LOGIN“Percuma membuka lembar baru kalau tanganmu masih erat menggenggam cerita lama.” Sakit hati Airin Arunika saat mengetahui Tama Adi Wisesa---suaminya, berhubungan lagi dengan mantan istrinya. Bukan hanya berkaitan dengan urusan anak, tetapi ini lebih mendalam. Ada sesuatu yang belum selesai dengan mereka. Akankah Airin bertahan atau memilih menyerah begitu saja?
View More“Selamat siang, Mbak. Pak Tama ada?” tanya Airin.
Hari itu Airin Arunika sengaja datang ke kantor suaminya untuk mengantar makan siang. Itu adalah kebiasaannya selama dua tahun terakhir ini.
“Ada, Bu,” jawab gadis resepsionis itu.
“Ya sudah kalau begitu saya langsung ke ruangannya.”
“Tapi, Bu ---”
Belum sempat gadis resepsionis itu melanjutkan kalimatnya, Airin sudah nyelonong pergi begitu saja. Sementara mimik gelisah terlihat jelas di wajah gadis penerima tamu tersebut.
Airin berjalan dengan anggun. Senyumnya terkembang lebar. Ia sudah terbiasa datang ke kantor suaminya. Ia mengenal semua sudut ruangan gedung ini. Tidak hanya itu saja, ia juga mengenal beberapa karyawan suaminya.
Tama Adi Wisesa seorang Project Director di PT Graha Vistara Konstruksi. Seorang duda beranak satu.
Sejujurnya dulu, banyak sekali pertimbangan sebelum Airin memberi keputusan menikah.
Ia lelah selalu mengalami kegagalan dalam menjalin hubungan. Diselingkuhi, dimanfaatkan. Terakhir pria yang hendak melamarnya malah sudah menikah dan akan menjadikannya istri kedua.
Di tengah keputusasaan dan desakan keluarga, Airin bertemu Tama. Pria mapan, baik, tampan dan single meskipun dengan embel-embel duda beranak satu.
Namun, bagi Airin semua itu tidak masalah. Asalkan Tama mencintainya dan mau menerima apa adanya, sudah cukup.
TING!
Suara pintu lift terbuka membuyarkan lamunan Airin. Ia berjalan keluar lift dan menyusur lorong panjang di depan sana. Bagian paling ujung lorong itu adalah tempat ruangan suaminya berada.
Di sebelah kanan ruangan Tama ada ruangan sekretarisnya. Biasanya Airin menghampiri hanya untuk sekedar menyapa, tapi sepertinya sekretarisnya sedang tidak ada di tempat saat ini.
Airin meneruskan langkahnya. Ia berhenti di depan pintu. Satu dua ketukan ia bunyikan sebagai pertanda kedatangannya. Tanpa menunggu jawaban, Airin perlahan membuka pintu.
Dan …
“Satu suap lagi ya, Mas.”
Terdengar suara yang tidak asing dari dalam ruangan. Alis Airin mengernyit, matanya menyipit.
“Apa Mas Tama kedatangan tamu? Siapa?” gumam Airin.
“Ayo dong, Mas. Buka mulutnya.”
Lagi-lagi suara itu terdengar manja dan menggoda, membuat darah Airin berdesir.
“Aku sudah kenyang.”
“Satu lagi, ya. Hmm … .”
Perlahan Airin melangkah mendekat. Di depan sana, ia melihat Tama sedang duduk di kursi kerjanya. Lalu di hadapannya seorang wanita dengan manis duduk di sana dan tampak menyuapi suaminya makanan.
“Mas … .” Suara Airin lirih dan hampir tercekat. Ia tidak terbiasa melihat adegan seperti ini.
Wanita itu yang lebih dulu memutar tubuhnya.
Seketika mata Airin membola. Ia bisa melihat dengan jelas siapa wanita yang berada di sana.
Wajah manis, kulit sawo matang nan seksi dan tatapan lembut keibuan. Tak lain dan tak bukan, dia adalah Rani Anjani. Mantan istri suaminya.
“Eh, Airin.”
Rani langsung bangkit berdiri, tersenyum ramah menyambutnya.
Airin hanya diam. Matanya tanpa sadar mengikuti setiap langkah Rani. Entah mengapa, wanita itu tiba-tiba membuat dirinya merasa begitu kecil.
