LOGIN“Kau bukan menikahiku karena cinta. Kau menikahiku karena hutang keluargamu.” Alena Wijaya dipaksa menikahi Raka Pradipta — pewaris tunggal musuh bisnis terbesar keluarganya — demi menyelamatkan perusahaan dari kehancuran. Pernikahan ini seharusnya hanya kontrak dingin tanpa perasaan. Tapi di balik dinding rumah keluarga Pradipta, ada ibu tiri licik, kakak ipar penuh intrik, dan rahasia 15 tahun yang bisa menghancurkan kedua keluarga sekaligus. Ketika kebenaran mulai terungkap, Alena harus memilih: tetap loyal pada keluarga yang mengkhianatinya, atau pada pria yang seharusnya jadi musuhnya?
View MoreAlena Wijaya baru saja duduk di kursi kerjanya ketika ponselnya bergetar. Satu pesan dari asisten pribadi ayahnya.
“Bapak minta Non Alena datang ke rumah sekarang. Penting.” Ia menatap layar itu cukup lama. Kata “penting” dari ayah biasanya berarti dua hal: masalah perusahaan, atau masalah yang lebih besar dari itu. Mengingat wajah ayahnya tiga hari terakhir yang tampak lebih pucat dari biasanya, Alena punya ketebalan ini bukan sekadar rapat dadakan. Ia menutup laptopnya, meninggalkan meja kerja di kantor cabang Wijaya Group tempat ia biasa bekerja diam-diam tanpa gelar besar—meski nama belakangnya adalah pewaris keluarga, Alena selalu memilih memulai dari bawah, jauh dari sorotan dua kakaknya yang lebih dulu duduk di kursi arah. Tiga puluh menit kemudian, ia sudah berdiri di depan pintu ruang kerja ayahnya, di rumah keluarga yang lebih terasa seperti kantor pusat kedua. “Ayah memanggilku?” Pak Wijaya duduk di belakang meja kerjanya, wajahnya tegang, jemarinya mengetuk-ngetuk permukaan kayu jati. Di sofa dekat jendela, seseorang yang tidak diduga Alena juga ada di sana—Ratna, ibu tirinya, duduk dengan anggun, senyum tipis yang tidak pernah benar-benar sampai ke matanya. “Duduklah, Alena,” kata ayahnya, suaranya lebih berat dari biasanya. Alena duduk perlahan, matanya beralih dari ayahnya ke Ratna, mencoba membaca situasi. "Ada apa? Ini soal perusahaan?" “Ya.” Pak Wijaya menghela nafas panjang, seperti menyiapkan diri untuk kalimat yang sudah lama ingin ia hindari. “Kondisi keuangan kita lebih buruk dari yang pernah Ayah ceritakan padamu. Ada utang yang… Ayah sembunyikan, karena Ayah pikir masih bisa Ayah selesaikan sendiri.” “Seberapa buruk?” “Cukup buruk untuk membuat kita kehilangan lebih dari separuh aset dalam enam bulan ke depan jika tidak ada yang berubah.” Ruangan itu tiba-tiba terasa lebih sempit. Alena mencengkeram tepi kursi. “Kenapa Ayah baru bilang sekarang?” “Karena sekarang sudah ada solusinya,” sela Ratna, suaranya lembut namun tajam di saat yang bersamaan. “Dan solusi itu… membutuhkanmu, Sayang.” Firasat Alena, yang tadinya baru berupa bisikan kecil, kini berubah menjadi alarm yang berbunyi keras di kepalanya. “Solusi apa maksudnya?” Pak Wijaya tidak langsung menjawab. Ia mengambil sebuah peta dari lacinya, meletakkannya di atas meja, lalu mendorongnya perlahan ke arah Alena. Di dalamnya, ada dokumen kerja sama bisnis—dan satu lembar lain yang membuat jantung Alena berhenti sepersekian detik. Surat perjanjian pernikahan. Nama yang tertera di sana bukan miliknya sendiri yang mengejutkan—melainkan nama pasangan yang akan didinikannya. Raka Pradipta.Grup Pewaris tunggal Pradipta. Perusahaan yang selama lebih dari satu dekade menjadi saingan bisnis terbesar keluarga Wijaya. Perusahaan yang, menurut cerita yang selalu didengar Alena sejak kecil, pernah menjatuhkan bisnis keluarganya dengan cara paling kotor. “Ayah bercanda, kan?” Suara Alena nyaris tidak terdengar. “Ini satu-satunya jalan, Alena.” Pak Wijaya tidak berani menatap mata putrinya. “Pradipta Group bersedia menerima dana dan mengambil alih sebagian utang kita, dengan syarat… ada ikatan yang membuat kerja sama ini tidak bisa dibatalkan sepihak. Pernikahan ini jaminannya.” “Aku jaminnya,” koreksi Alena, suaranya bergetar antara marah dan tidak percaya. “Ayah menjual aku untuk menyelamatkan bisnis, dengan keluarga yang selama ini kita menganggap musuh?” “Bukan menjual,” kata Ratna cepat, nadanya masih tenang, terlalu tenang. "Ini penyelamatan, Sayang. Untuk keluarga ini. Untuk warisan yang akan diteruskan ke generasimu nanti." Alena menatap wanita itu lekat-lekat. Sesuatu dalam senyum Ratna—senyum puas yang coba disembunyikan buru-buru—membuat kualitas lama Alena kembali muncul. Sejak pertama Ratna menikah dengan ayahnya lima tahun lalu, Alena tidak pernah sepenuhnya percaya pada wanita itu. Dan sekarang, melihat betapa cepatnya solusi ini muncul, betapa rapinya dokumen itu sudah disiapkan—seolah semua ini sudah direncanakan jauh sebelum hari ini—kecurigaan itu berubah menjadi sesuatu yang lebih dingin. “Kapan ini semua diatur?” tanya Alena pelan, matanya masih teringat pada Ratna. “Kapan tepatnya Ayah mulai bicara dengan keluarga Pradipta?” Pak Wijaya terdiam sejenak, cukup lama untuk membuat Alena tahu penjelasannya tidak akan menyenangkan. “Tiga minggu yang lalu.” Tiga minggu. Tiga minggu ayahnya bersembunyi ini, sementara Alena masih sibuk bekerja seperti biasa, tidak curiga sama sekali bahwa masa depannya sudah diperjualbelikan di ruang rapat yang tidak pernah ia hadiri. “Aku tidak bisa menerima ini,” kata Alena akhirnya, berdiri dari kursinya. “Aku tidak akan menikahi orang yang keluarganya menghancurkan kita.” “Alena—” “Aku butuh waktu untuk berpikir.” Suaranya tegas, meski dada bergemuruh. Ia meraih peta itu, memasukkannya ke dalam tasnya tanpa alasan yang jelas—mungkin hanya ingin membaca ulang sendiri, memastikan ini bukan mimpi buruk. Saat ia berbalik menuju pintu, suara Ratna menghentikan langkahnya. “Alena.” Nada itu berubah, lebih dingin dari sebelumnya. “Pertemuan dengan keluarga Pradipta sudah dijadwalkan besok sore. Ayahmu sudah mengkonfirmasi kehadiranmu.” Alena berhenti di ambang pintu, tidak menoleh. “Aku belum setuju.” “Kau akan setuju,” jawab Ratna, tenang, seolah sudah tahu bagaimana kisah ini akan berakhir. “Karena kau selalu jadi anak yang paling bertanggung jawab di keluarga ini, bukan?”Kalimat itu menusuk lebih dalam dari yang seharusnya. Alena menutup pintu di belakangnya, jantungnya berdegup kencang, memenuhi kepalanya satu nama yang baru saja mengubah seluruh hidupnya. Raka Pradipta. Ia tidak tahu wajah pria itu. Tidak tahu sifatnya. Yang ia tahu hanya satu—besok, ia akan berdiri berhadapan dengan musuh keluarganya sendiri, dan entah bagaimana caranya, keputusan yang diambil dalam pertemuan itu akan menentukan sisa hidupnya. Yang tidak diketahui Alena, saat ia melangkah keluar dari rumah malam itu—sepasang mata memperhatikannya dari balik tirai lantai dua. Ratna berdiri di sana, ponsel di tangannya, mengetik pesan singkat ke seseorang. “Dia sudah tahu.Semua berjalan sesuai rencana.”Pagi itu, Raka mengumpulkan semua pihak yang bisa dipercaya di ruang kerja pribadinya—Pak Handoko dan dua anak buahnya, serta seorang kenalan lama Raka yang kebetulan bekerja sebagai perwira polisi, Komisaris Wibowo, yang bersedia membantu secara tidak resmi sebelum kasus ini dilaporkan penuh."Kita tidak bisa menyerbu langsung," kata Komisaris Wibowo, menatap peta lokasi gudang yang sudah ditandai Pak Handoko semalam. "Kalau memang ada penyanderaan, tindakan gegabah bisa membahayakan korban. Saya bisa bantu urus izin operasi kecil, tapi harus cepat dan senyap.""Berapa lama itu bisa diurus?" tanya Raka."Dengan koneksi saya, mungkin sore ini bisa jalan. Tapi saya butuh alasan resmi untuk masuk tanpa membuat kecurigaan bocor ke pihak dalam yang mungkin terlibat."Alena, yang duduk di sudut ruangan sejak pagi, akhirnya angkat suara. "Bagaimana kalau alasannya laporan dugaan penyekapan dari warga sekitar? Tidak perlu menyebut nama Pradipta sama sekali di laporan awal."Komisaris Wibowo
Raka tidak tidur lagi malam itu. Ia duduk di meja kerja, memperbesar foto blur itu berkali-kali, mencoba mengenali bangunan di latar belakang."Ini gudang," katanya akhirnya, menunjuk bagian sudut foto yang nyaris tidak terlihat. "Lihat atapnya. Model seng bergelombang seperti ini biasanya dipakai gudang tua di kawasan industri pinggiran."Alena mendekat, memperhatikan detail yang ditunjuk Raka. "Kawasan industri mana?""Aku tidak yakin. Tapi Pak Handoko mungkin bisa membantu melacaknya. Dia lebih berpengalaman soal hal semacam ini."Raka langsung menghubungi Pak Handoko meski waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam. Pria itu menjawab tanpa terdengar terganggu, seolah sudah terbiasa dihubungi di jam-jam aneh."Kirim fotonya, Pak Raka. Saya coba analisis."***Kabar berikutnya datang keesokan siang, lebih cepat dari yang diperkirakan. Pak Handoko berhasil mempersempit lokasi ke sebuah kawasan pergudangan tua di daerah Cakung, berdasarkan analisis bayangan dan sudut bangunan di foto
Pagi itu, Raka bangun lebih awal dari biasanya, sudah duduk di meja kerja kamar mereka dengan laptop menyala saat Alena membuka mata."Kau tidak tidur?" tanya Alena, masih setengah mengantuk."Sempat, sebentar," jawab Raka, tanpa mengalihkan pandangan dari layar. "Aku menyuruh orang kepercayaanku melacak alamat terakhir staf yang menghilang itu. Namanya Pak Yudo. Menurut catatan HR, dia sudah delapan tahun bekerja di divisi keuangan sebelum tiba-tiba mengundurkan diri minggu lalu."Alena bangun, duduk di sisi ranjang. "Ada hasil?""Alamat rumahnya di catatan HR sudah tidak berpenghuni. Tetangga bilang keluarganya pindah mendadak, sekitar waktu yang sama dengan pengunduran dirinya.""Pindah mendadak, tanpa jejak?" Alena merasa perutnya mual mendengar itu. "Itu bukan kepindahan biasa.""Aku setuju." Raka menutup laptopnya, menatap Alena serius. "Tapi kita harus hati-hati. Kalau benar dia 'dibungkam' seperti kata pesan semalam, menc
Data mutasi staf yang dijanjikan Raka baru sampai tiga hari kemudian—lebih lambat dari yang diharapkan, karena menurut HR, permintaan data itu sempat "tertahan" tanpa alasan jelas sebelum akhirnya diproses."Tertahan bagaimana maksudnya?" tanya Alena, membaca laporan singkat yang diserahkan Raka malam itu."Seseorang di bagian administrasi menahannya, katanya karena butuh persetujuan tambahan," jawab Raka, rahangnya mengeras. "Padahal permintaan data internal seperti ini seharusnya tidak butuh proses serumit itu untuk direktur utama."Alena membuka laporan itu, matanya menyusuri daftar nama. Tiga staf keuangan dipindahkan minggu lalu—dua di antaranya ke cabang luar kota, satu lagi mengundurkan diri mendadak tanpa pemberitahuan panjang.Nama staf yang mengundurkan diri itu membuat Alena berhenti sejenak."Raka, coba lihat ini. Nama ini... aku pernah dengar dari Nadia. Katanya orang ini salah satu yang pertama kali memberi tahu dia soal kejanggalan laporan proyek distrik selatan."Raka






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.