LOGINAirin menoleh.
Ia melihat pria bernama Jaka sedang berdiri di hadapannya. Kali ini pria itu berpenampilan lebih formal dari hari kemarin. Ia mengenakan setelan jas rapi ditambah sepatu pantovel dan rambut cepaknya yang tersisir klemis.
Di sampingnya ada Arka yang tersenyum lebar dengan permen lollipop dalam genggamannya.
“Bunda!!”
Airin tersenyum, mengangguk melihat Arka.
“Sini, Sayang!!”
Airin mengulurkan tangan meminta Arka m
Tirta tertegun mendengar jawaban Airin. Entah apa yang sedang terjadi pada mereka berdua, tapi Tirta yakin sesuatu yang lebih besar sedang mengintai pernikahan mereka. Drrt. Pandangan Tirta kembali ke ponselnya. Ia menyudahi pemeriksaan kemudian mengambil ponsel dan menjawab panggilannya. Ia berjalan ke arah ruang konsultasi, duduk di kursinya. “Iya, Tama.” Suara Tirta menyapa Tama di seberang sana. “Apa Airin sudah menemuimu?” Tirta menghela napas, ia melirik Airin yang masih terbaring di ruang periksa. Ada seorang perawat yang membantunya sekarang. “Iya.” “Syukurlah. Maaf, aku tidak bisa menemaninya.” Tirta hanya diam sambil menganggukkan kepala. Matanya masih memberi perhatian ke Airin yang kini sudah bangun dari ranjang periksa dibantu perawat. “Apa semuanya baik saja? Perkembangan janinnya, baik, kan?” “Iya, baik. Semuanya terlihat baik-baik saja.” “Lalu kesehatan Airin bagaimana?” Tirta terdiam lagi. Airin sudah bangkit menghampirinya, duduk di depan Tirta sambil be
Hari itu keheningan pagi diawali oleh sebuah panggilan yang berasal dari ponsel Tama. Tama yang masih sibuk bersiap terlihat bingung. Ia jalan mondar mandir sambil menjawab ponselnya.“Ran, buruan!! Lakukan sesuatu!! Kenapa dia tiba-tiba pingsan?”Wajah Tama terlihat panik. Rambutnya belum disisir rapi, dasinya belum terpasang dengan sempurna. Namun, dia sudah mengenakan jasnya dan berlalu pergi dari kamar.“Panggil ambulan!! Atau apa saja!! Aku sebentar lagi ke sana!!”Tama berlarian menuruni anak tangga, bahkan beberapa dia loncati dengan sengaja. Airin yang sedang menikmati sarapan di ruang makan, hanya meliriknya sekilas.Tama mengakhiri panggilan, menyimpan ponselnya di saku dan berjalan menghampiri Airin.“Arka … Arka pingsan, Rin.”Airin terkejut. Matanya membola. Ia sudah menghentikan sarapannya.“Lalu … bagaimana?”“Rani panik. Sampai sekarang,
Rani terdiam.“Aku tahu, Ma.”“Bagus. Kalau tahu, jangan lihat dia seperti tadi.”Rani langsung menoleh.“Seperti apa?”Bu Wulan tersenyum tipis.“Seperti seorang istri yang sedang menunggu suaminya pulang.”Wajah Rani seketika menegang. Tanpa menunggu jawaban Rani, Bu Wulan melenggang masuk ke dalam rumah lagi.Di dalam kamar, Tama duduk di tepi kasur, siap untuk membacakan dongeng. Ia memang tidak pernah melakukan hal ini sebelumnya, tapi entah mengapa aktivitas itu mengingatkannya pada Airin.Tama ingat dengan baik jika Airin selalu membacakan dongeng untuk Arka saat mereka tinggal di rumah Bu Kedasih tempo hari. Tama juga ingat ekspresi Airin yang begitu menjiwai setiap tokoh dalam cerita yang dibacakan.“Pa!!”Tama menoleh.“Kok belum dimulai?” protes Arka.Tama tersenyum.Untuk beberapa saat tadi, ia memang ke