Jauh di belakang sana, Tama hanya diam menatapnya dengan datar sambil sesekali menyeka mulutnya.
“Aku hanya mampir, kok. Kebetulan saja lewat sini.”
Airin tersenyum samar sambil menganggukkan kepala.
Tama bangkit dan berjalan mendekat. Ia berdiri tepat di belakang Rani.
“Rani baru saja pindah ke sini, Rin. Kantornya yang memindahkan tugas.”
Tanpa diminta Tama menjelaskan keberadaan Rani hari itu.
“Oh … .” Jawaban singkat Airin membuat wajah Tama bereaksi. Hal yang sama juga terlihat di Rani.
Rani tersenyum canggung, kemudian matanya tertuju pada tas bekal makanan yang dipegang Airin.
“Kamu mau ngantar makan siang buat Mas Tama?”
Airin mengangguk.
“Maaf ya, Rin. Aku gak tahu. Tadi Mas Tama sudah makan siang ama aku. Kebetulan hari ini aku lagi masak paru cabe hijau. Itu kan kesukaannya Mas Tama.”
Airin hanya diam, tapi tangannya semakin erat mencengkram pegangan tas bekal makanan itu.
Paru cabe hijau, padahal seingat dia Tama tidak suka makanan pedas. Bahkan ia selalu membuang isi cabe setiap memasak agar suaminya tidak kepedesan.
“Iya gak papa, Mbak.”
“Ya sudah kalau gitu aku pulang dulu ya, Mas.”
“Rin, duluan, ya!”
Airin mengangguk. Sementara Tama mengantarnya sampai pintu.
“Aku ada meeting setengah jam lagi. Makanannya bawa pulang saja.” Tama berkata dengan cepat dan tergesa duduk kembali ke kursi kerjanya.
Airin hanya menatap punggung suaminya. Ada sesuatu yang terasa asing dari sikap Tama hari ini.
Di meja masih ada kotak makan yang belum dirapikan. Semua nasi dan lauk di sana habis tak bersisa.
Apa memang sesuka itu Tama pada masakan Rani?
Airin mendekat, merapikan kotak makan itu dan menyimpannya. “Kalau Mas suka, aku bisa kok buatin paru cabe hijau.”
Seketika Tama terdiam, mendongak dan menatapnya. “Kamu cemburu karena aku menghabiskan masakan Rani?”
Airin tercengang dan secepatnya menggeleng. “Enggak, bukannya gitu. Selama ini Mas gak minta mau makan apa. Jadi aku gak tahu kesukaan Mas.”
Tama menghela napas panjang. Pandangannya kembali tertuju ke laptop. “Seharusnya kamu senang, aku gak rewel soal makanan. Sudahlah, kerjaanku banyak.”
Airin terdiam, menghela napas panjang. Perlahan ia duduk di kursi depan meja suaminya.
Tama memang terlihat sangat sibuk, jarinya bergerak cepat menari di atas keyboard. Sementara matanya terus fokus menatap layar 14 inchi tersebut.
Hanya saja, kali ini ada sesuatu yang harus ia sampaikan. “Mas … ada hal yang pengen aku omongin.”
Tama tidak menjawab, melirik pun tidak. Matanya terus fokus ke layar kecil di depannya.
Airin menelan ludah. Ini memang bukan waktu yang tepat, tapi Airin sudah lama menyimpan berita bahagia ini, sudah saatnya Tama tahu. “Mas … .”
Tama menghentikan aktivitasnya. “Ya udah ngomong apa? Aku dengerin, kok.”
Airin tersenyum. Tangannya merogoh tas kemudian kembali keluar dan mengulurkan sebuah test pack bertanda positif.
Perhatian Tama yang tadinya terfokus ke layar laptop seketika berhenti. Ia tercenung saat melihat test pack tersebut.
“Aku hamil, Mas.”
Tama terdiam sejenak. Jakunnya naik turun menelan saliva. Kemudian kembali bersuara dengan tajam,
“Kenapa … harus hamil?”
