เข้าสู่ระบบ"Bu! Jangan ngomong sembarangan!" Laras bergegas menghampiri Yanti dan menarik tangannya menjauh dari Ardhan.
Yanti menepis tangannya dan terus bicara dengan Ardhan. "Tuan, perempuan ini benar-benar murahan sekali."
"Ibu!" Laras membentak dengan mata memerah. Malu dan marah karena Yanti mempermalukannya di depan majikannya, meski kata-kata itu tidak benar. Dia tidak berani menatap Ardhan.
Ardhan meliriknya, lalu mengalihkan pandangannya ke Yanti. "Lalu apa urusannya dengan kamu?"
Yanti sejenak tertegun dan mengerjap. "Tuan ...."
"Bukankah kamu yang harus mengurus anakmu sendiri karena berselingkuh? Mendengar anakmu berselingkuh, sepertinya Laras sudah benar mencari orang lain yang lebih baik dari suaminya, benar?"
Laras menoleh menatap Ardhan, tertegun. Dia tidak tahu harus merasa lega atau malu. Ardhan tampak percaya dengan ucapan Yanti dan membelanya.
"Tuan, apa perempuan ini mengatakan sesuatu menjelekkan aku? Itu tidak benar, jangan percaya dengan ucapan perempuan murahan ini. Dia tidur dengan pria lain dan melahirkan anak haram. Jangan mempekerjakannya! Dia bisa membawa sial pada keluargamu.” Yanti tergagap dan tidak puas.
"Itu adalah urusan rumah kami untuk mempekerjakan siapa pun yang kami mau. Sebaliknya, kamu menerobos masuk ke rumah orang dan membuat keributan. Kami akan melaporkanmu ke polisi atas keributan dan penganiayaan ke pekerja kami," ujar Ardhan melirik pipi kiri Laras yang memiliki tanda telapak tangan merah.
Laras mengusap pipinya dengan kepala tertunduk, merasa tatapan intens dan dingin Ardhan di wajahnya.
"La-lapor polisi ...." Yanti membelak cemas mendengar dirinya akan dilaporkan ke polisi.
"Pak Yusuf!" Suara Ardhan terdengar tajam memanggil satpam tadi.
Pak Yusuf bergegas menghampiri dengan cemas, merasakan kemarahan Ardhan.
“Apa mansion Wikrama bisa dimasuki oleh sembarang orang? Mengapa kamu membiarkan orang asing membuat onar dan menganiaya pekerja kami?!”
"Maaf, Tuan. Ini salahku karena Ibu ini menerobos masuk."
"Dan kamu diam saja saat dia memukul pengasuh anakku?"
"Maaf, Tuan. Tidak seperti itu ...."
"Cepat bawa wanita tua ini keluar dan laporkan ke polisi atas kekerasan terhadap pekerja dan menerobos ke rumah orang!"
"Ba ... Baik, Tuan Ardhan!" Yusuf bergegas meraih tangan Yanti dan menyeretnya pergi dengan kasar.
Yanti panik mendengar dia akan dibawa ke kantor polisi. Dia mencoba melepaskan tangannya dari cekraman Pak Yusuf dan memohon pada Ardhan. "Tuan! Ini salah paham! Aku cuma mendidik menantuku yang kurang ajar!"
"Itu bukan hakmu mendidik Laras dengan kekerasan! Lagipula dia bukan anakmu, kamu tidak berhak memukul atau mendidiknya. Lebih baik didik anakmu sendiri."
"Tuan, aku hanya seorang janda. Anakku sudah meninggal gara-gara perempuan sial ini! aku mohon jangan bawa aku ke kantor polisi."
Ardhan tidak peduli dengan permohonan Yanti. "Sepertinya ini bukan pertama kali kamu memukul Laras. Kalau tidak diberi jera, kamu akan terus mengganggu hidupnya."
"Kenapa kamu sangat peduli dengan perempuan sial ini!" Yanti berseru. "Apa perempuan murahan ini merayumu agar tidur dengannya?!"
"Bu! Jangan bicara sembarangan!" Laras berseru marah.
Ekspresi Ardhan semakin dingin. "Pak Yusuf, tambahkan laporan untuk pencemaran nama baik dan ganti rugi 50 juta. Jangan bebaskan sebelum dia ganti rugi."
Yanti menjadi pucat mendengar ganti rugi 50 juta dan badannya lemas.
