Mag-log inSetelah beberapa hari bekerja sebagai pengasuh dan ibu susu, Laras menyadari bahwa Winda kurang menaruh perhatian pada putrinya sendiri. Dia hampir keluar setiap hari bertemu dengan teman-temannya dan bekerja menjadi model iklan.
Dia seorang wanita yang sangat sibuk dan terkenal di media sosial. Hampir setiap media sosialnya berisikan flexing gaya hidup sebagai sosialita. Sayangnya dia tidak bisa memamerkan suaminya yang seorang Presdir maupun anak yang baru dia lahirkan.
Winda memberi alasan di media sosialnya bahwa keluarga suaminya sangat menjaga privasi mereka.
"Dia benar-benar wanita yang beruntung." Laras mendesah ketika melihat iklan parfum Winda yang lewat di TV kamar Chloe.
Bayi di pelukannya sedang menyusu di dadanya.
Sofia selalu mengeluh tentang sikap Winda, tapi Ardhan membiarkan istrinya melakukan apa yang dia inginkan dan memenuhi gaya hidupnya yang super mewah karena dia sudah melahirkan seorang anak.
Dia adalah suami yang baik, yang membuat Winda bersikap semakin sombong di depan Sofia.
Jika Sofia dan Winda berdebat, Ardhan akan membela istrinya.
Ardhan adalah suami dan ayah yang baik untuk anak dan istrinya.
Di rumah tangga Laras, dia dan mertuanya selalu ribut seperti Sofia dan Winda, namun bedanya Rizal lebih memilih membela keluarganya yang mengatai Laras perempuan mandul.
Hebatnya Laras bisa bertahan dengan suaminya dan keluarga mertuanya selama lima tahun.
"Aduh ...." Laras meringis menatap bayi di pelukannya merasakan puting susunya sakit karena digigit.
"Chloe, jangan menggigit ya ... Puting susu Bibi sakit ...."
Bayi Chloe hanya tersenyum polos memamerkan gigi ompongnya yang lucu, membuat Laras tidak bisa marah dan mendesah pasrah.
Dia melirik jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul 11 malam dan mendesah memandang bayi di pelukannya.
Winda sudah pulang sejam yang lalu dan sudah tidur nyenyak di kamarnya tanpa menengok putrinya.
Sementara Laras terjaga dan begadang menyusu bayinya. Dia bahkan belum sempat mandi dari sejak sore.
"Udah jam segini, kenapa Chloe belum tidur .... Tidur, ya sayang. Bibi sangat mengantuk hmmm ...."
Laras membujuk Chloe agar tidur selama hampir satu jam dan akhirnya anak itu tidur.
Dia dengan hati-hati meletakkan Chloe di box bayi.
"Akhirnya tidur juga." Laras meregangkan badannya lalu menuju ke kamar mandi untuk mandi.
Meski sudah tengah malam, Laras tidak nyaman tidur dengan perasaan belum mandi.
Laras menghabiskan waktu hampir tiga puluh menit di kamar mandi. Kamar ini sangat mewah dan besar, memiliki air yang bisa diatur ke air hangat membuatnya nyaman setiap kali mandi malam.
Laras mengeringkan tubuhnya dengan handuk dan hendak berganti baju, tapi kemudian menyadari lupa membawa baju gantinya.
Laras mengusap rambut dalam kebingungan sambil menggigit bibir bawahnya. Dia menarik napas dalam-dalam lalu membalut tubuhnya dengan handuk.
"Hanya sekali ini saja. Aku hanya mau mengambil baju ganti. Lagipula ini udah tengah malam. Tuan Ardhan dan Nyonya Winda pasti sudah tidur di kamar mereka," gumamnya lalu melangkah keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk.
Laras melangkah dengan cepat menuju ke lemari pakaian untuk mengambil baju gantinya sambil menahan handuk dan menutupi belahan dadanya ada karena ada kamera CCTV di ruang itu.
Saat dia hendak membuka lemari pakaian, tiba-tiba dia merasakan sebuah lengan memeluk tubuhnya dari belakang.
