MasukBenar saja, Nyonya Ratih langsung panik untuk menjawabnya."Ah, Oma. Iya, tadi Oma belum sempat menghubungi kamu. Kamu pasti masih sibuk kuliah, kan. Jadi Oma nggak mau gangguin kamu. Jadi biar Oma yang datang," jawab Nyonya Ratih dengan terbata-bata. "Harusnya Oma bilang sama aku dulu. Lalu Jasmine mana?" tanya Mario sambil mencari keberadaan Jasmine. Ia tak melihat batang hidung istrinya itu di sana."Jasmine, tadi dia udah pergi!" jawab Nyonya Ratih."Pergi? Apa dia sudah tahu jika temannya ini yang udah fitnah dia?" tanya Mario menyelidik. Karena Nyonya Ratih sudah bosan membicarakan tentang Jasmine, wanita itu pun menjawabnya dengan ketus."Udahlah! Oma bosan ngomongin soal Jasmine. Lagian masalahnya udah clear. Jadi kamu nggak usah nyariin dia. Palingan dia ada di kantin, makan!" jawab Nyonya Ratih dengan wajah judesnya."Oma, kok gitu sih ngomongnya, malu!" sahut Mario."Iya, emang di mana lagi kalau bukan di kantin. Lagian dia juga nggak hati-hati. Kalian pergi berdua saja ta
Mereka semuanya terkejut dan langsung panik."Ah, Jasmine. Dia tadi ada di ruangan kepala sekolah!" jawab salah satu di antara mereka. Tanpa menunggu lama, Mario langsung pergi menuju ke ruangan kepala sekolah. Namun sebelum itu, pemuda itu dikejutkan dengan salah satu mobil yang terparkir di halaman sekolah. "Itu kan mobil Oma? Jadi Oma ada di sini? Kenapa Oma nggak ngomong?" batin Mario. Ya, itu memang adalah mobil milik sang Oma. Tentu saja Mario sangat mengenalinya. Tanpa menunggu lama, pemuda itu segera pergi ke arah kantor kepala sekolah. Di sisi lain, Jasmine masih berada di kelas bersama Yuni. Sebenarnya gadis itu tidak terlalu percaya dengan ramalan. Namun apa pu yang dikatakan Yuni selalu mejadi kenyataan."Hah, aku tahu apa yang ada dalam pikiranmu, Jasmine. Tak apa kalau kamu tidak percaya, aku tidak memaksa. Aku cuma menyampaikan apa yang aku lihat dan aku rasakan. Tapi percayalah, Kakakmu sangat mencintaimu. Dia tidak akn pernah bisa berpaling pada wanita mana pun. Han
Di sisi lain, Pak kepala sekolah langsung menegur Dinda setelah melihat rekaman dari ponsel Emma."Dinda, jelaskan apa ini?" desak Pak kepala sekolah. Wajah Dinda langsung pucat dan gadis itu bingung harus menjawab apa. Ia sudah tidak bisa mengelak lagi karena rekaman itu sangat jelas sebagai bukti jika Jasmine tidak bersalah. "Emmm, saya....saya..." Dinda tergagap dan sangat jelas jika gadis itu ketakutan. Pak Purba juga ikut menginterogasi Dinda karena ia juga curiga jika Dinda melakukan itu karena motif tertentu atau ada yang menyuruhnya."Cepat katakan! Atau aku akan memberikanmu sangsi, aku akan cabut beasiswamu dari sekolah karena kamu sedang berusaha menyebarkan berita hoax dan memfitnah temanmu sendiri," ancam Pak Purba. Dinda langsung memohon ampun dan meminta Pak Purba untuk memaafkannya."Ampun, Pak. Saya minta maaf. Tapi saya mohon jangan hapus beasiswa saya. Iya, saya mengaku salah. Memang saya yang menyebarkan foto-foto Jasmine dan mengeditnya. Tapi saya melakukan itu
Jasmine langsung membungkam mulutnya sendiri. Gadis itu langsung memperhatikan sekitar, khawatir jika ada yang mendengarnya. Setelah memastikan tidak ada siapa pun di sana kecuali dirinya dan Yuni, Jasmine langsung meminta Yuni untuk tidak bicara itu lagi. "Yun, dengar! Aku nggak tahu kenapa kamu bisa ngomong gini, mana mungkin aku hamil, itu nggak mungkin, jadi tolong jangan bicarakan itu lagi!" bisik Jasmine. "Tidak ada yang tidak mungkin, Jasmine. Jodohmmu sudah digariskan sejak lahir. Tenang saja, semua pasti akan baik-baik saja, kamu pasti bahagia, cuman...!" Yuni tidak melanjutkan kata-katanya karena ia merasakan ada sesuatu yang menghalangi kebahagiaan Jasmine meskipun akhirnya Jasmine akan hidup bahagia dengan pasangannya. Jasmine mengerutkan keningnya. "Cuman apa? Ada apa, Yun?" tanya Jasmine penasaran. Yuni menghela napas sejenak. Gadis itu sedikit menggelengkan kepalanya seolah ada sesuatu yang harus Jasmine waspadai. "Ada bayangan perempuan, bisa dibilang dia musuh ta
