LOGINMimpi terburuk seorang penulis novel misteri adalah ketika pembunuhan berdarah di dalam bukunya ... menjadi kenyataan. Cindy Luvo, seorang novelis bestseller, tiba-tiba dihantui teror mematikan. Seseorang tak dikenal menguntitnya, mengirimkan pesan ancaman, dan menyusun ulang metode pembunuhan sadis seperti di dalam novel debutnya. Panik, pihak penerbit memaksanya menerima penjagaan ketat 24 jam dari seorang bodyguard elit. Namun, ketika sang pengawal melangkah masuk ke ruangannya, pertahanan diri Cindy seakan runtuh untuk kedua kalinya. Pria itu adalah Owen Mitchell. Dengan rahang tegas dan tatapan sedingin es, ia bukan sekadar perwira tinggi militer. Owen adalah pria yang Cindy tinggalkan di altar pernikahan tanpa penjelasan apa pun, tepat sepuluh tahun yang lalu. Kini, terperangkap di bawah satu atap dalam bahaya yang mengancam nyawa, Cindy harus berpacu dengan waktu. Di satu sisi, ada psikopat berdarah dingin yang semakin mendekat dan mengetahui setiap kelemahannya. Di sisi lain, ada Owen, pria yang terlihat membencinya setengah mati namun menolak membiarkannya terluka. Ketika batas antara fiksi dan kenyataan semakin kabur, mampukah Cindy bertahan hidup untuk memecahkan misteri terbesarnya? Ataukah ia akan mati sebelum sempat mengungkap rahasia kelam mengapa ia rela mematahkan hati satu-satunya pria yang ia cintai?
View More"Biarkan pintu kamarmu terbuka selebar ibu jari. Jika sampai aku mendengar bunyi silinder kunci diputar dari dalam, aku tidak akan segan-segan menghancurkan engsel pintu itu berkeping-keping."Suara Owen terdengar mutlak, merobek sisa keheningan di ruang tengah. Pria itu berdiri di ambang pintu kamar tidur utama Cindy, memegang sebuah sabak digital yang memancarkan pendar kebiruan, menampilkan denah sistem keamanan apartemen yang baru saja ia retas dan ambil alih secara sepihak.Cindy yang tengah duduk di tepi ranjangnya hanya bisa menatap pria itu dengan pandangan nanar. Perdebatan mereka tentang Josh sepuluh menit yang lalu telah menguras habis energinya. Tuduhan Owen bahwa editor sekaligus sahabatnya itu mungkin adalah sang penguntit terasa begitu konyol, namun anehnya, kata-kata itu berhasil menanamkan benih keraguan yang kini berakar di benak Cindy."Kamu tidak berhak mencurigai semua orang yang peduli padaku, Owen," balas Cindy lemah, menarik selimut tebal menutupi kakinya yang
"Menyingkirlah dari pintuku! Ini adalah apartemen pribadiku, bukan barak militer!"Seruan marah Cindy menggema di seluruh penjuru ruang tengah apartemennya, menabrak dinding-dinding yang kini terasa seperti sel penjara kelas atas. Napasnya terengah, matanya memancarkan kilat amarah yang tertahan.Di hadapannya, Owen tidak bergeming sedikit pun. Pria itu berdiri dengan tenang di depan pintu utama, jemarinya bergerak cepat mengetikkan serangkaian kode keamanan baru pada panel kunci digital cerdas yang baru saja ia pasang. Ia telah melepas seragam taktis bagian luarnya, menyisakan kaus hitam ketat yang mencetak jelas otot punggungnya.Setelah bunyi *klik* elektronik terdengar, Owen berbalik. Wajahnya sedingin bongkahan es di kutub utara."Protokol nomor dua, Nona Cindy. Tidak ada satu pun orang yang bisa masuk atau keluar dari unit ini tanpa pemindaian sidik jari saya," ucap Owen datar, seolah ia sedang membacakan buku manual. Ia kemudian berjalan melewati Cindy menuju jendela kaca raksa
"Saya lebih suka menyebutnya sebagai subjek pengamanan, Pak Johan. Kata 'klien' terdengar terlalu manis dan personal untuk sebuah pekerjaan yang mempertaruhkan nyawa."Suara bariton yang berat dan dingin itu meluncur dari ambang pintu kayu mahoni yang kini terbuka lebar. Suara yang sangat familier. Suara yang sudah terkubur dalam-dalam di dasar ingatan Cindy selama sepuluh tahun terakhir. Suara yang dahulu selalu membisikkan kata cinta di telinganya di bawah gemerlap bintang, namun kini terdengar setajam pedang yang baru saja diasah untuk membunuh.Udara di dalam ruang rapat VIP itu seolah tersedot habis ke luar angkasa. Cindy mematung di kursinya. Jantungnya berhenti berdetak selama satu detik yang terasa seperti keabadian, sebelum akhirnya berpacu liar menghantam tulang rusuknya.Dari balik bayangan pintu, melangkah masuk sesosok pria berpostur tinggi tegap. Ia mengenakan seragam taktis serba hitam, kemeja berlengan panjang yang digulung hingga siku—mencetak jelas otot-otot lenganny
"Apakah kamu pikir ini sebuah lelucon, Cindy? Sebuah lelucon murahan dari penggemar fanatik yang kurang kerjaan?"Suara bariton Pak Johan menggelegar, memantul keras di dinding kaca ruang rapat VIP Vangard Publishing. Pria paruh baya dengan setelan jas rapi itu mondar-mandir seperti harimau yang terkurung di dalam sangkar. Wajahnya merah padam, urat-urat di lehernya menegang, dan matanya menatap tajam ke arah benda terkutuk yang tergeletak di tengah meja mahoni raksasa tersebut.Di kursi ujung meja, Cindy duduk membeku. Wajahnya sepucat kertas. Kantung matanya menghitam, bukti nyata bahwa ia sama sekali tidak memejamkan mata sejak panggilan telepon mengerikan yang merenggut kewarasannya semalam.Pandangan Cindy tak bisa lepas dari benda di atas meja itu. Sebuah kotak putih bersih yang baru saja diantarkan oleh kurir ke meja resepsionis kantor pagi ini, dialamatkan khusus untuknya. Ketika Cindy membukanya lima belas menit yang lalu, bukan bunga atau surat penggemar yang ia temukan.Isi
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.