LOGINDi sisi lain Jasmine dan Mario tak sadar jika Nyonya Ratih tengah memperhatikan mereka. Keduanya justru asyik bercanda dan ketawa-ketawa. "Habis ini mandiin aku, ya?" bisik Mario di telinga Jasmine. Gadis itu merasa geli sambil mencubit pinggang Mario. "Nggak mau, mandi sendiri sono!" jawab Jasmine. "Ya nggak bisa. Pokoknya kamu kudu mandiin aku. Aku kan suamimu sekarang!" kata Mario lagi. "Ihhh, ogah! Kakak pasti mau jailin aku, kan? Aku yakin sekali!" jawab Jasmine yang sudah tahu isi kepala suaminya. Mario mengulum senyumnya dan spontan mencium pipi sang istri. Hal itu tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang marah melihatnya. "Ihhh, jangan di sini, Bang. Nanti Oma ngelihat kita gimana?" seru Jasmine sambil mendorong dada pemuda itu. "Nggak urus! Biarin aja Oma tahu!" sahut Mario tak peduli sama sekali. Benar saja, keduanya dikejutkan dengan Nyonya Ratih yang tiba-tiba berdiri di depan mereka sambil menyilangkan kedua tangan menatap tajam ke arah kedua cucunya. "Oma!"
Jasmine langsung mencubit lengan suaminya. "Aduh!" pekik Mario sambil mengusap-usap bekas cubitan istrinya. "Udah ya, Kak. Mending kakak nggak usah pesan-pesan jamu segala!" kata Jasmine sambil mengerucutkan bibirnya. Mario dengan entengnya menjawab kata gadis itu. "Memangnya kamu nggak mau punya anak dari Kakak?" Jasmine langsung melototkan matanya dan tampak gemas dengan jawaban konyol Mario. "Apa sih kakak, nih! Aku masih sekolah jadi nggak mungkin aku punya anak!" sahut gadis itu. "Ya nggak apa-apa lah. Lagian sebentar lagi kamu juga lulus nggak bakalan kentara!" jawab Mario dengan santainya. "Tetap enggak! Kalau mau punya anak nanti-nanti saja. Aku nggak mau badan aku melar dan gemuk! Entar kamu jadi nggak tertarik lagi!" kata Jasmine. Mario langsung merangkul gadis itu sambil menggodanya. "Memangnya aku ada indikasi seperti itu?" tanya Mario sambil senyum-senyum. "Ya kali aja. Cowok kan rata-rata gitu. Kalau ceweknya udah jelek pasti deh ngelirik cewek lain. Kamu past
Sungguh, Pak Purba sangat ketakutan. Sepertinya pria itu merasa sangat bersalah kepada Ana. Lebih-lebih semua teman-teman yang turut melecehkan Ana sudah meninggal semua. Tinggal Pak Purba yang masih hidup sampai sekarang, itu pun ia mengalami penyakit yang aneh saat kadang kambuh kadang sembuh. Kepala pria itu mengalami cidera ringan akibat pukulan botol di kepalanya oleh Ana ketika wanita itu dipaksa melayani empat orang pria. Ya, Pak Purba dan ketiga temannya menggilir Ana sampai wanita itu tak sadarkan diri dan Pak Purba lah yang paling banyak melakukan pelecehan. Sekarang, penyesalan menimpa dirinya. Ia sering merenung dan sangat berdosa pada Ana. Bahkan ia sempat ingin meminta maaf pada wanita itu dan bertaggung jawab lantaran wanita itu diketahuti mengandung setelah kejadian perkosaan itu. Tapi sayang, Ana sudah keburu meninggal dunia dan Pak Purba belum sempat meminta maaf padanya. Hanya saja yang ia ketahui Ana melahirkan anak perempuan hasil perkosaan itu yang kini enta
Di saat Mario dan Jasmine belum pulang. Nyonya Ratih mengajak keluarga Cerry untuk ketemuan. Sepertinya wanita itu sedang merencanakan sesuatu untuk mendekatkan Mario dengan Cerry. Ya, wanita itu membicarakan tentang perjodohan Mario dan Cerry. Sepertinya Nyonya Ratih sangat antusias untuk segera menikahkan Mario dengan Cerry yang merupakan anak seorang pengusaha kaya raya. "Selamat siang, Nyonya Ratih. Senang bisa bertemu dengan Anda!" ucap seorang pria kepada Nyonya Ratih. Pria itu bernama Pak Purba, pemilik beberapa perusahaan di kota itu. "Siang juga, Pak Purba!" jawab Nyonya Ratih. "Mari, silakan duduk!" seru Pak Purba. "Terima kasih!" Lantas, Nyonya Ratih segera membucarakan rencananya untuk segera mempercepat pertunangan Mario dan Cerry agar dirinya punya alasan untuk memisahkan Jasmine dan Mario lantaran ia khawatir jika Jamsine dan Mario makin dekat mengingat mereka bukan saudara kandung. "Bagaimana kalau bulan depan kita percepat pertunangan mereka? Kebetulan