"Sssttt! Tenang, Jasmine!" sahut Yuni.Jasmine sendiri tak bisa membayangkan jika dirinya memang hamil. Bisa-bisanya Yuni bicara demikian dan ucapan gadis itu selalu kejadian."Tenang, Yun! Kamu bilang sebentar lagi aku hamil? Yang benar aja dong! Gila kamu. Nggak mungkin itu!" sahut Jasmine yang tampak panik."Ya memang itu yang aku lihat. Dalam waktu dekat kamu bakalan hamil. Tapi percayalah, awalnya memang rumit, tapi perlahan semuanya akan terang dan kamu akan mendapatkan kebahagian," kata Yuni dengan yakin."Bahagia katamu? Aku nggak percaya. Lagipula nggak mungkin aku hamil, aku belum menikah dan aku nggak punya pacar!" kata Jasmine. Sepertinya Yuni sudah mengetahui semuanya tentang seluk beluk kehidupan dan kisah cinta Jasmine.Yuni memang memiliki kemampuan sixsense dan apa yang diramalkannya pasti terjadi dalam waktu dekat."Kamu memang belum menikah, ah maksudku pernikahanmu masih belum banyak yang tahu, dam kamu bukan gadis lagi. Iya, kan?" kata Yuni lagi. Jasmine terheran-
Dinda langsung berusaha merebut ponsel Emma. Tapi sayangnya Emma sengaja mempermainkan gadis itu dengan mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Emma yang memiliki postur tinggi, tentu saja Dinda tidak bisa meraih ponsel yang dibawa oleh Emma."Kakak mau ambil? Ambil kalau bisa!" seru Emma sambil mengejek. Gadis itu sangat suka ekspresi wajah Dinda yang ketakutan."Emma plis! Apa yang kamu dengar itu tidak benar, aku dan Yongki tidak ada apa-apa, kami cuma sedang membicarakan hal lain!" ucap Dinda."Oh ya? Kakak pikir aku percaya, kalau nggak ngomongin trntang Kak Jasmine. kenapa kakak takut? Biasa aja dong, nanti semua orang juga tahu!" jawab Emma dengan tegas.Sementara itu Pak Purba dan kepala sekolah tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara kedua gadis itu."Emma, ada apa?" tanya Pak kepala sekolah. Emma langsung berbalik badan dan menjawab pertanyaan kepala sekolah."Saya punya bukti, Pak. Dan bukti ini akan membebasakan Kak Jasmine dari segala tuduhan karena kakak saya sedang
“Diafff kamfu!” teriak Nadine lagi. Kali ini Juki berusaha untuk tidak tertawa meskipun ia ingin sekali tertawa mendengar jawaban wanita itu. Konyol, ini sangat konyol. Bagaimana nanti jika dirinya jadi hidup serumah dengan wanita itu, pasti hari-harinya dipenuhi dengan kegilaan. “Iya, iya, maafk
"Aduhhh, susah amat nusuknya, alot bener nih daging sampai pegel tangan!" Juki menggerutu saat ia sedang menusuk daging kambing yang teksturnya cukup keras. Seperti biasa Juki selalu membuat puluhan tusuk daging sapi dan kambing untuk dagangannya sebagai tukang sate. Namun tiba-tiba... "Daripada
Nadine memutar bola matanya mendengar ucapan Juki.“Nggak akan pernah! Membayangkannya saja aku udah ilfeel. Jadi jangan berpikir aku bakal ketagihan, dihh!” sahut Nadine dengan ketus.“Ya sudah terserah, Tante. Buruan pegangin! Lagipula saya juga belum tentu bisa tegang dielus-elus sama Tante. Say
Sepertinya Juki harus memberikan pengertian kepada Nadine bahwa itu bukanlah ular. "Ohhh, ini bukan ular, Tante. Tapi ini yang bakal bikin Tante hamil. Kalau nggak ada ini, ya gimana saya bisa transfer benih ke rahim Tante, masa lewat sedotan?!" kata Juki dengan entengnya.Akhirnya Nadine baru men







