MasukElara tidak pernah menyangka bahwa keahliannya sebagai dokter akan menyeretnya ke dalam dunia yang penuh bahaya. Suatu malam, ia dipaksa menyelamatkan seorang pria yang sekarat—Leon, pemimpin mafia yang kejam dan tak kenal ampun. Bukan hanya nyawa pria itu yang berada di tangannya, tapi juga takdirnya sendiri. Karena setelah insiden itu, Leonardo tidak bisa membiarkannya pergi begitu saja. “Menikahlah denganku, atau aku pastikan kau tidak akan pernah merasa aman lagi.” Elara tahu pernikahan ini bukan karena cinta, melainkan paksaan. Ia hanya ingin hidupnya kembali normal, tetapi Leonardo memiliki alasan lain. Sebagai mafia, ia tidak bisa membiarkan seorang saksi bebas, terlebih seseorang yang telah menyentuh batas antara hidup dan matinya. Namun, semakin lama mereka bersama, semakin sulit bagi Leonardo untuk mengabaikan keberadaan Elara. Kebaikan dan keteguhan hati perempuan itu perlahan menembus tembok yang telah ia bangun selama ini. Tapi di dunia mafia, perasaan adalah kelemahan yang bisa berujung kehancuran. Ketika musuh mulai mengendus identitas Elara, pernikahan rahasia mereka menjadi target yang berbahaya. Di tengah pengkhianatan, darah, dan rahasia yang lebih dalam dari yang ia bayangkan, Elara harus memilih—bertahan di sisi pria yang berbahaya atau melarikan diri meskipun tahu ia tak akan pernah benar-benar bebas.
Lihat lebih banyakMalam itu terlalu sempurna.Si kembar tidur tanpa drama. Alfa bahkan tidak minta dibacakan cerita kedua. Maya pulang lebih awal karena “besok ada jadwal operasi pagi.” Dante tidak mengeluh. Kai tidak berdiri terlalu lama di balkon.Semua terasa… normal.Dan justru itu yang membuat Leon sulit tidur.Ia berdiri di depan kamar anak-anak. Pintu sedikit terbuka. Cahaya lampu tidur menyinari wajah kecil yang damai.Elera mendekat dari belakang. “Kau overthinking.”Leon tersenyum tipis. “Insting.”Elera memegang tangannya. “Instingmu jarang salah.”“Justru itu.”Hening.Dari monitor bayi terdengar suara kecil. Salah satu kembar bergumam dalam tidur. Alfa membalikkan badan.Hidup.Nyata.Leon menatapnya lama. Lalu berkata pelan, “Kalau suatu hari sesuatu terjadi—”Elera langsung memotong. “Tidak.”Leon menatapnya.“Kita tidak bicara ‘kalau’,” lanjut Elera tegas. “Kita bicara ‘bagaimana kita menghadapinya’.”Leon mengangguk kecil. Wanita ini selalu seperti itu. Tidak menyangkal bahaya. Tidak t
Pagi itu datang tanpa alarm, tanpa tergesa. Matahari masuk malu-malu lewat tirai, seolah tahu rumah ini butuh waktu sebelum dunia kembali menagih.Alfa sudah bangun duluan. Ia duduk di lantai, menyusun bantal dan selimut jadi benteng dadakan. “Papa, ini markas rahasia,” katanya serius.Leon menatap hasil karya itu, lalu berjongkok. “Markas rahasia tapi pintunya kebuka semua?”“Itu strategi,” jawab Alfa cepat. “Biar musuh bingung.”Kai yang baru keluar dari kamar tertawa kecil. “Oke, aku lupa Alfa ada,” gumamnya. “Anak jenius.”Elera muncul dengan salah satu kembar di gendongan. Yang satu lagi merangkak cepat, terlalu cepat, lalu—bruk. Tangis pecah. Kembarnya justru tertawa, keras dan bangga, seolah baru memenangkan sesuatu.“Kenapa yang ini ketawa mulu sih?” Leon mengangkat bayi yang tertawa itu. “Papa tuh jatuh harga dirinya, tau?”Maya datang tepat saat itu, membawa kopi dan komentar. “Tenang. Yang satu empati, yang satu sadis. Seimbang.”Rumah itu kembali penuh suara. Tawa kecil, c
Pagi itu datang tanpa alarm, tanpa teriakan, tanpa suara sepatu berlarian panik seperti hari-hari lain. Matahari jatuh lembut di balik tirai, seolah dunia sepakat memberi keluarga Santiago jeda—sebentar saja—dari segala kekacauan yang biasanya mengintai.Elera terbangun lebih dulu. Bukan karena jadwal operasi, bukan karena panggilan darurat. Tapi karena suara kecil yang sedang belajar mengenal dunia.Si kembar.Satu merangkak terlalu cepat, terlalu percaya diri, lalu—bruk—jatuh dengan bunyi pelan. Tangis pun pecah. Yang satunya? Bukannya ikut menangis, malah tertawa kecil, puas, seakan baru menemukan hiburan baru bernama “kekacauan”.“Yang satu drama, yang satu komedian,” gumam Elera sambil menggendong yang menangis.Dari balik pintu, Leon muncul dengan rambut acak-acakan, kaus rumah, dan wajah yang jarang orang lihat—wajah papa yang belum sepenuhnya bangun, tapi sudah siap siaga.“Yang mana sekarang?” tanyanya.“Yang ini,” kata Elera. “Yang satunya lagi kayaknya bangga.”Leon terkeke
Malam turun perlahan di mansion Santiago.Anak-anak sudah tidur. Alfa lebih dulu, kelelahan setelah seharian “mengawasi” si kembar. Dua bayi itu terlelap berdampingan, napas mereka kecil dan teratur—ritme yang biasanya menenangkan.Tapi malam ini, tidak.Leon berdiri di balkon kamar, menatap gelap. Elera tidak memaksanya bicara. Ia tahu kapan harus menunggu.Akhirnya Leon menarik kursi dan duduk. Ia menyentuh wajahnya sebentar, seperti orang yang sedang mengumpulkan keberanian.“Namanya Valerio Cruz,” katanya pelan.Elera menoleh. Nama itu jatuh berat.“Dulu,” lanjut Leon, “dia bukan musuh. Dia… keluarga. Bukan sedarah. Tapi lebih dekat dari itu.”Elera duduk di hadapannya, diam, memberi ruang.“Kami membangun jaringan bersama. Dari nol. Kotor. Berdarah. Tapi jujur. Valerio orang yang brilian. Dan kejam.”Leon tertawa kecil tanpa senyum. “Dia percaya kekuasaan harus ditakuti. Aku percaya… harus dijaga.”“Perbedaan visi,” gumam Elera.“Perbedaan batas,” koreksi Leon. “Dia mulai menyent
Pagi itu datang tanpa alarm, tanpa tanda bahaya—dan justru itulah yang membuatnya berbahaya.Cahaya matahari menembus jendela besar mansion, jatuh tepat di lantai tempat bayi kembar merangkak dengan penuh ambisi. Salah satunya terjatuh, langsung menangis keras. Yang satunya lagi—alih-alih ikut pani
Pagi itu benar-benar berjalan tanpa tergesa.Tidak ada ponsel bergetar. Tidak ada suara alarm darurat. Hanya suara napas kecil yang belum sinkron, gumaman Alfa yang sibuk mengomentari segalanya, dan tawa bayi yang belum tahu apa arti dunia.Elera akhirnya duduk di lantai, punggu
Malam itu, Elera duduk di sisi ranjang bayi—anak-anaknya sendiri.Alfa sudah tertidur dengan tangan menggenggam selimut favoritnya, sementara si kembar terbaring berdampingan, napas mereka kecil, teratur, seolah dunia di luar kamar ini tidak pernah kejam.Elera menyentuh pipi salah satu bayi, lalu
Keputusan itu diambil tanpa rapat panjang. Tanpa drama. Seperti banyak keputusan berbahaya lain dalam hidup Leon Santiago—sunyi, cepat, dan final.Maroko.Leon dan Dante berangkat sebelum fajar. Tidak ada konvoi besar, tidak ada perpisahan mencolok. Hanya koper hitam, wajah tena












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan