Home / Thriller / Teror Di Balik Manuskrip / Bab 6. KEPUTUSAN MUTLAK

Share

Bab 6. KEPUTUSAN MUTLAK

Author: Secret.Vee
last update publish date: 2026-09-23 21:30:05

"Tetap di belakang punggungku. Jangan mengeluarkan suara sekecil apa pun dan apa pun yang terjadi ... jangan lepaskan peganganmu dari ujung bajuku."

Suara Owen berbisik setajam belati, mengiris udara dingin di dalam kamar tidur yang kini terasa seperti jebakan maut. Pria itu berdiri tegap layaknya dinding baja yang tak tertembus, sementara pistol Glock 19 di tangan kanannya teracung stabil, menyapu setiap sudut bayangan yang mencurigakan.

Dengan tangan kirinya, Owen menarik kerah kaus taktisnya, mengaktifkan alat komunikasi nirkabel yang tersembunyi di balik telinganya.

"Kode Hitam. Penyusup di dalam perimeter. Target berada di Zona Alpha. Kirim Tim Penyapu ke lantai dua puluh, sekarang. Tutup semua akses gedung dan blokir seluruh lift!" perintah Owen dengan nada absolut. Tidak ada ruang untuk kepanikan dalam suaranya, hanya ada otoritas komandan yang mematikan.

Cindy mencengkeram erat bagian belakang kaus hitam Owen dengan jemari yang memutih dan bergetar hebat. Jantungnya berpacu liar layaknya drum perang yang ditabuh tanpa henti. Kepalanya terus memutar fakta mengerikan bahwa sedari tadi, saat ia menangis dan berdebat dengan Owen di ruang tengah, ada sepasang mata psikopat yang bersembunyi di dalam kegelapan apartemennya, mengawasi setiap gerak-gerik mereka.

Hanya dalam waktu kurang dari dua menit, suara derap langkah berat terdengar dari arah lorong luar.

BRAK!

Pintu utama apartemen yang telah Owen retas, terbuka secara paksa dari luar dengan kode darurat (override) yang hanya dimiliki oleh komandan tertinggi. Lima orang pria berseragam taktis hitam pekat menyerbu masuk. Mereka bergerak dengan efisiensi mematikan layaknya sekawanan serigala terlatih; tanpa suara, presisi dan mematikan. Senjata laras panjang mereka menyapu seluruh ruangan dengan panduan sinar laser merah yang membelah kegelapan.

"Amankan Nona Cindy. Perimeter ruang tengah, sekarang!" perintah Owen saat timnya mendekat ke arah kamar utama.

Dua orang anggota Aegis segera mengelilingi Cindy, membentuk formasi tameng hidup yang membuat wanita itu merasa semakin tercekik oleh kengerian. Sementara itu, Owen bersama tiga anggota lainnya mulai membongkar seluruh isi apartemen.

Selama lima belas menit berikutnya, yang terdengar hanyalah suara pintu lemari yang ditarik paksa, perabotan yang digeser kasar dan pelat-pelat ventilasi udara yang dibongkar dari langit-langit.

Cindy duduk meringkuk di atas sofa ruang tengah dengan pandangan kosong. Ia memeluk lututnya sendiri, menatap nanar ke arah apartemen mewahnya yang kini diobrak-abrik layaknya zona perang.

Ini adalah neraka. Kehidupan damainya sebagai penulis telah direnggut paksa, digantikan oleh teror yang merangkak masuk ke dalam ruang paling privat miliknya.

"Lapor, Komandan!" Salah seorang anggota Aegis yang mengenakan kacamata termal berjalan mendekati Owen, menurunkan senjatanya dengan raut wajah tegang. "Area bersih. Kami telah menyisir seluruh ruangan, balkon, hingga ruang di atas plafon. Tidak ada satu pun orang di dalam unit ini selain kita."

Owen memutar tubuhnya, rahangnya mengeras hingga urat di pelipisnya menonjol. "Kamu bercanda? Orang itu menulis pesan di cermin menggunakan darah atau lipstik yang masih basah kurang dari sepuluh menit yang lalu! Dia tidak mungkin menguap menjadi udara!"

"Kami menemukan jejaknya, Komandan," lapor anggota lain yang baru saja keluar dari area dapur kotor di dekat pintu belakang. Pria itu memegang sebuah pelat besi ventilasi yang tampak penyok. "Penutup ventilasi pembuangan darurat di balik lemari pendingin telah dibongkar dari dalam. Ukurannya hanya cukup untuk dilewati satu orang dewasa yang merayap. Jalurnya mengarah lurus ke lorong pembuangan sampah pusat yang terhubung dengan basemen bawah tanah, area buta CCTV."

Owen mengumpat kasar, meremas rambutnya dengan frustrasi. Penguntit itu bukan sekadar penggemar fanatik yang nekat. Dia adalah seorang profesional. Dia tahu titik buta sistem keamanan gedung, tahu cara memanipulasi sensor alarm yang dipasang Owen dan tahu persis kapan harus melarikan diri.

Dan yang paling parah, penguntit itu sengaja meninggalkan jejak seolah ingin mengejek agensi keamanan terbaik di negara ini.

"Tarik semua anggota ke luar. Perketat penjagaan di lobi, lantai bawah tanah dan atap gedung. Jangan biarkan seekor lalat pun masuk tanpa seizinku. Pergi!" perintah Owen mutlak.

Dalam hitungan detik, kelima personel Aegis itu mengangguk hormat dan bergegas keluar dari unit apartemen, meninggalkan Cindy dan Owen berdua di tengah ruangan yang kini berantakan. Pintu utama ditutup rapat.

Keheningan yang mencekam kembali menyergap.

Cindy menatap Owen dengan mata berkaca-kaca. Pria itu berdiri membelakanginya, menatap lurus ke arah pintu utama dengan pundak yang naik-turun menahan emosi.

"Owen ...," panggil Cindy parau. "Aku ingin pindah dari sini. Bawa aku pergi. Ke hotel, ke rumah aman rahasia, ke mana pun. Aku tidak bisa tinggal di tempat ini lagi. Ruangan ini ... apartemen ini membuatku gila."

Owen berbalik pelan-pelan. Matanya yang gelap kini memancarkan tekad baja yang tidak bisa dibantah oleh siapa pun. Tembok es yang sempat runtuh di kamar mandi tadi kini telah terbangun kembali, jauh lebih tinggi, jauh lebih kokoh dan mustahil untuk ditembus.

"Kita tidak akan pergi ke mana-mana," jawab Owen dingin. Ia melangkah menuju meja konter dapur, menarik sebuah koper perkakas baja miliknya yang sejak sore tadi belum ia bongkar.

"Apa maksudmu?" Cindy bangkit berdiri, rasa panik kembali mencengkeram tenggorokannya. "Kamu gila?! Orang itu tahu cara masuk ke dalam apartemenku melalui ventilasi! Dia bisa kembali kapan saja dan menggorok leherku saat aku tertidur!"

"Karena itulah aku yang akan mengubah tempat ini menjadi peti besi, Nona Cindy. Jika kita keluar dari sini dan pindah ke lokasi baru, kita akan terpapar di ruang terbuka. Kita akan menjadi sasaran empuk bagi penembak jitu atau serangan langsung. Setidaknya, di sini, aku tahu persis dari lubang tikus mana bajingan itu masuk."

Owen mengeluarkan sebuah bor elektrik, alat las portabel berukuran kecil dan beberapa lempeng baja solid dari dalam kopernya. Tanpa memedulikan protes Cindy, pria itu melangkah lurus menuju pintu utama. Ia berlutut, menempelkan lempengan baja itu menutupi seluruh panel kunci digital cerdas yang super mahal tersebut.

BZZZZT!

Percikan api biru menyambar terang saat Owen menghidupkan alat lasnya, membakar dan melebur logam panel kunci tersebut hingga berasap. Bau besi terbakar memenuhi udara, mengalahkan aroma vanila dari tubuh Cindy.

"Owen! Apa yang kamu lakukan?! Kamu menghancurkan pintuku!" jerit Cindy histeris, berlari mendekat namun tak berani menyentuh pria itu karena percikan api yang menyala.

Owen terus mengelas ujung-ujung pelat baja itu, menanamkan kunci manual baja titanium ganda yang tidak memiliki sambungan elektronik apa pun. Ia sedang mematikan sistem pintar pintu tersebut dan mengubahnya menjadi pintu brankas manual yang hanya bisa dibuka dari dalam.

Setelah memastikan lempeng baja itu menyatu sempurna dengan rangka pintu, Owen mematikan alat lasnya. Ia berdiri, menjulang tinggi di hadapan Cindy dengan wajah yang dipenuhi sisa peluh dan kilat mata yang mematikan. Pria itu merogoh sakunya, mengeluarkan satu-satunya anak kunci baja dan memasukkannya ke dalam saku celananya sendiri.

Cindy menatap pintu yang hangus itu, lalu menatap Owen dengan napas tersengal. Rasa terkurung yang luar biasa kini menghimpit dadanya hingga ia merasa ingin pingsan.

"Kamu ... kamu mengurungku di dalam rumahku sendiri ...," bisik Cindy, air mata keputusasaan mengalir membasahi pipinya. "Kamu menghancurkan satu-satunya jalan keluar kita. Bagaimana jika terjadi kebakaran? Bagaimana jika—"

"Aku tidak dibayar untuk melindungimu dari kebakaran, Cindy. Aku dibayar untuk memastikan kamu tetap hidup dari manusia yang menginginkanmu," potong Owen, suaranya sangat pelan, rendah, namun menggema di seluruh relung ketakutan Cindy.

Pria itu melangkah maju satu langkah, menundukkan wajahnya hingga sejajar dengan Cindy dan menatap lurus ke dalam manik mata wanita itu dengan keabsolutan seorang tiran.

"Mulai detik ini, apartemen ini adalah benteng pertahananku, dan kamu adalah tawananku. Tidak ada udara luar, tidak ada celah cahaya dan tidak ada satu pun orang yang bisa masuk ke sini," bisik Owen dengan senyum miring yang mengintimidasi. "Dan yang paling penting, Cindy ... kamu juga tidak bisa keluar."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Teror Di Balik Manuskrip    Bab 6. KEPUTUSAN MUTLAK

    "Tetap di belakang punggungku. Jangan mengeluarkan suara sekecil apa pun dan apa pun yang terjadi ... jangan lepaskan peganganmu dari ujung bajuku." Suara Owen berbisik setajam belati, mengiris udara dingin di dalam kamar tidur yang kini terasa seperti jebakan maut. Pria itu berdiri tegap layaknya dinding baja yang tak tertembus, sementara pistol Glock 19 di tangan kanannya teracung stabil, menyapu setiap sudut bayangan yang mencurigakan. Dengan tangan kirinya, Owen menarik kerah kaus taktisnya, mengaktifkan alat komunikasi nirkabel yang tersembunyi di balik telinganya. "Kode Hitam. Penyusup di dalam perimeter. Target berada di Zona Alpha. Kirim Tim Penyapu ke lantai dua puluh, sekarang. Tutup semua akses gedung dan blokir seluruh lift!" perintah Owen dengan nada absolut. Tidak ada ruang untuk kepanikan dalam suaranya, hanya ada otoritas komandan yang mematikan. Cindy mencengkeram erat bagian belakang kaus hitam Owen dengan jemari yang memutih dan bergetar hebat. Jantungnya berpac

  • Teror Di Balik Manuskrip    Bab 5. PESAN DI CERMIN KAMAR MANDI

    "Biarkan pintu kamarmu terbuka selebar ibu jari. Jika sampai aku mendengar bunyi silinder kunci diputar dari dalam, aku tidak akan segan-segan menghancurkan engsel pintu itu berkeping-keping."Suara Owen terdengar mutlak, merobek sisa keheningan di ruang tengah. Pria itu berdiri di ambang pintu kamar tidur utama Cindy, memegang sebuah sabak digital yang memancarkan pendar kebiruan, menampilkan denah sistem keamanan apartemen yang baru saja ia retas dan ambil alih secara sepihak.Cindy yang tengah duduk di tepi ranjangnya hanya bisa menatap pria itu dengan pandangan nanar. Perdebatan mereka tentang Josh sepuluh menit yang lalu telah menguras habis energinya. Tuduhan Owen bahwa editor sekaligus sahabatnya itu mungkin adalah sang penguntit terasa begitu konyol, namun anehnya, kata-kata itu berhasil menanamkan benih keraguan yang kini berakar di benak Cindy."Kamu tidak berhak mencurigai semua orang yang peduli padaku, Owen," balas Cindy lemah, menarik selimut tebal menutupi kakinya yang