Airin menatap lama ponselnya, tanpa membalas pesan tersebut.“Pesan dari Tuan ya, Non?”Suara Bi Sumi membuyarkan lamunan Airin. Airin tersenyum sambil mengangguk pelan.“Iya, Mas Tama tidak pulang malam ini.”“Kok tumben,” jawab Bi Sumi spontan sambil mengernyitkan alis.“Memangnya kenapa? Apa Mas Tama yang dulu selalu pulang ke rumah meski pada akhirnya ia bertengkar dengan Mbak Rani?”Bi Sumi terdiam, tapi beberapa saat selanjutnya ia mengangguk.Airin menarik napas panjang.Ia bangkit dari duduknya dan berjalan ke kamar mandi. Rasanya Airin tahu apa alasan Tama melakukan itu. Tak lain tak bukan karena ia masih mencintai Rani.Separah apa pun hubungan mereka dulu, nyatanya masih ada sesuatu yang membuat Tama selalu kembali kepada Rani. Kalau dipikir Airin seperti orang bodoh yang terjebak di antara mereka.“Habis ini saya turun untuk makan, Bi,” ucap A
Mobil Tirta terus melaju meninggalkan kawasan hotel. Airin duduk diam di kursi penumpang. Sejak tadi pandangannya terpaku ke luar jendela. Ia tidak menangis.Tidak juga bertanya kepada Tirta.Namun, satu pemandangan terus berputar di kepalanya. Tangan Tama yang menggenggam tangan Rani dengan mata yang saling menatap satu sama lain.Airin menghela napas beberapa kali. Entah sampai kali yang keberapa hingga tiba-tiba Tirta bersuara.“Kamu baik-baik saja?”Airin terdiam sesaat. Tidak ada jawaban yang keluar dari mulutnya, tapi kepalanya malah menunduk.“Rin … .”“Gak apa-apa, Dok. Ini … ini bukan yang pertama, kok.”Tirta menarik napas sambil melirik Airin sekilas.“Apa maksudmu? Kamu sudah sering melihat mereka berduaan di belakangmu?”Airin mengangguk.“Mungkin mereka sedang bahas kerjaan, Dok. Saya pasti salah paham lagi.”“Atau … mungkin mereka sedang membahas soal Arka. Arka kan sedang sakit sekarang.”“Harusnya … saya mengerti ya, Dok.”“Saya gak boleh marah, kan? Apalagi cemburu.”
Airin buru-buru memalingkan wajah, memutar tubuhnya dan berjalan kembali ke arah hotel.Bruk!!Airin langsung menabrak Tirta yang berjalan di belakangnya. Tirta terkejut melihatnya.“Kenapa? Gak jadi beli minum?”Airin tersenyum, mendongak menatap Tirta.“Saya tiba-tiba sudah gak haus lagi, Dok. Kita langsung pulang saja.”Tirta mengangguk dengan bingung, tapi ia menurut dan mengikuti langkah Airin. Sekilas Tirta menoleh ke belakang. Ia melihat di balik kaca ada Tama dan Rani sedang duduk berhadapan tampak saling berpegangan tangan.Pandangan Tirta kembali ke Airin yang sudah menjauh di depannya.“Apa karena itu Airin tidak jadi beli minum?” gumamnya.“Kamu baik-baik saja?” tanya Tirta begitu mereka sudah di dalam mobil.Airin tersenyum, menoleh ke arahnya.“Iya. Bahkan tidak sebaik biasanya.”Tirta mengernyitkan alis. “Kamu yakin?”“Iya. Saya … saya mau pulang, Dok.”Tirta mengangguk dan mulai menjalankan mobilnya tanpa bertanya apa lagi ke Airin.**Satu jam sebelumnya …Tama baru s







