首頁 / Thriller / Teror Di Balik Manuskrip / Bab 5. PESAN DI CERMIN KAMAR MANDI

分享

Bab 5. PESAN DI CERMIN KAMAR MANDI

作者: Secret.Vee
last update publish date: 2026-09-08 18:09:29

"Biarkan pintu kamarmu terbuka selebar ibu jari. Jika sampai aku mendengar bunyi silinder kunci diputar dari dalam, aku tidak akan segan-segan menghancurkan engsel pintu itu berkeping-keping."

Suara Owen terdengar mutlak, merobek sisa keheningan di ruang tengah. Pria itu berdiri di ambang pintu kamar tidur utama Cindy, memegang sebuah sabak digital yang memancarkan pendar kebiruan, menampilkan denah sistem keamanan apartemen yang baru saja ia retas dan ambil alih secara sepihak.

Cindy yang tengah duduk di tepi ranjangnya hanya bisa menatap pria itu dengan pandangan nanar. Perdebatan mereka tentang Josh sepuluh menit yang lalu telah menguras habis energinya. Tuduhan Owen bahwa editor sekaligus sahabatnya itu mungkin adalah sang penguntit terasa begitu konyol, namun anehnya, kata-kata itu berhasil menanamkan benih keraguan yang kini berakar di benak Cindy.

"Kamu tidak berhak mencurigai semua orang yang peduli padaku, Owen," balas Cindy lemah, menarik selimut tebal menutupi kakinya yang terasa sedingin es. "Dan kamu tidak perlu menjagaku sampai seperti ini. Tidak mungkin ada yang bisa menyusup masuk melewati sistem keamanan yang sudah kamu bangun."

Owen tidak menjawab. Rahangnya hanya mengeras sejenak sebelum ia melangkah mundur dan menutup pintu kayu jati tersebut, menyisakan celah kecil yang persis selebar ibu jari, sesuai dengan ancamannya.

Lampu kamar utama padam, menyisakan cahaya remang dari lampu tidur di atas nakas.

Dari balik celah pintu, Cindy bisa melihat siluet tubuh tegap Owen yang duduk di sofa ruang tengah, menghadap ke arah pintunya dalam kegelapan. Postur pria itu tegak, bersiaga layaknya prajurit di garis depan. Mengetahui bahwa mantan tunangan yang sepuluh tahun lalu ia tinggalkan di altar kini menjadi satu-satunya tameng antara dirinya dan kematian, membuat perasaan Cindy berkecamuk dalam ironi yang menyakitkan.

Waktu merangkak lambat. Jarum jam dinding berdenting monoton, seolah menghitung mundur menuju sesuatu yang tidak pasti. Berjam-jam Cindy memejamkan mata, memaksakan diri untuk tidur, namun otaknya menolak untuk diajak bekerja sama. Bayangan foto dirinya dalam jubah mandi, suara serak berdistorsi di telepon, dan tatapan dingin Owen terus berputar layaknya kaset rusak di kepalanya.

***

Pukul 02:45 dini hari.

Cindy akhirnya terbangun dari tidur ayamnya dengan napas terengah. Tenggorokannya terasa sekering gurun pasir. Ia melirik ke arah pintu, siluet Owen masih berada di sana, kini tampak mematung, mungkin pria itu juga sedang memejamkan mata sejenak.

Tidak ingin membangunkan pengawalnya yang berwajah keras itu, Cindy turun dari ranjang dengan sangat hati-hati. Kakinya menapak tanpa suara di atas lantai kayu berlapis karpet. Ia tidak menuju ruang tengah untuk mengambil minum, melainkan melangkah ke arah kamar mandi dalam di sudut kamarnya.

Hawa dingin mendadak menyergap kulitnya saat ia memutar kenop pintu kamar mandi. Cindy meraba dinding, menekan sakelar. Lampu neon putih berpendar, menerangi ruangan berlantai marmer hitam yang mewah tersebut.

