa membangun benteng dari bantal—kali ini serius, struktur segitiga, “anti serangan monster,”
Hari itu terlalu normal untuk keluarga Santiago.Dan justru itu yang bikin Kai gelisah.Alfa berangkat sekolah sambil menyeret tas yang hampir lebih besar dari badannya. Si kembar dititipkan ke Elera—satu di gendongan, satu lagi menggenggam jas dokternya seolah itu pegangan hidup. Leon berdiri di p
Di lapangan sekolah itu terlalu ramai untuk dunia mereka yang biasanya sunyi dan penuh perhitungan.Leon berdiri di bawah tenda kecil, memegang dua gelas minuman anak-anak, kebingungan sendiri melihat Alfa berlari ke sana kemari dengan wajah paling bahagia yang pernah ia punya.“Dia nggak capek?” L
Pagi datang tanpa alarm.Tidak ada suara notifikasi, tidak ada panggilan darurat, hanya cahaya matahari yang menyelinap lewat tirai tipis dan tawa kecil yang belum fasih bicara.Si kembar sudah merangkak. Bukan pelan-pelan lagi—mereka seperti sedang balapan tanpa garis finis.“Eh—eh—eh—pelan!” Eler












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews