LOGINIndah, perempuan broken home yang haus akan kasih sayang terjerumus dalam lumpuh hitam demi mencari kebahagiaan. Namun, siapa sangka ketika ia ingin keluar dari gelapnya dunia malam ia malah dihantam banyak karma. Semakin ia mencoba keluar, semakin ditarik pula pada jurang kehancuran yang entah kapan akan berhasil keluar kedaratan. Cinta, kasih sayang, bahagia, apakah itu hanya sekedar mimpinya semata? Tak adakah Takdir bahagia untuknya?
View More"Katanya dia meracuni Yang Mulia Raja.”
“Benarkah?” “Putri Vivienne jauh lebih pantas menyandang status Putri Mahkota." Bisikan-bisikan itu menusuk udara pagi yang membeku, namun Edelyn Athea Malvios tidak berkedip. Di atas panggung kayu yang baru dibangun semalam—ia tahu itu karena bau getahnya masih menyengat di antara aroma dupa dan keringat para pengawal—sang Putri Mahkota berdiri. Bukan dengan mahkota atau jubah sutra, melainkan hanya selembar gaun putih tipis yang melekat pasrah pada tubuhnya yang gemetar digigit angin utara. Rambut hitamnya yang panjang terurai tanpa hiasan, diterbangkan angin yang berhembus dari utara. Di bawah panggung, ribuan rakyat Malvios berkumpul untuk menyaksikan eksekusi itu. Beberapa menunduk, beberapa menatap iba, namun lebih banyak yang menghinanya. Edelyn bisa mendengar samar-samar hinaan yang mereka lontarkan—tentang kebodohannya, tentang kelayakan Vivienne, tentang bagaimana selama ini ia tidak pernah melakukan apa-apa. Hari ini, di bawah langit Malvios yang seabu batu nisan, Edelyn akan dieksekusi seperti seorang penjahat rendahan. Dua puluh dua tahun ia tumbuh sebagai putri yang dikasihi, merajut tawa di taman yang sama, dan memercayai setiap kata yang keluar dari mulut Lady Seraphina dengan sepenuh hatinya. Namun di sinilah ia sekarang: dikhianati oleh wanita yang sudah dianggapnya ibu, difitnah meracuni ayahandanya sendiri, dan ditinggalkan oleh seluruh kerajaan yang dulu bersumpah setia kepadanya. Rasa sakit terbesar bukanlah tali kasar yang kini menggores lehernya, melainkan kenyataan betapa bodohnya ia karena tidak melihat kebusukan itu lebih cepat. Ia tidak pernah bertanya. Tidak pernah curiga. Tidak pernah melihat bahwa senyum Lady Seraphina yang ia lihat setiap pagi adalah senyum yang sama yang tersembunyi di balik racun yang merenggut nyawa Ayahnya. Edelyn mengepalkan tangannya, tapi tidak ada air mata. "Edelyn Athea Malvios." Suara Kepala Pengawal memecah dinginnya udara. "Engkau telah dinyatakan bersalah atas pembunuhan terhadap Raja Malvios. Atas pengkhianatan terhadap kerajaan yang telah membesarkanmu. Hukuman yang dijatuhkan adalah—" Edelyn tidak mendengarkan sisanya. Matanya menyapu kerumunan, bukan untuk mencari belas kasihan, melainkan untuk mengingat. Ia menatap Lady Seraphina yang duduk elegan di kursi Raja, di balik gaun merah tua yang membungkus tubuhnya dengan mantel bulu putih yang tersampir di bahunya—yang menghalau dinginnya udara pagi. Rambutnya tersisir sempurna, tangannya terlipat rapi di pangkuan. Perempuan itu tidak tersenyum. Namun ada sesuatu di balik ketenangan wajahnya...sesuatu yang membuat dada Edelyn terasa sesak. Ia menatap Vivienne, saudara tirinya, yang berdiri sedikit di belakang kursi ibunya dengan gaun biru sutra yang kontras dengan gaun putih tipis yang ia kenakan. Bahu Vivienne bergetar seolah menahan tangis di balik kepala tertunduk—sebuah kepura-puraan yang menjijikkan. Lalu, ia menemukan Caelan. Lelaki