Home / Romansa / Terpaksa Jadi Istri CEO Dingin / Bab 4 : Pria yang Tak Bisa Dipercaya

Share

Bab 4 : Pria yang Tak Bisa Dipercaya

Author: qia
last update Last Updated: 2025-09-05 08:43:26

Hari-hari setelah makan malam itu berubah jadi sunyi yang berbeda. Rumah yang mereka tinggali tak lagi hanya sepi, tapi dipenuhi ketegangan yang menggantung di udara. Keira tak bisa tidur dengan tenang. Tatapan ayahnya, suara Nero, dan kenangan ibunya datang silih berganti dalam mimpi yang tak pernah utuh. Ia menjalani rutinitas sebagai komisaris muda seperti biasa, tapi segalanya terasa hampa. Wajah-wajah di ruang rapat tampak seperti bayangan. Ia hadir, tapi jiwanya tak ikut bersama.

Sore itu, ia memberanikan diri membuka kembali ruang kerja ayahnya. Sudah lama ruangan itu terkunci, tapi ia menyimpan kunci cadangannya. Begitu pintu terbuka, debu tipis dan aroma kayu tua menyambutnya. Di dalam lemari arsip, ia menemukan satu map berlabel Kemitraan Adhitya Group 2009. Saat membukanya, jantungnya seakan terhenti. Sebuah foto tua menunjukkan ayahnya berdiri berdampingan dengan seorang wanita bergaun hitam elegan. Senyum wanita itu tajam, begitu percaya diri. Di bawah foto tertulis nama yang membuat tengkuk Keira dingin, Marina Adhitya.

Di balik beberapa dokumen, ia menemukan surat tulisan tangan yang ia kenali. Tulisan ibunya. Bukan surat untuk siapa-siapa, hanya curahan hati. Kalimat di baris pertamanya membuat dada Keira menegang. Aku tahu Marina akan kembali. Dia tidak pernah benar-benar pergi. Dan ayahmu terlalu buta untuk menyadari bahwa luka yang ia tinggalkan akan membalas dengan cara paling menyakitkan lewat anaknya.

"Aku tahu siapa wanita itu. Aku tahu masa lalu mereka. Tapi aku tidak akan kalah darinya. Aku akan pastikan dia tidak akan punya tempat di dunia ini, bahkan meski harus kulenyapkan semua jejaknya."

Keira menjatuhkan surat itu. Tangannya gemetar.

Apa ibunya yang menyebabkan Marina menghilang dari publik?

Apa ibunya juga bagian dari semua ini?

Sebelum sempat mencerna semuanya, suara langkah kaki terdengar dari luar ruangan. Keira buru-buru menutup map dan mengunci kembali lemari arsip. Ia tidak ingin ketahuan mengobrak-abrik sejarah keluarganya sendiri.

Begitu pintu terbuka, Nero berdiri di sana. Raut wajahnya tenang seperti biasa, tapi tatapannya memicing curiga.

"Apa yang kamu lakukan di sini?"

Keira tidak langsung menjawab. Ia berdiri perlahan, membenarkan kerah kemejanya.

"Cari sesuatu," jawabnya singkat.

Nero melangkah masuk. Ia menyapu ruangan dengan pandangan datar, lalu berdiri di depan meja kerja ayah Keira.

"Kamu sedang mencari apa? Kebenaran? Atau pembenaran?"

"Aku hanya ingin tahu siapa sebenarnya kamu."

Nero menoleh. Mata mereka bertemu dalam diam yang penuh bara.

"Aku tidak menyembunyikan siapa diriku."

"Tapi kamu tidak pernah jujur juga," balas Keira cepat. "Kenapa kamu tidak cerita kalau ibumu dulu adalah....."

"Ibuku tidak butuh dibicarakan," potong Nero tajam.

Keira mengangkat dagu. "Tentu saja. Karena semua tentang kalian selalu jadi rahasia."

Nero memutar badannya, berjalan pelan ke arah rak buku. Suaranya terdengar datar.

"Karena setiap kali kami bicara, orang-orang seperti keluargamu menganggapnya sebagai ancaman."

"Orang-orang seperti keluargaku?" Keira tertawa miris.

"Kamu bicara seolah kamu bukan bagian dari permainan ini."

"Aku memang bagian dari permainan," jawab Nero dingin. "Tapi tidak seperti yang kamu kira."

Keira melangkah maju. Suaranya bergetar, tapi matanya penuh tekad.

"Aku tidak bisa percaya kamu, Nero. Bahkan jika kamu bilang semua ini bukan salahmu. Aku tidak bisa."

Nero menatapnya tajam. Tapi kali ini, bukan dengan kemarahan. Justru dengan luka yang samar.

"Aku tidak memintamu percaya. Aku hanya memintamu berhenti menyamakan aku dengan ibuku."

Keira terdiam.

"Kamu pikir aku tidak ingin hidup tenang?" lanjut Nero.

"Kamu pikir aku ingin terjebak dalam pernikahan ini? Aku setuju karena aku kira aku bisa mengendalikannya. Tapi ternyata, aku bahkan tidak bisa mengendalikan pikiranku sendiri saat berada di dekatmu."

