LOGINBertemu secara tidak sengaja dengan seorang wanita di beberapa tahun silam malah membawa sebuah kejutan di kemudian hari. Hidup Rena berubah sejak ia menyetujui permintaan Alex, bosnya, untuk menjaga putri semata wayangnya. Awalnya semua berjalan lancar, sampai saat Rena kembali dekat dengan mantan pacarnya, Nico, karena urusan pekerjaan. Kedekatan yang membuat Nico tidak suka. Bagaimana Rena menghadapi perjalanan cintanya yang rumit. Kala Nico ingin kembali padanya tapi Alex tidak ingin melepasnya.
View More"Eh, kok mogok?” Gadis berkemeja pink itu menepikan motornya yang tiba-tiba saja mati mesin. Rena Miranda nama gadis itu, yang kemudian sibuk mengecek tangki bahan bakar motor maticnya. Rena tertawa kecil menyadari kalau tangki motornya kosong. Cepat ia mendorong motornya menuju lapak pedagang yang berada tidak jauh darinya.
"Dua liter ya, Pak, " ucap Rena sambil membuka jok motor lantas melirik jam di tangannya yang hampir menunjukkan pukul setengah delapan pagi. Untung saja kantornya sudah terlihat dari tempat ia mengisi bahan bakar. Reflek Rena menatap seorang anak kecil perempuan yang berjalan sendirian menuju kulkas yang berisi minuman dingin. "Anak cantik mau beli apa?" tanya Rena ramah mengelus rambut hitam anak itu. Ia melihat anak kecil itu memegang dua lembar uang dua ribuan. “Mau itu. Putri mau itu,” kata gadis kecil itu menunjuk salah satu minuman susu dalam kemasan. Rena tersenyum kecil sambil melihat ke sekitarnya, barangkali anak di depannya itu bersama seseorang, tapi ternyata tidak. Hatinya berdecak kesal karena bisa-bisanya anak sekecil ini lepas dari pengawasan orang tua. “Uangnya simpan aja ya. Tante beliin,” kata Rena menyimpan uang kertas yang dipegang gadis kecil itu ke dalam saku celana. “Uang yang Putri bawa gak cukup ya, Tante? Nanti Tante minta sama Papanya Putri ya, uang Papa banyak kok,” ucap Putri begitu lucu sambil menerima susu kemasan yang Rena belikan dan mengucapkan terima kasih. Rena cepat merogoh uang dari saku celana dan memberikannya pada pedagang itu, karena ingin mengejar gadis kecil tadi yang sudah berjalan seorang diri. Mengendarai motornya, Rena berhenti di depan gadis kecil itu. “Putri mau kemana? Tante anterin ya? Takut nanti ada apa-apa sama Putri,” kata Rena yang langsung disambut dengan anggukan kepala Putri. Gadis kecil itu kemudian naik dan berdiri di depan Rena yang mengemudikan motor. Betapa terkejutnya Rena saat Putri minta berhenti dan menunjuk sebuah gedung yang merupakan tempat ia bekerja. “Hah? Anak siapa nih Putri? Kok aku gak pernah lihat?” gumam Rena dalam hati. Ia jadi agak kikuk saat memarkirkan motornya di halaman kantor karena melihat beberapa orang tampak berdiri kebingungan di depan kantor, termasuk bosnya, Alex. “Makasih ya, Tante,” ucap Putri tersenyum manis lantas turun dari motornya. Gadis kecil itu berjalan menaiki anak tangga kemudian memeluk seorang pria yang tak lain adalah Alex. “Papa, Putri beli ini,” ucapnya penuh semangat tanpa tahu bahwa dari tadi Alex mencarinya ke mana-mana. Meski masih kesal, Alex sudah tenang karena Putri sudah kembali. Netra pria itu kemudian menatap ke arah depan tempat Rena berdiri, membuat gadis itu mematung. “Telat lagi? Sudah jam berapa ini?” Alex melotot. Menelan salivanya, Rena menjelaskan penyebab ia jadi terlambat. “Tante di sini?” Celetuk Putri yang telah menghabiskan minumannya. Rena hanya tersenyum tipis. “Papa, Putri minta uang. Uang ini gak cukup tadi Putri beli jajan,” ucap Putri mengeluarkan uang dari sakunya. “Terus yang bayar siapa?” Alex