Istri Pak Kodir tampak gelisah. Wanita itu tahu apa yang sedang dibicarakan oleh suaminya. Akankan pria itu mengatakan yang sebenarnya jika Nyonya Ratih mendapatkan donor jantung dari Almarhum Ana yang tak lain adalah ibu kandung Jasmine. Tentu saja mereka belum mengetahui berita itu karena saat itu Mario masih kecil dan Jasmine juga baru lahir. Pak Kodir menatap wajah mereka bergantian. Mungkin sudah saatnya ia mengatakan yang sebenarnya supaya Jasmine tahu jika jantung ibunya masih berdenyut di tubuh Nyonya Ratih. "Ada apa, Pak? Siapa yang Bapak maksud?" sambung Jasmine yang juga penasaran. Sedangkan yang ia tahu Nyonya Ratih tidak pernah menyia-nyiakan anak siapa pun kecuali dirinya. Namun, jika itu dirinya, artinya sang ibulah yang mendonorkan jantung untuk Nyonya Ratih. Pak Kodir menarik napas dalam-dalam. Mungkin sudah saatnya ia berterus terang agar Jasmine tahu yang sebenarnya dan Nyonya Ratih bisa menghargai gadis itu. Lantaran pria itu tak tega mendengar cerita bagaimana
Istri Pak Kodir menghampiri pria itu dan mempersilakan masuk. Jasmine masih bingung siapa yang mau menikah. Sebelum gadis itu bertanya lagi, Mario langsung memberikan jawaban. "Kita yang akan menikah!" Sontak Jasmine membulatkan matanya mendengar ucapan Mario. "Maksud kakak apa? Kita menikah?" seru Jasmine tak percaya. Dengan tegas Mario menjawabnya lagi. "Ya, kita menikah sekarang. Aku sudah memikirkannya masak-masak. Jika ini tidak kita lakukan maka hubungan kita akan semakin terlarang, kau tahu aku tidak bisa menahan diri saat di sampingmu. Toh, kamu bukan adik kandungku, bukan? Jadi kita halal untuk menikah!" ucap Mario lagi. "Tapi, Kak! Bagaimana dengan Mama, Papa...!" Belum sampai Jasmine merampungkan kata-katanya, Mario langsung menutup bibir gadis itu dengan satu jarinya. "Ssstt! Aku pasti bisa meyakinkan mereka. Mama dan Papa tidak seperti Oma. Mereka pasti mengerti, oke!" kata Mario. "Kakak yakin?" "Sangat yakin! Percayalah, semua pasti baik-baik saja. Untuk saat ini
"Aduhhh, susah amat nusuknya, alot bener nih daging sampai pegel tangan!" Juki menggerutu saat ia sedang menusuk daging kambing yang teksturnya cukup keras. Seperti biasa Juki selalu membuat puluhan tusuk daging sapi dan kambing untuk dagangannya sebagai tukang sate. Namun tiba-tiba... "Daripada
Nadine memutar bola matanya mendengar ucapan Juki.“Nggak akan pernah! Membayangkannya saja aku udah ilfeel. Jadi jangan berpikir aku bakal ketagihan, dihh!” sahut Nadine dengan ketus.“Ya sudah terserah, Tante. Buruan pegangin! Lagipula saya juga belum tentu bisa tegang dielus-elus sama Tante. Say
"Ba-baik, Tante!" jawab Juki. Nadine sendiri juga bingung. Sungguh, wanita itu nampak gusar seolah ia juga sangat gugup."Ya ampun, bisa kah aku melakukannya? Aku takut sekali. Hah, kalau saja Oma nggak maksain aku buat punya anak. Aku nggak bakalan ngelakuin hal gila kayak ini. Apalagi sama cowok
“Diafff kamfu!” teriak Nadine lagi. Kali ini Juki berusaha untuk tidak tertawa meskipun ia ingin sekali tertawa mendengar jawaban wanita itu. Konyol, ini sangat konyol. Bagaimana nanti jika dirinya jadi hidup serumah dengan wanita itu, pasti hari-harinya dipenuhi dengan kegilaan. “Iya, iya, maafk







