登入“Percuma membuka lembar baru kalau tanganmu masih erat menggenggam cerita lama.” Sakit hati Airin Arunika saat mengetahui Tama Adi Wisesa---suaminya, berhubungan lagi dengan mantan istrinya. Bukan hanya berkaitan dengan urusan anak, tetapi ini lebih mendalam. Ada sesuatu yang belum selesai dengan mereka. Akankah Airin bertahan atau memilih menyerah begitu saja?
查看更多Senyum di wajah Rani membeku. Tangannya yang sejak tadi mengelus kepala Arka berhenti.“Hamil?”Suaranya terdengar pelan. Bu Kedasih mengangguk penuh bahagia.“Iya. Airin sedang hamil anak Tama.”Rani tidak menjawab. Tatapannya perlahan beralih kepada Tama. Pria itu hanya diam.Untuk beberapa detik, mata mereka bertemu. Ada sesuatu yang tidak mampu Airin pahami dalam tatapan keduanya. Kemudian Rani tersenyum. Senyum yang sama sekali tidak sampai ke matanya."Selamat, Rin.""Terima kasih, Mbak."Beberapa detik, ruangan itu dipenuhi keheningan.“Ayo, kita lanjut makan. Nanti keburu dingin.” Bu Kedasih kembali memecah keheningan itu.Semua menikmati makanan yang tersaji di atas meja. Namun, tidak ada yang tahu apa yang sedang dirasakan masing-masing dari mereka.“Ma, aku mau nambah puddingnya. Pudding buatan Tante Airin enak. Aku suka.”Sekali lagi Arka bersuara membahas tentang Airin. Rani tersenyum tipis sambil menganggukkan kepala. Entah kenapa, ada sesuatu yang terasa hilang saat sem
Airin tertegun mendengar ucapan suaminya. Bukankah kemarin suaminya tidak mau menerima kehamilannya. Bahkan ngotot meminta Airin menggugurkannya. Namun, sekarang ---“Kamu … kamu sungguh-sungguh, Mas?”Tama mengangguk. Sama sekali tidak terlihat keraguan di matanya. “Ya. Mungkin lebih baik kehamilanmu diteruskan saja.”Airin terdiam.Tama melihat kebingungan Airin. Perlahan ia meraih tangan Airin dan mengenggamnya erat. “Aku minta maaf. Aku sedikit keras padamu kemarin. Mungkin aku terlalu stress dengan kerjaan, lalu kecelakaan Arka dan ---”Tama tidak meneruskan kalimatnya. Bibirnya tersenyum, menatap Airin dengan lembut. “Aku seharusnya tidak melampiaskan semua ini padamu.”Airin tersenyum. Hatinya menghangat saat mendengar semua penjelasan Tama. Sepertinya ia salah paham selama ini.“Kalau Mas bilang begitu, tentu saja aku akan senang. Terima kasih.”Tama mengangguk. Airin langsung berhambur memeluk Tama. Ini adalah hal yang membuatnya paling bahagia.**Pagi itu, baru saja Airin
“Mas … .”Tama menoleh. Ia sudah mengakhiri panggilannya, menyimpan ponsel dan menghampiri Airin.“Kamu mau pergi lagi?”Tama tidak menjawab, tapi kepalanya mengangguk cepat. Airin terdiam, menundukkan kepala. Sesekali tangannya meremas selimut yang ia pakai.“Arka rewel dan Rani sulit menenangkannya. Dia hanya mau sama aku.”Airin terdiam. Entah kenapa alasan itu terdengar begitu sederhana, tetapi justru membuat dadanya terasa sesak.Arka hanya mau bersama Tama?Bukankah selama empat tahun ini mereka hidup tanpa Tama?Lalu kenapa baru sekarang Arka begitu membutuhkannya?Baru saat Rani dan Arka pindah ke kota ini saja, semua berubah.“Aku mohon pengertianmu, Rin.”Airin tersenyum sambil menganggukkan kepala.“Iya, aku paham kok, Mas. Hanya saja ---”Alis Tama mengernyit menatap istrinya dengan tajam.“Maaf, Mas. Andari butuh uang buat bayar UKT besok. Aku ---”“Butuh berapa? Biar aku transfer ke rekeningmu.”Airin terdiam. Sebenarnya ia tidak suka seperti ini. Ia tidak mau menjadi pe
Airin membeku.Untuk beberapa detik, ia bahkan lupa bagaimana caranya bernapas. Tangannya perlahan turun ke perut yang masih rata. Di sana ada kehidupan kecil yang bahkan belum sempat ia lihat wajahnya.Anak mereka. Anak yang selama ini diam-diam ia impikan. Tetapi sekarang, ayahnya sendiri meminta agar kehidupan itu dihilangkan.“Mas … ,” Suara Airin bergetar. “Kamu serius?”Tama tidak menjawab. Dan diamnya pria itu justru menjadi jawaban paling menyakitkan.Airin menunduk. Ada bulir bening yang perlahan jatuh membasahi pipinya.Tanpa berkata apa-apa lagi, Tama bangkit dan berjalan ke kamar mandi. Airin bergeming di tempatnya. Hatinya hancur berantakan. Ini kali pertama Tama membuatnya sesakit ini.Drrt …Ponsel Airin berdering. Ada nama ibunya tertera di sana.“Iya, Bu. Ada apa?” Sebisa mungkin Airin membuat suaranya terdengar datar. Ia tidak mau menunjukkan kesedihannya.“Rin, besok saatnya adikmu bayar UKT. Bisa gak, kamu mentransfernya. Ibu khawatir kalau telat, adikmu gak bisa k
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
評論