“Tuan … Tuan Wikrama, tolong Tuan ... aku hanya janda miskin. Aku tidak punya uang ...."
"Oh kamu tahu sekarang ini tempat tinggal keluarga Wikrama dan tetap membuat ulah?” Ardhan mencibir dengan dingin. “Maka kamu harus belajar agar tidak sembarangan memukul dan menfitnah orang lain,” lanjut Ardhan dengan ekspresi tidak peduli dan berbalik masuk ke dalam rumah.
Dia berhenti sejenak, lalu berbalik memandang Laras.
Laras tampak melamun dan tak bisa berkata-kata mendengar hukuman ibu mertuanya yang selalu membuatnya menderita, akan dipenjara dan harus ganti rugi 50 juta.
"kamu tidak masuk? Chloe terus menangis."
Laras tersadar mendengar suara Ardhan dan menoleh. Mata gelap dan acuh tak acuh Ardhan menatapnya.
"Ah, ya, Tuan ...." Laras mematuhinya, berjalan mendekatinya, lalu mengikutinya saat Ardhan berbalik masuk ke dalam rumah.
Dia sejenak menoleh ke belakang, melihat Yanti yang terduduk lemas di tanah.
Yusuf menegurnya dengan kesal. "Makanya, Bu, jangan sembarangan bertindak di rumah orang. Apalagi memukul dan menfitnah menantumu di depan Tuan Ardhan. Untungnya Tuan Ardhan hanya tuntut ganti rugi 50 juta, dan bukan 500 juta."
Yanti semakin lemas. "Kalian orang kaya yang cuma menindas orang miskin macam aku! Aku hanya janda miskin, dan anakku sudah meninggal." Dia meratap keras.
"Kalau kamu tahu kamu miskin dan tidak mampu, pakailah otakmu dengan benar sebelum membuat onar di rumah lain, apalagi keluarga Wikrama. Kamu sungguh cari mati. Sudahlah, ikut aku ke kantor polisi." Yusuf menarik Yanti dengan paksa dan menyeretnya pergi.
Yanti meronta dan berteriak tidak mau ke kantor polisi. "Laras! Laras! Ini semua salah kamu!"
Laras berbalik ke depan dengan wajah tanpa ekspresi, mencoba untuk tidak kasihan pada ibu mertuanya. Tapi tiba-tiba wajahnya menabrak punggung kekar dan keras pria di depan.
"Aduh ... Maaf, Tuan Ardhan...." Laras meringis kesakitan sambil memegang jidatnya, tapi tidak berani menegur Ardhan karena tiba-tiba berhenti.
Ardhan berbalik dengan tatapan tajam pada Laras. Matanya melirik pipi kirinya yang tampak mulai membengkak.
"Kamu ... Kenapa kamu diam saja saat mertuamu menamparmu!"
Laras mengusap belakang kepalanya dan meliriknya. Mata Ardhan sangat tajam dan marah menatap Laras.
"Aku tidak sempat mengelak. Aku tidak akan menyangka dia akan memukulku tanpa melihat tempat,” balas Laras pelan.
"Seharusnya kamu membalasnya. Sepertinya bukan pertama kali kamu dipukul seperti itu dan kamu diam saja."
"Ah, tidak seperti itu juga. Aku memang sering melawan sejak awal menikah. Ibu mertuaku mulai menggunakan kekerasan sejak anaknya meninggal. Tapi bukan berarti aku tidak bisa melawan ...."
"Kamu sangat pandai menjawabku tapi kamu tidak berdaya melawan ibu mertuamu." Tatapan Ardhan semakin tajam.
Laras terdiam sambil mengusap belakang kepalanya.
"Melawan sikap ibu mertua yang seperti itu terus-menerus dan tidak pernah berubah hanya membuat lelah. Aku hanya ingin menyelesaikan masalah dengan tenang karena berada di rumah orang lain," gumam Laras lalu mendongak menatap Ardhan.
Karena tinggi badan mereka membuatnya harus mendongak untuk berbicara dengan pria itu.
"Maaf, Tuan Ardhan. Ibu mertuaku sudah membuat keributan di tempat ini karena masalah kami. Tapi ucapan ibu mertuaku bahwa aku tidur dengan pria lain tidak benar, aku bukan wanita seperti itu ...."
Laras menundukkan kepala dengan ekspresi cemas. Takut dia akan dipecat karena dicap buruk atas ucapan Yanti. Ucapan Yanti ada yang sebagian benar, bahwa dia tidur dengan seorang pria selain suaminya. Tapi itu adalah kecelakaan, kan?
Ekspresi Ardhan sedikit berubah. "Ucapan ibu mertuamu tidak benar? Hmm ...."
Laras mendongak dengan ekspresi cemas.
"Itu bagus." Ardhan berdeham, saat matanya melihat tanda merah di pipi Laras, ekspresi wajahnya menjadi gelap. Tangannya terangkat hendak menyentuh pipi Laras.
Laras mengerjap, agak memundurkan kepalanya menjauh dari tangan Ardhan.
Orang lain akan salah paham jika melihat majikannya menyentuh pipi pengasuh anaknya.
"Itu ...."
"Apa sakit? Jangan sampai terluka lagi. Rawat pipimu karena sudah mulai memar, jangan membuat anakku takut nanti." Setelah mengatakan itu, Ardhan berbalik pergi meninggalkan Laras di pintu.
Laras menatap punggung Ardhan lalu mengangkat tangannya menyentuh pipinya yang mulai terasa panas. Jantungnya berdebar.
Sikap Ardhan hari ini ... agak perhatian padanya.
Laras langsung menggelengkan kepalanya dan bergumam pada dirinya
sendiri.
"Mungkin karena Tuan Ardhan sangat baik. Semua pekerja di rumah ini juga pasti diperlakukan sama."
"Dasar anak nakal, dia membuatku tak bisa merawat diri selama sebulan.” Dia menggerutu dan menyebut putrinya sendiri anak nakal dengan nada yang tidak menyenangkan didengar.“Aku akan pergi ke spa untuk perawatan. Sampai jumpa nanti." Dia melambai pada Laras lalu mengambil tasnya di atas sofa dan berjalan meninggalkan ruang tamu dengan langkah ringan seolah melepaskan beban berat di pundaknya.Laras memandang punggungnya dan ingin memanggilnya untuk bertanya apa Chloe sudah diberi makan atau belum, namun mengurungkan niatnya melihat langkah cepat Winda.Dia menghela napas memeluk dua bayi di pelukannya. Dia memandang ke sekeliling mencari anggota keluarga Wikrama yang lain.Tapi sejak dia datang, Laras belum melihat satupun anggota keluarga Wikrama.Wajar saja karena Ini masih jam 3 sore, seluruh anggota keluarga Wikrama masih sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Laras gelisah memikirkan jika bertemu dengan Sofia karena kasus adik iparnya, Dian, yang melecehkannya. Lalu fakta bahwa
Dengan perasaan kecewa Laras masih belum bertemu dengan Ardhan bahkan saat berangkat ke JakartaBukannya dia mengharapkan bertemu dengan Ardhan. Tapi pria itu sudah berjanji akan bertemu dengannya setelah pertemuan terakhir mereka di kantornya.Itu membuat Laras merasa menikmati semua pemberian Ardhan tanpa memberikan ‘imbalan’ pada pria itu.Sekarang di sinilah dia, berhadapan dengan Winda, istri Ardhan, di ruang tamu keluarga Wikrama.Pada akhirnya dia kembali ke tempat ini.“Sudah lama sekali ya. Bagaimana kabarmu?” Wanita itu bertanya dengan ramah. Laras menyadari Winda mengalami banyak perubahan seperti kebanyakan seorang ibu yang sudah melahirkan. Rambutnya kusut, dan tidak berkilau seperti biasa. Ada lingkaran gelap di bawah matanya. Dia bahkan tidak mengenakan make up hingga wajahnya wajah pucat dan kusamnya terlihat sangat jelas.Wajah Winda terlihat tidak secantik saat dia bermake-up.Laras berdeham dan menjawab dengan sopan. “Kabarku baik, Nyonya.”“Ah, itu bagus. Aku ha
Berhari-hari kemudian, Ardhan belum mendatanginya. Dia hanya sesekali menelepon dan memberitahu Laras bahwa pekerjaannya sangat sibuk. Hanya Thomas yang setiap hari datang sesuai dengan perintah Ardhan mengantar hadiah dari pria itu.Ardhan membelikannya beberapa perhiasan, baju, sepatu dan bahkan kebutuhan Aidan. Tapi lebih banyak susu formula mahal yang diimpor dari luar negeri, dengan pengingat pada Laras agar tidak terlalu memfokuskan dirinya menyusui Aidan dengan ASI.Kemudian Laras mendapati saldo rekeningnya bertambah, itu pemberian dari Ardhan. Pria itu ingin Laras berhenti bekerja dan hanya tinggal di rumah, mengurus anaknya.Ardhan begitu bermurah hati.Itu membuat perasaan Laras menjadi rumit melihat saldo rekeningnya mencapai angka fantastis.Namun dia harus menahan ketidaknyaman dan kesedihan di hatinya merasa menjadi seorang wanita simpanan yang dipelihara.Sertifikat rumah Laras sudah dikembalikan, namun mereka masih mencari Yanti dan anak perempuannya yang kabur.Orang
Laras menghela napas setelah melihat Aidan baik-baik saja.Dia berdiri dan menghampiri Thomas dengan senyum kikuk."Terima kasih sudah menjaga anakku," ucapnya sambil mengambil Aidan dari Thomas.Thomas hanya mengangguk dengan acuh tak acuh sambil menyerahkan Aidan ke pelukan ibunya dan menjawab dengan sopan. "Aku hanya mengikuti perintah Tuan Ardhan."Dia melirik wajah Laras. Bibir wanita itu bengkak dan merah. Pipinya masih terlihat memerah dengan mata coklatnya yang berkaca-kaca seperti rusa, tampak begitu sensual dan memikat. Kerah bajunya longgar dan agak turun hingga belahan dadanya.Thomas mengalihkan pandangannya dengan cepat. Dia terlalu memikat. Tidak heran Ardhan begitu terpesona.Wanita itu sangat cantik bahkan tanpa riasan. Lebih cantik dari istri bosnya. Thomas menatapnya cukup lama --bukan karena dia terpesona--dia merasa wajah Laras familiar. Dia merasakan perasaan ini saat pertama kali bertemu dengan Laras. Namun dia hampir melupakannya karena jarang melihatnya lagi
Laras menatap mata gelap Ardhan yang tampak seperti obsidian yang gelap.Laras tak bisa mengalihkan pandangannya dari mata gelap yang mempesona, seperti jurang gelap yang menariknya untuk melanggar prinsip dan batas moral-nya.Laras menatap bibir tipis Ardhan yang menyungging senyum mempesona dan menelan ludah merasakan keinginan untuk menempelkannya di bibir pria itu.Rasa malu masih ada dalam dirinya.Dia telah merasakan bibir pria itu berkali-kali. Bahkan lebih dari itu.Tapi pria itu milik wanita lain.Dia ingin mengalihkan pandangannya namun Ardhan menahan tengkuknya, mendekatkan bibir mereka."Ayolah sayang ...." Bisikannya seperti bisikan jin, merayunya untuk menuruti kemauannya. Wajahnya mendekat dan menghembuskan napas hangatnya, bibirnya hanya berjarak beberapa inchi di bibir Laras saat dia berkata, "Katakan ... Mintalah padaku. Apa yang kamu inginkan, aku akan memberikan segalanya padamu."Sayang ....Wajah Laras terasa panas mendengar panggilan 'sayang' yang diucapkan deng
Sementara Aidan tertidur, Laras menunggu dengan hati yang berat di dalam kantor yang besar dan rapi. Dia tahu Thomas menghentikan orang-orang itu menghancurkan rumahnya karena Ardhan. Laras tahu apa yang harus dia lakukan ketika bertemu dengan Ardhan. Dia tak mampu membayar 15 miliar untuk melindungi rumahnya.Yanti dan Sandra, kedua orang itu pasti sudah melarikan diri setelah menjual rumahnya. Dia mengetahui itu setengah jam lalu ketika dia meminta Thomas mengantarnya ke rumah mantan mertuanya untuk meminta penjelasan mereka yang telah menyusup dan mencuri sertifikat rumahnya.Sayangnya, rumah itu kosong dan terjual. Yanti dan Sandra melarikan diri setelah menjual rumah Laras seharga 3 miliar. Orang-orang dari perusahaan real estate menjual kembali pada Thomas dengan angka 15 miliar ketika dia bertanya.Thomas hanya mampu menunda orang-orang dari perusahaan real estate sebelum mereka kembali untuk menghancurkan rumahnya. 15 miliar. Sekaya apapun Ardhan atau bagaimana mereka menja