Cindy melangkah menuju wastafel, meraih gelas kaca miliknya, dan menyalakan keran air. Gemericik air mengalir, memecah keheningan malam yang menekan telinga. Ia menunduk, membasuh wajahnya yang pucat dengan air dingin, berusaha mengusir sisa-sisa kelelahan dan bayangan buruk yang menghantuinya.

Namun, saat ia kembali menegakkan wajah dan membuka matanya untuk menatap cermin ... napasnya seketika berhenti.

Jantung Cindy seolah diremas oleh tangan tak kasat mata. Gelas kaca di tangannya terlepas, jatuh menghantam lantai marmer dan pecah berantakan dengan suara nyaring yang memekakkan telinga.

Di permukaan cermin wastafel yang bersih itu, terdapat sebuah tulisan besar yang ditulis dengan sangat kasar. Warnanya merah pekat, menetes di beberapa bagian seolah baru saja digoreskan dengan penuh amarah.

Cindy sangat mengenali warna dan tekstur itu. Itu adalah lipstik merah maroon miliknya, lipstik edisi terbatas yang selalu ia simpan di laci meja riasnya.

Kalimat itu menatap balik ke arah Cindy, meruntuhkan seluruh kewarasannya dalam sekejap mata.

"ANJING PENJAGAMU TIDAK BISA MENGHALANGIKU UNTUK MENYENTUHMU SAAT KAMU TERTIDUR, SAYANG."

Di bawah tulisan itu, terdapat sehelai rambut Cindy yang sengaja ditempelkan pada sisa lipstik.

"A-aah!"

Jeritan tertahan meluncur dari tenggorokan Cindy. Tubuhnya mundur terhuyung hingga punggungnya menabrak dinding marmer yang dingin. Ia gemetar hebat, kedua tangannya mencengkeram kepalanya sendiri. Pemandangan di depannya membuat pandangannya berputar.

Penguntit itu ... monster tanpa wajah itu ada di sini. Di dalam kamarnya. Menatapnya saat ia sedang terlelap, menyentuh barang-barangnya dan menulis pesan mengerikan ini tanpa menimbulkan suara sedikit pun!

BRAK!

Pintu kamar utama didobrak kasar dari luar. Hanya butuh waktu dua detik sejak suara gelas pecah sebelum sosok Owen menerobos masuk bak bayangan mematikan. Pria itu tidak lagi memegang sabak, melainkan sebuah pistol Glock 19 berwarna hitam kelam yang sudah siap tembak, cengkeramannya mengerat dengan jari telunjuk bertengger di pelatuk.

"Cindy!" teriak Owen, suaranya menggelegar, membelah kepanikan.

Mata elang Owen menyapu sekeliling kamar yang kosong sebelum tatapannya tertuju pada pintu kamar mandi yang terbuka. Ia langsung bergerak masuk dengan postur taktis, senjatanya teracung ke depan, siap memuntahkan peluru ke arah siapa pun yang mengancam nyawa wanita itu.

Namun, tidak ada siapa-siapa di sana. Hanya ada pecahan kaca dan Cindy yang merosot jatuh ke lantai sambil memeluk lututnya, bergetar hebat di ambang batas histeria.

Pandangan Owen kemudian naik, menatap cermin.

Napas sang komandan Aegis itu seketika tertahan. Rahangnya mengeras hingga urat-urat di lehernya menonjol. Matanya menyipit tajam membaca pesan merah yang masih terlihat basah tersebut.

Insting militernya langsung bekerja. Ia melangkah mundur, menutup pintu kamar mandi, dan memindai setiap inci kamar tidur Cindy—langit-langit, ventilasi AC, jendela, hingga ruang di bawah ranjang. Nihil.

"Owen ... dia ada di sini ...," isak Cindy, suaranya pecah dan bergetar hebat. Ia menengadahkan wajahnya yang bersimbah air mata, menatap Owen dengan sorot mata penuh teror absolut. "Dia melihatku tidur ... dia masuk ke kamarku ... kita tidak aman, Owen ... aku tidak aman!"

Cindy menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, tangisannya meledak. Rasa aman yang baru saja coba ia bangun runtuh tak bersisa. Ia merasa ditelanjangi, diawasi dari sudut-sudut gelap yang tidak bisa ia jangkau. Tubuhnya meronta, didera gelombang panik yang membuat napasnya sesak layaknya orang yang tenggelam.

Melihat wanita yang pernah sangat ia cintai itu hancur berkeping-keping di hadapannya, tembok es profesionalitas yang selama ini dibangun Owen akhirnya runtuh.

Owen menyarungkan kembali senjatanya ke pinggang. Tanpa ragu, pria itu menjatuhkan dirinya ke lantai, berlutut di hadapan Cindy. Tangannya yang besar dan kasar merengkuh bahu wanita itu, menariknya secara paksa ke dalam pelukannya.

"Cindy, tatap mataku. Bernapaslah," bisik Owen cepat.

"Dia menyentuh barang-barangku! Dia mengawasiku, Owen!" racau Cindy histeris, memukulkan kepalan tangannya ke dada bidang Owen, berusaha memberontak dalam ketakutan butanya. "Lepaskan!"

"Cindy, tenang!" Owen mempererat pelukannya, mengunci pergerakan wanita itu dan mendekap kepala Cindy ke ceruk lehernya. Untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, aroma manis vanila dari rambut Cindy kembali memenuhi indra penciuman Owen, membangkitkan rasa protektif yang jauh lebih dalam dari sekadar tugas seorang pengawal.

"Aku di sini," suara bariton Owen kini turun menjadi bisikan yang parau dan bergetar, namun penuh kepastian. Tangannya mengusap punggung Cindy yang gemetar. "Aku di sini, Cin. Tidak ada yang akan melukaimu. Aku bersumpah demi nyawaku, tidak ada yang akan menyentuhmu selama aku masih bernapas. Tenanglah ...."

Perlahan, dekapan hangat dan detak jantung Owen yang stabil di balik kaus hitamnya mulai meresap ke dalam kesadaran Cindy. Tangisannya perlahan mereda menjadi isakan pelan. Tangannya yang tadinya memukul dada Owen, kini balas mencengkeram kaus pria itu erat-erat seolah Owen adalah satu-satunya pelampung di tengah lautan badai. Mereka tetap seperti itu selama beberapa menit, berbagi kehangatan masa lalu di tengah kengerian masa kini.

Setelah napas Cindy berangsur normal, Owen perlahan melepaskan pelukannya. Ia menatap lekat mata Cindy yang masih merah, menghapus sisa air mata di pipi wanita itu dengan ibu jarinya, sebuah gerakan refleks yang sangat intim.

Namun, ekspresi wajah Owen mendadak berubah. Sisi lembutnya lenyap seketika, digantikan oleh kewaspadaan predator yang mengendus bau darah.

Pria itu merogoh saku celananya, mengeluarkan alat digitalnya dan mengecek log sistem keamanan yang terhubung langsung ke server Aegis. Jarinya bergerak cepat, menggulir layar dengan mata memicing tajam.

"Ini tidak masuk akal," gumam Owen, suaranya sangat rendah dan dingin.

Cindy menatapnya dengan dahi berkerut, rasa takut kembali merayap. "Apa yang tidak masuk akal? Apakah alarmnya dirusak?"

Owen menggeleng perlahan, menatap lurus ke dalam manik mata Cindy, membuat hawa dingin seketika membekukan darah di pembuluh nadi wanita itu.

"Sistem keamananku tidak pernah ditembus. Alarm pendeteksi gerak dan sensor termal di semua jendela dan pintu tidak mencatat ada satu pun hal yang masuk dari luar sejak aku mengambil alih tempat ini tiga jam yang lalu," ucap Owen, nadanya diwarnai kengerian yang jarang sekali ia tunjukkan.

"Lalu ... lalu bagaimana dia bisa menulis pesan itu di kamarku?" bisik Cindy parau.

Tangan Owen bergerak ke arah sarung pistolnya kembali, matanya menyapu sekeliling ruangan yang remang dengan kilat membunuh.

"Dia tidak masuk dari luar malam ini, Cindy," desis Owen, suaranya nyaris seperti geraman tertahan. "Lipstik di cermin itu belum sepenuhnya mengering. Dia sudah ada di dalam apartemen ini bersama kita ... sejak sebelum aku mengunci pintunya."

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Teror Di Balik Manuskrip    Bab 6. KEPUTUSAN MUTLAK

    "Tetap di belakang punggungku. Jangan mengeluarkan suara sekecil apa pun dan apa pun yang terjadi ... jangan lepaskan peganganmu dari ujung bajuku." Suara Owen berbisik setajam belati, mengiris udara dingin di dalam kamar tidur yang kini terasa seperti jebakan maut. Pria itu berdiri tegap layaknya dinding baja yang tak tertembus, sementara pistol Glock 19 di tangan kanannya teracung stabil, menyapu setiap sudut bayangan yang mencurigakan. Dengan tangan kirinya, Owen menarik kerah kaus taktisnya, mengaktifkan alat komunikasi nirkabel yang tersembunyi di balik telinganya. "Kode Hitam. Penyusup di dalam perimeter. Target berada di Zona Alpha. Kirim Tim Penyapu ke lantai dua puluh, sekarang. Tutup semua akses gedung dan blokir seluruh lift!" perintah Owen dengan nada absolut. Tidak ada ruang untuk kepanikan dalam suaranya, hanya ada otoritas komandan yang mematikan. Cindy mencengkeram erat bagian belakang kaus hitam Owen dengan jemari yang memutih dan bergetar hebat. Jantungnya berpac

  • Teror Di Balik Manuskrip    Bab 5. PESAN DI CERMIN KAMAR MANDI

    "Biarkan pintu kamarmu terbuka selebar ibu jari. Jika sampai aku mendengar bunyi silinder kunci diputar dari dalam, aku tidak akan segan-segan menghancurkan engsel pintu itu berkeping-keping."Suara Owen terdengar mutlak, merobek sisa keheningan di ruang tengah. Pria itu berdiri di ambang pintu kamar tidur utama Cindy, memegang sebuah sabak digital yang memancarkan pendar kebiruan, menampilkan denah sistem keamanan apartemen yang baru saja ia retas dan ambil alih secara sepihak.Cindy yang tengah duduk di tepi ranjangnya hanya bisa menatap pria itu dengan pandangan nanar. Perdebatan mereka tentang Josh sepuluh menit yang lalu telah menguras habis energinya. Tuduhan Owen bahwa editor sekaligus sahabatnya itu mungkin adalah sang penguntit terasa begitu konyol, namun anehnya, kata-kata itu berhasil menanamkan benih keraguan yang kini berakar di benak Cindy."Kamu tidak berhak mencurigai semua orang yang peduli padaku, Owen," balas Cindy lemah, menarik selimut tebal menutupi kakinya yang

  • Teror Di Balik Manuskrip    Bab 4. GARIS BATAS KLIEN DAN PENGAWAL

    "Menyingkirlah dari pintuku! Ini adalah apartemen pribadiku, bukan barak militer!"Seruan marah Cindy menggema di seluruh penjuru ruang tengah apartemennya, menabrak dinding-dinding yang kini terasa seperti sel penjara kelas atas. Napasnya terengah, matanya memancarkan kilat amarah yang tertahan.Di hadapannya, Owen tidak bergeming sedikit pun. Pria itu berdiri dengan tenang di depan pintu utama, jemarinya bergerak cepat mengetikkan serangkaian kode keamanan baru pada panel kunci digital cerdas yang baru saja ia pasang. Ia telah melepas seragam taktis bagian luarnya, menyisakan kaus hitam ketat yang mencetak jelas otot punggungnya.Setelah bunyi *klik* elektronik terdengar, Owen berbalik. Wajahnya sedingin bongkahan es di kutub utara."Protokol nomor dua, Nona Cindy. Tidak ada satu pun orang yang bisa masuk atau keluar dari unit ini tanpa pemindaian sidik jari saya," ucap Owen datar, seolah ia sedang membacakan buku manual. Ia kemudian berjalan melewati Cindy menuju jendela kaca raksa