Suasana menjadi berat. Kata-kata Nero menampar lebih keras daripada kemarahan. Ada kerapuhan dalam nada suaranya. Keira tidak tahu harus merespons seperti apa.

"Nero…" bisiknya.

Tapi Nero sudah berjalan keluar dari ruangan, membiarkan pintu terbuka lebar dan meninggalkan Keira dalam keheningan.

Beberapa hari berlalu, suasana rumah tetap dingin. Keira duduk di sofa, matanya mengikuti langkah Nero yang masuk membawa kantong makanan tanpa berkata sepatah kata pun. Nero meletakkan kantong itu di meja, lalu berbalik pergi menuju kamar.

Keira menarik napas, lalu memberanikan diri.

“Nero... kau kenapa akhir-akhir ini pulang lebih awal? Biasanya kau selalu pulang larut.”

Nero berhenti sejenak, menatap ke arah Keira dengan wajah yang sulit dibaca.

“Pekerjaan sudah selesai.”

Suara itu datar, tapi matanya menghindar.

Keira melirik ke meja makan. Ada sebuah kertas kecil yang tertinggal di sana. Ia mengambilnya.

“Tadi pagi kau pergi lebih awal, ini.”

Di kertas itu tertulis:

“Ada rapat penting jam 7 pagi. Jangan tunggu.”

Tidak ada tanda tangan, hanya tulisan tangan yang rapi.

Keira menatap ke arah kamar Nero. Hatinya bergejolak.

“Kenapa kau tak pernah cerita apa yang sebenarnya terjadi?”

Nero hanya diam, lalu membalik badan masuk kamar.

Malam itu, setelah mandi, Keira menemukan sebuah map tipis di atas tempat tidur. Map itu tidak berlabel. Dengan tangan gemetar, ia membuka map itu.

Matanya membelalak saat melihat isi di dalamnya: salinan email, laporan keuangan, dan dokumen yang menunjukkan sabotase di sistem perusahaan. Salah satu dokumen mencantumkan nama Nero sebagai pemegang akses khusus.

Keira berdiri, napasnya tersengal.

“Ini... apa maksudnya?” gumamnya.

Di kamar sebelah, terdengar langkah kaki Nero mendekat.

“Keira?” suara Nero lirih.

Keira menatap map di tangannya, lalu menatap ke arah pintu.

“Kau... kau yang melakukan ini?”

Nero diam sejenak, lalu akhirnya berkata dengan suara serak

“Aku tidak punya pilihan... Aku melakukannya demi sesuatu yang lebih besar. Demi kita.”

Keira menatapnya penuh tanya dan luka.

“Tapi aku tidak mengerti, Nero... Kenapa kau tidak pernah bilang?”

Nero menunduk, menyembunyikan wajahnya di tangannya.

“Aku takut... takut kau akan membenciku.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terpaksa Jadi Istri CEO Dingin   Bab 90 : Jawaban

    Setelah surel itu terkirim, Keira tidak merasakan kelegaan yang meledak-ledak. Yang datang justru rasa hening yang lebih luas seperti ruangan yang akhirnya memiliki cukup udara.Hari-hari berikutnya kembali berjalan tanpa tanda khusus. Tidak ada perubahan sikap dari pihak luar. Tidak ada sinyal cepat yang bisa ditafsirkan sebagai kemenangan atau penolakan. Keira tidak mencari makna di antara baris-baris kosong itu. Ia memilih hadir sepenuhnya pada apa yang ada di hadapannya.Di kantor, ritme tetap terjaga. Tim bekerja tanpa bayang-bayang keputusan yang menggantung. Itu bukan karena mereka tidak peduli, melainkan karena Keira tidak membiarkan masa depan mengganggu hari ini.Ia menyadari sesuatu yang penting: keputusan yang sehat tidak menciptakan kegelisahan berantai. Ia menciptakan kejelasan, meski hasil akhirnya belum diketahui.Suatu siang, Rina menghampirinya dengan satu pertanyaan sederhana. “Kalau mereka menolak versi kita

  • Terpaksa Jadi Istri CEO Dingin   Bab 89 : Tarik Napas

    Keira memberi dirinya dua hari.Bukan untuk menghitung ulang tawaran, melainkan untuk menjauh sebentar dari kebisingan makna yang menempel pada kata kesempatan. Ia tahu, keputusan yang tepat jarang lahir dari tekanan untuk cepat ia lahir dari jarak yang cukup.Hari pertama ia habiskan dengan bekerja seperti biasa.Tidak ada diskusi tentang pertemuan terakhir. Tidak ada spekulasi. Ia membiarkan tim bergerak dalam ritme yang sudah mereka bangun. Ia hanya mengamati: apakah sistem ini masih berjalan tanpa dirinya mendorong dari belakang.Jawabannya ya.Dan itu menenangkan sekaligus menggelisahkan.Hari kedua, Keira mengambil cuti setengah hari.Ia berjalan sendiri, menyusuri ruas kota yang jarang ia lewati. Kedai kecil. Taman sempit. Bangku tua di sudut yang luput dari renovasi. Ia duduk di sana lama, membiarkan pikirannya berputar tanpa diarahkan.Ia menyadari sesuatu yang pelan tapi jujur ia tidak takut gagal. Yan

