LOGIN“Maaf, Pak. Apa urusan di sana sudah selesai?” tanya Nadia.
Ia terdengar gugup dan bicaranya pun belepotan. Mungkin Nadia hanya ingin mengingatkan kalau keberadaan Tama di sana untuk mengurusi pekerjaan.
Tidak ada jawaban dari Tama. Ia terlihat semakin bingung.
“Selain itu … saya ingin memberitahu, saya sudah berhasil mendapat nomor telepon Dokter Tirta.”
Wajah Tama langsung berubah.
“Bagus. Kirim ke aku sekarang juga!!&r
“Rin, jangan lupa habiskan dessert-nya. Aku yakin kamu pasti suka itu.”Airin membaca pesan dari Tama beberapa kali. Kemudian matanya menatap sebuah kue coklat yang berada di depannya.Tama tahu jika Airin suka kue coklat, tapi kalau untuk menghabiskan dessert itu rasanya tidak mungkin. Bukan karena kuenya terlalu besar, tapi ketidak hadiran Tama menemaninya membuat mood makannya menghilang.“Apa makanannya tidak enak?”Sebuah suara tiba-tiba membuyarkan lamunan Airin. Perlahan Airin mendongak dan matanya mengerjap beberapa kali saat melihat Tirta sudah berada di depannya.“Dokter Tirta!!”Tirta menatap meja di hadapan Airin. Dua porsi makanan sudah tersaji, tetapi salah satunya bahkan belum tersentuh.“Kamu sedang menunggu seseorang?”Airin tersenyum tipis.“Iya … tadinya.”Alis Tirta terangkat.“Tadinya?”“Mas Tama
Tama membeku.Senyum yang sejak tadi menghiasi wajahnya seketika menghilang.Airin menatap suaminya.“Kenapa, Mas?”Tama mengangkat wajah.“Arka…”“Arka kenapa?” tanya Airin.Tama menghela napas dan menunjukkan ponselnya. Di sana ada pesan Rani yang tertulis dengan jelas jika demam Arka kembali tinggi bahkan ia sampai muntah-muntah.“Mas, kita harus ke sana sekarang!!”“Tapi, makan malam kita. Anniversary ini?”Airin tersenyum.“Kita bisa mengulangnya lain kali, tapi kalau kesehatan Arka itu lebih penting.”Tama mendengkus. Ia terlihat kesal. Ia sudah mempersiapkan segalanya jauh hari bahkan ia ingin menghabiskan sepanjang malam ini dengan Airin. Namun, …“Mas … Arka butuh kamu.”Tama mendongak. Mata mereka beradu untuk beberapa detik.“Iya.”Tama menghela n
“Bu, sudah ditunggu di ruang meeting,” ucap asisten Rani.Rani mendongak dan menatap asisten di depannya. Sejak tadi, ia benar-benar tidak fokus dengan pekerjaannya.Bukan, bukannya ia sedang memikirkan Arka. Namun, ucapan Tama soal perayaan anniversary-nya dengan Airin terus mengusik Rani seharian ini.“Iya, saya akan ke sana,” jawab Rani akhirnya.Asistennya sudah berlalu dari ruangan, meninggalkan Rani seorang diri.“Sial!! Kenapa juga aku malah teringat ucapan Mas Tama?”Rani bangkit, menyambar laptopnya kemudian berjalan cepat ke ruang meeting. Ia tidak boleh membuat yang lain menunggu terlalu lama.Sementara itu di rumah sakit, Tama masih setia menjaga Arka.Demam Arka belum turun, tapi juga tidak terlalu tinggi seperti kemarin. Bahkan Arka sudah mau makan dan minum tidak seperti sebelumnya.“Pa, nanti kalau Arka sudah sembuh. Kita pergi jalan-jalan, ya?” pinta Arka.
“Mas!!”Suara Rani membuyarkan lamunan Tama. Tama menoleh dan melihat Rani berjalan menghampirinya.“Kamu kenapa? Kok kelihatan bingung gitu?”Tama menggeleng. “Gak apa-apa.”Rani terdiam, tapi matanya melihat Tama beberapa kali melirik ponsel. Rani pikir pasti Tama sedang berusaha menghubungi Airin kali ini.“Mungkin Airin belum sampai rumah, Mas.”Tama mengernyitkan alisnya.“Aku tidak sedang menunggu telepon Airin.”Rani mengulum senyum mendengar jawabannya.“Tapi matamu terus melihat ke ponsel seolah kamu sedang menunggu seseorang.”Tama terdiam. Menelan ludah beberapa kali sambil menundukkan kepala.“Kamu masih punya kebiasaan sama, ya. Kayak dulu.”“Kamu juga selalu khawatir kalau aku tidak menghubungimu saat itu.”Tama tidak menjawab. Ia malah mengalihkan pandangannya ke ponsel lagi.R
“Kamu sengaja menelepon orang untuk menjemput Airin, Mas?”Tama tidak menjawab.Tatapannya masih terpaku pada sosok Airin yang berjalan beriringan dengan Tirta. Rahangnya mengeras. Tangannya perlahan mengepal.“Mas?”Tama tetap diam.Beberapa detik kemudian, ia bangkit dari kursinya.Rani tertegun.“Kamu mau ke mana?”Tama tidak menjawab. Ia hanya berjalan meninggalkan Rani. Tatapannya masih tertuju pada dua orang di ujung koridor itu.Tiba-tiba pintu ruangan terbuka. Seorang perawat muncul.“Bu Rani, silakan, dokter sudah menunggu.”Rani berdiri. “Baik, Sus.”Tama langsung berhenti dan menoleh ke Rani. Rani membalas tatapannya.“Pergilah kalau mau pergi. Aku bisa menemui dokter sendiri.”Tanpa menunggu jawaban Tama, Rani segera masuk ke dalam ruangan tersebut. Tama masih bergeming di tempatnya.Tatapannya me
Rani tertegun menatap Tama.Bukan karena ucapan Tama yang mengagetkannya, tapi cekalan di pergelangan tangannya yang membuat Rani bahagia. Seolah ia masih punya arti penting bagi pria ini.Rani melihat Airin sekilas. Wanita cantik itu berdiri dengan wajah sendu di samping Tama. Tanpa sadar, sudut bibir Rani terangkat sedikit dan membentuk senyum tipis yang menghanyutkan.“Airin … bagaimana?”Tama melepaskan cekalan di pergelangan tangan Rani, kemudian melihat Airin.“Rin … .”“Aku bisa pulang sendiri kok, Mas. Tenang saja.”Tama menggeleng. “Jangan. Biar aku minta Bapak menjemputmu.”“Gak usah, Mas. Nanti kasihan, Bapak.”“Ini sudah malam, Rin. Menurutlah!!”Airin terdiam, menundukkan kepala sambil perlahan mengangguk.“Mas, aku tunggu di luar!!” seru Rani menginterupsi.Ia sudah berjalan mengikuti perawat yang memanggilnya tadi.Tama mengangguk lalu ia mulai melakukan panggilan ke Pak Adi. Na







