Mag-log inJavier yang tengah mengusap kepala Dayana, tiba-tiba pria itu tersentak kaget saat seseorang menepis kasar tangannya. Tanpa sepatah kata, Dominic menarik kerah jas hitam yang Javier pakai, menatapnya dengan tajam dan murka. Hal itu juga mengejutkan Javier. "Siapa kau hah? Beraninya kau menyentuh istriku?!" desis Dominic menipiskan bibirnya. Dayana tercengang. Wanita itu beranjak dari duduknya dan menarik lengan Dominic. "Jangan Dominic," larangnya cepat. "Dia—""Jangan membelanya!" seru Dominic sedikit membentak. Javier masih tampak tenang. Lantas ia mencekal lengan Dominic dan melepaskan cengkraman tangan Dominic di kerah kemejanya sambil menatapnya lekat. "Aku temannya Dayana," kata Javier, ia tersenyum kecil. "Sebelum kau mengenal istrimu, aku sudah mengenalnya lebih dulu." Sepasang alis tebal Dominic menukik. Apa maksud Javier?Dayana kini justru mendekati Javier dan menatapnya dengan tatapan sendu. "Maaf, Kak," lirihnya. "Tidak apa-apa, Dayana." Javier tetap tersenyum me
Keesokan harinya. [Aku akan menemuimu siang nanti. Hari ini aku masih ada urusan penting, Sayang.]Dayana membaca pesan dari Dominic setelah ia tiba di restoran. Wanita itu hanya membalasnya dengan jawaban yang singkat, yaitu 'iya'. Dayana kembali meletakkan ponselnya di atas meja dan fokus lagi pada layar laptopnya. "Nyonya Dayana, ada Tuan Javier di luar mencari Anda," ujar Emily. "Dia datang lagi?" tanya Dayana menatap asistennya tersebut. "Oh, mungkin dia mengirim beberapa keperluan dekorasi nanti." "Kemarin padahal beliau bilang sesimpel mungkin," cicit Emily. "Sudahlah. Biar aku temui dulu, Em," jawab Dayana. Setelah itu Dayana beranjak dari duduknya dan berjalan meninggalkan ruangannya. Di depan, Dayana melihat Javier yang datang seorang diri tanpa ajudannya. "Tuan Javier, selamat pagi," sapa Dayana tersenyum manis. Pria itu membalas senyuman Dayana. "Pagi, Nyonya Dayana." "Mengapa Anda tidak menghubungi saya saja? Anda pasti menyempatkan banyak waktu untuk ke sini k
"Bagaimana ini, Pa? Bagaimana kalau Mama mau sama Paman yang tadi?" Theo sejak tadi terus mengomel dan resah gelisah sendiri. Sejak mereka berada di rumah, sampai kini mereka pulang ke mansion. Dominic menatap si kecil dan mengusap kepalanya. "Tidak apa-apa, Sayang. Jangan khawatir," balas Dominic. "Papa tidak sedih kan? Tidak jadi sadboy kan?" tanya Theo mendongak menatap sang Papa. "Tentu saja tidak. Papa lebih oke dibandingkan orang yang tadi. Sudah-sudah, jangan khawatir." Dominic menepuk-nepuk pipi Theo. "Oke bagaimana? Paman yang tadi juga tampan begitu, kok. Theo khawatir Papa iri dan dengki," cicit anak itu. Dominic menghela napasnya panjang. Tidak Leo, tidak Theo, mereka semua sangat hebat dalam melawan ucapannya. Walaupun Theo berada di pihaknya, tetapi ucapan Theo tidak diragukan lagi membuat hati Dominic tercubit. Dominic menyugar rambut hitamnya sambil berjalan masuk ke dalam mansion. "Begin
Dominic melihat dengan jelas pria bernama Javier yang kini tengah berbincang-bincang dengan Dayana. Sengaja Dominic tidak menyela karena mereka membahas perihal pekerjaan. Bila Dominic menyela, atau mengusik, Dayana justru bisa marah padanya. "Jadi dia, pria bernama Javier itu?" gumam Dominic. "Tampan, kan, Paman Dominic?" Dominic tersentak saat tiba-tiba terdengar suara Leo di sampingnya. Ia langsung menoleh cepat. Dominic tidak tahu, sejak kapan Leo berada di sampingnya dan mendengar apa yang ia ucapkan barusan. Dengan tatapan mata berbinar gemas, Leo menatap lurus ke depan sana, pada pria bernama Javier itu. "Tidak. Biasa saja," balas Dominic. Jawaban Dominic membuat Leo terkekeh geli. Anak laki-laki kecil itu mendongak menatapnya dengan tatapan yang jahil. "Pasti Paman Dominic sekarang sedang iri dengki dengan ketampanan Paman Javier calon Papa barunya Leo, ya?" Polosnya Leo, ia malah menarik turunkan kedua alisnya di hadapan Dominic. Seandainya anak ini bukan putranya, m