Hari itu keheningan pagi diawali oleh sebuah panggilan yang berasal dari ponsel Tama. Tama yang masih sibuk bersiap terlihat bingung. Ia jalan mondar mandir sambil menjawab ponselnya.“Ran, buruan!! Lakukan sesuatu!! Kenapa dia tiba-tiba pingsan?”Wajah Tama terlihat panik. Rambutnya belum disisir rapi, dasinya belum terpasang dengan sempurna. Namun, dia sudah mengenakan jasnya dan berlalu pergi dari kamar.“Panggil ambulan!! Atau apa saja!! Aku sebentar lagi ke sana!!”Tama berlarian menuruni anak tangga, bahkan beberapa dia loncati dengan sengaja. Airin yang sedang menikmati sarapan di ruang makan, hanya meliriknya sekilas.Tama mengakhiri panggilan, menyimpan ponselnya di saku dan berjalan menghampiri Airin.“Arka … Arka pingsan, Rin.”Airin terkejut. Matanya membola. Ia sudah menghentikan sarapannya.“Lalu … bagaimana?”“Rani panik. Sampai sekarang,
Rani terdiam.“Aku tahu, Ma.”“Bagus. Kalau tahu, jangan lihat dia seperti tadi.”Rani langsung menoleh.“Seperti apa?”Bu Wulan tersenyum tipis.“Seperti seorang istri yang sedang menunggu suaminya pulang.”Wajah Rani seketika menegang. Tanpa menunggu jawaban Rani, Bu Wulan melenggang masuk ke dalam rumah lagi.Di dalam kamar, Tama duduk di tepi kasur, siap untuk membacakan dongeng. Ia memang tidak pernah melakukan hal ini sebelumnya, tapi entah mengapa aktivitas itu mengingatkannya pada Airin.Tama ingat dengan baik jika Airin selalu membacakan dongeng untuk Arka saat mereka tinggal di rumah Bu Kedasih tempo hari. Tama juga ingat ekspresi Airin yang begitu menjiwai setiap tokoh dalam cerita yang dibacakan.“Pa!!”Tama menoleh.“Kok belum dimulai?” protes Arka.Tama tersenyum.Untuk beberapa saat tadi, ia memang ke
Airin menatap lama ponselnya, tanpa membalas pesan tersebut.“Pesan dari Tuan ya, Non?”Suara Bi Sumi membuyarkan lamunan Airin. Airin tersenyum sambil mengangguk pelan.“Iya, Mas Tama tidak pulang malam ini.”“Kok tumben,” jawab Bi Sumi spontan sambil mengernyitkan alis.“Memangnya kenapa? Apa Mas Tama yang dulu selalu pulang ke rumah meski pada akhirnya ia bertengkar dengan Mbak Rani?”Bi Sumi terdiam, tapi beberapa saat selanjutnya ia mengangguk.Airin menarik napas panjang.Ia bangkit dari duduknya dan berjalan ke kamar mandi. Rasanya Airin tahu apa alasan Tama melakukan itu. Tak lain tak bukan karena ia masih mencintai Rani.Separah apa pun hubungan mereka dulu, nyatanya masih ada sesuatu yang membuat Tama selalu kembali kepada Rani. Kalau dipikir Airin seperti orang bodoh yang terjebak di antara mereka.“Habis ini saya turun untuk makan, Bi,” ucap A
Mobil Tirta terus melaju meninggalkan kawasan hotel. Airin duduk diam di kursi penumpang. Sejak tadi pandangannya terpaku ke luar jendela. Ia tidak menangis.Tidak juga bertanya kepada Tirta.Namun, satu pemandangan terus berputar di kepalanya. Tangan Tama yang menggenggam tangan Rani dengan mata yang saling menatap satu sama lain.Airin menghela napas beberapa kali. Entah sampai kali yang keberapa hingga tiba-tiba Tirta bersuara.“Kamu baik-baik saja?”Airin terdiam sesaat. Tidak ada jawaban yang keluar dari mulutnya, tapi kepalanya malah menunduk.“Rin … .”“Gak apa-apa, Dok. Ini … ini bukan yang pertama, kok.”Tirta menarik napas sambil melirik Airin sekilas.“Apa maksudmu? Kamu sudah sering melihat mereka berduaan di belakangmu?”Airin mengangguk.“Mungkin mereka sedang bahas kerjaan, Dok. Saya pasti salah paham lagi.”“Atau … mungkin mereka sedang membahas soal Arka. Arka kan sedang sakit sekarang.”“Harusnya … saya mengerti ya, Dok.”“Saya gak boleh marah, kan? Apalagi cemburu.”


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore