Suamiku, Musuh Keluargaku

Suamiku, Musuh Keluargaku

last updateLast Updated : 2026-09-21
By:  NusagungUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
Not enough ratings
17Chapters
6views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

“Kau bukan menikahiku karena cinta. Kau menikahiku karena hutang keluargamu.” Alena Wijaya dipaksa menikahi Raka Pradipta — pewaris tunggal musuh bisnis terbesar keluarganya — demi menyelamatkan perusahaan dari kehancuran. Pernikahan ini seharusnya hanya kontrak dingin tanpa perasaan. Tapi di balik dinding rumah keluarga Pradipta, ada ibu tiri licik, kakak ipar penuh intrik, dan rahasia 15 tahun yang bisa menghancurkan kedua keluarga sekaligus. Ketika kebenaran mulai terungkap, Alena harus memilih: tetap loyal pada keluarga yang mengkhianatinya, atau pada pria yang seharusnya jadi musuhnya?

View More

Chapter 1

Pengumuman Perjodohan

Alena Wijaya baru saja duduk di kursi kerjanya ketika ponselnya bergetar. Satu pesan dari asisten pribadi ayahnya.

“Bapak minta Non Alena datang ke rumah sekarang. Penting.”

Ia menatap layar itu cukup lama. Kata “penting” dari ayah biasanya berarti dua hal: masalah perusahaan, atau masalah yang lebih besar dari itu. Mengingat wajah ayahnya tiga hari terakhir yang tampak lebih pucat dari biasanya, Alena punya ketebalan ini bukan sekadar rapat dadakan.

Ia menutup laptopnya, meninggalkan meja kerja di kantor cabang Wijaya Group tempat ia biasa bekerja diam-diam tanpa gelar besar—meski nama belakangnya adalah pewaris keluarga, Alena selalu memilih memulai dari bawah, jauh dari sorotan dua kakaknya yang lebih dulu duduk di kursi arah.

Tiga puluh menit kemudian, ia sudah berdiri di depan pintu ruang kerja ayahnya, di rumah keluarga yang lebih terasa seperti kantor pusat kedua.

“Ayah memanggilku?”

Pak Wijaya duduk di belakang meja kerjanya, wajahnya tegang, jemarinya mengetuk-ngetuk permukaan kayu jati. Di sofa dekat jendela, seseorang yang tidak diduga Alena juga ada di sana—Ratna, ibu tirinya, duduk dengan anggun, senyum tipis yang tidak pernah benar-benar sampai ke matanya.

“Duduklah, Alena,” kata ayahnya, suaranya lebih berat dari biasanya.

Alena duduk perlahan, matanya beralih dari ayahnya ke Ratna, mencoba membaca situasi. "Ada apa? Ini soal perusahaan?"

“Ya.” Pak Wijaya menghela nafas panjang, seperti menyiapkan diri untuk kalimat yang sudah lama ingin ia hindari. “Kondisi keuangan kita lebih buruk dari yang pernah Ayah ceritakan padamu. Ada utang yang… Ayah sembunyikan, karena Ayah pikir masih bisa Ayah selesaikan sendiri.”

“Seberapa buruk?”

“Cukup buruk untuk membuat kita kehilangan lebih dari separuh aset dalam enam bulan ke depan jika tidak ada yang berubah.”

Ruangan itu tiba-tiba terasa lebih sempit. Alena mencengkeram tepi kursi. “Kenapa Ayah baru bilang sekarang?”

“Karena sekarang sudah ada solusinya,” sela Ratna, suaranya lembut namun tajam di saat yang bersamaan. “Dan solusi itu… membutuhkanmu, Sayang.”

Firasat Alena, yang tadinya baru berupa bisikan kecil, kini berubah menjadi alarm yang berbunyi keras di kepalanya. “Solusi apa maksudnya?”

Pak Wijaya tidak langsung menjawab. Ia mengambil sebuah peta dari lacinya, meletakkannya di atas meja, lalu mendorongnya perlahan ke arah Alena.

Di dalamnya, ada dokumen kerja sama bisnis—dan satu lembar lain yang membuat jantung Alena berhenti sepersekian detik.

Surat perjanjian pernikahan.

Nama yang tertera di sana bukan miliknya sendiri yang mengejutkan—melainkan nama pasangan yang akan didinikannya.

Raka Pradipta.