  • Terpaksa Jadi Istri CEO Dingin   Bab 88 : Garis Tipis

    Undangan kedua datang dengan detail yang lebih jelas.Tanggal. Waktu. Agenda.Namun ada satu perbedaan yang membuat Keira membaca ulang surel itu perlahan: pertemuan kali ini meminta komitmen arah, bukan sekadar diskusi.Garis tipis mulai terlihat.Rapat persiapan tidak panjang.Bukan karena kurangnya hal yang perlu dibahas, melainkan karena semua sudah tahu batas masing-masing.“Jika mereka meminta eksklusivitas?” tanya Rina.Keira tidak langsung menjawab. Ia memandang jendela sejenak, lalu berkata, “Kita dengar syarat lengkapnya dulu. Eksklusivitas tanpa keseimbangan bukan kemitraan.”Tidak ada yang menyela.Pertemuan berlangsung di ruang yang lebih terbuka.Cahaya masuk dari jendela besar. Tidak ada upaya menyembunyikan apa pun. Kali ini, pihak seberang berjumlah lebih banyak dan salah satunya adalah sosok yang jelas memiliki keputusan akhir.Ia memperkenalkan di

  • Terpaksa Jadi Istri CEO Dingin   Bab 87 : Uji Sunyi

    Tidak ada kabar selama tiga hari.Keira tidak menanyakannya. Ia juga tidak menunggu dengan gelisah.Hari-hari berjalan seperti biasa rapat mingguan, penyempurnaan sistem, satu klien kecil yang meminta penyesuaian mendadak. Semua ditangani tanpa drama. Tanpa rasa “ini penentu segalanya”.Justru di situlah ujiannya dimulai.Uji sunyi tidak datang dengan konflik terbuka. Ia datang dalam bentuk ketidakhadiran.Tidak ada panggilan lanjutan.Tidak ada email klarifikasi.Tidak ada sinyal.Dulu, kekosongan seperti ini akan menggerogoti Keira. Ia akan membaca ulang percakapan, mencari celah, meragukan setiap kalimat yang telah ia ucapkan.Sekarang, ia hanya mencatat diam juga bentuk respons.Pada hari keempat, masalah kecil muncul.Bukan krisis. Tapi cukup untuk menguji konsistensi yang sedang diamati pihak luar.Salah satu mitra lama terlambat memenuhi kewajiban. Dampaknya tidak besar

  • Terpaksa Jadi Istri CEO Dingin   Bab 86 : Ambang

    Undangan itu datang tanpa embel-embel dramatis.Bukan presentasi besar. Bukan sorotan media.Hanya satu surel singkat dengan subjek yang nyaris datarPertemuan awal. Diskusi kelayakan. Tertutup.Keira membacanya dua kali. Bukan karena ragu memahami, melainkan karena ia mengenali nada itu. Nada pihak yang tidak ingin berjanji, tapi juga tidak lagi sekadar mengamati.Ini ambang.Rapat internal berjalan lebih hening dari biasanya.Bukan tegang melainkan penuh pertimbangan.“Kita belum tahu arah mereka,” kata Rina. “Ini bisa jadi pembuka, atau sekadar uji konsistensi.”Keira mengangguk. “Karena itu kita datang tanpa menawarkan apa pun.”Semua menoleh.“Kita dengarkan dulu,” lanjut Keira. “Jika mereka ingin sesuatu, biarkan mereka yang menyebutkannya.”Tidak ada keberatan. Tidak ada adrenalin berlebih.Tim ini sudah belajar diam yang tepat sering kali lebih kuat daripada p

  • Terpaksa Jadi Istri CEO Dingin   Bab 85 : Tumbuh Pelan

    Tumbuh pelan sering disalahartikan sebagai diam. Padahal di dalamnya, ada perubahan yang bekerja tanpa suara menguat, merapikan, dan membentuk arah dengan kesabaran yang jarang disorot.Keira mulai merasakan pertumbuhan itu bukan dari angka, melainkan dari cara tim berfungsi. Keputusan tidak lagi selalu naik ke mejanya. Masalah diselesaikan di tempatnya muncul. Percakapan menjadi lebih langsung, tanpa lapisan kehati-hatian berlebihan.Ia mengamati itu dengan tenang.Tidak mencampuri. Tidak mengklaim.Pertumbuhan juga terasa di dalam dirinya.Keira tidak lagi bangun dengan daftar panjang hal yang harus dibuktikan. Ia memulai hari dengan satu pertanyaan sederhana apa yang perlu dijaga hari ini?Kadang jawabannya teknis. Kadang emosional.Dan ia belajar bahwa keduanya sama penting.Satu minggu berjalan tanpa kejutan besar.Tidak ada lonjakan. Tidak ada penurunan. Namun ada stabilitas yang mulai terasa kons

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status