  • Teror Di Balik Manuskrip    Bab 4. GARIS BATAS KLIEN DAN PENGAWAL

    "Menyingkirlah dari pintuku! Ini adalah apartemen pribadiku, bukan barak militer!"Seruan marah Cindy menggema di seluruh penjuru ruang tengah apartemennya, menabrak dinding-dinding yang kini terasa seperti sel penjara kelas atas. Napasnya terengah, matanya memancarkan kilat amarah yang tertahan.Di hadapannya, Owen tidak bergeming sedikit pun. Pria itu berdiri dengan tenang di depan pintu utama, jemarinya bergerak cepat mengetikkan serangkaian kode keamanan baru pada panel kunci digital cerdas yang baru saja ia pasang. Ia telah melepas seragam taktis bagian luarnya, menyisakan kaus hitam ketat yang mencetak jelas otot punggungnya.Setelah bunyi *klik* elektronik terdengar, Owen berbalik. Wajahnya sedingin bongkahan es di kutub utara."Protokol nomor dua, Nona Cindy. Tidak ada satu pun orang yang bisa masuk atau keluar dari unit ini tanpa pemindaian sidik jari saya," ucap Owen datar, seolah ia sedang membacakan buku manual. Ia kemudian berjalan melewati Cindy menuju jendela kaca raksa

  • Teror Di Balik Manuskrip    Bab 3. MASA LALU YANG KEMBALI BERNAPAS

    "Saya lebih suka menyebutnya sebagai subjek pengamanan, Pak Johan. Kata 'klien' terdengar terlalu manis dan personal untuk sebuah pekerjaan yang mempertaruhkan nyawa."Suara bariton yang berat dan dingin itu meluncur dari ambang pintu kayu mahoni yang kini terbuka lebar. Suara yang sangat familier. Suara yang sudah terkubur dalam-dalam di dasar ingatan Cindy selama sepuluh tahun terakhir. Suara yang dahulu selalu membisikkan kata cinta di telinganya di bawah gemerlap bintang, namun kini terdengar setajam pedang yang baru saja diasah untuk membunuh.Udara di dalam ruang rapat VIP itu seolah tersedot habis ke luar angkasa. Cindy mematung di kursinya. Jantungnya berhenti berdetak selama satu detik yang terasa seperti keabadian, sebelum akhirnya berpacu liar menghantam tulang rusuknya.Dari balik bayangan pintu, melangkah masuk sesosok pria berpostur tinggi tegap. Ia mengenakan seragam taktis serba hitam, kemeja berlengan panjang yang digulung hingga siku—mencetak jelas otot-otot lenganny

  • Teror Di Balik Manuskrip    Bab 2. OBSESI YANG MENGETUK PINTU

    "Apakah kamu pikir ini sebuah lelucon, Cindy? Sebuah lelucon murahan dari penggemar fanatik yang kurang kerjaan?"Suara bariton Pak Johan menggelegar, memantul keras di dinding kaca ruang rapat VIP Vangard Publishing. Pria paruh baya dengan setelan jas rapi itu mondar-mandir seperti harimau yang terkurung di dalam sangkar. Wajahnya merah padam, urat-urat di lehernya menegang, dan matanya menatap tajam ke arah benda terkutuk yang tergeletak di tengah meja mahoni raksasa tersebut.Di kursi ujung meja, Cindy duduk membeku. Wajahnya sepucat kertas. Kantung matanya menghitam, bukti nyata bahwa ia sama sekali tidak memejamkan mata sejak panggilan telepon mengerikan yang merenggut kewarasannya semalam.Pandangan Cindy tak bisa lepas dari benda di atas meja itu. Sebuah kotak putih bersih yang baru saja diantarkan oleh kurir ke meja resepsionis kantor pagi ini, dialamatkan khusus untuknya. Ketika Cindy membukanya lima belas menit yang lalu, bukan bunga atau surat penggemar yang ia temukan.Isi

  • Teror Di Balik Manuskrip    Bab 1. SILUET DI BALIK JENDELA

    "Jika ada senjata yang lebih mematikan daripada sebutir peluru, itu adalah ujung pena seorang wanita. Dan malam ini, penulis kebanggaan Vangard Publishing, Cindy, kembali membuktikan bahwa ia adalah penembak jitu terbaik di dunia literatur kita. Mari bersulang untuk cetak ulang ketiga dalam kurun waktu kurang dari dua puluh empat jam!"Suara denting puluhan gelas kristal yang saling bersentuhan mengudara, memecah alunan musik jaz yang sejak tadi mengalun lembut di ballroom hotel bintang lima tersebut. Kilatan lampu kamera dari para jurnalis menyambar secara bergantian, mengabadikan momen puncak peluncuran novel thriller psikologis terbaru yang kini resmi menjadi buku terlaris nasional.Di tengah lautan manusia bergaun malam dan berjas rapi itu, Cindy berdiri dengan senyum simpul yang nyaris tanpa cela. Gaun sutra merah maroon yang membalut tubuh rampingnya membuatnya tampak anggun dan memegang kendali. Namun, hanya dia yang tahu betapa kedua kakinya yang ditopang sepatu hak tinggi set

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status