Grup Pewaris tunggal Pradipta. Perusahaan yang selama lebih dari satu dekade menjadi saingan bisnis terbesar keluarga Wijaya. Perusahaan yang, menurut cerita yang selalu didengar Alena sejak kecil, pernah menjatuhkan bisnis keluarganya dengan cara paling kotor.

“Ayah bercanda, kan?” Suara Alena nyaris tidak terdengar.

“Ini satu-satunya jalan, Alena.” Pak Wijaya tidak berani menatap mata putrinya. “Pradipta Group bersedia menerima dana dan mengambil alih sebagian utang kita, dengan syarat… ada ikatan yang membuat kerja sama ini tidak bisa dibatalkan sepihak. Pernikahan ini jaminannya.”

“Aku jaminnya,” koreksi Alena, suaranya bergetar antara marah dan tidak percaya. “Ayah menjual aku untuk menyelamatkan bisnis, dengan keluarga yang selama ini kita menganggap musuh?”

“Bukan menjual,” kata Ratna cepat, nadanya masih tenang, terlalu tenang. "Ini penyelamatan, Sayang. Untuk keluarga ini. Untuk warisan yang akan diteruskan ke generasimu nanti."

Alena menatap wanita itu lekat-lekat. Sesuatu dalam senyum Ratna—senyum puas yang coba disembunyikan buru-buru—membuat kualitas lama Alena kembali muncul. Sejak pertama Ratna menikah dengan ayahnya lima tahun lalu, Alena tidak pernah sepenuhnya percaya pada wanita itu. Dan sekarang, melihat betapa cepatnya solusi ini muncul, betapa rapinya dokumen itu sudah disiapkan—seolah semua ini sudah direncanakan jauh sebelum hari ini—kecurigaan itu berubah menjadi sesuatu yang lebih dingin.

“Kapan ini semua diatur?” tanya Alena pelan, matanya masih teringat pada Ratna. “Kapan tepatnya Ayah mulai bicara dengan keluarga Pradipta?”

Pak Wijaya terdiam sejenak, cukup lama untuk membuat Alena tahu penjelasannya tidak akan menyenangkan. “Tiga minggu yang lalu.”

Tiga minggu. Tiga minggu ayahnya bersembunyi ini, sementara Alena masih sibuk bekerja seperti biasa, tidak curiga sama sekali bahwa masa depannya sudah diperjualbelikan di ruang rapat yang tidak pernah ia hadiri.

“Aku tidak bisa menerima ini,” kata Alena akhirnya, berdiri dari kursinya. “Aku tidak akan menikahi orang yang keluarganya menghancurkan kita.”

“Alena—”

“Aku butuh waktu untuk berpikir.” Suaranya tegas, meski dada bergemuruh. Ia meraih peta itu, memasukkannya ke dalam tasnya tanpa alasan yang jelas—mungkin hanya ingin membaca ulang sendiri, memastikan ini bukan mimpi buruk.

Saat ia berbalik menuju pintu, suara Ratna menghentikan langkahnya.

“Alena.” Nada itu berubah, lebih dingin dari sebelumnya. “Pertemuan dengan keluarga Pradipta sudah dijadwalkan besok sore. Ayahmu sudah mengkonfirmasi kehadiranmu.”

Alena berhenti di ambang pintu, tidak menoleh. “Aku belum setuju.”

“Kau akan setuju,” jawab Ratna, tenang, seolah sudah tahu bagaimana kisah ini akan berakhir. “Karena kau selalu jadi anak yang paling bertanggung jawab di keluarga ini, bukan?”

Kalimat itu menusuk lebih dalam dari yang seharusnya. Alena menutup pintu di belakangnya, jantungnya berdegup kencang, memenuhi kepalanya satu nama yang baru saja mengubah seluruh hidupnya.

Raka Pradipta.

Ia tidak tahu wajah pria itu. Tidak tahu sifatnya. Yang ia tahu hanya satu—besok, ia akan berdiri berhadapan dengan musuh keluarganya sendiri, dan entah bagaimana caranya, keputusan yang diambil dalam pertemuan itu akan menentukan sisa hidupnya.

Yang tidak diketahui Alena, saat ia melangkah keluar dari rumah malam itu—sepasang mata memperhatikannya dari balik tirai lantai dua. Ratna berdiri di sana, ponsel di tangannya, mengetik pesan singkat ke seseorang.

“Dia sudah tahu.Semua berjalan sesuai rencana.”

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
17 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status