  • Teror Di Balik Manuskrip    Bab 3. MASA LALU YANG KEMBALI BERNAPAS

    "Saya lebih suka menyebutnya sebagai subjek pengamanan, Pak Johan. Kata 'klien' terdengar terlalu manis dan personal untuk sebuah pekerjaan yang mempertaruhkan nyawa."Suara bariton yang berat dan dingin itu meluncur dari ambang pintu kayu mahoni yang kini terbuka lebar. Suara yang sangat familier. Suara yang sudah terkubur dalam-dalam di dasar ingatan Cindy selama sepuluh tahun terakhir. Suara yang dahulu selalu membisikkan kata cinta di telinganya di bawah gemerlap bintang, namun kini terdengar setajam pedang yang baru saja diasah untuk membunuh.Udara di dalam ruang rapat VIP itu seolah tersedot habis ke luar angkasa. Cindy mematung di kursinya. Jantungnya berhenti berdetak selama satu detik yang terasa seperti keabadian, sebelum akhirnya berpacu liar menghantam tulang rusuknya.Dari balik bayangan pintu, melangkah masuk sesosok pria berpostur tinggi tegap. Ia mengenakan seragam taktis serba hitam, kemeja berlengan panjang yang digulung hingga siku—mencetak jelas otot-otot lenganny

  • Teror Di Balik Manuskrip    Bab 2. OBSESI YANG MENGETUK PINTU

    "Apakah kamu pikir ini sebuah lelucon, Cindy? Sebuah lelucon murahan dari penggemar fanatik yang kurang kerjaan?"Suara bariton Pak Johan menggelegar, memantul keras di dinding kaca ruang rapat VIP Vangard Publishing. Pria paruh baya dengan setelan jas rapi itu mondar-mandir seperti harimau yang terkurung di dalam sangkar. Wajahnya merah padam, urat-urat di lehernya menegang, dan matanya menatap tajam ke arah benda terkutuk yang tergeletak di tengah meja mahoni raksasa tersebut.Di kursi ujung meja, Cindy duduk membeku. Wajahnya sepucat kertas. Kantung matanya menghitam, bukti nyata bahwa ia sama sekali tidak memejamkan mata sejak panggilan telepon mengerikan yang merenggut kewarasannya semalam.Pandangan Cindy tak bisa lepas dari benda di atas meja itu. Sebuah kotak putih bersih yang baru saja diantarkan oleh kurir ke meja resepsionis kantor pagi ini, dialamatkan khusus untuknya. Ketika Cindy membukanya lima belas menit yang lalu, bukan bunga atau surat penggemar yang ia temukan.Isi

  • Teror Di Balik Manuskrip    Bab 1. SILUET DI BALIK JENDELA

    "Jika ada senjata yang lebih mematikan daripada sebutir peluru, itu adalah ujung pena seorang wanita. Dan malam ini, penulis kebanggaan Vangard Publishing, Cindy, kembali membuktikan bahwa ia adalah penembak jitu terbaik di dunia literatur kita. Mari bersulang untuk cetak ulang ketiga dalam kurun waktu kurang dari dua puluh empat jam!"Suara denting puluhan gelas kristal yang saling bersentuhan mengudara, memecah alunan musik jaz yang sejak tadi mengalun lembut di ballroom hotel bintang lima tersebut. Kilatan lampu kamera dari para jurnalis menyambar secara bergantian, mengabadikan momen puncak peluncuran novel thriller psikologis terbaru yang kini resmi menjadi buku terlaris nasional.Di tengah lautan manusia bergaun malam dan berjas rapi itu, Cindy berdiri dengan senyum simpul yang nyaris tanpa cela. Gaun sutra merah maroon yang membalut tubuh rampingnya membuatnya tampak anggun dan memegang kendali. Namun, hanya dia yang tahu betapa kedua kakinya yang ditopang sepatu hak tinggi set

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status