Dada keras dan hangat menempel di punggung Laras. Suaranya yang serak berbisik di samping telinganya.
"Aku pulang ...."
Laras seketika membeku.
"Hmm, kamu baru saja mandi? Kamu wangi sekali ....."
Suara itu ... Itu Ardhan.
Laras tersadar dan meronta dengan perasaan cemas.
"Tuan Ardhan .... Ini aku Laras, bukan Nyonya Winda."
Tapi Ardhan seolah tidak mendengar dan mengendus-endus leher Laras.
" ... kamu mengganti sabunmu? Aroma mawar manis sekali .... Aku suka ...."
Laras mengepalkan tangannya dengan mata membelalak merasakan bibir Ardhan mengecup lehernya. Lidahnya menjilat dan menghisap kulit lehernya membuat tubuh Laras meremang.
Dia mulai meronta dengan panik namun tangan Ardhan memeluknya cukup erat, membuat Laras tak bisa bergerak.
Laras menoleh ke belakang, menatap wajah Ardhan yang terbenam di lehernya dengan mata terpejam.
Cahaya lampu tidur di samping ranjang membuat kamar itu tampak remang-remang. Laras tidak bisa melihat wajah Ardhan sepenuhnya. Namun dia mencium bau alkohol pekat dari napasnya.
"Tu-tuan ... Apa kamu mabuk?"
"Hmm ...." Gumam Ardhan tak melepaskan bibirnya dari leher Laras. Salah satu tangannya bergerak mengelus perut Laras, merambat ke atas dan meremas salah satu buah dada Laras yang tertutup handuk.
"Ah—!" Laras langsung menggigit bibirnya menahan suara erangannya keluar.
"Tuan … tolong lepaskan saya. aku bukan Nyonya Winda ... Kamu salah masuk kamar ...."
Laras memohon sambil menahan salah tangan Ardhan yang mengusap paha bagian paha dalamnya, menyusup ke dalam handuk.
"Tuan Ardhan! Nghh .... tolong berhenti!" Wajah Laras memanas merasakan tangan pria mengusap bagian intim.
Sensasi telapak tangannya di kulitnya yang sensitif membuat tubuhnya menggigil karena sensasi asing mengalir di tubuhnya.
Laras menggelengkan kepala.
Ini tidak boleh. Ardhan sudah punya istri. Istrinya tepat sedang tidur di samping kamar ini.
"Tuan ... Tolong sadar! Ini aku Laras!" Laras berbisik dengan suara hanya bisa didengar oleh mereka berdua.
Ketakutan dan kecemasan memenuhi dadanya. Tubuhnya bergetar, namun ... dia merasakan sensasi menyenangkan di tubuhnya saat jari-jari Ardhan mengusap bagian sensitif tubuhnya yang mulai basah dan berkedut.
"Kamu sangat basah di sini ...." bisik suara serak Ardhan di tangannya. Lidahnya menjilat daun telinga Laras.
"Engh ... Ini tidak benar ... Tolong lepaskan aku ...." Laras merintih mencoba menahan suaranya erengannya. Dia berusaha keras meronta dalam pelukan erat Ardhan.
"Tuan Ardhan ... Tolong sadarlah ... Istri kamu ada di kamar sebelah."
Seolah-olah tidak mendengarkan, Ardhan terus menjilat daun telinganya lalu mulai melepas handuk di tubuh Laras dan melemparkan handuk ke bawah, membuat wanita itu telanjang sepenuhnya.
Laras tersentak mencoba menutupi tubuhnya dengan tangannya panik dan memohon agar Ardhan melepaskannya.
"Tuan Ardhan tolong berhenti ... Ini aku Laras–"
Laras tak menyelesaikan kalimatnya karena bibir pria itu menutup mulutnya.
"Uhm ...." Laras membelalak dengan wajah memerah, menatap wajah tampan Ardhan sementara bibir pria itu terus mencium bibirnya dengan nafsu.
Bibirnya menghisap bibir Laras kuat lalu menjulurkan lidahnya masuk ke dalam mulutnya.
Laras hampir tak bisa bernapas, atau berteriak. Bibirnya terasa mati rasa karena ciuman panas dan membara Ardhan.
Darahnya berdesir merasakan tonjolan keras yang menusuk perutnya sementara tangan Ardhan meremas pantatnya yang tak tertutup apapun sekarang.
"Tuan ... Ardhan ... aku mohon ...." Erangan putus asa Laras yang memohon tertelan dalam mulut Ardhan.
Tangannya mendorong dada dan mencakar punggung pria namun tak membuat Ardhan melepaskannya.
Ardhan mendorong tubuhnya ke tempat tidur dan menindihnya dari atas.
Saat dia menjauh untuk melepaskan kemejanya, Laras memanfaatkan kesempatan itu untuk melarikan diri darinya.
Ardhan menangkap pergelangan kakinya dan menariknya kembali ke bawah tubuhnya.
"Dasar anak nakal, dia membuatku tak bisa merawat diri selama sebulan.” Dia menggerutu dan menyebut putrinya sendiri anak nakal dengan nada yang tidak menyenangkan didengar.“Aku akan pergi ke spa untuk perawatan. Sampai jumpa nanti." Dia melambai pada Laras lalu mengambil tasnya di atas sofa dan berjalan meninggalkan ruang tamu dengan langkah ringan seolah melepaskan beban berat di pundaknya.Laras memandang punggungnya dan ingin memanggilnya untuk bertanya apa Chloe sudah diberi makan atau belum, namun mengurungkan niatnya melihat langkah cepat Winda.Dia menghela napas memeluk dua bayi di pelukannya. Dia memandang ke sekeliling mencari anggota keluarga Wikrama yang lain.Tapi sejak dia datang, Laras belum melihat satupun anggota keluarga Wikrama.Wajar saja karena Ini masih jam 3 sore, seluruh anggota keluarga Wikrama masih sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Laras gelisah memikirkan jika bertemu dengan Sofia karena kasus adik iparnya, Dian, yang melecehkannya. Lalu fakta bahwa
Dengan perasaan kecewa Laras masih belum bertemu dengan Ardhan bahkan saat berangkat ke JakartaBukannya dia mengharapkan bertemu dengan Ardhan. Tapi pria itu sudah berjanji akan bertemu dengannya setelah pertemuan terakhir mereka di kantornya.Itu membuat Laras merasa menikmati semua pemberian Ardhan tanpa memberikan ‘imbalan’ pada pria itu.Sekarang di sinilah dia, berhadapan dengan Winda, istri Ardhan, di ruang tamu keluarga Wikrama.Pada akhirnya dia kembali ke tempat ini.“Sudah lama sekali ya. Bagaimana kabarmu?” Wanita itu bertanya dengan ramah. Laras menyadari Winda mengalami banyak perubahan seperti kebanyakan seorang ibu yang sudah melahirkan. Rambutnya kusut, dan tidak berkilau seperti biasa. Ada lingkaran gelap di bawah matanya. Dia bahkan tidak mengenakan make up hingga wajahnya wajah pucat dan kusamnya terlihat sangat jelas.Wajah Winda terlihat tidak secantik saat dia bermake-up.Laras berdeham dan menjawab dengan sopan. “Kabarku baik, Nyonya.”“Ah, itu bagus. Aku ha
Berhari-hari kemudian, Ardhan belum mendatanginya. Dia hanya sesekali menelepon dan memberitahu Laras bahwa pekerjaannya sangat sibuk. Hanya Thomas yang setiap hari datang sesuai dengan perintah Ardhan mengantar hadiah dari pria itu.Ardhan membelikannya beberapa perhiasan, baju, sepatu dan bahkan kebutuhan Aidan. Tapi lebih banyak susu formula mahal yang diimpor dari luar negeri, dengan pengingat pada Laras agar tidak terlalu memfokuskan dirinya menyusui Aidan dengan ASI.Kemudian Laras mendapati saldo rekeningnya bertambah, itu pemberian dari Ardhan. Pria itu ingin Laras berhenti bekerja dan hanya tinggal di rumah, mengurus anaknya.Ardhan begitu bermurah hati.Itu membuat perasaan Laras menjadi rumit melihat saldo rekeningnya mencapai angka fantastis.Namun dia harus menahan ketidaknyaman dan kesedihan di hatinya merasa menjadi seorang wanita simpanan yang dipelihara.Sertifikat rumah Laras sudah dikembalikan, namun mereka masih mencari Yanti dan anak perempuannya yang kabur.Orang
