MasukAku memejamkan mata di dalam bak mandi, merasakan air hangat yang membasahi kulitku. Aku berpikir sejenak, bagaimana caranya agar tidak terlibat dengan Alvaro.Dan yang paling penting adalah mengungkap semua kejahatan Mira dan Elena selama ini. Bukti yang berupa vitamin penambah nafsu makan saja belum cukup, mengingat Bella mengatakan kalau selama ini Mira pandai memutar balikkan fakta.Atau aku berpura-pura bodoh lagi? Atau aku berpura-pura menjadi Bella yang dulu untuk mencari petunjuk?Aku menghembuskan napas pelan. Ternyata apa yang kubayangkan tidak semudah ini.Lalu, bayangan orang tuaku semasa hidup berputar di kepalaku. Di mana aku yang selalu diajari bagaimana bisa bertahan hidup, bagaimana caranya aku harus bisa berjuang sendiri kalau mereka pergi.Orang tuaku seakan tahu kalau hidup mereka tidak lama. Jadi sejak kecil aku selalu diajarkan mandiri, selalu diajarkan bagaimana caranya berdiri di kakiku sendiri.Tapi semua berubah saat aku mengenal David.Dadaku terasa sesak sa
Aku tentu kaget mendengar ucapan Alvaro. Bukannya dia sangat membenci Bella? Bukannya dia punya perempuan yang dicintai? Tapi kenapa dia malah setuju dengan perjodohan ini?Apakah ada sesuatu yang sedang direncanakan? Ah, aku merasa rencanaku untuk membalas dendam pada David dan Lidia semakin sulit. Bahkan sampai sekarang aku belum tahu bagaimana kabar mereka. Lalu, bagaimana mereka menjawab pertanyaan para wartawan soal kematianku? Apakah mereka menyembunyikan mayatku?“Varo, kenapa kamu mau menikah dengan Bella? Bukannya kamu sangat membencinya? Bukannya kamu tidak suka dengan perempuan gendut dan bodoh? Tapi kenapa kamu mau menikahinya?” tanya Elena yang juga ikut terkejut.Alvaro sama sekali tidak memedulikan Elena, bahkan seakan tidak mendengar apa yang dikatakannya.Pria itu melangkah maju dan langsung menarik tanganku.“Apa-apaan, sih?! Kamu tidak lihat aku sedang makan?” bentakku karena tidak suka dengan cara Alvaro.“Makan terus saja yang ada di otakmu! Aku mau bicara serius
Aku tersenyum sinis saat pelayan itu memegang gelas dengan tangan gemetar. Aku yang menatapnya dengan tatapan tajam membuatnya terpaksa langsung menyodorkan jus itu ke dalam mulutnya.“Ayo minum, sekarang juga!” bentakku.“I-iya, Nyonya... Saya... saya minum ini, kok,” jawabnya gugup.“Bella, apa-apaan ini?!”Aku seketika menoleh saat mendengar suara Mira. Wajahnya terlihat panik dengan apa yang dilihatnya. Minuman yang harusnya untukku, sekarang justru hampir diminum oleh pelayan.“Ini bukannya kamu yang meminta jus tanpa gula? Terus kenapa sekarang kamu tidak mau? Ini sudah sesuai dengan apa yang kamu inginkan, Bella!” katanya lagi.“Tapi aku sekarang tidak mau. Jadi daripada terbuang sia-sia, mending dia yang minum. Atau... Ibu Mira mau meminumnya?” tantangku langsung.Wajah Mira terlihat sangat pucat, menunjukkan bahwa di dalam jus itu memang sudah diberi sesuatu.“Kenapa diam? Ayo minum, dan habiskan!” kataku memberi instruksi, yang jelas saja langsung membuat pelayan itu meminum
Pagi itu aku berniat untuk berolahraga. Dari dulu aku suka sekali dengan olahraga fisik, mulai dari berlatih tinju sampai menggunakan alat-alat gym di rumah.Tapi sekarang aku tidak bisa melakukan itu. Jantung di tubuh Bella terlalu lemah. Jadi, aku harus melakukan olahraga yang ringan dulu.Seperti jalan pagi... Ya, karena hanya itu olahraga yang paling dianjurkan dokter untukku sekarang.Beruntung Bella mempunyai baju olahraga. Yah, meskipun warnanya masih pink, tapi kali ini bukan pink yang mencolok, masih ada warna putih di celana dan bajunya.Aku melangkah dengan perasaan riang, dan aku juga ingin melihat-lihat rumah Bella ini, siapa tahu aku dapat petunjuk.“Nyonya Bella mau ke mana?” tanya pelayan yang waktu itu mengantar makanan ke kamarku.Bukannya menjawab, aku malah balik bertanya namanya dengan berpura-pura lupa agar pelayan itu tidak menyadari kalau aku bukanlah Bella. “Kamu... kamu...” kataku sambil sedikit memegang kepala, berpura-pura pusing.“Saya Stefi, Nyonya. Kenap
“Elena, sudah. Jangan seperti itu dengan saudaramu,” sela Mira. Wajahnya berubah lembut kembali. “Bella, maafkan Ibu kalau kamu masih marah dengan makanan yang Ibu berikan. Mulai sekarang Ibu akan suruh koki memasak makanan sehat untuk kamu. Dan soal ponsel, bukannya ini sudah dibicarakan, dulu? Kalau kamu main ponsel suka tidak ingat waktu, jadi Ayah memang tidak memberimu ponsel, Bella. Apa kamu melupakan itu?”Aku menghembuskan napas kasar. Kalau saja aku tidak ingat dengan tujuanku, mungkin aku sudah pergi dari tubuh Bella. Bagaimana bisa di zaman modern ini tidak dipegangi ponsel? Meskipun tubuh Bella gendut, di usianya sekarang pasti suka bermain ponsel, bermain media soal? Tapi ini apa? Benar-benar gila! Lama-lama aku yang bisa gila kalau satu rumah dengan mereka.“Aku sudah besar, aku jelas bisa mengatur waktuku sekarang. Aku minta besok harus ada ponsel sendiri untukku!”“Bella, kamu ini seperti seorang putri saja, semua minta langsung!” sela Elena.“Iya, aku memang putri di
Suasana seketika hening. Bukan hanya para pelayan yang ikut diam mendengar perkataanku, tapi juga Mira dan Elena.Apa yang salah dengan perkataanku? Bukankah apa yang kukatakan itu benar? Makanan yang Mira sediakan untuk tubuh Bella ini salah, dan itu bisa memicu tubuh Bella menjadi semakin obesitas, serangan jantung dan tentu semakin mudah untuk Bella meninggal.“Oh, Bella... maafkan Ibu kalau begitu. Maaf...”Aku tidak menyahut. Aku hanya menatapnya dengan tatapan datar, lalu beralih menatap sekeliling sampai mataku tertuju pada beberapa buah yang tak jauh di area dapur.Dulu dengan tubuhku sendiri, aku sudah cukup hanya dengan makan satu buah apel saja. Semoga kali ini aku juga bisa.“Bella, kamu mau apa?” tanya Mira langsung.“Makan apel. Kenapa? Tidak boleh aku makan buah di rumahku sendiri?”“Bella! Kenapa kamu sekarang tidak sopan sekali dengan Ibu?! Kamu sudah dibesarkan oleh Ibu, Ibu selalu menyayangimu! Harusnya kamu tidak menyakiti hatinya, kamu malah bicara seperti itu!” p