yang dicintainya berdiri di barisan para bangsawan. Wajahnya pucat, matanya merah sembab, dan di antara kerumunan bangsawan yang memandangnya seperti mayat berjalan, Caelan adalah satu-satunya yang terlihat seperti sedang sekarat. Ia tidak menangis—tapi Edelyn bisa melihat bagaimana rahangnya mengeras, bagaimana tangannya mengepal di sisi tubuhnya, bagaimana seluruh tubuhnya bergetar menahan sesuatu yang tidak bisa ia keluarkan. Kau selalu terlambat, Caelan, batin Edelyn lelah. Cinta tidak ada artinya ketika yang dibutuhkan adalah keberanian untuk membelaku. Memalingkan wajah dari Caelan, netra Edelyn tanpa sengaja menangkap sosok di tepian yang sunyi. Di sana, terpisah dari keluarga bangsawan dan barisan pengawal, berdiri Lucien Aster. Lelaki itu tidak memalingkan muka. Ia menatap Edelyn sepenuhnya dengan tatapan yang sulit dibaca dari jarak sejauh ini sebelum Edelyn kembali menatap langit abu-abu Malvios. Kepala Pengawal melanjutkan pembacaan keputusan, tapi angin membawa kata-katanya pergi. Edelyn tidak peduli. Ia memejamkan mata sebentar, membiarkan udara pagi yang dingin mengisi paru-parunya untuk terakhir kalinya. Tidak ada air mata yang mengotori wajahnya. Saat ia membuka mata kembali, tatapannya menelusuri satu per satu wajah di hadapannya—Seraphina, Vivienne, Caelan, para bangsawan, rakyat yang menonton seperti ini adalah tontonan. Pengawal di sisinya bergerak, mengeratkan ikatan pada lehernya. Tali itu kasar, meninggalkan bekas merah di kulitnya yang pucat. Langit masih abu-abu. Angin masih dingin. Baik. Kalau begitu, ingatlah ini baik-baik. Ingatlah Seraphina yang duduk di kursi Raja. Ingatlah Vivienne yang berpura-pura menangis. Ingatlah Caelan yang terlambat menolongmu. Ingatlah para bangsawan yang memandang ke tempat lain. Ingatlah semuanya. Papan kayu di bawah kakinya siap ditarik. Di dada Edelyn, di tempat yang seharusnya berisi ketakutan atau doa pasrah, justru menyala satu hal yang begitu murni, begitu bersih, dan begitu dalam hingga merasuk ke tulangnya: Kemarahan. Ingatlah wajah-wajah mereka. Jangan pernah memaafkan mereka. Jangan pernah memaafkan dirimu sendiri. "Laksanakan!" Hentakan keras terdengar. Papan kayu di bawah kakinya lenyap. Tali itu menjerat lehernya dengan fatal, memutuskan pasokan udara seketika. Rasa sakit menyebar dari leher ke seluruh tubuhnya, Pandangan Edelyn mulai menggelap seiring rasa sakit yang menghantam, namun ia menolak memejamkan mata. Ia menatap langit abu-abu Malvios sampai detik terakhir dengan api kemarahan yang membakar dada. Namun, tepat saat kesadarannya hampir direnggut sepenuhnya oleh kegelapan maut, sebuah sentakan asing yang amat panas tiba-tiba menghantam jantungnya—membuat dadanya bergemuruh. Seolah ada sesuatu yang menolak membiarkannya pergi, memaksa jiwanya yang hampir mati untuk ditarik kembali dengan paksa.Suara dentuman musik menggema, Indah duduk di kursi bar tender. Sama seperti sebelumnya, ia ditemani dengan rokoknya. Ia menatap layar ponselnya sejenak, lalu ia pun tersenyum. Hampir satu minggu ia tak pulang ke rumah. Tapi tak ada yang bertanya tentang dirinya. Baik Ayah ataupun ibunya mereka hanya sibuk dengan dunia mereka sendiri, ketika kembali mereka hanya menuntutnya menjadi anak baik. Miris. "Apa yang aku harapkan?" gumamnya prustasi. Lalu seseorang pun duduk di sampingnya, dan bartender pun memberikan segelas minuman. Pria itu memantik rokoknya dan menatap Indah. Indah meliriknya dari samping, lalu tersenyum, Adrian pun membalas senyuman itu. "Apa kabar?" tanya Adrian. "Baik," jawab Indah lalu menatap sekitarnya, ia mengangkat gelasnya lalu menemuinya. Diam untuk sesaat, ia menghisap rokoknya dan asap pun keluar. Jelas ia sudah terbiasa dengan itu semua. "Ada yang sedang kau tunggu?" tanya Adrian. Indah menggeleng, "Aku hanya takut istrimu melihat kita
Pagi harinya. Indah terbangun, ia melihat pria itu sedang memakai dasinya dan Indah pun segera mendudukkan tubuhnya tak lupa menarik selimut menutupi tubuhnya. "Aku merasa kau sangat menyenangkan, bagaimana kalau aku bantu keluar dari tempat itu dan menjadi simpananku?" tanya pria itu. Simpanan? Indah bukan tersenyum getir, tapi tersenyum menahan tawa dibuatnya. Bahkan ia tak tertarik sama sekali. "Kenapa? Kau bisa melakukan apapun, tapi hanya aku yang kau layani," kata pria itu lagi. "Tuan, saat diranjang kita adalah dua orang yang penuh cinta. Tapi setelah itu kita hanya dua orang asing, itu aturan mainnya," jawab Indah sambil terkekeh kecil. "Begini saja, simpan kontakku...nanti hubungi aku kalau kau berubah pikiran," ucap pria itu. Indah pun mengangguk dan mereka bertukar nomer ponsel. "Aditia," kata pria itu menyebutkan namanya. "Oke," kata Indah dan menyimpan nomor kontak pria itu. "Ingat, jika kau setuju kau akan ikut aku setiap kali perjalanan dinas teruta
Tiga hari kemudian. Indah membuka matanya perlahan, ia pikir sudah mati setelah dikurang tanpa makan dan minum. Bahkan minin penerangan. Ternyata tidak, ia masih di dunia ini dan kini sedang dirawat di rumah sakit. Ia tersenyum getir tak mentangka hidupnya benar-benar sangat menyedihkan, ia tersenyum menatap jendela kamar. Tap tap tap... Terdengar suara langkah kaki, ternyata yang datang adalah ibunya. Ani datang dengan wajah marah, tak ada kehangatan apa lagi kekhawatiran sebagai rasa sayang yang diharapkan oleh Indah. Tatapannya penuh kebencian, penghakiman tanpa pernah bertanya tentang perasaannya. "Anak kurang ajar! Bukannya kuliah malah jual diri di klub malam! Kapan kamu bisa jadi anak membanggakan?!" geramnya. Mata Indah terasa penuh, ia menahan air mata mendengarnya. Kenapa mereka tidak pernah bertanya sesakit apa selama ini ia melewati semuanya sendiri? Melawan hari-hari yang tak pernah indah seperti namanya sendiri. Lalu. Ani melemparkan sejumlah uang
Pagi harinya, Indah terbangun. Ia masih tidur dalam posisi tengkurap, sementara Adrian tidur dengan menjadikan tubuh Indah sebagai sandaran. Indah bergerak perlahan. Gerakannya membuat Adrian ikut terjaga. Brak! Pintu kamar tiba-tiba terbuka dan menampakkan seorang wanita. Adrian langsung bangkit. Tatapannya berubah tajam melihat siapa yang berani masuk ke kamarnya tanpa izin. Sementara itu, Indah mendudukkan tubuhnya dan menatap wanita yang berdiri di ambang pintu. "Dasar pelakor!" teriak wanita itu sambil menatap Indah penuh kemarahan. Indah terkejut. Ia segera turun dari ranjang dan menatap wanita itu dengan bingung. "Adrian, kamu gila, ya?! Ternyata benar kamu selingkuh?!" ucap Tere dengan marah. Dadanya naik turun menahan emosi. Tere berjalan mendekati Adrian lalu mendorong dadanya. "Kamu jahat!" teriaknya. "Tere, cukup!" sentak Adrian. Namun Tere menggeleng, jelas tidak terima dengan apa yang dilihatnya. Ia kemudian berbalik dan berjalan menghampiri Indah.












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.