Laras menghela napas setelah melihat Aidan baik-baik saja.Dia berdiri dan menghampiri Thomas dengan senyum kikuk."Terima kasih sudah menjaga anakku," ucapnya sambil mengambil Aidan dari Thomas.Thomas hanya mengangguk dengan acuh tak acuh sambil menyerahkan Aidan ke pelukan ibunya dan menjawab dengan sopan. "Aku hanya mengikuti perintah Tuan Ardhan."Dia melirik wajah Laras. Bibir wanita itu bengkak dan merah. Pipinya masih terlihat memerah dengan mata coklatnya yang berkaca-kaca seperti rusa, tampak begitu sensual dan memikat. Kerah bajunya longgar dan agak turun hingga belahan dadanya.Thomas mengalihkan pandangannya dengan cepat. Dia terlalu memikat. Tidak heran Ardhan begitu terpesona.Wanita itu sangat cantik bahkan tanpa riasan. Lebih cantik dari istri bosnya. Thomas menatapnya cukup lama --bukan karena dia terpesona--dia merasa wajah Laras familiar. Dia merasakan perasaan ini saat pertama kali bertemu dengan Laras. Namun dia hampir melupakannya karena jarang melihatnya lagi
Laras menatap mata gelap Ardhan yang tampak seperti obsidian yang gelap.Laras tak bisa mengalihkan pandangannya dari mata gelap yang mempesona, seperti jurang gelap yang menariknya untuk melanggar prinsip dan batas moral-nya.Laras menatap bibir tipis Ardhan yang menyungging senyum mempesona dan menelan ludah merasakan keinginan untuk menempelkannya di bibir pria itu.Rasa malu masih ada dalam dirinya.Dia telah merasakan bibir pria itu berkali-kali. Bahkan lebih dari itu.Tapi pria itu milik wanita lain.Dia ingin mengalihkan pandangannya namun Ardhan menahan tengkuknya, mendekatkan bibir mereka."Ayolah sayang ...." Bisikannya seperti bisikan jin, merayunya untuk menuruti kemauannya. Wajahnya mendekat dan menghembuskan napas hangatnya, bibirnya hanya berjarak beberapa inchi di bibir Laras saat dia berkata, "Katakan ... Mintalah padaku. Apa yang kamu inginkan, aku akan memberikan segalanya padamu."Sayang ....Wajah Laras terasa panas mendengar panggilan 'sayang' yang diucapkan deng
Sementara Aidan tertidur, Laras menunggu dengan hati yang berat di dalam kantor yang besar dan rapi. Dia tahu Thomas menghentikan orang-orang itu menghancurkan rumahnya karena Ardhan. Laras tahu apa yang harus dia lakukan ketika bertemu dengan Ardhan. Dia tak mampu membayar 15 miliar untuk melindungi rumahnya.Yanti dan Sandra, kedua orang itu pasti sudah melarikan diri setelah menjual rumahnya. Dia mengetahui itu setengah jam lalu ketika dia meminta Thomas mengantarnya ke rumah mantan mertuanya untuk meminta penjelasan mereka yang telah menyusup dan mencuri sertifikat rumahnya.Sayangnya, rumah itu kosong dan terjual. Yanti dan Sandra melarikan diri setelah menjual rumah Laras seharga 3 miliar. Orang-orang dari perusahaan real estate menjual kembali pada Thomas dengan angka 15 miliar ketika dia bertanya.Thomas hanya mampu menunda orang-orang dari perusahaan real estate sebelum mereka kembali untuk menghancurkan rumahnya. 15 miliar. Sekaya apapun Ardhan atau bagaimana mereka menja