"Leo, kau benar-benar marah ya, pada Papa? Jadi ... kau tidak mau lagi pulang ke rumah Papa?" Theo terus mengejar Leo, meskipun kembarannya itu tak acuh. Tak jarang pertanyaan Theo juga tidak dijawab oleh Leo. Theo kembali menarik-narik lengan Leo. "Leo ... jawab dong!" serunya cemberut. Leo berdecak pelan. "Aku kan sudah bilang tidak! Jadi ya tidak!" serunya sambil memangku cemilan miliknya. "Heumm." Wajah Theo berubah sangat murung dan sedih. Leo meliriknya dan mengerjapkan sepasang matanya menatap kembarannya itu. "Kau pasti ada maunya kan?" tanya Leo menebak dengan benar. "Kemarin saja kau masih mengusirku dari rumah papanya yang biasa saja itu. Sekarang kau malah tanya aku kembali apa tidak, jelas tidak lah!" "Tidak kok. Aku tidak ada maunya. Aku cuma bertanya saja, apa salahnya?!" seru Theo ikut membalas dengan nada tinggi yang sama. Leo merotasikan kedua bola matanya jengah. Ia sudah sangat hafal dengan Theo yang memang terkadang sedikit menyebalkan. Mereka berdua kini
"Ma, Paman itu tadi siapa? Dia tampan sekali ya, Ma? Sepertinya, cocok jadi Papa barunya Leo." Leo memperhatikan Javier yang kini masuk ke dalam mobilnya di luar, usai membahas tentang acara kantor milik pria itu. Perhatian Dayana tersita saat mendengar ucapan putranya barusan. Begitu juga dengan Emily yang langsung tertawa. "Kenapa mencari Papa baru, Leo? Papanya Leo juga tampan dan kaya raya, kok," sahut Emily menggoda anak sang nyonya. "Tapi Leo ingin mencari Papa baru buat Mama, biar Mama tidak bosan," jawab Leo dengan polos. "Dan Paman tadi, sangat cocok!" "Hustt! Leo tidak boleh berbicara seperti itu, Sayang." Dayana mengusap gemas pipi Leo, menghentikan putranya untuk tidak berbicara dengan aneh-aneh. Tapi, Leo justru menggerutu dan tidak setuju dengan larangan mamanya. "Huh! Mama selalu saja seperti itu. Padahal kan Paman Dominic itu hanya menang kaya saja. Tampan tidak, peka juga tidak, baik juga jarang-jarang, apalagi adil! Sepertinya Paman Dominic tidak mengenal apa
Setelah kembali dari rumah sakit, Dayana meminta pada Morine untuk kembali ke kantor melanjutkan pekerjaannya. Morine sempat melarang, tetapi Dayana tetap bersikeras. Pekerjaannya sebagai asisten pribadi Moriene—selaku pimpinan hotel bintang lima, tidak terlalu berat. Di dalam ruangan kerja, Daya
Tanah pemakaman masih basah dan penuh dengan taburan bunga. Dominic duduk di samping batu nisan yang bertuliskan nama Dayana Latselina, istrinya. Ia mengusap batu nisan itu dengan lembut. Sudah satu jam lebih Dominic berada di sana sejak istrinya dikebumikan. Di sampingnya berdiri Amara, yang mem
Di tempat lain. Di tengah puncak pesta ulang tahun Ruby yang meriah, Dominic berdiri di samping Amara, menggantikan posisi mendiang kakaknya sebagai ayah untuk Ruby. Namun, saat acara tiup lilin hampir dimulai, para anak buah Dominic berlari tergesa hingga mengejutkan semua orang, bahkan lagu ula
Hari wedding anniversary Dayana dan Dominic telah tiba. Dayana sempat mengira mereka sungguh akan merayakannya di villa mewah yang diberikan oleh Dominic tiga bulan yang lalu saat ulang tahunnya. Ada bagusnya Dayana tidak terlalu mempercayai Dominic, apalagi menaruh ekspektasi tinggi. Karena nya







