LOGINPagi datang tanpa drama. Tidak ada alarm darurat, tidak ada panggilan mendesak, tidak ada laporan merah di tablet Leon. Matahari masuk santai lewat jendela besar, jatuh ke lantai seperti tamu yang tahu diri.Itu… mencurigakan. Tapi untuk sekali ini, mereka memilih menikmatinya.Alfa bangun dengan satu misi: membangun benteng yang “tidak bisa ditembus siapa pun, termasuk Papa.” Ia menyeret bantal, kursi kecil, bahkan selimut bayi—yang langsung diprotes Elera.“Itu selimut steril, Alfa.”“Tapi ini darurat militer, Mama.”Leon tertawa sambil mengangkat salah satu bayi kembar. “Bilang saja kamu butuh insinyur.”Kai, yang duduk di lantai dengan kaki selonjor, menguap lebar. “Aku mundur. Benteng generasi baru terlalu canggih.”Dante lewat sambil membawa kopi. “Catat. Hari ini Kai menyerah sebelum bertarung.”Bayi kembar berceloteh keras, seolah menertawakan mereka semua. Salah satunya merangkak cepat—terlalu cepat—lalu menabrak kaki Kai dan jatuh terduduk. Tidak menangis. Ia menatap Kai, la
Pagi itu datang tanpa alarm, tanpa tanda bahaya—dan justru itulah yang membuatnya berbahaya.Cahaya matahari menembus jendela besar mansion, jatuh tepat di lantai tempat bayi kembar merangkak dengan penuh ambisi. Salah satunya terjatuh, langsung menangis keras. Yang satunya lagi—alih-alih ikut panik—justru tertawa nyaring, seolah itu lelucon terbaik pagi itu.“Yang satu drama, yang satu psikopat kecil,” gumam Kai sambil menggendong si penangis. “Fix keturunan Leon.”Leon yang sedang menuang kopi mendengus. “Mereka seimbang.”Alfa berlari masuk membawa helm mainan. “Papa! Bentengku sudah jadi. Sekarang ada pos penjaga!”Dante, yang baru masuk dengan tablet di tangan, berhenti sebentar. “Kenapa aku merasa itu sindiran?”Tawa kecil mengisi ruangan. Hangat. Aman. Terlalu aman.Elera berdiri di ambang pintu, memperhatikan semuanya sambil mengayun bayi yang mulai tenang. Ia tersenyum, tapi perasaan itu kembali—seperti jarum halus di bawah kulit. Ada sesuatu yang tidak pas.“Leon,” katanya p
Malam turun pelan di mansion, bukan dengan sunyi—melainkan dengan napas panjang yang tertahan. Ruang makan masih menyisakan aroma teh hangat dan tawa kecil yang belum sepenuhnya padam.Kai bersandar malas di kursi, satu lengannya masih belum sekuat dulu. Maya berdiri di depannya, tangan terlipat, tatapannya khas—dokter bedah yang lebih menakutkan daripada monitor ICU.“Jadi,” kata Maya datar tapi menusuk, “kapan kamu nikah?”Kai hampir tersedak. “Langsung ya, Dok? Tanpa anestesi?”Elera menoleh cepat. “Maya.”“Apa? Aku cuma nanya.” Maya mengangkat bahu. “Usiamu bukan dua puluh lagi, Kai. Kamu hampir mati. Itu biasanya bikin orang refleksi hidup.”Kai mendengus. “Refleksi hidupku masih loading.”Leon, yang sejak tadi diam sambil mengayun salah satu bayi kembar, akhirnya bicara, suaranya rendah. “Maya ada benarnya.”Kai memutar mata. “Tentu. Semua bersekongkol.”Alfa, yang duduk di lantai dengan balok-balok mainannya, mendongak polos. “Om Kai belum punya istri karena pilih-pilih?”Ruang
Pagi itu benar-benar berjalan tanpa tergesa.Tidak ada ponsel bergetar. Tidak ada suara alarm darurat. Hanya suara napas kecil yang belum sinkron, gumaman Alfa yang sibuk mengomentari segalanya, dan tawa bayi yang belum tahu apa arti dunia.Elera akhirnya duduk di lantai, punggungnya bersandar ke sisi tempat tidur bayi. Kedua si kembar sudah di depannya lagi—yang satu merangkak pelan, hati-hati setelah insiden tadi, sementara satunya tampak semakin berani, seolah jatuh adalah ide yang terlalu sepele untuk ditakuti.“Yang ini jelas nekat,” gumam Leon.“Yang itu pengamat,” tambah Kai. “Kombinasi berbahaya.”Maya menatap mereka sambil menyilangkan tangan. “Atau kombinasi jenius. Satu mikir, satu eksekusi.”Alfa tiba-tiba berjongkok, menepuk lantai pelan. “Sini… sini… pelan aja,” katanya dengan suara yang terlalu dewasa untuk tubuh sekecil itu.Si kembar yang berhati-hati menatap Alfa, lalu—ajaibnya—merangkak ke arahnya. Lam
Malam itu, Elera duduk di sisi ranjang bayi—anak-anaknya sendiri.Alfa sudah tertidur dengan tangan menggenggam selimut favoritnya, sementara si kembar terbaring berdampingan, napas mereka kecil, teratur, seolah dunia di luar kamar ini tidak pernah kejam.Elera menyentuh pipi salah satu bayi, lalu yang lain. Senyum tipis muncul, tapi matanya tidak benar-benar tenang.Sebagai dokter, ia terbiasa membaca tanda bahaya.Sebagai ibu, ia tahu—rasa ini bukan sekadar lelah.Leon masuk tanpa suara. Ia berdiri di ambang pintu, mengamati pemandangan itu lebih lama dari biasanya. Rumah. Anak-anaknya. Istrinya. Semua alasan ia tidak boleh kalah.“Kau sudah pulang,” kata Elera pelan, tanpa menoleh.“Sudah,” jawab Leon. “Dan aku tidak suka apa yang kutemukan.”Elera akhirnya berdiri, menutup pintu kamar bayi perlahan. “Seberapa dekat mereka?”Leon menatapnya. Tidak menyembunyikan apa pun. “Lebih dekat dari yang ingin kuakui.”Elera menarik napas dalam. “Aku bisa menjaganya,” katanya tegas. “Aku bisa
Keputusan itu diambil tanpa rapat panjang. Tanpa drama. Seperti banyak keputusan berbahaya lain dalam hidup Leon Santiago—sunyi, cepat, dan final.Maroko.Leon dan Dante berangkat sebelum fajar. Tidak ada konvoi besar, tidak ada perpisahan mencolok. Hanya koper hitam, wajah tenang, dan janji singkat yang terdengar terlalu ringan untuk sesuatu yang sebenarnya berat.“Aku cepat kembali,” kata Leon sambil merapikan jaketnya.Elera mengangguk, tapi jari-jarinya menggenggam lengan Leon satu detik lebih lama dari biasanya. “Kau selalu bilang begitu.”Leon tersenyum. “Kali ini aku niat.”Kai mengamati dari ambang pintu. Tubuhnya belum sepenuhnya pulih, tapi matanya tajam—mata orang yang tahu persis risiko apa yang sedang diambil.“Kalau ada yang aneh,” kata Kai, “kabarin. Jangan main pahlawan.”Leon menepuk bahunya. “Kau sudah cukup jadi pahlawan minggu lalu.”Dante sudah berdiri di dekat mobil. Ia menatap Ele