menoleh ke arah Putri. “Tante itu yang bayarin,” ucap Putri kemudian melambaikan tangan pada Rena, kemudian berbalik masuk ke dalam kantor meninggalkan Alex dan Rena yang masih berada di luar. "Sudah datang telat, terus bawa anak saya tanpa izin!" seru Alex berjalan mendekati Rena. Suara Alex yang cukup nyaring membuat beberapa karyawan yang sedang melintas menoleh ke arah mereka. "Saya gak tahu kalau Putri anak Bapak. Tadi saya ketemu sama dia di warung depan Pak. Mau jajan tapi uangnya gak cukup," ucap Rena dengan penekanan pada kalimat terakhirnya. "Banyak duit tapi ngasih jajan anak pelit," ucap Rena dalam hati kesal pada Alex. Sepagi ini sudah marah-marah. “Permisi, saya mau masuk!” balas Rena tak kalah ketus. Semakin hari Rena semakin kesal melihat tingkat bosnya itu. Ada-ada saja kejadian yang membuatnya kena omelan. Kalau bukan karena gaji dan bonus yang besar, mungkin Rena sudah dari dulu berhenti. *** Alex sibuk dengan tumpukan rekening koran di mejanya. Mengecek dan mencocokkan dengan data pengeluaran kantor, sementara Putri berbaring di sofa menonton film kartun dari ponsel. “Putri, duduk. Nanti matanya rusak!” seru Alex membuat Putri kaget, hingga mengakibatkan ponsel yang ia pegang jatuh menimpa wajah. Spontan Putri menangis kencang dan melempar ponselnya ke lantai. Rena yang baru saja membuka pintu ruangan Alex kaget melihat Putri yang tengah menangis. “Putri cantik kenapa?” tanya Rena menghampiri Putri dan mengusap-usap rambutnya. “Papa bikin kaget. Muka Putri sakit kejatuhan ponsel,” kata Putri sambil sesenggukan. “Sini. Air matanya di lap dulu,” kata Rena lembut menarik tisu dan menyeka air mata Putri. Ia juga mengambil ponsel yang ada di lantai dan meletakkannya di atas meja. Begitu tangis Putri mereda, Rena malah mengajak Putri untuk ikut ke mejanya. Tentu saja Putri langsung mengangguk “Laporannya mana?” Suara Alex meninggi, menghentikan langkah Rena dan Putri. Rena membukakan pintu dan membiarkan gadis kecil itu keluar terlebih dahulu, kemudian membalikkan badan, berjalan menuju meja Alex. "Maaf, Pak." Rena nyengir. "Kamu," ucap Alex mengambil kertas dari tangan Rena. "Kamu sebenarnya mau kerja atau mau main-main sih? Sering datang telat, di kantor bukannya kerja. Ini malah main-main, sama anak saya lagi!" "Saya terlambat paling cuma dua atau tiga kali, mana bisa dibilang sering? Iya saya tahu, saya kerja di sini. Tapi saya gak tega lihat anak kecil nangis sendirian. Dicuekin sama orang tuanya," ucap Rena kesal. "Maksud kamu apa?" tanya Alex menatap Rena tajam. "Permisi, Pak." Rena keluar dari ruangan Alex. Gak tahu apa kesalahan yang sudah ia lakukan hingga Alex selalu saja marah padanya. “Sabar. Sabar. Sebentar lagi gajian, Ren,” batin Rena mencoba menenangkan diri. Dari dalam ruangannya, Alex menghela nafas lega. Entah kenapa setiap kali Alex dalam masalah, ia selalu menjadikan Rena tempat pelampiasan emosinya. Jelas terlihat kalau Rena begitu mudah membuat Putri tertawa, padahal mereka baru saja bertemu. Alex meraih selembar kertas usang dari dalam lacinya. Kertas yang berisikan sebuah pesan yang selalu membuat hatinya tidak karuan sejak Rena bekerja di perusahaannya.Menikmati suasana adem di Bandung, pagi ini mengenakan sepeda tandem, mereka berempat berolahraga berkeliling komplek, sebelum akhirnya mereka keluar menuju salah satu lapangan yang berada di dekat komplek perumahan Tante Bunga. "Om kamu kebapakan anget ya," ucap Alex saat Rena bilang mau makan bubur ayam dan Om Arsyad langsung membelikannya. "Iya. Om orangnya baik banget. Gak pernah marah, apalagi ngancam," ucap Rena sambil menatap Alex dengan mata yang membesar. "Kamu ngeledek saya?" "Bapak ngerasa? Bagus kalo gitu." Rena tertawa. Alex langsung mengalungkan pelukan erat di leher gadis itu. "Putri aja sering Bapak marahin. Jangan anak, karyawan aja juga ikut Pak Alex marahin." "Marahkan ada sebabnya," sahut Alex tak mau kalah. Ia melepaskan Rena saat Om Arsyad datang membawakan bubur ayam untuk mereka. "Ini bubur ayamnya. Oh iya, minumnya mau apa, Sayang?" "Jus aja, Om." "Jus alpukat ya. Tunggu sebentar ya," ucap Om Arsyad yang kemudian menghampiri penjual jus. “A
Bingung dengan apa yang dilakukan Alex, Rena mendorong pelan pria itu sambil menggeser duduknya sedikit menjauh."Nanti dikirain orang mesum, Bapak jangan dekat-dekat deh," ucap Rena."Cuma cium kening masa dikira mesum? Terus yang di kamar tadi pagi apa namanya?"Seketika wajah Rena memerah."Emang jablay sih Pak Alex. Udah lama enggak kan?" ledek Rena."Hati-hati ya kamu. Gak ada yang tahu apa yang akan terjadi nanti, siapa tau malah kamu yang jablay sama saya," ucap Alex nakal dengan kedua alis terangkat."Jangan sampai ya. Sebelum itu terjadi, saya pasti sudah resign." Gadis itu beranjak dari kursi."Berani kamu resign, lihat aja nanti akibatnya," ucap Alex mengiringi langkah kaki Rena."Sudah galak, suka emosi, sekarang malah suka ngancam."Alex tertawa lantas merangkul pundak sekretarisnya itu.“Rei, wanita yang kamu pilihkan ini memang lain daripada yang lain,” batinnya. Menikmati suasana taman yang rindang hingga waktu menunjukkan puku
Membersihkan diri dan membereskan pakaian di kamar masing-masing, mereka akan check out setelah sarapan pagi."Lah, masih juga gak dikunci. Ceroboh banget sih dia." Alex kembali masuk ke kamar Rena yang membuatnya terkejut."Kamu ini ceroboh atau memang sengaja!""Astaga" Rena mengelus dadanya, terperanjat mendengar suara Alex."Dari tadi kan saya sudah bilang sama kamu untuk mengunci pintu penghubung ini, kenapa gak kamu kunci-kunci? Ceroboh!""Saya lupa, Pak.""Itu penyakit kamu. Ceroboh dan suka lupa. Lain kali kalau di kamar hotel ada pintu semacam ini, ingat, jangan pernah kamu buka!" seru Alex seraya mengunci sendiri pintu itu agar lebih yakin. "Iya, Pak," sahut Rena. Ia membuka pintu lemari secara tiba-tiba hingga membuat Alex terkejut nyaris kepentok."Kenapa kamu bikin saya kesal terus sih!""Bapak ngapain di situ? Saya mau beresin pakaian saya. Pak Alex kembali ke kamar aja lah.""No. Kamu bereskan barang-barang kamu, saya tunggu di
Setelah mengantarkan Nico ke mobilnya, Rena kembali masuk ke tempat acara menemui Pak Jon."Dari tadi kamu di sini?" tanya Pak Jon sedikit kaget."Iya, Pak. Dari tadi ngobrol sama Nico." Rena tersenyum."Saya kirain kamu gabung sama Alex dan Desita," ucap Pak Jon yang membuat raut wajah Rena sedikit berubah."Sekali lagi selamat ya, Pak." Rena menjabat tangan Pak Jon kembali.Acara yang masih cukup ramai tak menyurutkan niatnya untuk kembali ke kamar. Jam yang telah menunjukan pukul sepuluh malam dan kantuk yang mulai menyerang, ia jadikan alasan untuk sampai lebih cepat di kamar. Meski sebenarnya ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Namun berusaha ia tepis.Setibanya di kamar, Rena segera berganti baju dan membersihkan make up yang sedari tadi menghiasi wajahnya."Kenapa rasanya gak enak ya." Rena menatap wajahnya yang basah di cermin. Menghela nafas panjang, ia kembali membasahi wajahnya lalu meraih handuk. "Tidur aja lah." Gadis itu naik ke ata


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews