แชร์

125. Kabut

ผู้เขียน: CacaCici
last update วันที่เผยแพร่: 2026-04-09 21:56:22
Aeza mendongak takut-takut saat mendengar Alaric mengumpat. Dia kira dia akan dimarahi oleh pria ini, jadi dia cukup waspada.

"Jadi sekarang aku masih menyeramkan, Wifey?" tanya Alaric, meletakkan satu tangannya di atas pucuk kepala Aeza. Satu lagi memeluk pinggang ramping istrinya dengan erat, sesekali meremas atau memijatnya–menggoda Aeza yang terlihat gugup.

Ah, jika saja perempuan ini makanan, mungkin dia makanan ternikmat yang membuat Alaric tak tahan untuk tak memakannya.

Aeza men
CacaCici

Selamat membaca dan semoga suka, MyRe.

| 11
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Terlena Kenikmatan Suami Baru    217. Jangan Pecat!

    'Larisa.' batin Elma, menatap kaget pada sosok yang masih duduk di lantai tersebut. Larisa menatap makanan yang bercecer di lantai, setelah itu segera bangkit sambil menatap kesal pada Elma. "Kamu! Lihat apa yang kamu lakukan?""Saya minta maaf," ucap Elma, tetap bersikap tenang. Mungkin perempuan ini tak mengenalnya, tapi, Elma sangat mengenal perempuan ini. Awal dia bekerja di sini, masih jadi karyawan biasanya, Larisa beberapa kali datang ke perusahaan ini–menemui Dominic. Mereka sepasang kekasih yang kisahnya cukup legendaris dan pernikahannya ditunggu banyak orang-orang. Namun, ternyata hubungan antara Dominic dan Larisa kandas! 'Tapi … sepertinya Tuan Dominic masih cinta pada Larisa.' batin Elma. "Kamu … karyawan di sini?" tanya Larisa, menatap jengkel pada Elma. Elma menganggukkan kepala secara pelan. "Saya sekretaris pribadi Tuan Dominic," ucapnya. "Ouh, kebetulan sekali." Wajah Larisa langsung berseri-seri. Jika sekretaris Dominic ada di sini, berarti Dominic juga ada d

  • Terlena Kenikmatan Suami Baru    216. Aku Tak Berharga?

    "Tolong suapi aku," perjelas Dominic."Umm." Anaya berjalan ke arah meja di depan sofa, berniat mengambil nampan berisi makan malam untuk Dominic lalu membawanya ke meja kerja pria itu. Namun …-"Tunggu di situ. Aku yang akan pindah ke situ," ucap Dominic, segera membereskan pekerjaannya lalu membawanya ke tempat Anaya. Setelah Dominic duduk dan memulai pekerjaannya, Anaya ikut mulai menyuapi suaminya tersebut. Dia duduk di sebelah Dominic, duduk menghadap Dominic yang terlihat fokus pada pekerjaannya. Awalnya hanya ada keheningan. Dominic sibuk pada pekerjaan sedangkan Anaya bingung harus memulai dengan apa dia memulai pembicaraan. Hingga tiba-tiba saja, Dominic bersuara. "Kau dan Larisa pernah bertemu?" tanya Dominic tiba-tiba. Anaya menganggukkan kepala secara singkat. Dia berusaha bersikap biasa saja sekalipun jantungnya deg-deg-kan. "Di mana?" tanya Dominic rendah. "Di toko bunga." Anaya menjawab santai–sebenarnya mencoba santai. "Untuk?" "Beli bunga lah, Mas. Masa un

  • Terlena Kenikmatan Suami Baru    215. Suapi Aku

    "Agar serasi denganku," tambahnya. "Baik, Tu- Mas," ucap Anaya dengan kikuk, sangat gugup karena dia duduk di pangkuan pria ini. Cup' Dominic mencium bibir Anaya dengan lembut, akan tetapi ciuman tersebut cukup singkat. Dominic melepasnya lalu menurunkan Anaya dari pangkuannya. "Pergilah, temui Mommy," ucap Dominic selanjutnya. Anaya menganggukkan kepala, buru-buru pergi dari kamar. Jantungnya berdebar kencang, wajahnya cukup tegang dan bersemu merah. Setelah di luar kamar, Anaya menyentuh bibirnya. Entah kenapa ciuman tadi … lembut dan manis, seolah ada ungkapan perasaan cinta yang tulus di dalamnya. Namun, kenapa sangat singkat? Di saat Anaya menerima dan menikmati kelembutan yang terasa tulus itu, kenapa berakhir begitu saja? "Aih." Anaya menggelengkan kepala, juga memukul pelan kepalanya, demi membuang jauh-jauh pikiran aneh di dalam sana. "Aku mikiran apa sih? Aku di sini dikasih makan saja sudah syukur," gimana Anaya, sengaja mengatakan hal tersebut supaya Anaya m

  • Terlena Kenikmatan Suami Baru    214. Cerita Sesat Daddy

    "Hanya bertanya tentang Seven, Dad," ucap Dominic dengan wajah muram. Apalagi ini?! Istriku?! Shit! Ingin rasanya Dominic berteriak pada daddynya kalau istri dari pria ini adalah mommy Dominic sendiri. Namun, karena dia takut dihabisi oleh pria ini, Domonic lebih baik mengalah. "Seven?" Kening Alaric mengerut. Ada apa dengan Seven? "Masa Dominic bilang Mas mantanku? Jangan-jangan diam-diam Dominic ingin kita pisah yah, Mas, makanya Mas dibilang mantanku," adu Aeza, bersedekah di dada sambil menatap cemberut pada putranya. "Kurang ajar!" marah Alaric. Bug' Dengan emosi, Alaric langsung melayangkan tinju ke wajah putranya. "Tu-Tuan, tahan emosi anda. Siapa tahu ini hanya salah paham, Tuan," ucap Aditya, di mana dia dan Cleo langsung menarik Alaric dari Dominic. Sedangkan Aeza, kali ini dia sama sekali tak iba ataupun kasihan pada putranya yang kena pukul oleh suaminya. "Mampus kamu! Jahat sih kamu sama Mommy," ucap Aeza, masih bersedekap di dada sambil menatap berang ke arah

  • Terlena Kenikmatan Suami Baru    213. Seven adalah Masalah

    "Lupakan mantan kamu!" tegas Aeza, menatap putranya dengan ekspresi serius dan penuh peringat. Dominic menaikkan sebelah alis, menatap heran pada mommynya. Wanita cantik di depannya ini sangat jarang dan bahkan menghindari gosip sampah, tapi entah kenapa gosip satu ini malah sampai ke telinga mamanya. "Mantan tidak bisa dilupakan." Dominic berkata datar, menatap misterius pada mommynya. "Apa maksud kamu ngomong begitu, Nak? Kamu masih ada perasaan pada Larisa? Jangan, Sayang! Kamu sudah punya istri, jaga dan hargai perasaannya," pekik Aeza, menatap khawatir pada Dominic. "Mommy sama sekali tidak melupakan mantan Mommy." Dominic kembali berkata datar. "Kamu … kenapa bicara begitu pada Mommy?" Aeza memicingkan mata, menatap waspada pada Dominic. Seketika dia teringat dengan mantan suaminya yang telah memanifulasinya dan melakukan pemerasan moral terhadapnya. Sudah sejak lama tak ada yang menyinggung masalah itu dihadapan Aeza. Bahkan tak pernah karena suaminya–Alaric, melarang si

  • Terlena Kenikmatan Suami Baru    212. Lupakan Mantan, Seven!

    "Tuh." Dominic menatap kue yang dia berikan pada mommynya, "berikan itu saja," tambahnya. "Ini …-" Aeza menatap kue pemberian putrinya, sebuah kue coklat yang sepertinya sangat kuat. Karena aroma kue tersebut sampai keluar dan tercium, padahal kotaknya belum dibuka. Wajah Aeza tampak bimbang. Awalnya, dia juga ingin memberikan kue coklat untuk Anaya. Hanya saja, dia takut Anaya tak suka kue coklat. Kue coklat itu kue kesukaannya dan putranya. Dia takut … jika dia memberikan kue coklat, Anaya akan beranggapan kalau kue tersebut untuk Dominic. Bukan benar-benar untuk Anaya sendiri. "Ana suka kue coklat nggak, Sayang?" tanya Aeza lembut. Anaya menaikkan kedua alis, kembali gugup saat ditanya apakah dia suka kue coklat atau tidak. 'Selain Rain, nggak ada yang tanya apakah aku suka ini atau tidak. Tapi di rumah ini … Mama selalu tanya. Kue pun dia pastikan aku suka atau enggak. Padahal dikasih kue saja … mau kesukaanku atau enggak sekalipun, aku udah senang luar biasa.' batin Anaya

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status